
πΏπΏπΏπΏπΏ
.
.
Sore itu, setelah tidak sengaja bertemu Rian dan Bela di pusat perbelanjaan. Ayla langsung memutuskan untuk pulang, karena beralasan kepada Riri dan Amel, jika sudah ditunggu oleh Bunda nya.
Karena pertemuan yang tidak disengaja juga, hubungan keduanya sedikit renggang, sebab Rian seolah-olah sengaja menjaga jarak dengan Ayla.
Sedangkan Ayla, tidak ambil pusing karena hal itu, karena Ayla pun, juga tidak terlalu berharap lagi dengan hubungan mereka. Tetapi mereka berdua tetap menjalaninya seperti hari-hari sebelumnya. Hanya mereka berbicara seperlunya saja.
****************
Sore pun tiba, Ayla sedang bersiap-siap berangkat ke pesta ulang tahunnya Eka. Yang di adakan di hotel bintang lima, milik keluarga Erlangga.
Atau hotel mertuanya.
Ceklek...
Rian yang membuka pintu kamar mandi, lalu tak banyak bicara, Rian pun langsung mengambil bajunya yang selalu disiapkan oleh Ayla.
Begitu melihat Rian sudah keluar dari ruang ganti, Ayla menoleh kearahnya, namun Ayla tidak seperti biasa yang selalu terpesona apabila melihat Rian.
Sekarang Ayla tidak banyak bicara, boleh dibilang Ayla sedikit dingin kepada Rian. Entah Ayla nya masih marah, atau memang Ayla sengaja menjauhi Rian. Sehingga perlakuan Ayla, berimbas kepada seluruh karyawan di perusahaan Erlangga group.
Karena hal itu, di perusahaan Rian hanya memarahi karyawan nya, hanya karena hal kecil. Biasanya, Rian memang terkenal dingin dan kejam dalam pekerjaan, namun tidak seperti hari ini. Yang suka marah tanpa sebab, sehingga Aldi sendiri pun, menjadi sasaran kemarahan Rian juga.
"Ayla! kamu akan berangkat sama siapa?" Rian yang sudah berjalan menghampiri Ayla yang masih duduk di depan meja riasnya.
"Kenapa? apa kamu takut, kita akan kembali bertemu disana?"
"Bukan seperti itu! aku tidak takut kita bertemu disana, tapi aku hanya khawatir jika kamu membawa mobil sendiri, karena pasti acaranya selesai sampai larut malam, sedangkan tempatnya jauh dari sini!" seru Rian yang benar-benar merasa khawatir jika Ayla berangkat sendiri.
"Kamu tidak perlu khawatir kepada ku, aku akan baik-baik saja!" pungkas Ayla yang sudah berdiri.
Namun Rian langsung menarik tangan Ayla, sehingga Ayla terpaksa berhenti di tempatnya.
"Ayla, aku mohon, jangan seperti ini! jangan membuatku merasa serba salah, karena kejadian kemaren sore, aku sungguh minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakiti mu." ucap Rian yang merasa tidak betah, jika Ayla berlaku cuek kepadanya.
"Justru karena pertemuan kemarin sore lah, membuatku sadar bahwa tak seharusnya aku mengharapkan cintamu! jadi, mulai saat ini biarkan seperti ini, jika kamu tidak ingin menyakitiku lagi, maka lebih baik kita saling menjauhi. Karena semakin kita dekat dan semakin kamu baik padaku, maka aku juga akan semakin mencintaimu." setelah mengatakan itu, Ayla pun langsung menarik tangannya dan pergi meninggalkan Rian yang masih berdiri di depan meja riasnya.
Meskipun Ayla terluka sendiri dengan perkataannya, namun Ayla tidak punya pilihan lain lagi. Karena Ayla sudah memutuskan untuk tidak memperjuangkan cintanya, jadi mulai saat ini, Ayla ingin menjauhi Rian, agar dia bisa melupakan perasaannya.
Setelah kepergian Ayla, Rian hanya bisa menguyar rambutnya kebelakang, meskipun tadi sudah dirapikan nya. Namun tak lama setelah nya, handphone milik Rian berdering, ternyata Bela yang menelpo.
π Rian : "Iya, ada apa?" ucap Rian mengangkat handphone nya.
π Bela : " Ri..! kamu dimana? kenapa lama sekali?" suara Bela yang sudah menunggu Rian di tempat acara.
π Rian : " Aku masih dirumah, tunggu saja, aku baru mau berangkat."
π Bela : " Iya, aku tunggu disini. Kamu hati-hati ya sayang! aku mencintaimu!" seru Bela sebelum mematikan telponya. Namun Rian tidak membalas ucapa cinta Bela, seperti biasanya, yang ada dipikirannya saat ini hanya Ayla.
Lalu Rian pun terpaksa berangkat, meskipun tadi dia sudah ingin membatalkan niatnya untuk pergi.
Sedangkan Ayla, baru saja tiba di loby hotel, disana Riri dan Amel sudah menunggu kedatangannya.
"Waw..! Ay, kamu cantik sekali! malam ini kamu sudah menglahkan yang punya acara ulang tahunnya." puji Riri yang terpesona melihat kecantikan Ayla.
"Apaan sih, udah ayo masuk!" ajak Ayla yang selalu tersenyum mendengar ucapan kedua sahabatnya.
Akhirnya mereka masuk bersama, untuk memberikan ucapan selamat kepada Eka terlebih dahulu. Sebelum acaranya dimulai.
"Ayla, Riri Amel..! kalian datang? aku khawatir jika kalian bertiga tidak mau datang, terutama kamu Ay." seru Eka merasa bahagia.
"Selamat ulang tahun ya..! do'a terbaik untuk mu!" ucap Ayla tulus, begitupun dengan Riri dan Amel. Yang juga memberikan kado dan ucapan selamat kepada Eka.
"Terimakasih..!! kalau begitu, silahkan kalian nikmati pestanya. Karena aku masih menyambut teman-teman kita yang lain." Eka yang mempersilahkan kepada Ayla dan kedua sahabatnya.
"Baiklah, silahkan lanjutkan! kami akan mencari meja kami sendiri." ujar Amel membuka suaranya.
Lalu mereka bertiga langsung mencari meja untuk mereka duduki, menjelang, acaranya dimulai.
Tak lama, sudah terdengar suara riuh dari wanita-wanita yang memang sudah menunggu kedatangan Rian.
Karena bagi para kaum hawa, Rian adalah penyemangat mereka untuk hadir di pesta siapapun.
Begitu melihat Rian masuk, bela pun langsung menghampiri nya, dan sudah pasti Bela akan menempel seperti sebuah perangko.
Apalagi di acara ini ada Ayla. Ketika Ayla dan kedua sahabatnya tadi datang, Bela memang sedang menemui Papi dan Maminya. Yang kebetulan memang di undang oleh orang tua Eka, karena orang tua meraka juga bersahabat.
Tak berapa lama, acara inti pun dimulai, setelah pemotong kue. bagi pasangan yang muda-mudi dipersilahkan untuk menikmati acara khusus anak muda, karena para orang tuanya sudah pulang. Sebab sekarang jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
Karena tak tahan melihat Bela yang selalu menempel pada suaminya, meskipun Rian sepertinya tidak begitu mennangapi Bela.
Namun tetap saja Ayla merasa cemburu, akhirnya Ayla mengajak kedua sahabatnya pulang. Dan mereka pun mengiyakan, jadilah mereka pulang bersama, meskipun sesampainya diluar, mereka membawa mobil masing-masing.
Di dalam tempat pesta di adakan, Rian tingal duduk sendiri, karna Bela sedang sibuk berpoto dengan Eka dan Cici.
Sedangkan Nando maupun Andre tidak ada yang datang, jika Andre beralasan keluar kota menemani ayahnya, karena besok memang wiekend. Jika Nando memang setelah mengetahui hubungan antara Rian dan Ayla, dia mulai menjauhi Rian. Meskipun tidak begitu terlihat, tapi Rian bisa merasakan perubahan sahabatnya itu.
"Maaf tuan muda! ini minumanya, untuk menghilangkan rasa dingin dan kantuk." ucap seorang pegawai laki-laki yang memakai seragam hotel Erlangga.
Rian yang tidak merasa curiga, langsung menerima dan meminumnya. Karena tidak mungkin kan jika pegawai hotel nya sendiri ingin mencelakai nya, pikir Rian.
Namun, tak berapa lama setelah kepergian si pegawai hotel. Rian mulai merasakan sesak dan panas pada tubuh dan adik kecilnya yang sedang tertidur nyenyak.
"Si**l.., siapa yang berani melakukan ini ke gue." umpat Rian kesal, karena dia baru sadar jika telah diberikan obat perangsang.
Semakin Rian menahanya agar tidak terpengaruh, namun tubuhnya semakin mengigil dan mengeluarkan keringat panas dingin yang dia rasakan.
Sadar jika pasti seseorang sedang menjebak nya, Rian pun langsung mengeluarkan handphone untuk menelpon Aldi.
Karena dalam keadaan seperti ini, Rian tidak mungkin kembali ke kamarnya, yang ada di lantai paling atas hotel bintang lima ini, karena disetiap hotel milik keluarga nya, selalu disiapkan tempat khusus untuk mereka bila menginap di sana.
Rian bukanlah orang bodoh, jadi sudah dipastikan jika si pemberi obat perangsang itu, sudah mengatur semuanya.
. BERSAMBUNG....
.
.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya π€
like.
Komen yang positif.
Dan dukungan nya pada karya ini.
Terimakasih.ππππ