Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Dokter Sean.


🌿🌿🌿🌿🌿


Tau dirinya telah di berikan obat perangsang, Rian tidak berani berbuat gegabah. karena hanya tubuhnya yang diberikan obat, bukan otaknya.


Jadi Rian masih bisa berpikir jernih, bahwa dia tidak boleh sembarangan bertindak, karena ada yang dengan sengaja ingin menjebaknya, tidak mungkin jika orang itu hanya sebatas memberikan obat saja.


Namun sekarang bukan saatnya mencari tau siapa dalang dibalik semuanya. Yang harus di pikirkan oleh Rian adalah caranya pergi dari tempat ini. Karena mendadak Rian tidak bisa percaya kepada siapapun, termasuk pegawai hotel nya. Kecuali kepada Aldi.


πŸ“ž Aldi : " Iya tuan muda! apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya Aldi di sebrang sana.


πŸ“ž Rian : " Jemput aku dihotel sekarang juga, jangan sampai telat. karena ada seseorang yang ingin menjebak ku!" ucap Rian memberikan perintah.


πŸ“ž Aldi : " Baiklah, tuan muda tolong jangan meninggalkan tempat itu, bertahanlah sebentar saja. Saya sekarang sudah menuju kesana, jangan membuat meraka curiga, meskipun orang-orang kita juga berada disana, tapi kita harus mengikuti permainan mereka semua. Tuan mengertikan maksut saya." tanya Aldi yang sudah menambah kecepatan mobilnya.


Setalah mendengar saran dari Aldi, Rian pun langsung mematikan telponya, karena dia benar-benar sudah merasakan sesak dibagian bawah sana yang rasanya mulai tambah membesar.


"Sayang! apa kamu lama menunggu ku! maaf ya?" ucap Bela yang datang tiba-tiba disaat yang tidak tepat.


"AA aku tidak apa-apa menunggu mu! bersenang-senang lah, biar aku menunggu mu disini saja." seru Rian mencoba menghindari Bela.


"Tidak, aku sudah selesai! bagaimana jika kita menginap disini saja? aku dengar dari Eka tadi, katanya hotel paling atas, adalah tempat khusus bagi keluarga Erlangga. Aku ingin menginap disini, jika menunggu menjadi istrimu, itu masih beberapa bulan lagi." pinta Bela manja seperti biasanya.


"Tapi tidak malam ini ya! lain kali aku berjanji akan mengajak mu menginap disini." tolak Rian halus, karena jika sekarang mereka menginap di hotel bersama, bisa-bisa Rian menerkam Bela langsung.


Rian memang mencintai Bela, namun Rian tidak mau melakukannya, sebelum mereka berdua sah menjadi suami istri.


Meskipun Bela sering melepaskan pakaian sendiri, bila mereka berdua sedang berada di apartemen milik Rian ataupun milik Bela sendiri. Tapi Rian tidak pernah mau bila diajak lebih dari ciuman saja.


Walaupun Rian selalu melakukan ciumannya dengan naf**u yang membuncah, tapi Rian masih bisa mengendalikan dirinya. Meskipun Rian sendiri harus berakhir didalam kamar mandi.


"Kenapa tidak malam ini saja? mumpung kita sudah berada disini, dan ini sudah larut malam, bukankah lebih baik kita berdua menginap disini."


"Tapi aku benar-benar tidak bisa Bela, aku mohon mengertilah! jika kamu masih Ingin menjadi kekasihku!" sergah Rian yang mulai merasa kesal kepada Bela dan kesal menahan si adik kecilnya yang tidak bisa diam.


"Baiklah, lain kali lagi kita kesini. Tunggu aku ke toilet sebentar, sesudah itu kita pulang." ucap Bela yang langsung pergi meninggalkan Rian di mejanya, karna tidak berhasil mengajak Rian tidur di hotel milik keluarga Erlangga.


Apalagi setelah mendengar perkataan Rian, mana mungkin Bela berani memaksa, karena Rian adalah lelaki yang dicintainya dan juga sumber mata uang nya.


Bila mengandalkan kekayaan orang tuanya, sudah di ambang kebangkrutan, akibat Papi nya terlalu berambisi menjadi walikota, sehingga rela menempuh cara tidak sportif waktu pemilihannya. Begitu pula dengan sang Mami, yang suka berpoya-poya bersama teman sosialitanya.


"Maaf tuan muda, saya sedikit terlambat, sekarang ayo cepat kita tinggalkan tempat ini." ajak Aldi yang juga membawa beberapa pengawal bersama nya.


"Baiklah ayo.., kamu perintahkan orang-orang kita untuk memeriksa semua latar belakang pegawai disini, karena yang memberikan aku minuman tadi juga salah satu pegawai disini." ucap Rian sambil berjalan keluar meninggalkan hotel.


"Kamu, beritahu yang lain, saya dan yang lainnya akan membawa tuan muda." perintah sekertaris Aldi kepada salah satu pengawal kepercayaannya.


"Baik tuan, saya pergi dulu." pamitnya.


Dan setelahnya, Aldi pun langsung mengikuti Rian dari belakang, karena Rian memang masih bisa berjalan sendiri.


Tiba di depan loby hotel, mobil yang yang dibawa sekertaris Aldi dan para pengawal nya sudah menunggu. Rian pun langsung masuk kedalam mobil, lalu melepaskan satu persatu pakaian atasnya, yang tersisa hanya celana panjang yang masih dia pakai.


"Ayo jalan kan mobilnya." seru Aldi yang duduk dibelakang sopir, tepatnya disebelah Rian.


Karena sekarang yang mengemudi mobilnya salah satu pengawal dari Erlangga group. berbeda saat datang tadi, mereka hanya mengikuti mobil Aldi saja, karena Aldi membawa mobilnya sendiri.


Didalam mobil, terlihat Rian sudah mulai hilang kesadarannya, karena epek obat yang diberikan pegawai tadi, benar-benar berdosis tinggi.


"Kita akan membawa tuan muda kemana tuan?" tanya pengawal yang merangkap menjadi sopir dadakan.


"Kerumah tuan muda dan Nona Ayla, karena hanya Nona Ayla yang bisa menolong nya."


Rian yang masih bisa mendengar sayup-sayup percakapan Aldi dan si pengawal, meskipun sudah kurang jelas, langsung berusaha untuk membuka kedua matanya.


"Tidak, kalian jangan membawa aku pulang. Bawa aku kerumah Sean saja, dia kan Dokter, pasti punya obat penawarnya." cegah Rian, karena dia tidak mau Ayla yang menjadi sasarannya.


"Aku ini atasan kalian, jangan membantah ku Aldi! sekarang cepat bawa aku kerumah Sean." ucap Rian yang sudah menaikan nada bicaranya.


Karena tidak ada pilihan, mau tidak mau, mereka membawa Rian kerumah Dokter Sean. Yang memang berada di kompleks perumahan yang sama dengan Rian.


Hanya lima belas menit, mereka sudah tiba dirumah Sean, yang kebetulan pintu nya sedang terbuka.


Karena terlihat sean sepertinya baru saja mengantarkan tamu nya yang baru saja pergi.


"Ada angin apa kamu datang kerumah ku Al? tumben sekali." tanya Sean merasa heran. karena sebelumnya, jika ada keluarga Erlangga yang sakit, maka Aldi hanya memberikan perintah saja.


Meskipun tidak mengenal waktu, Sean akan selalu datang, karna dia memang menjadi Dokter keluarga Erlangga. Untuk mengantikan sang ayah.


"Coba Anda lihat kedalam mobil, ada yang memberikan tuan muda obat perangsang, dan tuan muda meminta kami membawanya ke mari."


Apa...! aku bukan obat penawarnya Aldi.! aku memang jomblo. Tapi aku bukan penyuka sesama jenis." seru Sean bergidik ngeri.


"Bukan menyuruh Anda memenuhi hasrat tuan muda, tapi coba Anda lihat, apa ada obat untuk penawarnya, tanpa harus tidur dengan seorang wanita." imbuh Aldi merasa jengkel.


"Oooh..! kenapa kamu tidak bilang dari tadi. Tapi kenapa harus obat penawar, jika istri nya saja ada." heran Sean sambil berjalan menuju mobil tempat Rian sekarang.


Karena Rian memang hanya diam dimobil dan tidak turun.


"Wah ini sepertinya dosis yang sangat tinggi, biasanya ini bukan diberikan kepada manusia. Namun obat ini biasanya di gunakan untuk hewan ternak." ucap Sean yang sudah mengecek keadaan Rian.


"Apa maksudmu? apa tidak ada obat penawar nya?" tanya Aldi dan Rian bersamaan, karena Rian sedikit sadar setelah membasahi tubuhnya dengan air mineral yang diberikan pengawal.


"Maksudku, jika kita memberikan obat kimia, maka akan ada epek samping dari obat ini, bisa berakibat patal pada sarap-sarap kepala orang yang meminumnya." jelas Dokter Sean.


"Lalu, cara alami nya apa?" desak sekertaris Aldi.


"Cobalah rendam tuan muda di dalam air dingin, mungkin bisa mengurangi epek nya, tapi aku tidak bisa menjamin." terang Dokter Sean. Yang tau jika obatnya hanyalah bisa disembuhkan oleh berhubungan intim saja. Karena Rian bukannya di berikan obat perangsang biasa.


"Baiklah, kalau begitu kami akan membawa tuan muda pulang kerumahnya saja." ujar Aldi sambil berjalan memutar untuk memasuki mobil.


"Oke..! tolong kabari aku bila terjadi sesuatu." seru Dokter Sean melihat mobil Aldi dan para pengawal nya yang sudah pergi.


"Aneh sekali, sudah punya istri malah meminta obat penawarnya! jika aku jadi tuan muda, tanpa diberikan obat perangsang, pasti akan selalu memerangsangkan diri ku, bila melihat istri secantik Nona muda." ucap Dokter Sean sendiri, sambil menggelengkan kepalanya.


.


.


.


.


Sabar ya kakak-kakak semuanya πŸ€—


bukan maksut mengantung cerita, tapi aku cuma sangup nulisnya segini. Karena ini juga udah lebih dari 1200 jumkat Lo πŸ˜‚


Tapi jika pendukungnya banyak, insha Allah nanti malam uup lagi.


Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya πŸ€—


like.


komen.


Vote mingguan.


Bunga atau kopi pun juga boleh.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Terimakasih 😘😘😘😘😘