
🍁🍁🍁🍁🍁
.
.
Sekarang, Ayla dan Rian sudah bersiap- siap untuk pergi jalan-jalan, atas permintaan Ayla tadi pagi.
Malam ini, Ayla memakai kaos berlengan pendek yang berwarna putih dan celana jeans panjang yang tidak terlalu ketat, tapi sangat pas pada tubuhnya yang kecil. Karena Ayla adalah calon seorang desainer.
Jadi tentu saja, Ayla sangat pandai dalam memadukan pakaian yang cocok di tubuhnya. Bagian pada rambutnya, sengaja Ayla gerai saja, membuat penampilan Ayla bertambah imut, bagi yang melihatnya.
Sedangkan Rian, hanya memakai celana jeans pendek . Lalu Rian memakai kaos pendek berwarna putih dan jaket di luarnya. Sedangkan sepatutnya, Rian memakai warna putih.
Yang senada dengan sepatu yang akan Ayla pakai. Jelas saja malam ini, jika Rian akan bertambah terlihat tampan. Begitu juga dengan Ayla, mereka berdua bagaikan pasangan muda-mudi yang akan berpacaran di malam minggu.
Yang laki-laki sangat tampan. Dan yang perempuan nya sangat cantik. Rasanya, mereka berdua adalah dua insan yang sangat beruntung di dunia pernovelan ini.
"Apa kamu sudah siap? jika sudah, ayo kita berangkat sekarang." ajak Rian berjalan kearah Ayla yang masih memakai sepatunya.
"Sebentar, aku masih memakai sepatu ku." jawab Ayla yang masih memakai salah satu sepatutnya.
Tanpa di minta, Rian langsung berjongkok dan mengambil alih sepatu nya, yang berada di tangan Ayla. Dan malah memakainya ke kaki Ayla. Karna Rian melihat, jika Ayla susah untuk memakai sendiri.
"Sudah, ayo!" ajak Rian yang mengulurkan tangannya untuk membantu Ayla berdiri dari tempat duduknya. Setelah Rian memakaikan kedua sepatu Ayla terlebih dahulu.
"Terimakasih! maaf sudah merepotkan mu!" ucap Ayla merasa sungkan.
"Heeem, tidak masalah.! seru Rian yang sudah kembali merangkul Ayla berjalan turun ke lantai bawah. Menuju tempat garasi mobil mereka.
Ayla hanya mengikuti saja, karena di dalam hatinya, benar-benar sedang merasa sangat bahagia atas semua perhatian dan perlakuan yang Rian berikan.
Sehingga dengan mudahnya juga, Ayla melupakan semua yang telah terjadi di parkiran kampus tadi pagi.
Tiba di depan mobilnya, Rian pun membukakan pintu mobil nya untuk Ayla.
Baru setelah nya, Rian berjalan memutari mobilnya dan masuk duduk di sebelah Ayla.
Braaak...
Suara pintu mobil yang Rian tutup. Lalu dia menoleh kearah Ayla, dan memakai kan sabuk pengaman Ayla. Sehingga mengikis jarang yang cukup dekat bagi keduanya.
Dag...dig...dug....
Bunyi jantung keduanya, yang sama-sama berdetak lebih cepat dari biasanya.
Jika Ayla sendiri tau, kenapa jantung nya berdetak kencang, karna dia berada dekat dengan orang yang dia cintai.
Namun berbeda dengan Rian, yang malah mengira, jika penyakit jantungnya mulai kumat lagi. Mungkin saja karena dia terlalu banyak minum-minuman keras pikir Rian.
Setelah terpasang, Rian buru-buru menjauhkan tubuhnya.
"Lain kali, bila tidak ada aku. Perhatikan sabuk pengaman mu dulu." ucap Rian yang berusaha untuk bisa mengendalikan detak jantungnya lagi.
"Iya, maaf aku lupa!" jawab Ayla sedikit tersenyum.
Perlahan, Rian pun mulai menjalankan mobil mewahnya. Sambil sesekali melihat kearah Ayla yang sedang melihat kearah luar jendela mobil, untuk menikmati sejuknya angin malam.
Karena memang jarang sekali, mereka berdua bisa berjalan-jalan seperti malam ini. Dan malam ini, Rian juga sengaja membawa mobilnya tidak terlalu kencang.
"Kita mau makan apa? dan di Restoran mana!" suara Rian memecahkan keheningan diantara mereka.
Sehingga membuat Ayla menoleh kearahnya, dan menjawab pertanyaan Rian.
"Kita tidak usah makan di Restoran mewah ya! aku ingin kita makan di pedagang kaki lima yang berada di dekat perempatan depan kompleks." ajak Ayla.
"Apa? yang benar saja Ayla,! kita bisa mencari Restoran mewah yang kamu suka, aku akan mengikutinya meskipun itu jauh dari sini. Asalkan jangan di warung pinggir jalan. Itu tidak baik untuk kesehatan mu." tolak Rian langsung.
"Tapi aku tidak mau makan, makanan Restoran Ri..,! aku pengen makanan lain."
"Oke, kalau kamu tidak mau. Bagaimana jika kita kembali kerumah Mama atau Bunda saja? disana kamu bisa meminta pelayanan membuat kan mu, makanan apa saja kan." tawar Rian agar Ayla mau mengurungkan niatnya.
"Tapi aku juga tidak mau! aku hanya mau makan, makanan di pedangan kaki lima saja. Ayolah! jika kamu tidak mau, cukup temani aku saja. Nanti setelah aku selesai, aku juga akan menemani mu makan di Restoran mana pun." pinta Ayla memohon, sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya.
Karena tidak tega, Rian pun menyatujuinya. Dengan sarat,, tidak boleh mencari yang pengunjung nya banyak. Karna yang Rian tau, jika makan di warung seperti itu, pasti akan saling berdesak-desakan. Dengan pengunjung lainnya.
"Iya baiklah, yang penting makan di pinggir jalan." ucap Ayla yang merasa senang karna Rian mengikuti keinginannya.
Sedangkan Rian, hanya bisa menggelengkan kepalanya, lantaran melihat Ayla yang seperti anak kecil saja.
Dan setelah melihat warung yang tidak terlalu ramai, Rian pun memberhentikan mobilnya. Lalu bertanya kearah Ayla.
"Disini saja ya? kita makan nasi uduk itu, atau yang lainnya. Karena warung ini, juga sepertinya banyak macam menjual makanan yang lain." ajak Rian yang takut jika Ayla tidak setuju.
"Iya, aku ingin kita makan di sini saja. Sepertinya sangat enak." Ayla yang sudah melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu mobil dengan semangat.
Melihat hal itu, Rian pun buru-buru menyusul Ayla turun. Karna Rian tidak mau, jika Ayla ikut mengantri menunggu pesanan buat mereka.
"Hei..! kenapa kamu seperti anak kecil. Ayo kita cari tempat duduk dulu. Dan kamu duduk saja, biarkan aku yang memesan semua makanan yang di jual diwarung ini." Rian yang sudah mengengam pergelangan tangan Ayla. Dan mendudukkan Ayla, di meja yang terlihat kosong.
"Diam disini, tunggu aku pesan makanan nya." ucap Rian yang tidak mau di bantah, dan sudah pergi memesankan makanan untuk mereka.
Setelah memesan semuanya, Rian kembali lagi duduk di tempat tadi dia mendudukkan Ayla, di meja yang ada paling pinggir.
"Kamu pesan makanan apa?" tanya Ayla penasaran.
"Semuanya, aku pesan semua makanan yang di jual disini." seru Rian santai, sambil memainkan handphone milik nya.
Ketika Ayla ingin protes, ternyata sebagian pesanan mereka sudah datang. Dan di taruh di meja yang mereka duduki.
"Maaf tuan, Nona, ini sebagian pesanannya. Yang lain, masih kami persiapkan." ujar bapak-bapak yang sudah terlihat berumur 50 tahunan. Dengan wajah yang sangat bahagia.
Karena melihat si bapak penjual begitu semangat dan bahagia. Ayla tidak jadi membatalkan pesanan mereka, yang kata Rian tadi, semua yang di jual di warung ini. Sudah dia pesan.
"Cuci lah tangan mu lebih dulu. janga asal makan saja." cegah Rian melihat tangan Ayla yang hendak mengambil cumi yang dimasak pakai kecap.
Dan ada dua piring Nasi putih, yang di isi didalam piring biasa saja. Bukan seperti di Restoran yang piring nya saja sangat mahal. Ada juga sambel dan lalapan alakadarnya saja, yang menjadi menu andalan di warung ini.
"Maaf, aku lupa lagi!" seru Ayla tersenyum.
Dan tidak lama, datang lagi pesanan mereka yang lainnya lagi. Yang langsung di tata oleh si bapak tua tadi dan dua orang remaja di belakangnya.
"Selamat dinikmati tuan, Nona. Maaf hanya ini, yang bisa kami siapkan!" ucap si bapak pemilik warung merasa malu. Karena warungnya di kunjungi oleh orang kaya seperti Rian dan Ayla sekarang.
"Agh, bapak tidak perlu minta maaf seperti ini. Kami yang meminta maaf sudah merepotkan bapak." jawab, Ayla yang memang memiliki hati yang sangat baik.
"Baiklah, jika begitu silahkan kalian nikmati tuan, Nona. Kami pamit dulu, jika masih membutuhkan sesuatu. Panggil saja kami." pamit sibapak yang langsung pergi kembali ke belakang.
"Rian, aku hanya ingin makan disini. Bukannya sedang kelaparan." keluh Ayla.
"Siapa bilang ini untuk mu sendiri, kan aku juga mau." Imbuh Rian yang sudah mencuci tangan Ayla dan tangannya sendiri.
"Loh, bukannya tadi kamu tidak mau? kenapa sekarang sepertinya kamu yang sebetulnya sedang kelaparan!" cibir Ayla yang ikut juga mencicipi makanan yang ada didepannya.
"Entahlah, aku juga tidak tau kenapa, setelah melihat makanan ini, rasanya sudah sampai di mulutku. Sudah jangan banyak bicara lagi, ayo habiskan saja. Ini sepertinya mau hujan." ucap Rian sambil melihat keatas langit yang memang terlihat mendung.
Dan Ayla pun, tidak bicara lagi, mereka berdua sama-sama makan dengan tenang. Meskipun handphone milik Rian berbunyi terus menerus, namun Rian tidak mengangkat nya sama sekali.
Karena Rian tau, jika yang menghubungi nya, pasti Bela. Jadi sengaja dia biarkan.
Bagitu pula dengan Ayla, yang sudah menduganya, jadi Ayla tidak mau bertanya siapa yang menelepon Rian. Sebab Ayla tau, jika itu akan menyakiti hati nya sendiri.
.
.
.
.
.
.
...Terimakasih ya, yang sudah mau mengikuti sampai disini.🤗...
...Tapi maaf, ceritanya memang seperti ini alurnya, karena bila author percepat. Maka tidak akan nyambung sama cerita yang sudah ada. Ceritanya lama, bukan berarti jika hanya berjalan di tempat....
...Jadi mohon pengertiannya 🙏...
Terimakasih.😘😘😘😘