Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Lamaran persi Nando.


🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Malam pun tiba. Sekarang sudah hampir saatnya untuk mereka makan malam di Villa tempat Ayla tinggal.


"Sar, apa kamu serius akan di jodohkan juga sama anak dari rekan bisnis papa, mu?' wanita hamil itu kembali bertanya kepada Sari yang baru saja bercerita masalah nya pada Ayla.


"Hm! Buat apa aku harus berbohong sama kamu, Ay! Kata papa dan mamaku jika sampai pada akhir bulan ini aku tidak membawa kekasihku datang ke rumah, maka mereka akan menjodohkan aku sama anak dari teman papa. Aku nggak mau di jodohin, tapi aku juga nggak punya calon. Boro-boro calon suami, pacar aja aku nggak punya." gadis itu sedikit merenggut karena Ayla masih kembali bertanya, padahal dia sudah sangat serius.


"Iya, iya, aku percaya. Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang? Jika kamu tidak mau di jodohkan oleh orang tua, mu. Coba kamu buka pintu hati kamu untuk pria yang benar-benar tulus mau kepadamu. Tidak semua laki-laki sama seperti mantan kekasihmu dulu." saat mengucapkan itu Ayla mengengam tangan Sari untuk menyakinkan sahabatnya itu agar mau membuka lembaran baru.


"Entahlah, Ay. Aku bingung harus bagaimana, rasanya di khianati sangat sakit. Apalagi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, dia dan wanita itu sedang melakukan---" Sari tidak sanggup untuk mengucapkan jika mantan kekasihnya dulu sedang berhubungan intim dengan selingkuhannya.


"Nona maaf saya mengangu! Tapi sekarang waktunya untuk makan malam." seorang pelayan datang mendekati mereka yang masih mengobrol di balkon lantai atas.


"Tidak apa-apa, Mbk. Jika begitu tolong sekalian pangil kak Nando juga, ya. Kami akan turun duluan." kata Ayla hendak berdiri dari duduknya.


"Tapi Tuan Nando ada di si---"


"Tidak perlu, Ay. Kakak sekarang sudah ada di sini. Ayo kita makan malam sekarang, kakak sangat lapar." Nando sengaja memotong ucapan pelayan itu saat ingin mengatakan jika dia sudah berada di sana, saat Sari bercerita masalah nya.


"Wah kebetulan sekali, jika begitu kita langsung saja ke bawah." jawab Ayla tersenyum sambil berjalan mendekati Nando yang tidak terlalu jauh dari mereka. Sedangkan Sari saat mendengar suara Nando, dia hanya menunduk karena masih merasa malu perihal masalah anak yang mereka perebutkan tadi siang.


"Sar ayo! Malah bengong di situ." pangil Ayla yang melihat Sari diam di sofa yang mereka tempati tadi.


"Agh, iya." Sari pun berdiri untuk menyusul Ayla yang masih setia berdiri menunggu nya. Berbeda dengan Nando, dia tau jika gadis itu pasti malu bertemu dengan nya. Jadi dia memilih turun lebih dulu.


Tiba di meja makan. Sari tidak banyak bicara, dia hanya mendergar saja saat Nando dan Ayla bertukar cerita seperti dua saudara yang baru saja bertemu.


"Apa mama dan papa sehat kak?" Ayla menayangkan keadaan orang tua Nando.


Sebelum Ayla pergi meninggalkan kota B. Memang dia mengunjugi kedua orang tua Nando. Saat itulah Ayla di minta untuk memanggil mereka dengan sebutan mama dan papa juga, sama seperti Nando anaknya, karena mereka memang sangat menyayangi Ayla.


"Mereka sehat semua! Hanya mama sering tidak bisa tidur bila dia ingat padamu." jawab Nando selesai menghabiskan makanan di dalam piring nya.


"Huh! Rasanya aku juga sudah kangen ingin bertemu mama. Semoga masalah ini cepat berakhir, agar aku bisa bebas seperti dulu." lanjut Ayla yang juga sudah selesai menghabiskan makanannya begitu juga dengan Sari.


Setelah selesai makan malam, mereka bertiga kembali lagi ke lantai atas. Tiba di lantai atas Ayla berpamitan ingin ke kamarnya lebih dulu. Dia pun menyuruh Sari dan Nando menunggu dirinya di balkon tempat paling indah apalagi bila malam hari.


Selama Ayla kembali ke kamarnya. Sari hanya diam sambil memainkan HP miliknya. Sebelum suara Nando mengalihkan dia dari benda pipih itu.


"Sari! Apa boleh kakak bertanya sesuatu?" tanya Nando yang memang sudah dari tadi menahan gejolak di hatinya.


"Hm, tanya saja kak. Jika tidak sulit akan aku jawab." gadis itu memperbaiki duduknya karena melihat jika lelaki yang sedang bicara dengannya terlihat sangat serius.


"Apakah kamu sudah memiliki calon? Eh, tidak. Maksudnya apakah kamu memiliki kekasih?" Nando sedikit bingung saat menanyakan itu.


"Memangnya kenapa? Apa kakak ingin menjodohkan aku juga seperti orang tua ku," Sari balik bertanya di sertai candaan.


"Jawab saja, apakah kamu sudah memiliki kekasih atau belum?" kata Nando kembali bertanya untuk kedua kalinya.


"Huh... Aku ini jomblo kak, mana punya calon, kekasih saja tidak punya. Kakak ini aneh sekali, bertanya apakah aku sudah memiliki calon atau kekasih. Lah kakak yang nanya juga jomblo." Sari tergelak sendiri menyadari jika Nando juga sama jomblo seperti dia.


"Kakak serius? Tapi baru calon pacar atau calon istri, nih?" gadis itu malah tegak dari sofa yang dia duduki lalu berjalan mendekati Nando dan duduk lagi di sampingnya.


Deg....


"Gadis ini! Kenapa dia malah duduk di sini,"


Batin Nando sebelum dia menjawab pertanyaan Sari.


"Tentu saja calon istri. Kakak sudah tidak mau lagi berpacaran karena kakak takut bila harus kembali kehilangan." lelaki itu berusaha untuk menaha jantung nya yang tiba-tiba kembali berdetak kencang.


"Agh kakak benar juga. Kakak ini tampan, baik dan kaya raya. Pasti sangat mudah untuk mendapatkan calon istri. Aku juga tidak akan menolak bila di ajak menikah oleh lelaki yang baik seperti kak Nando." puji Sari ikut tersenyum bahagia karena akhirnya Nando mendapatkan tambatan hatinya.


"Sari, jika sekarang ada lelaki yang datang ingin menjadi kekasih, mu. Apakah kamu akan menerima lelaki itu?" lelaki itu mulai memantapkan niatnya terhadap gadis yang sedang duduk di sisinya itu.


"Kan tadi aku sudah bilang, jika lelaki itu seperti kakak ,aku akan langsung menerima nya. Jangankan di jadikan kekasih, di jadikan istri saja aku tidak menolak."


"Jika begitu, mau kah kamu menjadi calon istri kakak?" Nando akhirnya mengeluarkan kata-kata itu juga.


"Kakak jangan bercanda, meskipun aku jomblo. Tapi tidak mempan bila di prank seperti ini, karena si Vino Kio juga sudah sering melamar ku." Sari menjawab dengan jantung berdebar kencang, karena sesungguhnya dia berharap jika yang di dengarnya adalah nyata.


"Kakak serius, Sar. Jika kamu mau, menikahlah dengan kakak," lelaki itu menyetuh tangan kanan Sari.


"Ta--Tapi bukanya tadi kakak bilang sudah punya calon?" jawab Sari tergagap masih tidak percaya dengan ucapan Nando.


"Benar kakak sudah punya calon. Tapi calonya itu adalah kamu. Sekarang ayo jawab, apakah kamu bersedia menikah dengan kakak?" lelaki itu kembali mengulangi pertanyaan yang belum di jawab oleh Sari.


"Tapi... Kita tidak berpacaran! Lalu bagaimana kita bisa menikah. Aku juga ingin menikah dengan orang yang juga mencintai, ku." kata Sari menarik tangannya.


"Jika kita sama-sama berusaha untuk saling mencintai, maka kita pasti bisa. Kamu pasti taukan seperti apa Ayla dan suaminya dulu. Kakak akan berusaha untuk bisa mencintaimu. Lagian jika kamu tidak menerima kakak, apakah kamu sudah punya calon untuk di kenalkan kepada kedua orang tua, mu?" kata Nando dengan sedikit mengertak gadis yang sudah membuat dia bisa berpaling dari cinta bertepuk sebelah tangan.


"Ba--Bagai mana kakak bisa tahu? Kakak menguping ya?" Sari bertanya penuh selidik.


"Itu tidak penting, yang penting kamu jawab dulu. Apakah kamu mau menerima yang kakak katakan tadi? Jika kamu tidak mau, ya..tidak masalah! Kamu sendiri yang bilang pasti banyak wanita yang mau kakak jadikan kekasih." Nando tersenyum karena dia yakin jika Sari tidak akan menolak nya.


Setelah terdiam beberapa saat. Sari akhirnya menjawab lamaran dadakan yang Nando lakukan. Lelaki yang tadi pagi berdebat dengan nya gara-gara ingin anaknya laki-laki semua.


"Ba--baiklah! Aa--aku mau menerima kakak sebagai calon suamiku. Tapi, tapi jika aku hamil anak kembar, aku mau anaknya satu laki-laki dan satu perempuan." cicit Sari menutup mukanya mengunakan bantal sofa karena merasa malu dengan ucapannya sendiri.


"Ha...Ha...! Buat juga belum, sudah mau riekues saja. Apakah kita buat saja dulu, baru setelah itu kita menikah?" ujar Nando semakin tertawa melihat Sari menutup mukanya.


Flashback off....


"Sayang! Bagaimana jika besok kita pergi melihat rumah baru kita?" Rian memeluk tubuh Ayla dari belakang sambil mengelus perut sang istri. Sekarang mereka sedang berada di balkon kamar Rian yang ada di rumah orang tuanya.


Semenjak Rian pulang dari rumah sakit. Memang mereka tinggal di sana. Rian tidak mau membawa istrinya pulang ke rumah lama mereka, karena takut bila Ayla kembali mengigat perlakuannya yang sudah menyia-nyiakan istri nya dulu.


"Jika kamu belum sembuh jangan di paksakan, di manapun tempatnya aku pasti betah. Apalagi sekarang ada kamu bersama ku," Ayla membalikan tubuhnya agar bisa berhadapan dengan suaminya.


"Aku sudah lebih dari sembuh. Jika kamu tidak percaya, kita boleh mencobanya malam ini." kata Rian sudah kembali mendekatkan bibirnya kearah bibir Ayla yang sudah membuatnya candu semenjak mereka berbaikan.


*BERSAMBUNG.....🤗*