Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Mama ingin cucu.


🌿🌿🌿🌿🌿


Pandangan Rian, tak lepas dari Ayla yang sedang mengambil pakaiannya di dalam lemari.


Menyadari jika Rian melihatnya sudah seperti singa yang kelaparan, Ayla pun buru-buru masuk kedalam ruang ganti.


Sedangkan Rian merasa kesal sendiri, karna dibawah sana sudah ada sesuatu yang sudah mencari kediaman ternyaman yang bisa membuatnya tertidur nyenyak.


Tapi sayang, si empu nya malah masih belum memberikan surat izin untuk ditempati.


"Sial, lo kenapa nakal banget sih! cuma melihat Ayla pake handuk aja udah menyiksa gue kayak gini, giliran sama Bela meskipun lebih dari itu, lo malahan anteng, dan tidur terus gak mau bangun-bangun." rutuk Rian yang langsung masuk ke dalam kamar mandi, untuk menidurkan adik kecil nya yang sekarang sudah mulai nakal.


Begitu Ayla keluar dari menganti pakaiannya, malah tidak menemukan Rian. Tapi Ayla dapat mendengar, jika Rian sedang berada di dalam kamar mandi, lalu Ayla langsung menyiapkan pakaian ganti untuk Rian seperti biasanya.


Cek..lek....


Pintu yang Rian buka dari dalam kamar mandi, dan sudah terlihat Rian segar kembali seperti semula.


Lalu Ayla pun menoleh, tidak sedikitpun Ayla mengalihkan pandangannya, karena melihat ketampanan Rian, ditambah air yang masih menetes dari rambutnya dan jangan lupakan juga, roti sobek yang begitu menggiurkan untuk dicicipi, sehingga Ayla tidak sadar jika Rian sudah berjalan mendekati nya.


"Fiuuuuh.....!"


Rian meniup muka Ayla sambil tersenyum.


Sehingga membuat Ayla tersadar dari pesona Rian yang bisa membuat para emak-emak pun ikut terpesona.


"Agh...! kanapa kamu ada didekat ku?" seru Ayla sambil berjalan mundur menjauh dari Rian.


Mendengar pertanyaan Ayla, Rian menaikan satu alisnya, sambil kembali mendekati Ayla.


"Mana aku tau! bukannya tadi kamu sendiri yang mendekati aku?" ucap Rian seolah-olah dia adalah korban dari kejahatan mata Ayla.


"Benarkah? kenapa kamu tidak menjauh, dan malah pasrah ketika aku mendekatimu?" ucap Ayla yang muka nya sudah memerah seperti cabe yang sedang mahal.


Melihat hal itu, membuat Rian langsung tertawa.


"Ayla, apa kamu selalu seperti ini? bila melihat laki-laki yang tampan." tanya Rian yang sudah mengukung Ayla disudut meja yang berada disamping tempat tidur.


"Aaapa...! apa maksudmu! mana pernah aku melihat laki-laki seperti itu, aku saja tidak pernah jatuh cinta." tanpa sadar Ayla malah mengakui bahwa dirinya belum pernah berpacaran.


"Benarkah? apa kamu belum pernah berpacaran?" tanya Rian yang semakin serius.


Lalu dengan refleks Ayla mengelengkan kepalanya, Ayla belum pernah berpacaran bukan karena tidak ada yang mau, tapi memang Ayla yang tidak pernah tertarik kepada lelaki manapun.


Termasuk Nando maupun Vino, karena rasa cinta kedua lelaki itu yang begitu besar dan tulus, sehingga mereka malah ingin menjadi kakak bagi gadis yang mereka cintai, daripada mereka harus menjaga jarak.


" Aku rasa pasti Ayla belum pernah dicium oleh laki-laki lain, jika dia saja belum pernah berpacaran, bibir ini..!! kenapa mengoda sekali, rasanya aku sudah tidak tahan ingin mencicipinya." Rian mengeleng-geleng kan kepalanya, untuk menghilangkan pikiran mesum, yang sudah ingin silaturahim bibir dengan Ayla.


"Kamu kenapa Ri." tanya Ayla bingung.


"Agh, tidak apa-apa! aku ingin mengambil pakaian ku." ucap Rian asal.


"Bukannya pakaian mu ada disebelah sana? sejak kapan aku menaruhnya di sebelah sini." seru Ayla sambil menunjuk disebelah ranjang mereka.


"Iya, aku lupa." lalu Rian pun mengambil pakaiannya dan langsung masuk keruang ganti.


Tok...tok....tok...!


Mendengar pintu yang diketuk, Ayla langsung berjalan untuk membuka pintunya.


"Ada apa Mbak?" tanya Ayla pada seorang pelayan wanita yang masih berumur 30 tahunan yang mengetok pintu tadi.


"Maaf Nona, saya disuruh Nyonya untuk memanggil tuan muda dan Nona muda, untuk makan malam." ucap si pelayan dengan sopan.


"Baiklah, kami akan segera turun, terimakasih ya Mbak!" lalu Ayla pun kembali menutup pintu kamarnya, setelah si pelayan pamit untuk turun ke lantai bawah lagi.


"Siapa?" Rian yang sudah selesai memakai pakaiannya bertanya kepada Ayla.


"Itu pelayan, katanya kita sudah di tunggu untuk makan malam." jawab Ayla sambil mengambil handuk ditangan Rian yang digunakan Rian tadi, lalu Ayla langsung menyimpan kembali di tempatnya.


"Ayo kita turun, habis makan malam nanti, kita langsung pulang saja ya! tidak usah menginap." ajak Rian yang sudah membukakan pintu untuk Ayla dan dirinya.


"Kenapa?" Ayla yang merasa betah tinggal dirumah mertuanya, tentu saja langsung protes.


"Tidak kenapa-kenapa! cuma besok, aku harus keperusahan pagi, bukan siang seperti biasanya."


"Heeeeeem! baiklah, terserah padamu saja." seru Ayla tak bersemangat.


"Jangan cemberut gitu, nanti aku bisa khilaf! lagian akhir pekan, kita akan kesini lagi." Rian berucap sambil merangkul bahu Ayla menuju ke lantai bawah, tempat kedua orangtuanya berada sekarang.


"Sayang, ayo sini duduk dekat Mama ya! ada yang ingin mama tanyakan sama kamu" ujar Mama Sonya yang langsung berdiri dan menarik kursi untuk menantu satu-satunya itu duduk. Tanpa memperdulikan putra nya sendiri, sehingga membuat Rian merasa dianak tirikan.


"Anak Mama Rian, tapi kenapa malah Rian seperti menantu yang tak diinginkan!" ucap Rian yang sudah duduk disebelah Ayla.


"Kamu itu ya, sama istri sendiri juga!" seru Mama Sonya, sambil mengisi piring untuk suami dan kedua anak menantunya.


Akhirnya Rian pun terdiam, karena tidak ingin berdebat dengan Mama nya. Sedangkan Papa Heri tidak banyak bicara seperti biasanya.


"Sayang, apa belum ada tanda-tanda juga?" tanya Mama Sonya yang sudah kembali menaruh daging di piring Ayla.


"Tanda apa ma.!" tanya Ayla belum mengerti.


"Tanda-tanda kehadiran cucu Mama Nak! apa kamu belum memiliki tanda-tanda kalau kamu hamil?"


"Uhuuuuuk... uhuk..!" Ayla langsung tersedak makanan, mendengar pertanyaan Mama mertuanya.


Lalu Rian langsung memberikan air minum kepada Ayla.


"Mama kenapa bertanya begitu sih, Ayla kan sedang makan." ucap Rian yang masih mengelus punggung Ayla, karena Ayla masih batuk-batuk juga.


"Maaf ya sayang..! Mama hanya sudah tidak sabar ingin memiliki cucu. Kemarin Mama bertemu sahabat Mama, dia bercerita jika anaknya yang baru menikah beberapa bulan lalu sudah hamil, jadi Mama pikir, mungkin kamu juga sudah ada tanda-tanda hamil." seru Mama dengan nada sedih, karena melihat Ayla tersedak makanan, sudah bisa di tebak, jika menantunya itu belum mengandung cucunya.


"Mama yang sabar ya! mungkin Ayla sama Rian belum diberikan kepercayaan sama Tuhan, untuk mejaga titipanya!" ucap Ayla yang langsung berdiri dan memeluk Mama mertuanya, karena Ayla tau, pasti mertuanya merasa sedih.


"Iya sayang! kamu benar, tapi kita harus berusaha juga kan? bagai mana jika kita menemui dokter kandungan, untuk memeriksa kesehatan kalian berdua." ajak Mama Sonya yang sudah kembali bersemangat.


"Eeh, tidak perlu Ma! Rian sama Ayla baik-baik saja, tidak perlu diperiksa. Iya kan sayang?" seru Rian dengan cepat.


Sehingga langsung membuat Papa Heri berdiri, dan menyuruh Rian keruangan kerjanya.


"Rian, papa tunggu kamu di ruang kerja Papa." ujar Papa Heri yang langsung pergi. Bahkan Papa Heri tidak berpamitan dulu kepada istri dan menantunya.


"Ada apa Nak? kenapa Mama perhatikan semenjak kalian datang, Papa mu sepertinya sedang marah! apa ada masalah di perusahaan?" tanya Mama Sonya bingung.


"Entahlah Ma! Rian juga tidak tau, tapi di perusahaan tidak terjadi apapun, kalau begitu Rian keruang kerja Papa dulu ya!" pamit Rian kepada Mama nya.


"Ay, kamu tolong temani Mama dulu ya..! aku akan menemui Papa, nanti jika sudah selesai, baru kita pulang." ucap Rian sambil mengelus bahu Ayla, Ayla yang sedikit mengerti keadaan pun hanya mengangguk. Karena dia tau, pasti ada hubungannya dengan mereka berdua.


πŸƒ


πŸƒ


πŸƒ


πŸƒ


πŸƒ


πŸƒ


πŸƒ


πŸƒ


Terimakasih ya, sudah mau mengikuti sampai bab ini 😘😘 mohon dukungannya juga! agar autor nya semangat juga untuk menulis.