
🍁🍁🍁🍁🍁
.
.
"Ada apa ini?" tanya Bunda Mirna yang baru keluar dari dalam kamar mandi.
"Bunda....!" Ayla melihat kearah Bunda nya.
"Ini.., Ayla ingin melihat Rian!" ucap Mama Sonya, menjawab pertanyaan dari Bunda Mirna.
"Sayang....! kamu belum pulih, lebih baik istirahat dulu." cegah Bunda Mirna yang sudah berada di samping ranjang tempat Ayla.
"Ayla ingin melihat keadaan Rian Bun. Ayla mau ketemu Rian." Ayla pun menangis, setelah menyebut nama Rian.
Melihat itu, Bunda Mirna langsung saja memeluk putrinya. Untuk memberikan kekuatan pada Ayla.
"Tapi kamu belum sarapan Nak,! kamu harus memikirkan kesehatan kamu dan si kembar." ujar Mama Sonya lagi.
Sambil tangannya mengelus punggung Ayla, yang masih menangis dalam pelukan Bunda Mirna.
"Tapi Ma..! Ayla tidak bisa sarapan, jika belum mengetahui keadaan Rian." seru Ayla, dengan mata berkaca-kaca.
"Nak, Apa yang dikatakan Mama Sonya benar, kamu sarapan dulu ya,! setelah itu, baru kamu melihat keadaan Rian. Tapi, seperti apapun keadaannya nanti, kamu harus kuat. Ini bukan untuk dirimu sendiri. Tapi untuk kesehatan si kembar juga. Kamu paham kan, maksud Bunda."
Kata bunda Mirna melepaskan pelukannya. Lalu beliau menghapus air mata yang ada di pipi putri sulungnya itu.
"Benar kah? Bunda sama Mama akan mengizinkan Ayla melihat Rian?" ucap Ayla memastikan.
Mendengar nya, membuat bunda Mirna sedikit tersenyum. Karna putrinya itu meragukan, ucapan dia dan besannya.
"Tentu saja benar sayang..! setelah kamu menghabiskan sarapannya, kamu boleh melihat Rian" Mama Sonya ikut membujuk Ayla. Agar mau sarapan lebih dulu.
"Baiklah, jika begitu. Ayla akan menghabiskan sarapan itu." tunjuk Ayla kearah makanan yang ada di atas nakas yang berada di dekat ranjang tempat dia duduk sekarang.
"Heeem...! Biar Mama suapi ya? kamu duduk seperti ini saja. Tapi nanti, kamu kesanaya pakai kursi roda ya sayang. Biar Mama menyuruh Papa memintanya dulu pada perawat di sini." terang Mama Sonya memegang piring untuk menyuapi Ayla.
Ayla pun hanya mengangguk saja, demi melihat keadaan Rian.
Beberapa menit setelah Ayla sarapan. Dua orang perawat datang membawakan kursi roda untuknya. Lalu mereka berdua pun membantu Ayla duduk di kursi roda yang mereka bawa.
"Biar kami saja yang membawanya kesana Sus. Terimakasih sudah membantu kami." ucap Bunda Mirna yang bersiap mengambil alih, mendorong Ayla.
Karna dia dan Mama Sonya, juga ingin melihat keadaan Rian.
Dan para perawat itupun mempersilahkan. Namun mereka tetap ikut di belakangnya. Untuk memastikan, jika pasien mereka baik-baik saja.
Di depan ruang ICU tempat Rian di rawat.
"Kenapa kalian membawa Ayla kesini?" Tuan Heri langsung berdiri melihat kedatangan mereka.
"Ayla ingin melihat keadaan Rian Pa,! biarkan dia melihatnya." Mama Sonya menganggukkan kepalanya pelan.
"Baik, lihat lah kedalam Nak,! bangunkan suamimu. Katakan jika kita semua menunggu nya bangun." ucap Tuan Heri yang mengerti dari angukan istrinya. Dengan menghela nafas berat.
"Sus, tolong antarkan putri saya kedalam ya,! kami akan menunggu disini saja. Jika ada apa-apa, tolong pangil saja kami." ucap Tuan Heri lagi.
Lalu, kedua perawat itupun mengantar Ayla kedalam ruang ICU tempat Rian terbujur kaku. Yang di badannya sudah dipenuhi oleh alat semua.
Begitu melihat keadaan Rian dari jauh. Ayla langsung saja menangis pilu. Meskipun, kursi roda yang di duduki olehnya, belum sampai didekat tempat Rian terbaring.
"Rian...! Ini aku." Ayla menangis menyentuh tangan Rian yang terpasang impus.
"Nona, kami menunggu di sana, nanti jika waktu penjengukan sudah habis, kami kesini lagi." kata salah satu perawat, yang mendorong kursi roda nya tadi.
Ayla tidak menjawab, tapi dia hanya mengangguk saja.
Setelah melihat para perawat itu meninggalkannya. Ayla kembali lagi melihat kearah Rian.
"Ri...! ini aku. Ayo bangun. Kamu bisa mendengar aku kan. Bangun lah, aku mohon?" ucap Ayla pilu.
Rasanya, dia benar-benar tidak sanggup melihat keadaan Rian seperti sekarang.
"Ri, ayo bangunlah,! jangan seperti ini. Bukankah kamu berjanji jika akan mewujudkan semua yang di inginkan oleh kedua anak mu. Lalu jika kamu seperti ini, siapa yang akan memenuhinya."
Tes...
Tes...
Rian kembali lagi meneteskan air matanya. Sama seperti saat mendengar perkataan Nando tadi malam.
Karna Rian memang bisa mendengar semua perkataan siapapun. Namun dia tidak bisa untuk mengerakan tubuhnya.
"Sayang...! kamu bisa mendengar ku? jika kamu bisa mendengar ku, ayo bangunlah. Aku mohon sayang." ucap Ayla menghapus air mata nya.
Tanpa disadari oleh Ayla, dia sudah menyebut Rian Sayang.
Ayla terus saja memangil nama Rian, berharap Rian bisa bangun mendengar suaranya. Meskipun harapan itu sangat kecil.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak bisa menggerakkan tubuh ku. Aku tidak bisa bangun."
Ucap Rian di dalam hatinya.
"Maaf Nona, waktu kita sudah habis. Mari kita keluar, nanti siang. Nona boleh kembali lagi kesini." kata perawat itu, yang sudah mengajak Ayla pergi dari sana.
"Tapi saya ingin menemani suami saya di sini. Saya ingin menemani nya Sus." Ayla memohon untuk memberikan izin kepada nya.
Namun, melihat Ayla yang terlihat tidak bisa mengendalikan dirinya. Membuat kedua perawat itu membawanya keluar, meskipun Ayla menolak.
"Pa, tolong bilang pada mereka, untuk mengizinkan Ayla menemani Rian di dalam." ucap Ayla kembali memohon.
Berharap jika sang Papa mertua, bisa membantunya.
"Nak biarkan suamimu istirahat, biar dia cepat pulih kembali. Sekarang kita kembali ke kamar rawat mu ya!" Bunda Mirna memegang kedua bahu Ayla.
"Tapi Rian tidak bisa mendengar Ayla Bun,! Ayla ingin disini menemani nya." lirih Ayla yang kembali menangis pilu.
"Kamu harus memikirkan keadaan kedua anak mu Nak. Jangan seperti ini. Rian pasti baik-baik saja. Sekarang kita kembali ke kamar ya." ujar Bunda Mirna lagi.
"Sonya, aku akan menemani Ayla lagi. Kalian disini saja temani Rian." Bunda Mirna melihat kearah Mama Sonya yang ada di sebelah Ayla.
Karna Tuan Heri dan Mama Sonya, tidak bisa menjawab permintaan dari menantu mereka.
Meskipun Ayla menolak tidak mau. Bunda Mirna tetap membawa Ayla kembali ke kamar rawatnya. Di bantu oleh kedua orang suster yang bersama mereka tadi.
Sebab Bunda Mirna sudah tau keadaan Rian seperti apa.
Tidak lama setelah Bunda Mirna dan Ayla pergi dari sana. Satu orang perawat, keluar dari ruang ICU dengan terburu-buru.
"Ada apa Pa? apa yang terjadi di dalam." tanya Mama Sonya gusar.
Entah mengapa, tiba-tiba dia punya perasaan tidak enak, terhadap keadaan Rian.
"Mungkin terjadi sesuatu pada pasien lain. Mama duduk lah, anak kita pasti akan baik-baik saja." ucap Tuan Heri yang juga memiliki perasaan tidak enak.
Dan tidak lama setelah itu, dua orang dokter masuk keruangan itu dengan terburu-buru juga.
*BERSAMBUNG......🤗*
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya 🤗
Like.
Komen.
Favorit.
Vote.
Dan hadiah nya, kopi maupun bunga nya.😍😍😍