Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Kritis.


🌿🌿🌿🌿🌿


.


.


"Bagaimana keadaan Rian Nak?" tanya Mama Sonya yang baru datang.


Karna dia memang baru diberitahu, ketika beberapa orang pengawal menjemput dia rumahnya tadi.


"Rian masih di ruang operasi Tante." jawab Nando yang langsung memeluk Mama Sonya.


"Lalu kemana Om mu? bukankah kalian tadi pergi bersama. Kenapa putra Tante bisa tertembak?" Mama Sonya tak kuasa menahan tangisnya.


Mendengar pertanyaan Mama Sonya. Nando melepaskan pelukannya. Dan diapun mengajak Mama Sonya duduk di bangku yang ada di depan ruang operasi.


Karna dia baru sadar, jika Mama Sonya pasti belum mengetahui apa yang terjadi.


"Tante, dengarkan Nando. Sebetulnya, tadi ketika Nando masih bersama Om Heri. Om mendapat telpon dari Aldi. Dan Aldi menyampaikan, jika Ayla di culik oleh anak buah, Tuan Sanjaya." ucap Nando mengengam tangan wanita yang sudah dianggapnya seperti Mama nya sendiri.


"Apa? lalu bagaimana dengan putri dan kedua calon cucu Tante Nak. Apakah dia sudah di bebaskan. Dimana dia sekarang?" Mama Sonya semakin shok mendapatkan berita yang baru lagi.


Lalu Nando pun menceritakan apa yang sudah terjadi sebenarnya. Dari awal mereka menyerang, untuk membebaskan Ayla.


"Jadi sekarang Ayla juga sedang dirawat disini juga. Karna melihat keadaan Rian tadi, membuat nya pingsan. Tapi Ayla sudah di jaga oleh Bunda sama Om Ridwan." terang Nando menggakhiri ceritanya.


"Ya Tuhan. tolong jaga kedua anak dan calon cucuku." ucap Mama Sonya lirih.


"Apakah Rian sudah lama berada di ruang operasi nya? kenapa lama seka...." blm selesai Mama Sonya bertanya, pintu ruangan operasi di buka oleh salah satu perawat.


Namun dia terlihat terburu-buru. Dia tidak menghiraukan panggilan dari Nando dan Mama Sonya.


"Apa yang terjadi di dalam Nak? Anak Tante pasti baik-baik saja kan?" Nando tidak bisa menjawab pertanyaan Mama Sonya.


Karna dia sendiri tau, jika peluru itu mengenai dada Rian. Dan itu bukan hanya satu. Tapi dua peluru. Sudah dapat dipastikan, jika keadaan Rian pasti sangat parah.


"Nando,! jawab Tante. Rian pasti baik-baik saja kan? Dia pasti selamat kan? Tolong beritahu Tante Nak, tolong bilang, jika Rian pasti baik-baik saja kan!" Mama Sonya menagis pilu. Karna dari diam nya Nando.


Membuat dia tau, jika anaknya pasti tidak baik-baik saja.


"Tante, Rian pasti baik-baik saja. Dia pasti selamat. Kita kan belum tau apa yang terjadi didalam. Sekarang Tante minum dulu ya..! Tante jangan seperti ini, Rian butuh do'a dari Tante. Jika Ayla melihat Tante seperti ini. Maka dia akan bertambah shok." Nando memberikan Mama Sonya air putih, yang tadi di berikan oleh Ayah Ridwan untuk nya.


Mendengar nama menantunya, Mama Sonya langsung berhenti, dan baru memikirkan keadaan Ayla juga. Jika Ayla sampai shok lagi, maka keadaan kedua cucunya, juga dalam bahaya.


"Agh..! Kamu benar Nak. Tante tidak boleh seperti ini. Tante harus kuat untuk mereka semua." seru Mama Sonya, setelah meminum air yang di beri Nando tadi. Meskipun berat untuk nya mengatakan itu semua.


Dan akhirnya Nando merasa lega. Karna dia bisa memberi Mama Sonya pengertian.


Lalu Nando dan Mama Sonya hanya bisa duduk dengan gelisah. Sambil melihat kadang dokter, kadang juga perawat yang keluar dengan terburu-buru dari sana.


Namun belum ada yang memberi mereka penjelasan, apa yang sedang terjadi di dalam sana.


"Ma...!"pangil Papa Heri, yang baru saja datang menyusul putranya.


Tadi setelah membereskan masalah Sanjaya dan para sekutunya. Tuan Heri mampir dulu kesalah satu hotel miliknya. Untuk membersihkan diri dan menganti pakaian yang tadi sudah terkena noda darah.


"Papa..,! Anak kita Pa. Para dokter itu belum ada yang memberitahu kami, bagaimana keadaan anak kita." Melihat suaminya sudah datang.


Membuat mama Sonya kembali lagi menangis. Untuk mencurahkan apa yang sedang dia rasakan. Kepada sandaran hatinya itu.


"Bersabarlah, kita hanya bisa berdo'a. Semoga putra kita baik-baik saja." hanya itu yang bisa Tuan Heri ucapkan.


Karna dia adalah kepala keluarga, jadi Tuan Heri berusaha untuk bisa tegar.


Tidak lama setelah itu, barulah pintu ruangan operasi itu terbuka. Namun ini bukan seperti tadi ,yang keluar hanya satu-satu.


Tapi ini ada beberapa dokter bedah dan perawat di belakangnya juga. Menandakan jika mereka sudah selesai menjalankan tugasnya.


Melihat keluarga pasien sudah menunggu tidak sabar di depan pintu ruangan operasi. Salah satu dokter itupun, langsung mendekati Tuan Heri beserta keluarga lainnya.


"Bagaimana keadaan putra Saya Dok? Apakah operasi nya, berjalan dengan lancar?" Tuan Heri bertanya tidak sabar.


Sebelum menjawab. Dokter itu memperbaiki letak kacamatanya lebih dulu. Ciri khas para dokter pada umunya.


"Operasi nya, berjalan lancar. Meskipun tadi keadaan pasien sempat melemah. Untuk saat ini, kami tidak bisa mengatakan jika keadaan pasien baik-baik saja. Karna keadaan pasien sedang keritis. Jadi kami memasukannya kedalam ruangan ICU." Dokter muda itu berucap dengan helaan nafas pasrah.


Karna para Tiem dokter sudah melakukan yang terbaik. Tapi keadaan Rian memang sangat parah. Dan mereka pun, harus menyampaikan berita itu kepada keluarga pasien.


Agar mereka tidak terlalu berharap. Dan akhirnya kecewa, karna tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan tadi.


"Apa,? jadi putra saya masih keritis!" Tuan Heri langsung menangkap istrinya yang langsung tidak sadarkan diri. Setelah mengetahui keadaan putranya.


Lalu Tuan Heri pun mengendong Mama Sonya ke arah bangku yang ada di belakang mereka.


"Nando, kamu tolong jaga disini ya. Om akan membawa Tante ke ruang tempat Ayla dirawat." ucap Tuan Heri. Yang kembali menggendong Mama Sonya ketempat Ayla dirawat.


Karna kamar tempat Ayla, adalah kamar VIP yang sama seperti hotel bintang lima. Hanya keluarga pilihan yang mampu menginap di kamar itu.


Nando hanya menggangguk kan kepalanya. Karna tuan Heri sudah berlalu, di ikuti oleh beberapa perawat di belakangnya nya.


Tiba di depan ruang rawat inap tempat Ayla. Perawatan itupun membantu membuka pintunya.


"Loh, Sonya kenapa lagi Her? Ayah Ridwan dan Bunda Mirna kaget melihat besanya juga sudah tidak sadarkan diri.


"Dia sok, mendengar keadaan Rian." jawab tuan Heri yang sudah membaringkan mama Sonya di atas tempat tidur kosong, yang ada di sana.


Setelah menyelimuti Mama Sonya dengan selimut. Para perawat tadi pun memeriksa keadaan nya lebih dulu, sebelum mereka meninggalkan tempat itu. Tau jika Mama Sonya baik-baik saja. Merekapun berpamitan dari tempat itu.


Di ruangan ini, memang terdapat tiga ranjang tempat tidur, dengan berukuran sedang. Dua kamar mandi. Dan ada mini Bar kecil nya juga. Sebab satu ruangan ini berukuran 8x12 MC.


"Bagaimana keadaan Rian?" tanya Ayah Ridwan dan Bunda Mirna secara bersamaan. karna mereka sama-sama khawatir dengan keadaan menantu mereka.


Sebelum menjawab, Tuan Heri menarik nafas panjang. Begitu sulit untuk menjelaskan keadaan putranya.


"Sekarang keadaannya masih kritis. Untuk saat ini, Rian masih dirawat di ICU. Lalu bagaimana keadaan Putri kita. Kenapa dia belum sadar juga?" Tuan Heri berjalan mendekati ranjang tempat Ayla.


"Keadaan nya baik-baik saja. Dokter tadi sengaja menyuntikkan obat pada impus ini. Agar Ayla bisa istirahat dulu. Karna jika dengan keadaan sekarang, jika dia terus seperti tadi. Maka yang ditakutkan dia akan melahirkan, padahal kehamilannya baru jalan delapan bulan." Bunda Mirna yang menjelaskan kepada Tuan Heri.


Sambil tangannya mengelus pucuk kepala Ayla. Yang sedang tertidur dengan nyenyak.


"Nak...! kamu harus kuat, Apapun yang akan terjadi pada putra Papa nantinya. Setidaknya pikirkan, kedua anak mu. Rian melakukan semuanya, karna ingin melindungi kalian. Jadi kamu harus kuat agar mereka baik-baik saja. Dan Maafkan Papa,! karna dendam masa lalu kami. Kalian harus merasakan penderitaan ini." Tuan Heri berbicara dengan menahan sesak di dadanya.


Sedangkan Bunda Mirna yang mendengar ucapan besanya itu. Sudah menangis dari tadi.


BERSAMBUNG......😫


...Yuk aah, pada mamfir ke lapak sebelah.πŸ€—πŸ€—πŸ€—...


Terimakasih.😘😘😘😘