Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Operasi Caesar.


🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Bagaimana keadaan Ayla, Al?" tanya Bunda Mirna baru saja datang setelah di berikabar oleh Susi jika putrinya akan melahirkan hari ini.


"Saya juga belum tahu, Nyonya. Dari tadi belum ada dokter yang keluar." jawab sekertaris Aldi melihat ke arah pintu yang masih tertutup rapat.


"Hm, baiklah. Terimakasih kamu sudah membantu mereka. O'ya apakah besan saya sudah di beritahu juga?"


"Sudah, Nyonya mungkin sebentar lagi akan datang. Nyonya tadi sama siapa?" sekertaris Aldi balik bertanya karena melihat Bunda Mirna hanya datang sendirian.


"Saya datang di antar Pak Ilham. Ayah, Ayla sedang ada rapat di perusahaan jadi Saya belum bisa mengabarinya." jawab wanita itu ikut duduk di kursi tunggu.


Aldi pun hanya mengangguk tidak bertanya lagi sambil menunggu di kursi ruang tunggu bersama Bunda Mirna. Tidak lama setelah itu Mama Sonya pun sudah datang bersama Tuan Heri.


"Mir! Bagaimana keadaan putri kita?" seru Mama Sonya memeluk besanya dengan penuh rasa khwatir.


"Dia sedang di periksa tapi entah mengapa belum ada perawat ataupun dokter yang keluar. Jika Rian sudah pasti menemani Ayla." imbuh Bunda Mirna sama merasa khawatir.


"Kita tunggu saja mungkin mereka belum selesai memeriksanya. Kalian berdua duduklah kita hanya bisa berdo'a untuk keselamatan putri dan kedua calon cucu kita." kata Tuan Heri melihat istri dan besan perempuannya malah berjalan mondar-mandir di depan pintu.


"Bagai---" ucapan Mama Sonya terhenti.


Ceklek.....


Pintu sudah di buka oleh perawat dan satu orang dokter. Sebelum dokter mengatakan apa yang terjadi. Tuan Heri sudah lebih dulu bertanya.


"Ada apa, Dok? Kenapa hanya untuk memeriksa saja lama sekali?" tanya Tuan Heri yang tau pasti terjadi sesuatu.


"Lebih baik kita bicarakan di ruangan saya saja, Tuan Erlangga." jawabannya sambil memperbaiki letak kacamata seperti dokter pada umumnya.


"Iya, baiklah. Kalau begitu sekarang saja " ucap Tuan Heri tidak sabar. Lalu dia melihat kepada dua orang wanita yang sedang mengkhawatirkan menantunya dan berkata.


"Kalian mau ikut keruangan dokter Elida atau menunggu di sini saja?" tanya nya ingin mengikuti dokter muda yang menjadi dokter menantunya.


"Kami... Akan ikut!" jawab mereka serempak dan langsung saja mengikuti Tuan Heri dari belakang. Tiba di dalam ruangan Dokter Elida mereka di persilahkan untuk duduk dan dokter itu mulai memberi penjelasan.


"Begini tuan, nyonya. Bila dalam waktu satu jam tidak ada perubahan maka Nona Ayla harus di operasi karena pinggul nya sangat sempit. Bila ingin melahirkan secara normal. maka akan beresiko pada ketiganya." terang dokter itu melihat ke arah mereka bertiga secara bergantian.


"Apa! di operasi?" respon dua orang wanita itu kaget secara bersama.


"Iya Nyonya, kita tidak memiliki pilihan lain. Pembukaan nya juga sangat lambat, sudah hampir satu jam masih tetap pembukaan dua. Apabila di biarkan terlalu lama kasihan Nona harus menahan sakit." ucap dokter itu membenarkan.


"Lakukan apapun asalkan mereka baik-baik saja, Dok. Kalau bisa tidak perlu menunggu lagi agar putri kami tidak merasakan sakit lebih lama" sela Tuan Heri langsung mengambil keputusan.


Setelah mengurus semua persyaratan. Ayla pun akan di operasi Caesar setengah jam lagi atas permintaan ibu hamil itu sendiri. Dia masih bersih keras ingin melahirkan secara normal jadi mau tidak mau mereka memberikan waktu setengah jam. Bila setengah jam belum bisa lahir secara normal maka operasi akan di lakukan.


"Sayang!" pangil Bunda Mirna memeluk putrinya yang sedang duduk di atas ranjang.


"Bunda!" lirih Ayla balas memeluk Bundanya sambil menahan rasa sakit.


"Kenapa harus menunggu setengah jam lagi, Nak? bunda tidak tega melihat mu menahan sakit seperti ini," kata Bunda melepas pelukannya.


"Ay hanya ingin mencobanya bunda, siapa tahu Ayla bisa melahirkan secara normal." jawaban yang sama Ayla berikan pada bunda maupun ibu mertuanya. Sehingga mereka tidak bisa berkata-kata lagi selain mengikuti kemauan Ayla.


"Ya sudah kami hanya bisa berdo'a yang terbaik untuk kalian bertiga. Apapun keputusan mu, bunda dan mama akan selalu ada buat, mu. Kamu harus kuat ya, Nak demi kedua buah hatimu." ucap Bunda memberikan kekuatan untuk anak perempuan nya itu. Yang di angguki oleh Ayla karena dia sudah kembali merasakan kontraksi.


"Sayang! cengkram lah tangan ataupun punggungku, asalkan bisa mengurangi rasa sakit, mu." kata Rian yang tau jika istrinya sudah kembali merasakan sakit.


Sampai lebih dari waktu yang sudah di berikan. Namun, Ayla tetap tidak bisa melahirkan secara normal dan akhirnya sekarang dia sudah berada dalam ruangan operasi di dampingi oleh sang suami.


Tadinya Rian tidak di perbolehkan untuk ikut masuk keruang operasi. Hanya saja pria itu memaksa ingin menemani istrinya, jadilah mau tidak mau dokter itu memberikan izin.


"Aku mencintaimu!" entah untuk keberapa kalinya pria itu mengucapkan kata cinta sambil mengengam dan mencium tangan sang istrinya berulang kali.


"Aku juga mencintaimu," balas Ayla tersenyum pada suaminya.


Sementara para tiem dokter di bagian perutnya sedang berusaha mengeluarkan kedua anak mereka. Operasi Caesar jaman sekarang memang hanya dibius nya di bagian bawah saja. Maka dari itu Rian bersih keras untuk bersama istrinya.


"Bertahanlah sebentar lagi istriku, kedua malaikat kita akan segera lahir. Aku sangat bahagia sayang, sangat!" seru Rian meneteskan air mata bahagia nya melihat seperti apa perjuangan Ayla untuk bisa melahirkan anak mereka secara normal.


"Aku juga berterimakasih untuk semua kebahagiaan ini. Aku pun sama bahagianya." balas Ayla juga tersenyum bahagia.


Padahal sebelum masuk keruangan itu dia sempat merasa takut. Namun, semua rasa takut nya hilang karena Rian selalu ada di sisinya.


Lima belas menit kemudian terdengar suara tangis anak pertama mereka yang sudah di keluarkan oleh Dokter Elida.


"Oe....Oe...Oe..!" Suara tangisan bayi langsung mengema dalam ruangan operasi. Sehingga membuat pasangan suami-istri itu pun menangis bahagia karena anak mereka sudah lahir.


"Selamat Tuan muda, Nona. Anak pertama kalian adalah laki-laki." ucap Dokter Elida langsung meletakkan bayi itu di atas dada Ayla untuk memberikan rangsangan pada ibu dan anaknya.


"Anak, mama!" ucap Ayla menangis haru. Melihat bayinya sudah lahir ke dunia dalam keadaan sehat tidak kurang suatu apapun. Begitu pula dengan Rian, lelaki itu tidak kuasa menahan air mata bahagia melihat anak yang sempat dia abaikan sekarang sudah bergerak di atas tubuh sang istri untuk mencari wadah sumber kehidupannya.


Tanpa Ayla dan Rian sadari jika masih ada satu lagi anak mereka yang belum di keluarkan.


"Bagaimana, Dok?" tanya salah satu perawat melihat keterkejutan Dokter Elida begitu dia berhasil mengeluarkan anak kedua Rian dan Ayla.


"Anaknya sudah---" ucapan dokter Elida terhenti mendengar suara Ayla.


"Sayang apa yang terjadi pada anak kita!" tanya perempuan itu sembari menangis.