Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Ingin mandi bersama.


🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Pagi hari di kediaman keluarga Erlangga. Rian masih tidur di bawah selimut dengan memeluk bantal guling. Sedangkan sang istri sudah turun ke lantai bawah untuk membantu mbok Ira menyiapkan sarapan buat pagi ini. Itulah kelebihan seorang Ayla, meskipun dia terlahir dari keluarga kaya raya. Gadis ini tidak pernah sombong kepada pelayan yang bekerja bersamanya. Sambil membantu para pelayan, Ayla selingi dengan bercarita kegiatan dia sendiri ataupun kegiatan para pelayan itu sehari-hari nya.


Jika orang lain yang melihatnya, maka mereka tidak akan percaya jika Ayla adalah menantu kesayangan dari Nyonya Erlangga. Sebab apabila lagi membantu seperti itu. Nona muda itu akan ikut duduk bersama para pelayan lainnya tidak ada jarak diantara Nona dan pelayan, semuanya sama saja.


"Sayang! Kenapa kamu nakal sekali, Mama sudah bilang tidak usah membantu memasak. Di sini pelayan sudah banyak." Mama Sonya kembali mengelengkan kepala melihat menantunya itu tidak bisa di larang sama sekali.


"Mama!" Ayla sontak melihat kearah suara ibu mertuanya lalu dia berdiri.


"Biarkan mereka saja yang mengerjakannya, Nak. Mama takut kamu kenapa-napa jika sampai kamu kelelahan." ucap wanita paruh baya yang masih terlihat muda di usia hampir lima puluh tahun.


"Mama tidak perlu khawatir, Ayla baik-baik saja. Ay, malah senang bisa melakukan pekerjaan ini." menantu Erlangga itu pun mengengam tangan Mama Sonya agar wanita itu tidak menghawatirkan dirinya.


"Ya sudah tapi tolong jangan di paksakan, mama hanya khawatir kepada, mu. Sekarang kembali lah kekamar. Biar mama lagi yang membantu mereka."titah wanita itu kepada Ayla. Tidak mau membantah lagi Ayla pun kembali kekamar mereka yang terletak di lantai atas.


Ceklek....


Ayla membuka pintunya dengan pelan karena dia tau jika suaminya masih tidur. Setelah menutup pintunya lagi Ayla mengambil handuk dan pakaian gantinya, dia akan mandi lebih dulu baru setelah itu membangunkan suaminya. Namun, baru saja dia igin berbalik dari lemari pakaian, Rian sudah memeluk tubuhnya dari belakang.


"Ri! Kamu membuatku kaget!" seru Ayla yang memang kaget di peluk tiba-tiba seperti itu.


"Pangil sayang, jangan sebut namaku lagi. Aku hanya ingin memelukmu. Tadi aku sangat kaget begitu membuka mata kamu sudah tidak ada di samping ku. Aku takut jika kebahagiaan yang aku rasakan beberapa hari ini hanyalah mimpi. Untung saja ketika aku mau turun dari ranjang aku melihat ada ponsel mu, diatas nakas." ungkap Rian sendu dan dia malah meletakkan kepalanya di atas pundak sang istri.


"Aku kan sudah bilang tadi malam jika kamu bangun jangan mencari ku. Aku ingin membantu mbok Ira menyiapkan sarapan untuk kita. Sudah lepas, aku gerah ingin mandi." Ayla ingin melepaskan tangan Rian yang masih mendekap tubuhnya.


"Panggil sayang dulu, kan tadi aku sudah bilang." Rian malah semakin mengeratkan pelukannya.


"Sayang tolong lepaskan aku, aku ingin mandi." ujar Ayla mau tidak mau harus menuruti permintaan dari suaminya itu.


"Baiklah aku akan melepaskan, mu. Kebetulan aku juga ingin mandi jadi bagaimana kalau kita mandi bersama saja? Kita kan akan pergi melihat rumah baru kita. Jadi biar mengirit waktu." dengan semangat Rian melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Ayla agar menghadap padanya.


"Apa? Tidak perlu seperti itu. Kita mandi masing-masing saja. Lagian aku mandinya tidak lama." tolak Ayla cepat.


"Ayolah sayang, aku ingin mandi bersama kedua anakku. Tidak usah takut aku tidak akan ngapa-ngpain kamu, aku berjanji! Kamu juga tidak usah malu karena aku sudah pernah melihat kamu tidak memakai pakaian. Bahkan aku sudah merasaka---"


"Apa! Mana bisa seperti itu. Hm ya... sudah, kamu mandi saja dulu. Aku akan memeriksa email yang di kirim Aldi tadi malam. Aku melepaskan mu kali ini bukan karena aku takut pada ancaman, mu. Nona Erlangga. Tapi karena aku tidak ingin membuat Istriku tertekan." bisik Rian yang di akhiri dengan.


Cup...


Rian mencium bibir istrinya sekilas. Sebelum empunya marah.


"Rian! Kamu?" jerit Ayla di sertai tangan yang sudah siap ingin memukul suaminya mengunakan handuk.


"Apa sayang, ku? Aku tidak salah kenapa malah ingin memukulku? Apa karena kita tidak jadi mandi bersama, kalau begitu ayo kita mandi sekarang. Aku masih punya banyak waktu untuk memeriksa email dari Aldi." ujar Rian seolah-olah Ayla yang mengajak dia mandi bersama. Padahal itu cara Rian ingin mengerjai istrinya lagi.


"Eh, tidak, tidak. Enak saja! Aku sedang marah padamu. Main cium sembarangan padahal belum cuci muka sama sikat gigi."


"Baiklah kalau begitu nunggu aku habis mandi dan sikat gigi, ya. Baru aku mencium, kamu lagi. Sudah cepat mandi sana, setelah itu aku lagi yang mandi biar bisa mencium Istriku." Rian tergelak melihat Ayla semakin marah padanya.


"Ih, kamu... Ngeselin tau!" Ayla menarik tangannya paksa dan berlalu masuk kedalam kamar mandi. Jika dia terus meladeni Rian bisa-bisa mereka berdua tidak akan ada yang mandi.


"Ha...ha...!" tawa Rian pecah telah berhasil mengerjai istrinya. Sama saat dulu ketika mereka baru menikah.


"Rasanya aku sudah malas untuk kembali ke perusahaan. Jika papa boleh, aku ingin di rumah saja menemani Istriku. Lagian aku tidak ingin jauh darinya, aku selalu ingin bersama nya. Agh...jika tidak aku akan membawanya ke perusahaan saja. Biar aku bisa bekerja dengan tenang." bukanya melihat email seperti katanya tadi, tapi Rian sibuk memikirkan cara agar dia punya alasan untuk berhenti bekerja.


Sedangkan Ayla langsung saja membersihkan dirinya, karena dia tidak mau kedua mertuanya harus menunggu kedatangan mereka di meja makan. Sampai lima belas menit kemudian, wanita hamil itu keluar dengan tampilan yang terlihat segar.


"Sayang, aku sudah selesai. Sekarang giliran, mu. Ayo cepat mandi biar aku menyiapkan pakaiannya. Kasihan bila papa dan mama harus menunggu kita." Ayla mendekati Rian yang masih melihat pekerjaan melalui laptop.


"Hm, ini sudah selesai. Aku hanya memeriksa saja, semuanya sudah di selesaikan oleh Aldi. Sayang! nanti aku akan bilang pada papa, jika aku ingin berhenti bekerja. Setidaknya sampai kamu sembuh setelah melahirkan. Aku tidak akan bisa tenang, meninggalkan istri ku di rumah dalam keadaan hamil besar." Rian berdiri setelah menutup laptopnya lagi.


"Tapi jika kamu berhenti, siapa yang akan mengurus perusahaan. Bukankah semua tanggung jawabnya sudah di limpahkan oleh papa kepadamu? Kamu tidak perlu menghawatirkan aku, ada mbk Susi juga kan yang akan ikut tinggal bersama kita."


"Tapi...Aku tidak bisa jauh dari, mu," jawab Rian jujur. Selain menghawatirkan keadaan sang istri, lelaki itu juga tidak sanggup bila harus jauh dari istrinya.


Mendengar ucapan suaminya membuat Ayla mengembangkan senyumnya, lalu diapun berkata.


"Ini bukan perpisahan, tapi kamu pergi bekerja mencari uang untuk kami. Jangan jadikan alasan dan memberatkan papa, papa juga ingin bersama istrinya bukan kamu saja." kata Ayla meletakkan handuk di pundak Rian lalu mendorong nya agar segera membersihkan dirinya.


"Cepat mandi sana, nanti kita lanjutkan lagi." ujar nya sebelum Rian membalikkan tubuhnya.