Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Sulit untuk bertahan.


🌿🌿🌿🌿🌿


.


.


Setelah mengobrol di dalam ruang rawat Ayla, beberapa menit.


Tuan Heri dan Ayah Ridwan pergi menemui Nando yang masih setia menunggu Rian di depan ruang ICU. Namun saat ini, Nando tidak sendiri lagi.


Tapi ada Andre yang sudah menyusulnya kerumah sakit. Setelah tadi Nando baru ingat, jika dia belum memberi tahu Andre.


"Selamat malam, Om Heri. Om Ridwan." sapa Andre ramah. Lalu diapun mencium tak zim punggung tangan kedua pria baya itu.


"Selamat malam juga Nak Andre, Terimakasih sudah mau datang." jawab Ayah Ridwan. Karna Andre memang menyalami nya lebih dulu.


"Sejak kapan kamu datang Ndre? siapa yang memberi tahu mu, jika kami berada disini?" Tuan Heri bertanya, karna dia memang belum sempat mengabari siapapun.


"Tadi Nando yang ngasih tau Andre Om. Maafkan Andre, karna disaat seperti ini. Andre baru bisa datang."


"Agh tidak apa-apa. Justru kami ingin berterimakasih padamu. Karna sudah mau datang." Tuan Heri menepuk pelan pundak Andre. Sebelum dia bertanya kepada Nando.


"O'ya Nan. Apakah dokter tadi sudah keluar?" tanya Tuan Heri lagi.


"Belum Om, Entah kenapa, mereka sibuk mondar-mandir dari tadi. Tante bagaimana Om?" Nando yang juga menanyakan keadaan Mama Sonya.


"Tante tidak apa-apa. Dia hanya sedang sok, mengetahui keadaan Rian." terdengar helaan nafas Tuan Heri. Saat kembali menyebutkan nama Rian.


Yang sekarang entah seperti apa keadaannya.


Kreeeek.....


Pintu ruang ICU terbuka dengan sangat pelan. Dan terlihat Dokter yang menangani Rian yang keluar dari sana.


"Selamat malam Tuan Erlangga, Tuan Ridwan." sapa dokte bedah, yang menangani operasi Rian.


"Saya ikut prihatin, pada musibah yang sudah menimpa putra kalian. Ada beberapa masalah yang ingin saya sampaikan di ruangan saya. Jadi lebih baik kita langsung saja keruangan saya sekarang." ajak Dokter itu, yang memang sudah mengenal kedua orang terpandang di kota B. Yaitu Ayah Ridwan dan Tuan Heri.


"Malam juga Dokter Jeklin. Terimakasih, atas simpati dan usaha kalian untuk menyelamatkan nyawa anak kami. Baiklah, kami berdua yang akan keruangan Anda." Tuan Heri langsung saja meminta dokter Jeklin berjalan lebih dulu dari dia dan Ayah Ridwan.


"Andre, Nando,! Om, akan ikut keruangan Dokter Jeklin, untuk mengetahui keadaan Rian. Kalian berdua tolong tetap jaga, disini ya." pinta Ayah Ridwan, sebelum dia ikut menyusul Tuan Heri dan Dokter Jeklin keruanganya.


Tiba di dalam ruangan Dokter Jeklin.


"Heeem..." Dokter Jeklin berdehem, sebelum mulai menjelaskan keadaan Rian.


"Begini, Tuan Heri, Tuan Ridwan. Kami semua para tiem Dokter. Sudah berusaha melakukan yang terbaik, untuk menyelamatkan Tuan muda Rian. Tapi kami hanya bisa berusaha, selebihnya, itu atas kehendak author." kata Dokter Jeklin, agar keluarga Rian, tidak terlalu berharap. Dan tidak kaget, Apabila sesuatu yang tidak diinginkan, terjadi padanya.


"Tolong jelaskan bagaimana keadaan menantu saya, Dokter Jeklin. Bukankah kalian sudah berhasil mengeluarkan peluru nya. Lalu kenapa perkataan Anda, seolah-olah memperingati kami." Ayah Ridwan terbawa emosi, mendengar perkataan Dokter yang hampir sebaya dengan mereka berdua.


"Rid, tenanglah dulu. Pasti Dokter Jeklin memiliki alasannya. Biarkan dia menyelesaikan penjelasannya lebih, dulu." Tuan Heri menyabarkan sahabat sekaligus besanya itu.


"Teruskan saja Dok, apapun berita nya, kami akan menerima dengan lapang dada." tegas Tuan Heri lagi.


"Mohon maaf, jika perkataan saya tadi. Sudah menyinggung kalian. Begini Tuan Heri, Tuan Ridwan. Keadaan Rian sangat kritis, kemungkinan untuk bisa bertahan, sangat kecil." Dokter itu berhenti sesaat, sebelum kembali menjelaskan.


"Peluru yang satunya, hampir saja mengenai jantung. Hanya kurang lebih dari dua senti lagi. Sebelum di bawa kesini, dia juga kehilangan banyak darah. Dan untungnya lagi, stok darah dirumah sakit ini sedang ada. Jika terlambat sedikit saja, nyawa nya sudah tidak bisa tertolong. Meskipun darahnya sudah setabil. Tapi harapan untuk bisa bertahan tidak ada. Kita sama-sama berdo'a, semoga ada keajaiban yang terjadi." ucap Dokter Jeklin penuh sesal, atas ketidak mampuanya.


"Tolong lakukan apapun, agar menantu saya bisa selamat Dokter. Saya mohon, lakukan yang terbaik untuk nya. Saya mohon." sebelum nya, Ayah Ridwan belum pernah sampai memohon seperti itu, kepada orang lain.


Ayah Ridwan adalah orang yang sangat sabar. Meskipun Rian sudah menyakiti putrinya. Dia tetap memaafkan kesalahan Rian. Karna dia memang sangat menyayangi Rian, sebagai anak, bukan menantunya.


Namun, malam ini dia memohon dengan air matanya. Meminta agar dokter bisa membantu menyelamatkan nyawa menantu nya itu.


Sedangkan Tuan Heri, hanya terdiam membeku di tempatnya nya.


"Tanpa kalian minta pun, Kami akan melakukan yang terbaik Tuan. Tapi ketahuilah, jika sekarang dia bertahan hanya karna alat yang menempel pada tubuhnya. Kami memberitahu, agar keluarga pasien tidak kecewa dengan hasilnya nanti." terang Dokter Jeklin kembali.


Setelah terdiam beberapa saat, Tuan Heri memutuskan untuk permisi dari sana.


"Jika sudah selesai, kami pamit ingin menjenguknya Dokter. Terimakasih penjelasannya." Tuan Heri langsung mengajak ayah Ridwan pergi dari sana.


Karna percuma saja, meskipun mereka marah pada Dokter itu. Keadaan putranya tetap bukanlah kuasa para dokter.


"Percuma kamu marah padanya, karna bukan salah mereka, bila tidak bisa menyelamatkan Rian. Semoga saja ada keajaiban yang akan terjadi pada putra ku, Rid." lirih Tuan Heri setelah mereka keluar dari ruangan Dokter Jeklin.


"Aku hanya tidak terima, mereka sudah putus asa, sebelum melakukan apapun." ungkap Ayah Ridwan.


Tiba di depan tempat Rian di rawat. Tuan Heri langsung meminta izin kepada salah satu dokter yang menjaga disana. Karna dia ingin menemui putranya.


Sedangkan ayah Ridwan, memang tidak ikut masuk. Agar tuan Heri memiliki ruang untuk berbicara dengan anaknya berdua saja.


Nando dan Andre tak banyak bertanya. Karna sedikit banyaknya mereka mengerti. Pasti yang disampaikan Dokter tadi, bukan berita baik.


Di dalam ruang ICU.


"Rian...! ini Papa Nak. Maafkan Papa yang sudah lalai menjaga kalian. Kamu bisa mendengar Papa kan? jika kamu bisa mendengar Papa. Maka bertahanlah Nak, kasihan Mama dan istri mu. Sekarang mereka ikut dirawat disini, karna khwatir pada mu. Papa mohon berjuang lah, demi kedua anak mu juga." Tuan Heri tak kuasa menahan air matanya, setelah melihat sendiri keadaan Rian.


Meskipun dia sudah berusaha setegar mungkin. Nyatanya setelah melihat keadaan Rian yang sudah tidak berdaya. Membuat dia menangis juga.


Di tambah hanya ada suara monitor saja, yang menempel pada dinding di atas tempat tidur Rian.


Setelah lima belas menit, Tuan Heri sudah keluar dari sana. Karna waktu penjengukan sudah habis. Meskipun rasanya dia tidak rela meninggalkan putranya sendiri di dalam sana.


"Bagaimana keadaan Rian Om?" Andre dan Nando langsung bertanya, setelah melihat tuan Heri sudah keluar.


"Keadaannya masih kritis. Jika kalian ingin melihatnya, masuk lah, ajak dia bicara. Tolong katakan padanya, untuk bertahan. Demi keluarga kecilnya. Mana tau, dia bisa mendengar kita." ucap Tuan Heri yang sudah terlihat baik-baik saja.


"Tentu Om, tapi biarkan Om Ridwan yang masuk duluan." putus Andre dan Nando.


Karna tidak mungkin mereka mendahului orang tua. Meskipun jam sudah menunjukkan Pukul tiga dini hari. Namun tidak ada diantara mereka yang merasa mengantuk.


Tak lama setelah itu, tibalah giliran Andre dan Nando yang masuk secara bersama. Karna yang boleh masuk, memang terbatas sebanyak dua orang saja.


"Hai bro...! Lo cemen banget sih,! Masa hanya karna peluru, udah kayak gini. Gimana Lo bisa melindungi Ayla dan sikembar. Kalo Lo lemah seperti ini." oceh Andre seperti ketika saat mereka bersama dulu.


Ada rasa sesak saat dia mengucapkan semua ucapannya tadi, karna meskipun biasanya Rian tidak menjawab. Bila Andre mengoceh, namun Rian akan memberi lirikan tajamnya. Jika tidak, Rian akan menarik Nando pergi meninggalkan Andre.


Tiba giliran Nando yang berbicara, dari sebelah tempat Rian berbaring.


"Ri...! Ayo bangun. Lo jangan jadi lelaki pengecut seperti ini. Bukanya, Lo bilang mau merebut Ayla kembali. Maka rebutlah, Karna gue juga gak bisa menjaga istri sama anak Lo terus menerus." Nando menjeda ucapannya.


"Gue sebentar lagi juga akan menikah. Lalu siapa yang akan menjaga Ayla dan si kembar. Pasti Ayla akan kesulitan menjaga mereka, jika hanya sendiri. Jadi Lo harus menjaga anak dan istri Lo sendiri, jangan menyusahkan gue terus. Enak banget hidup Lo, bikin anak aja,! yang repot gue!" protes Nando.


Nando sengaja mengucapkan kata-kata itu, agar Rian bisa mendengar nya.


Tes... Tes...


BERSAMBUNG......😭😭😭🀧