Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Gugatan dari Ayla.


🍃🍃🍃🍃🍃


.


.


Kurang lebih satu jam. Jet pribadi yang mengantar Ayla dan Nando, sudah tiba di bandara internasional yang ada di pulau itu.


Disana sudah ada satu mobil mewah untuk mengantarkan mereka ke Villa dan ada beberapa mobil pengawal yang mengawal mereka juga.


Di dalam mobil.


"Ternyata tempat ini sangat indah kak, aku rasa aku akan betah tinggal disini. Pantas saja Papa Heri ingin aku tinggal di sini." Ayla yang melihat pemandangan disepanjang jalan yang dilewati.


"Iya kamu benar. Kakak juga baru pertama kalinya datang kesini, Om Heri benar-benar sudah memperhitungkan semuanya. Semoga saja ditempat yang sekarang, kamu bisa mengawali semuanya dengan mudah."


Nando berkata sambil memperhatikan Ayla yang terlihat begitu menyukai tempat ini.


Mendengar nya, Ayla pun mengangguk membenarkan. Lalu kembali lagi menikmati pemandangan sore yang terlihat sangat indah, karna Villa tuan Heri memang berada di daerah pengunungan dan juga laut.


Dan tidak terasa mobil yang membawa mereka, sudah tiba di Villa yang terlihat sangat mewah milik keluarga Erlangga itu.


Begitu mereka keluar dari mobil. Mereka langsung disambut oleh Tiem dokter yang akan menjaga Ayla, ada juga para pelayan dan juga para pengawal yang akan siap dua puluh empat jam menjaga Ayla dan kawasan Villa tersebut.


Dan mereka semua sudah memiliki tempatnya masing-masing di lingkungan Villa induk yang akan ditempati oleh Ayla.


"Selamat datang Nona muda dan Tuan muda Nando!" sapa mereka menundukkan sedikit kepalanya.


"Terimakasih, kalian jangan sungkan seperti ini. Karna saya disini tidak memiliki teman ataupun saudara, jadi saya mohon anggap saja kita ini satu buah keluarga." ucap Ayla yang tidak ingin mereka memperlakukannya seperti sekarang.


"Terimakasih Nona, kami akan menjadi teman dan juga saudara untuk Nona Ayla. Kalau begitu Ayo Nona dan tuan Nando langsung masuk saja." ajak salah satu ketua dari semua orang yang ada di sana.


Karna dia memang sudah diberitahu oleh tuan Heri dari beberapa waktu lalu. Untuk mempersiapkan semuanya, karna putrinya akan tinggal di Villa itu.


Dan juga harus mengikuti apapun permintaan putrinya, karna beliau tau seperti apa menantunya itu.


Karna tuan Heri sudah bisa menebak, jika Ayla pasti tidak mau bila mereka memperlakukannya seperti sekarang.


Tiba di dalam Villa, tepatnya di lantai atas, tempat yang akan ditinggali oleh Ayla. Karna di lantai bawah hanya akan ditempati oleh para pelayan yang terbagi tiga orang saja.


Sebab para pelayanan yang lainnya tinggal di belakang dan samping Villa induk.


"Selamat istirahat Nona, Tuan. Ini kamar Nona dan yang disana kamar tuan Nando. Saya pamit untuk mempersiapkan makan malam. Jika butuh sesuatu Nona dan tuan tinggal gunakan telpon yang ada di meja ini, maka pasti akan ada pelayanan yang datang." kata ketua pelayanan dengan sopan.


Sebelum dia pergi dan menyuruh pelayan lainnya untuk meletakkan barang-barang Ayla dan Nando di kamar mereka masing-masing.


"Wah ternyata tempat ini sangat indah kak. Aku sangat suka tinggal disini." Ayla berjalan kearah balkon yang sangat luas, yang lengkap dengan meja untuk bersantai.


Karna tempatnya menghadap kearah laut lepas langsung. Disana mereka bisa menikmati pemandangan yang sangat indah.



Nando pun mengikuti Ayla dan ikut menikmati indahnya tempat itu. Didalam hatinya, Nando sangat bersyukur. Karna Ayla menyukai tempat yang sudah disiapkan oleh mertua nya.


Namun berbeda pula dengan Rian yang berada di Kota A.


Jantungnya bagaikan berhenti saat ini juga. Karna sekertaris Aldi memberitahunya, jika pengacara Ayla baru saja mengabarkan, bahwa klien nya yang bernama Putri Mikayla Ridwan sudah mengugat Ardiaz Rian Erlangga suaminya.


"Apa? ini pasti salah kan! Aldi coba kamu hubungin mereka lagi. Aku akan pulang menanyakannya pada Ayla." Rian menyambar kunci mobilnya dan dia langsung saja berlari keluar.


Sehingga membuat semua karyawannya merasa heran, bukan hanya melihat Presdir mereka berlari saja. Namun ternyata Rian juga tidak memakai jas kantor yang biasanya bila dia keluar, tidak pernah dia lepas.


Di dalam mobil, sambil menyetir Rian sibuk menelpon Ayla mengunakan satu tangannya.


Tuuuuut....... Tuuuuut....


"Ayla aku mohon, jangan membuatku takut seperti ini." Rian semakin menambahkan kecepatan mobilnya. Agar cepat sampai dirumahnya dan Ayla.


Meskipun dia mendapatkan makian dari kendaraan yang hampir ditabraknya, Rian tidak peduli.


Dua puluh menit, mobil Rian sudah tiba di depan rumah yang dia yakini jika Ayla masih ada disana, karna pintu rumahnya terbuka.


Srrriiiiiit...


Rian memberhentikan mobilnya tepat didepan pintu rumah dan langsung saja keluar dari mobil. Lalu dia berlari masuk kedalam melihat pintunya yang terbuka.


"Ayla, Ay..., Ayla! kamu ada dimana?" panggil Rian menyusuri setiap ruangan.Namun dia belum juga menemukan Ayla.


Lalu Rian berjalan kearah dapur, karna dia mendengar jika disana ada suara orang sedang memasak. Yang dia kira adalah Ayla.


Namun Rian kaget karna yang sedang memasak bukanlah Ayla istrinya.


"Tuan sudah kembali?" sapa Susi yang menoleh kearah meja tempat Rian berdiri.


"Kamu siapa? Dan dimana Ayla istri saya?" tanya Rian dingin.


"Saya adalah Susi tuan, saya pembantu disini." jawab Susi merasa takut melihat sorot mata tajam dari Rian.


"Saya tidak menanyakan nama kamu. Yang saya tanyakan kemana istri saya! Dan semenjak kapan kamu kerja disini?" Rian kembali mengulangi pertanyaannya.


"Nona Ayla sudah pergi dari jam dua tadi siang tuan. Dan saya sudah bekerja disini sudah satu bulanan, tepatnya sehabis Nona dirawat di rumah sakit."


Deg....


Rumah sakit! Pergi ...!!!


Rian sempat membeku mendengar jawaban dari Susi.


"Apa Ayla pernah dirawat? sakit apa dia? Dan sekarang dia lagi pergi kemana?" tanya Rian beruntun.


"Iya tuan, Nona Ayla pernah dirawat dirumah sakit selama tiga hari, karna penyakit lambungnya kumat. Dan sekarang Nona tidak lagi pergi keluar tuan, tapi lebih tepatnya, Nona tadi pergi meninggalkan rumah ini dan membawa beberapa koper barang." terang Susi seperti apa yang sudah dipesankan oleh tuan Heri tadi sebelum mereka pergi.


"Apa! tidak, Ini tidak mungkin kan!" Rian langsung berlari untuk menuju ke lantai atas tempat kamar mereka dulu, untuk memastikan.


Ceklek....


Pintunya Rian buka dengan kasar.


Tiba di dalam kamar, masih terlihat rapi seperti terakhir kali Rian tidur disini. Yaitu saat Ayla dirawat dirumah sakit.


Masih tercium bau parfum yang sering Ayla pakai. Namun ketika Rian melihat ke meja rias, sudah tidak ada tersisa satupun peralatan kosmetik milik Ayla disana.


Itu pertanda, jika Ayla memang sudah pergi. Lalu Rian melihat tidak ada lagi Poto pernikahan mereka yang menggantung di dinding seperti biasanya.


Yang ada hanya lukisan biasa. Dan Rian kembali lagi membuka lemari pakaian milik Ayla, yang ternyata memang sudah kosong. Tapi Rian hanya menemukan sepucuk surat disana.


Rian mengambil surat itu dan dibawanya duduk di pinggir ranjang untuk dibacanya. Karna Rian yakin jika surat itu memang sengaja Ayla tinggalkan untuk nya.


"Rian...! mungkin saat kamu membaca surat ini, setatus kita sudah bukan suami istri lagi. Karna aku membuat surat ini, tepat saat aku meninggalkan rumah kita. Aku hanya berharap jika kamu akan cepat pulang dan menemukan surat ini. Karna aku ingin mengucapkan terimakasih dan maaf kepada mu! terimakasih atas kabahagian yang pernah kamu berikan kepada ku, meskipun aku salah mengartikan kebaikanmu. Tapi aku benar-benar bahagia bisa merasakan semua kasih sayang yang kamu berikan, walaupun hanya kasih sayang seorang sahabat." Ayla memberikan emoji tersenyum pada ujung kalimatnya, sebelum dia kembali lagi menulis di bawahnya.


"Dan maafkan aku ya...! karna selama dua bulan belakangan ini, disetiap malam aku selalu mengharapkan kamu pulang. Aku ingin kita menjalin seperti hari-hari biasanya. Namun ternyata kamu tidak kunjung datang. Tapi sekarang kamu tidak perlu khwatir lagi, karna aku pergi untuk menjaga persahabatan kita. Dan maaf juga, aku tidak pamit dulu kepada mu. Aku hanya tidak ingin jika mengangu waktumu saja. selamat tinggal sahabat ku...!!!!!"


Tes...Tes...


Air mata Rian meluncur begitu saja dari pipinya, sambil iya dekap surat itu di dadanya. Seolah-olah surat itu adalah Ayla.


BERSAMBUNG......😫😭😭🤧