Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Menyembunyikan rasa sakit.


🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Sembilan bulan kemudian.


Sekarang Nando sudah tidak berangkat bekerja ke Restoran lagi, karena tidak mau meninggalkan sang istri hanya bersama dengan para pembantunya saja.


Semenjak kejadian waktu itu. Rumah tangga mereka sudah aman hanya diselingi kesalah pahaman biasa saja. Walaupun semenjak hamil Sari sering bertingkah seperti anak kecil. Namum, Nando selalu menyikapinya dengan sabar.


Baginya seperti apapun tingkah Sari saat ini, tetap menggemaskan. Hampir empat tahun tidak memiliki keturunan membuat pria itu semakin menyayangi istrinya dan calon anak mereka.


Tidak berbeda jauh dengan keluarga Rian, mereka juga semakin bahagia. Tapi kedua pasangan itu tidak berniat untuk menambah adik untuk kedua anak kembarnya.


Bagi mereka berdua yang penting sudah memiliki keturunan. Keduanya tidak ingin kalau si kembar akan kurang mendapatkan kasih sayang apabila memiliki adik lagi.


Sedangkan istri Andre juga sudah melahirkan anak laki-laki. yang sekarang sudah berumur hampir delapan bulan. Persahabatan mereka semakin hari juga semakin dekat sudah layak saudara. Apabila sedang berkumpul bersama anak dan istrinya, maka akan seperti sebuah keluarga besar.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Nando kaget melihat Sari merintih kesakitan.


"Entahlah Kak, mungkin aku mau melahirkan. Soalnya perutku sakit sekali." wanita itu sampai mengeluarkan keringat di pelipisnya karena menahan sakit yang baru kali ini dia rasakan seumur hidupnya.


"Apa mau melahirkan!" kalau begitu ayo kita ke rumah sakit sekarang, biar aku gendong ya?" Nando semakin khawatir melihat wajah pucat istrinya dan bersiap ingin mengendong.


"Iya... aku sudah tidak kuat lagi menahan sakitnya, Kak. Tapi biarkan aku berjalan sendiri, aku tidak mau di gendong." dengan bantuan sang suami Sari memaksakan berjalan dengan pelan. Bukanya Nando tidak mau mengendong istrinya, tapi Sari sendiri yang tidak mau.


"Tuan... Nona kenapa?" tanya seorang pelayan perempuan melihat tuanya menuntun istrinya yang sedang merintih menahan sakit.


"Sepertinya Istriku mau melahirkan. Bibik tolong bawakan barang yang sudah disiapkan kemarin kedalam mobil ya." kata Nando dengan ucapan minta tolong bukan memberi perintah seperti majikan lainnya.


"Baik Tuan muda, Saya akan mengambilnya sekarang." wanita itu pun langsung saja pergi ke kamar bayi untuk mengambil barang yang nanti akan di perlukan saat di rumah sakit.


"Sayang apa masih kuat? Kalau tidak kuat biar di gendong saja. Aku tidak tega melihat mu seperti ini." ada rasa sakit yang Pria itu rasakan. Disaat istrinya kesakitan dia tidak bisa berbuat apa-apa.


"Aku masih kuat, kakak tidak perlu khwatir." meskipun sakitnya semakin mendera tapi Sari masih berusaha tersenyum agar sang suami tidak merasa khawatir melihatnya yang menahan sakit.


"Baiklah, pelan-pelan saja! Maafkan aku tidak bisa berbuat apa-apa!" seru Nando yang sudah hampir meneteskan air matanya.


"Tidak Kak, jangan bicara seperti itu. Nanti anak kita sedih mendengar nya." cegah Sari dengan suara dibuat sebiasa mungkin. Seperti dirinya tidak merasakan apapun.


"Tuan... ini barang-baranga nya taruh di mana?" bibi pelayanan juga sudah datang begitu Nando dan Sari tiba di dekat mobil mereka.


"Di tengah saja, bik. Bibik nanti tolong hubungi mama dan yang lainya, ya? Kami berangkat sekarang." pinta Pria itu lagi.


"Sayang ayo masuk." Nando membukakan pintu mobil untuk Sari dan membantunya. Setelah semua perlengkapan dan istrinya duduk dengan nyaman. Nando pun ikut masuk dan duduk di kemudi. Mereka memang hanya berangkat berdua tidak di temani oleh sopir.


Lalu mereka pun langsung berangkat ke rumah sakit. Berhubung sekarang baru jam tujuh malam, jadi jalan tidak terlalu ramai. Mungkin semuanya masi berada di dalam rumah mereka masing-masing.


"Apa masih tahan?" Nando bertanya di sertai tangannya menyelipkan rambut sang istri yang terlihat berantakan.


"Hem! Tahan ya sebentar lagi kita akan sampai." seru Nando yang sama seperti istrinya memaksakan tersenyum, menunjukkan kalau dia baik-baik saja. Meskipun sebenarnya dia sudah ingin menangis.


Tidak banyak bicara keduanya hanya diam, karena saling berdoa pada yang maha kuasa di dalam hatinya masing-masing. Agar persalinan nya nanti di lancarkan.


Hanya dua puluh menit mobil mereka pun sudah tiba di rumah sakit Central Medika milik keluarga Anita. Di rumah sakit ini jugalah Ayla melahirkan si lembar dan Rian di rawat saat terkena tembakan dari Bela beberapa tahun lalu.


"Selamat malam Tuan muda. Mari kami bantu." seru beberapa orang perawat perempuan yang sudah siap beserta brankar untuk membantu Sari masuk kedalam rumah tersebut. Sebelumnya mereka sampai, Asisten rumah tangga Nando sudah memberitahu mereka.


"Malam juga, Sus. Terimakasih sebelumnya." ucap Nando yang langsung saja mengendong istrinya dan di baringkan di atas krankar yang sudah ada di sebelah mobil mereka. Walaupun sempat mendapat penolakan dari sang istri.


"Kakak sakit sekali," sambil berjalan masuk Nando tidak melepaskan tautan tangan mereka berdua. Seakan menyalurkan tenaganya untuk sang istri.


"Tahan sebentar lagi ya sayang. Sebentar lagi kita akan bisa melihat buah hati kita." terus menyuruh istrinya menahan rasa sakit tersebut, karena memang hanya kata-kata itulah yang bisa di ucapkan oleh para suami.


Tiba di dalam, Sari langsung saja di bawa masuk kedalam ruangan bersalin untuk di lakukan pemeriksaan lebih dulu, yang tetap di temani oleh suaminya.


"Maaf ya, Nona! Dress nya kami angkat." kata dokter muda yang sekarang bertugas mengantikan Dokter Elida.


"Iya dokter silahkan lakukan saja tugas Anda." jawab Sari yang sudah tahu seperti apa proses wanita ketika hendak melahirkan.


Dokter itupun menutup tubuh bagian bawah Sari sebelum menyingkap Dres tersebut keatas.


"Wah apa air ketubannya sudah keluar dari tadi, Nona?" si dokter bertanya karena melihat ada bekasnya yang tertinggal.


"Em... tidak dok, keluarnya saat kami dalam perjalanan kemari" jawab Sari dengan wajah malu nya. Bagaimana dia tidak merasa malu sang dokter sudah memasukkan satu jari tangannya yang sudah di pasang sarung tangan khusus. Untuk mengetahui sudah pembukaan berapa.


"Baiklah kalau begitu kita tinggal menunggu pembukaannya lengkap ya Nona. Ini sudah pembukaan enam. Tinggal sedikit lagi." dokter tersebut ikut tersenyum simpul karena mendapat pasien yang tidak cengeng seperti Sari.


"Terimakasih dokter!" yang di jawab oleh Nando, karena istrinya sedang menahan sakit yang kadang hilang dan dalam hitungan menit setelahnya datang lagi.


"Tidak apa-apa Tuan dan Nona jangan merasa sungkan. Ini memang sudah menjadi tugas kami. O'ya kalau begitu kami permisi dulu, nanti bila Nona merasakan sakitnya bertambah. Maka Tuan muda cukup memencet tombol itu ya." tunjuk nya pada dinding yang tidak terlalu jauh dari ranjang tempat bersalin.


Lalu setelah kepergian sang dokter beserta dua orang perawat nya. Hanya tinggal Nando dan istrinya yang ada di dalam ruangan tersebut, karena meskipun hanya ruang untuk tempat melahirkan. Nando sudah pesan dari jauh-jauh hari bila istrinya ingin melahirkan harus di tempatkan di ruang VIP.


"Sayang apa masih sakit?" kembali bertanya dengan gelisah.


"Masih, tapi tidak terlalu seperti kita mau berangkat."


"Apa sudah dari tadi sore kamu merasakan sakit nya?" setelah Nando ingat-ingat istrinya itu dari Sore hanya diam saja.


Sebelum menjawabnya Sari pun tersenyum kecil. "Iya sebetulnya sudah dari jam empat tadi sore, saat Kakak sedang berenang. Perut ku sudah mulai terasa mules."


"Apa! Kenapa tidak memberi tahu ku? Kamu membuatku semakin khawatir kalau menyembunyikan sakitnya sendirian." ucap Nando tidak habis pikir dengan istrinya. Kenapa juga harus menyembunyikan rasa sakit nya sendirian.


"Aku ini suamimu, jadi jangan ditahan sendiri." kembali membelai dan mencium wajah istrinya untuk menunjukkan bahwa dia akan selalu ada di sisi sang istri.


"Aku tahu Kakak sangat mencintai ku. Maka dari itu aku tidak ingin Kakak khawatir keadaan aku dan anak kita." jelas Sari ikut membelai wajah suaminya, karena bila mengobrol rasa sakitnya, bisa sedikit berkurang.