Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Penerus Erlangga.


🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Kenapa, Dok?" tanya salah satu perawat melihat Dokter Elida terdiam bebera detik setelah dia berhasil mengeluarkan bayi kedua Rian dan Ayla.


"Dia... Sudah di mandikan apa, ya? Kenapa tubuhnya bisa bersih seperti ini," jawab dokter muda itu merasa heran melihat bayi nya sudah bersih tidak ada noda darah di tubuhnya.


"Apa! Bagaimana bisa?" kata mereka semua yang juga merasa terkejut mendengar ucapan dokter muda itu.


Ayla yang bisa mendengar meskipun samar-samar percakapan para tiem dokter dan perawat langsung saja bertanya pada suaminya dengan khawatir.


"Sayang kenapa dengan anak kedua kita?" tanya nya sudah hampir menangis.


"Tenang lah dia tidak apa-apa." kata Rian yang juga tidak tau pasti apa yang terjadi karena dia sendiri tidak melihat dan lebih tepatnya mana berani dia melihat kebawah.


"Selamat Tuan muda, Nona muda. Anak kedua kalian perempuan. Dia sangat cantik sama seperti ibunya." ucap dokter satunya lagi yang juga ikut melakukan tindakan operasi.


"Benarkah!" seru Rian dan Ayla dengan air mata kembali menetes.


"Benar Nona, putri Anda sangat cantik. Maafkan saya sudah membuat Anda merasa khawatir. Saya hanya merasa terkejut melihat bayinya bisa bersih seperti sudah di mandikan." ucap Dokter Elida kembali lagi menaruh bayi itu seperti kakak nya tadi. Lalu mengambil yang pertama untuk di bersihkan oleh perawat.


Setelah mereka selesai melakukan tugasnya masing-masing dan kedua bayi itupun sudah di bersihkan. Ayla siap di pindahkan keruang rawat inap. Tentunya ruangan terpilih dan mahal ya.


"Sayang apakah operasi nya berjalan lancar?" Bunda Mirna dan Mama Sonya langsung bertanya begitu melihat Rian sudah keluar dari ruang operasi istrinya.


"Mama, Bunda!" Rian langsung memeluk kedua wanita itu sekaligus untuk menyampaikan rasa bahagianya.


"Kenapa? Ayo kasih tau dulu bagaimana operasi nya, Nak?" tanya Mama Sonya tidak sabar. Berbeda dengan Bunda Mirna tanpa menantunya itu menjelaskan dia sudah tau pasti operasi putri nya berjalan lancar.


"Lancar, operasi nya berjalan lancar! Ma, Bun. Mereka akan segera di pindahkan ke ruang perawatan." ucap Rian melepaskan pelukannya dan tersenyum bahagia pada kedua wanita baya itu.


"Syukurlah jika mereka sehat semuanya. Lalu bayi nya laki-laki atau perempuan semua, sayang?" kedua wanita itu kembali memberondong pertanyaan dan tidak memperdulikan suami mereka yang hanya mengelengkan kepalanya.


"Mereka...Satu laki-laki dan satunya perempuan!" Rian tersenyum melihat reaksi mama dan ibu mertuanya.


"Aaaaaak! Aku sudah tidak sabar ingin mengendong nya, Mir." seru Mama Sonya memeluk besanya.


"Sama, aku juga sudah tidak sabar ingin mengendong mereka." balas Bunda Mirna tak kalah heboh nya.


"Papa, Ayah!" sapa Rian memeluk bergantian Tuan Heri dan Ayah Ridwan begitu dia melihat kedua nya.


"Selamat ya, Nak. Sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah." ucap Ayah Ridwan memeluk menantu yang sudah dianggap seperti putranya sendiri.


"Terimakasih, Yah. Terimakasih karena ayah sudah mengizinkan Rian mendampingi putri, Ayah." Rian berucap dengan tulus memiliki mertua seperti ayah mertuanya adalah keberuntungan bagi Rian.


Saat Rian menyakiti Ayla. Ayah Ridwan tidak pernah menghakimi menantunya, malah beliau selalu memberikan semangat agar Rian tidak menyerah begitu saja. Padahal saat itu dia sangat kecewa pada Rian yang sudah membuat putrinya menderita.


"Sudah jangan menangis! Seorang CEO itu harus bisa mengendalikan dirinya meskipun dia sedang bahagia. Jangan seperti ini, bagaimana bila orang lain melihat, mu. Nanti mereka mengira kalau kamu kehabisan uang jajan." kata Tuan Heri mengelus punggung Rian.


Walaupun Rian sangat di takuti oleh rekan bisnisnya. Tapi bila sudah berhadapan dengan Tuan Heri, maka Rian akan menjelma seperti anak kecil.


"Selamat sore semuanya! Maaf saya mengangu. Saya hanya ingin menyampaikan kalau Nona dan kedua anaknya sudah di pindahkan di ruang perawatan." ucap seorang perawat yang menjemput keluarga pasien, karena tadi mereka membawa Ayla memang tidak melalui pintu masuk ruang operasi. Melainkan lewat jalan khusus bagi para dokter dan perawat tertentu saja.


"Rian sudah jangan sedih seperti itu. Ayo kita keruang rawat istrimu. Dia sudah duluan menunggu." cegah Mama Sonya melihat Rian masih di peluk oleh Tuan Heri.


Lalu mereka semua pun mengikuti perawatan itu keruang di mana Ayla dan kedua anaknya menunggu.


Ceklek.....


Begitu pintunya di buka, Rian berjalan lebih dulu mendekati istrinya.


"Sayang! Maaf membuatmu menunggu," ucap Rian mencium muka dan kening istrinya di hadapan para dokter dan keluarganya. Semenjak hubungan mereka membaik lelaki itu memang tidak pernah malu menunjukkan kemesraan di depan siapapun.


"Tidak apa-apa, aku juga baru di pindahkan." jawab Ayla tersenyum kearah semua keluarga yang sudah ada di belakang tubuh suaminya.


"Bunda, Mama!" sapa nya kepada dua wanita baya itu lebih dulu. Baru setelah itu dia menyapa ayah dan papa mertuanya.


"Selamat ya, sayang! Semoga keluarga kalian selalu di berkahi kebahagiaan apa lagi sekarang sudah ada dua malaikat kecil ini." ucap Bunda Mirna mencium kening putrinya dengan penuh kasih sayang.


Hal serupa dilakukan juga oleh mama mertuanya dan sampai pada giliran yang terakhir yaitu giliran Tuan Heri mengucapkan selamat pada menantu kesayangan nya itu.


"Selamat ya, Nak! Do'a terbaik untuk keluarga kecil kalian. Terimakasih sudah mau membantu papa menyelesaikan permasalah kemarin. Kamu rela menderita demi ketentraman keluar kita, dan terimakasih lagi kamu sudah mau melahirkan penerus Erlangga." kata Tuan Heri ikut mengucapkan selamat.


"Wah mereka sangat tampan dan cantik!" suara Mama Sonya kembali heboh setelah melihat kedua cucunya yang masih merah.



"Kamu benar sekali, mereka sangat tampan dan cantik," puji Bunda Mirna ikut mendekati box bayi yang ada di samping tempat tidur Ayla.


"Jadi mereka sepasang?" Tuan Heri yang pendiam ikut heboh begitu melihat penerus Erlangga.


"Iya, jika yang satu kita sudah tau saat di USG. Ternyata yang sembunyi tidak mau di lihat jenis kelamin nya itu gadis kecil kita ini!" jawab Bunda Mirna sudah mengendong cucu perempuan nya, karena cucu laki-laki sudah lebih dulu di gendong oleh Mama Sonya.


"Hai gadis kecil, selamat datang sayang, ini nenek." Bunda Mirna mengajak cucu nya bicara meskipun gadis kecil itu belum mengerti apa yang sedang dia bicarakan.


Akhirnya setelah para dokter meninggalkan ruang rawat Ayla. Kedua keluarga terpandang itu sibuk dengan cucu mereka. Sedangkan Rian dan Ayla tidak memiliki kesempatan untuk mengendong anak mereka sendiri.


"Sudahlah jangan cemberut. Orang tua kita sedang bahagia. Nanti kita akan mendapatkan giliran juga." Ayla menyentuh pipi Rian yang duduk di kursi samping ranjangnya. Lelaki itu belum mendapatkan giliran untuk menggendong anaknya kecuali saat dalam ruangan operasi tadi.


"O'ya nama mereka siapa, Nak?" tanya Ayah Ridwan yang bingung ingin memangil nama kedua cucu kembarnya.


*BERSAMBUNG.....🤗*