
🍁🍁🍁🍁🍁
.
.
Ceklek....
Pintu dibuka dari luar, oleh Nando yang di ikuti oleh satu orang wanita, dan satu orang lagi laki-laki menyusul di belakangnya.
Tidak lupa di tangan mereka bertiga, ada bingkisan yang entah akan di berikan kepada Rian atau Ayla.
Mendengar suara pintunya di buka, Rian pun ikut menoleh melihat kesana. Sama seperti Anita dan Mama Sonya. Yang juga melihat siapa yang datang.
Deg....
Ketika melihat siapa yang datang. Jantung Rian langsung bergemuruh tidak karuan. Berdebar bukan karna Rian jatuh cinta atau sebagainya. Melainkan dia merasa cemburu tidak suka kepada orang itu.
Apalagi di tangan orang itu, ada sebuah buket bunga Lily. Bunga yang sangat disukai oleh Ayla.
"Selamat sore semuanya!" sapa Nando sebelum dia menyalami satu persatu orang yang ada di sana, termasuk Rian sendiri.
Namun ketika ingin bersalaman dengan Rian. Ada jeda sesaat, karna Rian bukanya langsung menerima uluran tangannya. Tapi malah melihat kebelakang Nando.
"Ri...! Lo, kenapa?" tanya Nando merasa heran dengan sorot mata Rian yang tajam. Yang dikiranya melihat kearah dia.
"Apa Rian masih marah sama gue, karna sudah memukul dan bilang jika persahabatan kami sudah berakhir! Tapi sepertinya kemarin malam, dia malah menyelamatin nyawa gue juga kan?"
Nando bertanya-tanya di dalam hatinya. Sebelum Rian menjawab pertanyaan nya.
"Ngapain Lo, bawa agar-agar kesini!" bukanya menjawab, tapi Rian malah balik bertanya.
"Gue nggak bawa agar-agar, lagian siapa yang mau makan agar-agar di sore hari seperti ini." Nando menyergit aneh. Karna di keranjang yang dia bawa, tidak ada agar-agar.
Yang ada, hanya buah-buahan segar, yang dia petik sendiri dari kebun pamannya. Lalu di hias menjadi bingkisan yang sangat indah.
Mendengar suara yang berisik, membuat Ayla bangun, setelah tidur kurang lebih hampir satu jam.
"Kak Nando! kakak sudah datang!" begitu Ayla membuka matanya. Dia langsung melihat kesamping, dimana tempat Nando berdiri sekarang.
"Sayang, kamu sudah bangun! kamu tidur lagi saja. Jangan bangun sekarang, tidak baik untuk ibu hamil." Rian kembali mengelus kepala Ayla. Agar Ayla tidur lagi.
Itupun sebelum tangannya di pukul oleh Mama Sonya. Karna melihat terjadi keributan, Mama Sonya langsung berdiri untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Aaauuh....! Mama kenapa mukul tangan Rian? Rian ini pasien yang sedang dirawat disini, Ma!" Rian mengaduh sambil mengelus tangannya yang tidak di impus.
"Kenapa di pukul? Rian! ini sudah setengah lima. Ayla tidak boleh tidur lagi, karna tidak baik untuk kesehatan nya. Bukannya malah sebaliknya." kata Mama Sonya menahan jengkel dengan kebodohan putranya itu.
Sedangkan semua yang ada di sana, tertawa melihat kelakuan Rian yang tiba-tiba menjadi aneh.
"Tapi...."
"Sayang! aku sudah tidak mengantuk lagi, lagian ini juga sudah sore. Aku belum mandi juga." Ayla langsung memotong ucapan Rian. Karna bila di biarkan, masalahnya tidak akan beres.
"Vino, Sari, Kalian juga datang! Aku sangat merindukan kalian berdua!" ucap Ayla yang ingin turun dari ranjang untuk menyapa kedua sahabatnya.
"Kamu mau kemana? tidak boleh turun." Rian mencekal pergelangan tangan Ayla.
"Aku tidak kemana-mana! hanya ingin ikut duduk di atas sofa." jawab Ayla melihat pergelangan tangannya yang masih di cekal.
Kebetulan Mama Sonya, melihat Nando kembali lagi menurunkan tangannya. Karna Rian sibuk membahas masalah agar-agar yang tidak ada.
"Ooh, sory Nan, gue lupa! lagian Lo, ngapain juga bawa agar-agar datang kesini." Rian yang masih melihat Vino tidak suka.
Baru tau jika Rian tidak menyukainya, Vino malah dengan sengaja berjalan maju kedepan untuk mendekati Rian dan Ayla.
"Ay..! ini bunga untukmu! cepat sembuh ya cantik!" ucap Vino mengelus kepala Ayla. Seolah-olah Rian tidak ada disana.
Plaaak...
"Aduh!" Vino yang gantian mengaduh. Karna tangannya di pukul oleh Rian.
"Enak aja ngelus kepala istri orang, lagian disini yang sakit itu, gue!" Rian langsung saja mengibarkan bendera perang. Setelah melihat tangan Vino dengan lancang mengelus kepala istrinya.
"Huuuh, ternyata kamu sedang cemburu Ri..!" tawa Anita pecah, setelah melihat sikap posesif Rian.
Karna tidak disangka-sangka, lelaki yang sangat dingin dengan orang lain itu. Sekarang menjelma seperti anak kecil, yang takut kehilangan mainanya.
"Aku nggak cemburu Nit,! Tapi entah mengapa, aku tidak suka melihatnya. Setelah dia memukulku waktu itu." elak Rian yang sudah berhasil meletakkan tangannya di atas bahu Ayla, lalu merangkul nya.
"Sudah, sudah! di iyain aja Nit. Biar dia senang. Kamu kayak nggak tau aja, jika orang sudah bucin akut." Nando melerai perdebatan itu.
"O'ya Ri..! ini kenalin tunangan gue, namanya Sari. Mungkin waktu itu, Lo sudah pernah ketemu dia kan!" ucap Nando mengalihkan topik, karna malas meladeni kebucinan Rian. Yang baru mereka ketahui hari ini.
"Jadi dia tunangan Lo? kenapa bisa jauh banget! kalian bikin gue dan para raeder penasaran aja tau nggak." keluh Rian yang sudah merasa lega. karna satu saingan terberatnya, akan menikahi wanita lain.
"Cepat sembuh ya! biar bisa menjaga Ayla dan si kembar." ucap Sari menyalami tangan Rian.
Setelah memberikan barang yang di bawa oleh nya. Sari pun memeluk Ayla sambil meneteskan air mata bahagia.
Karna merasa bersyukur, ketika Ayla di culik, tidak terjadi apa-apa pada Ayla dan anak yang di kandungannya.
Di tambah lagi sekarang sahabatnya itu juga sudah bersama lagi dengan Rian suaminya.
"Aku sangat mengkhawatirkan kalian. Saat kak Nando memberi ku kabar, jika kamu di culik." Sari masih menangis memeluk Ayla. Dia tidak perduli menjadi perhatian Rian dan Anita. Karna Nando maupun Vino tentu sudah memahaminya.
"Sudah jangan menangis lagi, aku dan anakku baik-baik saja." Ayla melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Sari.
"Jangan menangis lagi, memangnya tidak malu di lihat kak Nando. Kamu akan bertambah jelek jika menangis seperti ini." canda Ayla agar Sari berhenti menangis.
"Kamu ini, aku kan khawatir pada kalian Ay." Sari akhirnya tersenyum mendengar candaan dari Ayla.
Dan tibalah saatnya giliran Vino yang akan menyalami Rian. Padahal beberapa menit yang lalu, tangannya baru saja di pukul oleh Rian.
"Apa? Lo, mau di peluk juga! sini sama gue." kata Rian yang semakin menunjukkan sikap posesif nya. Malahan ketika berbicara pun, Rian mengunakan kata Lo, gue. Seperti dia berbicara kepada Nando dan Andre.
"Ciih...! awas aja kalo Lo nyakitin sahabat gue lagi. Akan gue bawa dia pergi dari sini." ancam Vino tak kalah sengit dari perlakuan Rian padanya.
"Cob---" Rian tidak sempat menyelesaikan ucapannya lagi.
Karna Mama Sonya sudah mengajak Nando, Sari dan Vino duduk di sofa bersama dia dan Anita.
"Kalian biarkan saja, jangan dengarkan ucapa Rian. Terimakasih kalian sudah mau datang Nak!" Mama Sonya yang tau, jika Rian pasti sangat takut kehilangan Ayla lagi. Makanya Rian bersikap seperti itu.
Namun mereka semua tau, jika Vino maupun Nando sangat menyayangi Ayla seperti adik mereka.
BERSAMBUNG....!