
🍁🍁🍁🍁🍁
.
.
"Apakah aku boleh bertanya? tapi tolong jawablah dengan jujur." Rian melepaskan pelukannya dan menatap mata Ayla penuh harap.
"Katakan saja, Akan aku menjawab, jika aku bisa menjawabnya." Ayla pun balas menatap mata Rian.
"Waktu diruangan ICU tadi, kamu memangil ku sayang kan? Apakah kamu benar masih sayang kepadaku. Eh, tidak maksudku, Apakah kamu masih mencintai ku? setelah apa yang sudah aku lakukan padamu?" tanya Rian seperti takut mendengar jawaban dari Ayla.
"Menurut mu? Ri...! jika aku boleh jujur, sebetulnya aku masih kecewa padamu. Walaupun kamu memiliki alasan saat melakukannya. Namun bila kamu bertanya apakah aku masih mencintaimu, maka jawabannya masih sama disaat malam aku mengungkapkan perasaan aku padamu." jawab Ayla yang yakin dengan keputusannya untuk kembali memulai rumah tangga mereka lagi.
"Jadi kamu juga masih mencintai aku?" Rian kembali mengulangi pertanyaan yang sama.
"Iya, Aku masih mencintai mu,! meskipun di saat aku pergi meninggalkan rumah kita, aku sangat membenci dirimu dan ingin melupakan mu secepatnya. Namun semuanya tidak semudah bagi orang yang belum pernah merasakannya. Apalagi setelah Papa dan kak Nando datang menjelaskan kepadaku, jika kamu melakukan semuanya demi melindungi nyawa ku. Perasaan itu kembali dengan sendirinya." Ayla menghela nafas berat.
Memikirkan perjalanan dia yang sudah pergi meninggalkan rumah karna ingin menjauh dari kehidupan Rian. Namun ternyata takdir dari author masih membawanya untuk bersama Rian kembali.
"Terimakasih kamu masih mencintai dan mau memberikan aku kesempatan kedua,! Aku berjanji akan membahagiakan mu dan kedua anak kita. Sekali lagi maafkan aku yang sudah menolak mu sejak awal kita di jodohkan." Rian tersenyum bahagia sampai dia meneteskan air matanya.
Begitupun dengan Ayla, dia juga ikut meneteskan air mata bahagia nya. Karna setelah menempuh perjalanan panjang, penuh liku-liku. Biduk rumah tangganya masih bisa di selamatkan.
Tanpa aba-aba, Rian menundukkan kepalanya lalu di tempelkan pada perut Ayla yang sudah terlihat sangat besar. Karna kehamilan Ayla sudah menginjak delapan bulan. Apalagi Ayla mengandung dua orang bayi sekaligus.
"Anak-anak Papa, terimakasih..! berkata kalian berdua, Mama kalian mau memaafkan Papa." ujar Rian sebelum dia mencium perut Ayla.
"Ri...! jangan seperti ini, kamu membuatku malu dan geli." ucap Ayla tertawa. Karna merasa lucu melihat kelakuan Rian.
Mendengar ucapan Ayla, Rian pun kembali lagi mendudukkan tubuhnya seperti tadi.
"Sayang..,! Apa aku boleh meminta sesuatu padamu?" tanya Rian dengan tangan mengelus pipi Ayla yang terlihat lebih cubi.
"Meminta apa lagi? perasaan sudah hampir dua jam, kamu banyak sekali permintaannya. Sedangkan aku belum meminta apa-apa darimu." Ayla sengaja mencibir seperti itu, agar Rian tidak mengetahui jika dia merasa gugup di saat Rian memangilnya dengan sebutan sayang.
"Setelah ini, kamu boleh meminta apapun dari ku. Nyawa aku pun, akan aku berikan kepadamu. Asalkan itu bisa membuat kamu bahagia." seru Rian mengungkapkan betapa dia mencintai Ayla.
"Tapi aku ingin kamu jangan memangil nama ku lagi. Tolong pangil aku dengan sebutan sayang juga." Rian kembali mengengam kedua tangan Ayla seperti tadi.
"Aa..Apa? pangil sayang!" Ayla tergagap, dengan pipinya yang sudah berubah menjadi warna merah, seperti cabe keriting.
"Iya pangil aju sayang, seperti aku yang akan memangil mu sayang juga."
Cup...
Rian mencium bibir Ayla secepat kilat. Karna dia tidak tahan melihat rona merah di wajah cubi Ayla. Yang terlihat Ayla semakin menggemaskan di mata Rian.
"Ri.." ucapan Ayla terhenti, karna Rian kembali mencium bibir nya.
"Tolong panggil aku sayang. Jika tidak, aku akan terus mencium bibir mu." ucap Rian sambil tangannya mengelap sudut bibi Ayla.
"Pasti sekarang dia tidak punya pilihan kan. Jika tidak mau memanggilku sayang, akan aku cium lagi dia. Meskipun di depan orang tua kami."
"Bagaimana bisa seperti itu, semuanya kamu yang untung." rutuk Ayla yang belum mendapatkan alasan untuk menolak.
"Untung apanya, aku hanya ingin mulai sekarang kamu memagilku sayang, bukan Rian lagi. Kamu memangil Nando, kak Nando. Si cacing keremi juga sama. Sedangkan aku kamu sebut nama seperti kamu menyebutkan si agar-agar saja." keluh Rian yang baru disampaikan hari ini.
Sebetulnya Rian sudah lama ingin protes masalah panggilan nama. Namun dia tidak memiliki alasan untuk itu.
"Cacing keremi? Agar-agar?" Ayla hanya pokus pada dua kata itu.
"Iya cacing keremi tu Andre. Kalau agar-agar si Vino Kio." sebut Rian dengan nada malasnya.
"Ri.., Eh, sayang, kamu tidak boleh mengubah nama orang sembarangan. Nama mereka bagus gitu juga." Ayla mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Iya, terserah siapa saja nama mereka. Aku hanya minta kamu manggil aku sayang." Rian mencium tangan Ayla yang masih berada dalam genggamannya.
Sehingga membuat Ayla tersenyum sipu. Dan dia pun mengagukan kepalanya. Pertanda jika dia sudah setuju memanggil Rian sayang juga. Meskipun dia masih malu untuk mengatakannya. Karna tidak mungkin kan dia membiarkan Rian menciumnya di depan orang tua mereka.
"Terimakasih...! Aku sangat bahagia sayang. Andai dari awal aku menerima dirimu. Maka kamu dan anak kita tidak akan pernah tersakiti." Rian melongarkan pelukannya dan mencium kening Ayla dengan air mata yang kembali menetes dengan sendirinya.
"Sudahlah, jangan mengigat yang sudah terjadi lagi. Mari kita mulai lembaran baru bersama kedua anak kita. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Jadikan pelajaran untuk kita kedepannya. Tidak ada rahasia antara suami istri, karna baik untuk kita. Belum tentu baik untuk pasangan kita." ucap Ayla tersenyum. Dan mengucapkan kata-kata yang pernah Mama Sonya ucapakan kepada Rian juga.
Lain Rian dan Ayla. Lain pula Para orang tua mereka di luar. Demi memberikan waktu untuk anak-anak mereka. Para orang tua itu rela menunggu di depan ruang rawat.
"Apa yang mereka bicarakan, kenapa lama sekali? Nanti makanan ini tidak enak lagi jika terlalu lama." Mama Sonya kembali duduk disamping suaminya.
"Tunggulah sebentar lagi, biarkan mereka berbaikan disini.Jika menunggu Rian sembuh pasti mereka berdua akan merasa canggung. Lalu bagaimana Ayla akan merawat Rian." Bunda Mirna pun akhirnya angkat bicara juga. Setelah dari tadi hanya menjadi pendengar.
"Anak ku ternyata tidak sehebat diriku Rid. Aku dari dulu tidak pernah salah dalam menilai seseorang wanita. Lah Rian sudah aku pilihkan putrimu yang paling pantas untuk mendampinginya. Malah dia memilih putri Sanjaya yang gila itu." ungkap Tuan Heri merasakan sedikit jengkel. Bila kembali mengingat itu.
Belum juga Ayah Ridwan menjawab ucapan tuan Heri. Kedatangan seorang wanita sudah mengalihkan mereka semua.
"Selamat sore Om, Tante!" sapa seorang wanita cantik pada Tuan Heri dan Mama Sonya.
*BERSAMBUNG...... 🤗*
.
.
.
.
.
...Hallo semua raeder tersayang 🤗 Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya....! Karna pengumuman Giveaway nya tinggal beberapa hari lagi nih....
O'ya.. jika ada yang ingin memberikan saran untuk pangilan Ayla pada Rian. Kalian boleh usul ya, karna Mak author tidak tau mau di bikin pangilan apa. Karna kalo Mak author sendiri, di rumah mangil nya kakak.😂😂
Terimakasih.🙏🙏🙏🙏