
πΏπΏπΏπΏπΏ
.
.
"Rian, kamu akan membawa ku kemana!" protes Ayla sambil mengikuti Rian dari belakang.
'kita akan kerumah mama! dan akan makan malam disana" ucap Rian sambil berjalan mengandeng tangan Ayla menuruni tangga rumah mereka.
"Apa kita akan menginap disana?" tanya Ayla lagi.
"Entahlah! tergantung nanti saja." jawab Rian singkat, seperti biasanya.
Lalu, Ayla tidak banyak bertanya lagi dan langsung masuk kedalam mobil yang sudah Rian bukakan pintunya.
Braaak..... Rian menutup pintu mobil, dan langsung menjalankan mobil mewah nya membelah jalanan ibukota yang selalu padat. Tak berapa lama, handphone milik Ayla berdering, menandakan ada yang menelponnya.
"Siapa?" tanya Rian penasaran, karena sudah empat kali, namun Ayla tidak menjawabnya juga.
"Teman ku." sahut Ayla jujur.
"Kenapa tidak di angkat? jika dia teman mu, maka angkat saja. Kasian kan! dia sudah menghubungi mu berulang kali."
Mendengar ucapan Rian, Ayla pun langsung mengangkat handphone nya.
π Ayla : " Hallo kak..!" sapa Ayla ramah.
π Nando : " iya Ay, Hallo juga! apa kamu baik-baik saja? maaf kan kakak, tadi siang tidak bisa menemani mu."
sesal Nando penuh rasa kuatir seperti biasanya.
π Ayla : " Aku baik- baik aja kak! terimakasih, sudah mengkhawatirkan aku. Sekarang aku sedang dijalan mau kerumah Mama." ucap Ayla dengan tulus, karena Nando benar-benar menjadi sosok kakak buat nya.
π Nando : " Syukurlah! kakak senang mendengar nya, jangan lupa pesan kakak ya...! untuk selalu menjaga kesehatan mu. Oh iya, kakak hampir saja lupa! kakak ingin mengajak mu ke pesta ulang tahunnya Eka besok malam, apa kamu bisa menemani kakak?" tanya Nando diseberang sana, karena dia tidak tau jika sekarang Ayla sedang bersama dengan Rian.
Ayla tidak langsung menjawabnya, dan malah melirik kearah Rian lebih dulu sebelum menjawabnya.
π Ayla : " Maaf kak, aku belum tau bisa atau tidak nya! karena Riri sama Amel mengajak aku pergi bersama mereka. Karena kami bertiga juga diundang, tapi nanti aku kabari kakak lagi ya.., bisa atau tidak nya." jawab Ayla sedikit berbohong, karena dia masih menghargai Rian suaminya.
π Nando : " Iya, tidak apa-apa! kita masih bisa bertemu disana juga kan, jadi, jangan dipikirkan ya..! kakak tidak mau kamu sakit." seru Nando yang selalu perhatian meskipun Ayla tidak membalas perasaan nya.
π Ayla : "Asiiiiaap kakak ku! kakak jangan lupa juga untuk menjaga kesehatan dan sampai berjumpa lagi besok." Ayla pun langsung mematikan handphone nya, sambil tersenyum bahagia karena memiliki sahabat sebaik Nando.
Namun berbeda dengan Rian, yang memegang setir mobilnya dengan geram sendiri, rasanya dia ingin mengambil handphone milik Ayla dan membuangnya saja. Rian sendiri tidak tau, entah kenapa merasa tidak suka mendengar pembicaraan Nando dengan istrinya itu.
"Rian..! apa besok malam, kamu akan pergi juga ke pesta ulang tahunnya Eka sahabat Bela?" tanya Ayla ragu-ragu.
"Kenapa! apa Nando mengajak mu pergi bersamanya?" ucap Rian malah balik bertanya.
"Tidak apa-apa, aku hanya bertanya saja. Nando memang mengajak ku, tapi aku ingin pergi menaiki mobilku sendiri." jelas Ayla, agar Rian tidak salah paham pada hubungan mereka.
Entah mengapa, mendengar Rian yang menyuruhnya pergi dengan laki-laki lain, Ayla merasa terluka! namun sebisa mungkin Ayla bersikap biasa saja.
"Sepertinya, Nando perhatian sekali kepadamu! apa kalian berpacaran?" tanya Rian menyelidik. Meskipun mulutnya berkata agar Ayla berangkat bersama Nando, namun dihatinya malah bertolak belakang dengan ucapannya sendiri.
"Tidak, aku dan kak Nando hanya bersahabat." jawab Ayla apa adanya.
"Ciiiih..., bersahabat! tapi dia sepertinya menyukaimu." ucap Rian tidak suka.
"Jika itu, aku tidak bisa melarangnya, tapi yang jelas kami hanya bersahabat." ujar Ayla sedikit merasa aneh dengan pertanyaan Rian.
Tak berapa lama, mobil mereka pun sudah tiba dirumah kediaman keluarga Erlangga. Lalu mereka sama-sama langsung turun dari mobil.
"Selamat datang dan selamat sore tuan muda dan nona muda." sambut para pelayan dengan ramah.
"Selamat sore juga bibi! apa Mama dan papa ada?" yang di jawab oleh Ayla. Sedangkan Rian tentunya hanya diam saja seperti biasanya.
"Ada Nona muda! Nyonya dan Tuan besar, sedang berada di gazebo." sahut si pelayan.
"Baiklah, kalau begitu kami akan kesana dulu, Bibi silahkan lanjutkan lagi pekerjaan Bibi." seru Ayla dengan sopan.
"Ayla, kamu memang gadis yang baik dan sangat sopan, aku tidak tau apa yang terjadi, setelah waktu pernikahan kita berakhir...! tapi satu hal yang harus kamu tahu, jika aku sangat menyayangi mu." batin Rian, sambil memandang Ayla yang sedang tersenyum kepada para pelayan.
"Ri.., kamu kenapa?" suara Ayla membuat Rian tersadar dari lamunannya.
"Agh....! tidak apa-apa, ayo kita menemui Mama dan papa dulu!" ajak Rian yang berjalan lebih dulu ke gazebo belakang. Dan Ayla pun langsung mengikuti Rian, untuk menemui kedua mertuanya.
"Sore Pa, sore jua Ma...! sapa Rian dan Ayla, lalu mereka berdua langsung menyalami pungung tangan kedua orang tuanya, yang selalu terlihat harmoni dan saling menyayangi.
"Sore juga Nak! kenapa tidak memberi tahu mama dulu sebelum kesini, agar mama bisa membuat makanan kesukaan kalian berdua." seru Mama sambil memeluk bergantian anak dan juga menantu satu-satunya itu.
"Mama tidak perlu repot-repot untuk membuatkan sesuatu buat kami, justru seharusnya kami yang membuatnya untuk Papa maupun Mama! tadinya, kami memang belum berencana kesini ma." ucap Ayla sambil kembali memeluk mertuanya itu.
"ya sudah, kalau begitu kalian istirahat dulu, nanti biar kita makan malam bersama."
"Iya Ma! kalau begitu kami keatas dulu!" pamit Rian yang sudah kembali menarik tangan Ayla, karena entah kenapa Rian punya pirasat jika Papa Heri ingin menceramahi nya.
"Rian, kamu kenapa malah menarik tangan ku dengan terburu-buru? akukan ingin membantu para pelayan menyiapkan untuk makan malam." rutuk Ayla sedikit kesal.
"Sudah, tidak perlu membantu mereka menyiapkan untuk makan malam, karena mereka sudah banyak." ujar Rian yang sudah membukakan pintu kamarnya.
setibanya dikamar, Ayla memilih untuk langsung membersihkan dirinya, karena ini sudah terlalu sore jika dia beristirahat. Lalu Ayla langsung masuk ke kamar mandi tanpa membawa pakaian ganti seperti biasanya.
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih Dua puluh menit, Ayla sudah keluar dari kamar mandi, dengan hanya menggunakan handuk yang membalut pertengahan badannya yang putih mulus saja.
Begitu Rian menoleh, dia kaget sekaligus merasa panas dingin bersamaan, karena selama mereka menikah, ini adalah pertama kalinya dia melihat tubuh Ayla yang hanya memakai handuk seperti itu.
Namun, Ayla seolah-olah tidak merasa terusik dengan pandangan Rian yang sudah seperti singa yang kehausan. Meskipun sebetulnya Ayla sudah merasa gemetar sendiri.
BERSAMBUNG..........