
🍁🍁🍁🍁🍁
.
.
"Ri, Ayo bangun. Jangan tinggalin aku. Aku mohon!"
Ayla semakin menangis histeris, melihat Rian sudah menutup matanya. Meskipun dia dan Nando sudah berusaha untuk membangunkan Rian.
Nyatanya Rian benar-benar tidak mau bangun, setelah menutup matanya tadi. Dan mendengar suara jerit Ayla dari dalam. Para dokter yang bertugas menangani Rian pun berlari masuk.
"Dokter, tolong selamatkan suami saya. Saya mohon Dok,! tolong selamatkan suami saya." Ayla berlari kearah dokter Jeklin. Lalu menarik jas nya. Dan mengulangi kata-kata yang sama pula.
"Tanpa Anda minta, kami juga akan berusaha untuk menyelamatkan nya, Nona." Dokter Jeklin berjalan kearah Rian setelah Ayla melepaskan jas dokternya.
Sedangkan para dokter yang lainnya sudah berusaha memberikan pertolongan. Dari pertama mereka masuk tadi.
"Ayla...!" Nando membenamkan Ayla dalam pelukannya. Untuk memberikan Ayla kekuatan hatinya.
"Kak.., Rian nggak akan ninggalin aku dan anakku kan? Rian akan sembuhkan!" tanya Ayla menangis.
Nando terhenyak mendapatkan pertanyaan dari Ayla. Karna dia binggung ingin menjawab apa.
"Semoga Rian baik-baik saja. Kamu yang tabah ya Ay,! pikirkan kesehatan si kembar." Hanya kata-kata itu yang bisa Nando ucapkan.
"Dokter..! kenapa Anda menutup suami saya seperti itu?" Ayla berjalan kearah Dokter Jeklin, setelah tadi Nando melepaskan pelukannya.
"Nona maaf,! Tuan muda Rian sudah tidak ada." ucap dokter Jeklin menunduk. Karna dia pun merasa sedih, sebab tidak bisa menyelamatkan pasien nya.
"Tidak...! Dokter bohong kan? suami saya pasti masih ada. Suami saya sedang tidur kan!" Ayla kembali menangis histeris. Mendengar pernyataan dokter Jeklin, yang mengatakan jika Rian sudah tidak ada.
"Maaf Nona, Tuan muda Rian memang sudah tidak ada. Tuan muda Rian sudah meninggal dunia Nona!" terang dokter muda yang berada di belakang Ayla.
"Tidak...! Tidak mungkin suami saya meninggal dunia. Suami saya tidak mungkin meninggalkan saya dan anak saya."
Ayla menarik jas dokter Jeklin, sambil dia mengucapkan kata-kata tidak.
"Ayla, Ay... Ayla...!"
Ayla tidak menghiraukan ada yang memanggil namanya. Dia terus saja memanggil nama Rian sambil menangis.
"Nak, Kamu kenapa? Ayla, Sayang!" Bunda Mirna berusaha membangunkan Ayla. Yang terus menangis dalam tidurnya.
"Ayla, kamu kenapa sayang?" seru Bunda Mirna lagi.
Ceklek...
Tuan Heri dan Mama Sonya datang, keruang rawat tempat Ayla.
"Ayla kenapa? Apa yang terjadi Mir?" tanya Mama Sonya berjalan mendekat kearah Bunda Mirna yang masih berusaha membangunkan Ayla.
"Entahlah, sepertinya dia sedang bermimpi buruk." jawab Bunda Mirna lagi.
Yang juga terkejut begitu Ayla menangis sambil menyebut nama Rian.
"Ayla...! Ini Mama, sama Bunda Nak. Ayo bangun, kamu hanya bermimpi sayang!" Mama Sonya mengelus pipi Ayla dengan pelan.
Dan tidak lama setelah itu, Ayla pun terbangun dari mimpi buruknya.
"Rian...! Rian, Ma,! Rian meninggalkan kita." tangis Ayla kembali pecah setelah menyebut nama Rian.
"Kamu hanya bermimpi sayang. Rian masih dirawat diruang ICU. Suami mu, baik-baik saja." ucap Bunda Mirna lembut.
Mendengar perkataan Bunda nya. Tidak membuat Ayla percaya begitu saja. Dia langsung duduk lalu melepaskan impus di tangannya dengan kasar.
Baru setelah itu, dia menurunkan kakinya kebawah menginjak lantai.
"Kamu mau kemana Nak?" Bunda Mirna dan Mama Sonya bertanya serempak.
Sedangkan Tuan Heri, sibuk menghubungi Ayah Ridwan. Agar Ayah Ridwan cepat kembali kerumah sakit. Karna Tuan Heri takut terjadi sesuatu pada Ayla.
"Tunggu Papa ambilkan kursi roda dulu Nak. Jangan berjalan sendiri, ruangan Rian jauh dari sini." seru Tuan Heri mendekat kearah Ayla.
"Tidak Pa. Ayla kuat berjalan sendiri,! Ayla sudah sembuh." tolak Ayla mulai berjalan pelan dari sana.
Tau tekad Ayla yang kuat ingin melihat Rian. Merekapun akhirnya membiarkan Ayla pergi dari sana. Karna percuma di cegah juga, hanya akan membuang-buang waktu.
Namun mereka bertiga tetap mengikuti Ayla dari belakang.
Hanya beberapa menit, Ayla sudah tiba di depan ruang ICU tempat Rian di rawat.
"Apa yang terjadi Her?" tanya Ayah Ridwan yang sudah menyusul mereka dari belakang.
Karna tadinya dia berniat ingin keruang rawat tempat Ayla. Namun ketika Ayah Ridwan ingin kesana. Malah melihat Bunda Mirna, Tuan Heri dan Mama Sonya mengikuti Ayla yang berjalan di depan mereka bertiga.
"Sepertinya Ayla tadi sedang bermimpi buruk. Begitu terbangun tadi, dia langsung ingin melihat Rian." Tuan Heri melihat kearah suara Ayah Ridwan, yang ada di belakangnya.
Ayah Ridwan hanya mengangguk saja. Lalu dia sendiri pun mengikuti Tuan Heri menyusul para istri mereka.
Sedangkan Ayla sudah tiba di dalam ruang rawat Rian. Dia hanya masuk sendiri. Karna Bunda dan mertuanya hanya mengantar sampai di depan pintu.
"Ri...! ayo bangun. Apa kamu akan meninggalkan aku dan anak kita? kenapa kamu kembali membohongi ku lagi." Ayla duduk di salah satu kursi, yang ada di samping ranjang tempat Rian.
"Rian, apa kamu tau, aku sangat ingin memakan nasi goreng buatan mu. Tapi kamu berbohong lagi padaku. Kamu tega membuat anak kita kelaparan." ucap Ayla terisak pilu.
"Ay...! aku tidak berbohong padamu. Maafkan aku sayang. Tidak, Tidak... Aku harus bisa bangun. Aku harus bisa bangun. Ayla tidak boleh kembali menderita karna aku."
Ucap Rian di dalam hatinya. Dia berusaha untuk bangun, setelah mendengar tangisan Ayla.
"Ri, Apa kamu bisa merasakan anak kita yang bergerak. Mereka pasti mencari mu. Ayo bangun lah." Ayla sengaja menempelkan tangan Rian pada perut nya.
"Nak, Ayo bantu Mama membangunkan papa kalian sayang." Ayla kembali menangis, sambil mengelus perutnya dengan tangan Rian.
Berharap Rian bisa bangun dari tidur panjang nya. Dan tanpa di duga oleh Ayla. Ternyata jari tangan Rian, mulai bergerak pelan di atas perut buncit Ayla.
"Ri...! sayang. Jari tangan mu bergerak." Ayla bertanya pada dirinya sendiri.
Semakin lama, jari tangan Rian semakin banyak bergerak satu persatu. Karna Rian memang berusaha untuk bangun.
Dan sampai beberapa menit kemudian. Akhirnya Rian bisa membuka matanya dengan perlahan.
Begitu matanya terbuka, yang di lihat oleh Rian, adalah wajah sembab Ayla yang masih menangis melihat kearahnya.
"Sa..Sayang...!" suara Rian menyadarkan Ayla dari tangisnya.
"Ri, kamu sudah bangun?" ucap Ayla merasa kaget dan bahagia secara bersama.
"Iya, Aku sudah bangun sayang." Rian tersenyum kecil, melihat kearah Ayla, dengan suara lemahnya.
Mendengar suara Rian, meskipun sangat pelan. Ayla langsung saja memeluk tubuh Rian sambil kembali menangis. Untuk menumpahkan semua rasa takutnya tadi.
Dan diapun tidak menghiraukan alat-alat yang masih menempel pada tubuh Rian.
"Jangan menangis, Aku mohon. Maafkan aku sayang,! sudah membuat mu kembali menderita!" ucap Rian ikut membalas pelukan Ayla dengan pelan.
BERSAMBUNG......😃
.
.
.
.
...Maaf ya, di gantung lagi.🤗 Dan maaf juga tidak bisa membalas komentar dari kalian semua.🙏 Karna mak author masih sibuk....
Dan jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya. Terimakasih.😘😘😘😘