Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Mengenang masa lalu.


🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


"Huaom! Sudah jam setengah lima." Rian menguap dan berbicara sendiri sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Lalu Pria itu mengangkat kepalanya dari atas bantal untuk melihat di sekelilingnya siapa saja yang sudah bangun. Namun, yang ada semuanya sedang tidur dengan nyenyak, apalagi di luar sana terdengar lagi hujan besar. Membuat suasana juga bertambah dingin.


Hampir semalaman ini Rian dan Nando tidak tidur. Keduanya begadang menunggui ibu melahirkan yang malah tidur dengan nyenyak begitu pula bayi nya.


Meskipun Baby Aditya bangun beberapa kali, dia tidak menangis. Kecuali minum susu dari sang bunda dan saat mengompol saja. Makanya baik Ayla ataupun kedua orang tua Nando bisa tidur seperti di rumah mereka masing-masing.


Kedua Pria tersebut baru memejamkan mata mereka setelah pukul empat pagi. Itu berarti Rian hanya tidur selama setengah jam. Meskipun sekarang dia masih mengantuk dan ingin tidur walaupun hanya sebentar saja. Tapi Rian paksakan untuk bangun karena mengkhawatirkan keadaan anaknya.


"Sayang! Sayang, ayo bangun. Kita pulang sekarang." membangunkan sang istri dengan cara mengelus pipinya berulang kali.


"Em... ini masih pagi!" kata Ayla malah meletakkan kepalanya di dada sang suami, dan semakin memeluk dengan erat. Seolah-olah takut di tinggal suaminya.


"Iya masih pagi, tapi kita harus pulang sekarang. Kesihan Arsya dan Salsa sudah di tinggal dari tadi malam dan sekarang sedang hujan." ucap Rian malah mencium muka, hidung, kedua mata dan bibir yang terakhir.


Di rumah pun saat dia membangun kan istrinya. Rian memang melakukan hal tersebut, karena bila tidak seperti itu ibu dari anaknya, akan sulit untuk di bangunkan, dan benar saja dugaannya. Tidak sampai dua menit Ayla sudah bangun.


"Aku masih mengantuk, Pa." keluh Ayla menja, yang belum sadar sepenuhnya kalau saat ini mereka tidak berada di rumah tapi sedang menginap di rumah sakit.


"Hem! Maaf sudah mengangu tidur mu Istriku. Tapi saat ini kita lagi berada di rumah sakit. Apa kamu lupa? Cup, cup!" merasa bersalah sudah mengangu tidur wanita yang dia cintai.


Lalu untuk menebus rasa bersalahnya tersebut, Rian memberikan ciuman lagi di muka dan bibir istrinya. Padahal tidak ada yang bersalah, tapi laki-laki itu tetap minta maaf. Minta maaf persi Rian.


Untung saja di dalam sana semuanya sedang tidur dengan nyenyak. Bila sudah bangun, bisa-bisa membuat jiwa jomblo tercemari oleh kemesraan yang Rian lakukan untuk istrinya.


"Ya... ampun! Maaf, aku lupa sayang!" ucap Ayla memukul pelan keningnya.


"Aku sudah tahu kalau kamu sedang lupa. Bagaimana kalau kita pulang sekarang?" kembali mengajak untuk segera pulang. Bukannya apa-apa Rian ingin segera pulang ke rumah. Tapi dia hanya sedang menghawatirkan kedua buah hatinya yang sangat takut bila hujan besar seperti saat ini.


Walaupun sudah ada mamanya yang menemani mereka. Tetap saja Rian merasa khawatir, karena anaknya yang perempuan, bila sudah menangis akan sulit untuk di diamkan kalau bukan oleh Ayla dan Rian yang mendiamkannya.


"Di luar hujan besar ya? Bagaimana mungkin kita pulang sekarang, kita kan belum berpamitan?" Ayla berkata dengan mata melirik kearah orang-orang yang juga ada di dalam ruangan itu.


"Tidak masalah kalau kita pulang sekarang. Tadi sebelum kami menyusul kalian tidur, Aku sudah berpamitan pada Nando dan juga Sari. Soalnya aku mendengar ada gemuruh mau hujan. Buat jaga-jaga mana tahu hujan beneran." terang Rian yang memang sudah antisipasi bila sewaktu-waktu hujannya turun, karena pikirnya sudah pagi juga. Kecuali masih tengah malam tidak mungkin juga mereka meninggalkan Nando hanya bersama kedua orang tuanya.


"Baiklah kalau begitu ayo kita pulang. Nanti siang kan kita juga kesini lagi." ujar Ayla duduk sambil mengucek- mengucek matanya yang masih mengantuk.


Akan tetapi saat Ayla dan Rian baru bersiap-siap akan pulang. Suci mamanya Nando begun dari tidurnya. Sehingga mereka bisa berpamitan lebih dulu.


"Selamat pagi, Tante?" sapa pasangan suami-istri yang sudah mau pulang.


"Pagi juga sayang! Apa kalian mau pulang sekarang?"


"Iya Tan, takut si kembar menangis seperti biasanya bila sedang hujan besar." jawab Rian seraya mendekati wanita baya tersebut yang begitu sudah bangun langsung kembali mengecek keadaan cucunya.


"Hem pulanglah! Kasihan princess kita. Kan Kakak nya menangis bukan karena takut pada hujan. Tetapi hanya ikut bersedia melihat adiknya menangis." jawabnya tersenyum, karena siapa yang tidak hapal sipat kedua anak Rian. Apalagi baik Arsya maupun Salsa juga dekat dengan beliau.


Apa yang di katakan oleh mamanya Nando memang benar. Sebetulnya Arsya ikut menangis hanya karena adiknya ketakutan. Entah akan seperti saat besarnya nanti, karena bila di lihat dari mereka kecil. Arsya begitu menyanyagi adiknya tersebut.


"Terima kasih ya, Tan. Maaf kita nggak menunggu siang. Salam buat semuanya. Katakan nanti siang atau sore kami akan kesini lagi bersama anak-anak sama Papa dan Mama juga." ucap Rian yang langsung saja mengajak istrinya berpamitan.


Dari dalam ruangan Nando. Rian tidak melepaskan rangkulannya pada sang istri, seakan-akan takut Ayla terjatuh bila tidak dia rangkul. Siapapun yang bertemu dengan mereka di sepanjang lorong rumah sakit, sampai ke parkiran mobil mereka berada. Keduanya tidak luput dari kekaguman orang-orang yang melihatnya.


Sekarang memang seluruh ibu kota B sudah mengetahui siapa wanita yang menjadi istri dari pewaris tunggal Erlangga group. Semuanya semakin merasa kaget lagi setelah mengetahui bahwa gadis tersebut juga putri dari keluarga Ridwan, yang kekayaannya hampir setara dengan keluarga Erlangga sendiri.


Belum lagi berita besar yang memberitahu bahwa mereka memiliki sepasang anak kembar yang sangat cantik dan tampan seperti kedua orang tuanya. Rasanya hanya ada di negeri halu saja kesempurnaan seperti itu.


"Masuk lah!" Rian membukakan pintu mobil untuk istrinya lebih dulu, baru setelahnya dia ikut menyusul dan duduk di kursi kemudi. Setelah itu barulah dengan pelan Pria tersebut mulai menjalankan mobilnya membelah jalanan ibu kota yang masih sepi karena sedang hujan.


"Sayang kalau masih mengantuk tidur saja, nanti setelah kita tiba di rumah biar aku gendong ke kamar kita." melihat Ayla hanya diam di balik jaket nya yang sengaja di pakaikan agar sang istri tidak kedinginan.


"Tidak! Aku ingin menemani mu. Tapi biarkan aku seperti ini ya?" bertanya tapi dia sudah menyenderkan kepalanya pada sebelah bahu kiri Rian yang sedang membawa kendaraan.


"Mau seperti apapun terserah padamu sayang, asalkan kamu merasa nyaman berada di sisiku." Rian tersenyum dan mengecup kening sang istri.


"Terimakasih!" seru Ayla ikut tersenyum. Meskipun anak-anaknya sudah besar. Rian dan Ayla masih selalu romantis sama seperti para orang tua mereka.


"Tidak perlu berterimakasih, yang harus berterimakasih adalah aku. Terimakasih untuk semua kebahagiaan dan perjuangan mu untuk melahirkan buah hati kita." Rian menautkan jari-jari tangan mereka dan langsung menciumnya berulang kali.


Akhirnya menjelang tiba di rumah. Mereka berdua bercerita tentang masa-masa saat mereka yang hanya menjadi sahabat. Saat di mana Rian belum mengetahui perasaan Ayla pada nya.


Masih pria itu ingat bagaimana Ayla menangis di balkon kamar mereka, setelah Rian menolak cintanya. Mulai dari situ hubungan keduanya mulai renggang. Sampai tahap akhir dimana Rian menampar Ayla lalu meninggalkan istrinya di rumah selama hampir dua bulan. Padahal sebelumnya hubungan mereka sama seperti hubungan suami-istri pada umumnya. Perbedaannya hanya tidak berhubungan badan saja.


Tiin...


Rian membunyikan klakson mobil saat sudah berada di depan pagar besi yang menjulang tinggi untuk masuk ke halaman rumah orangtuanya. Biasanya bila tidak masih pagi dan hujan. Para penjaga sudah membukakan pagar itu bila yang datang mobil majikannya.


"Terimakasih ya, Pak." kata Rian setelah pagarnya di buka. Lalu Rian pun kembali lagi menjalankan mobilnya kearah garasi mobil yang terletak di sebelah rumah tersebut.


"Ayo turun! Atau mau aku gendong?" ucap Rian sambil membantu membukakan sabuk pengaman pada tubuh istrinya.


"Em... tidak usah! Ini di rumah mama." tolak Ayla di iringi senyuman manisnya.


Cup...


"Baiklah! Biar aku gandeng saja." Rian tergelak saat mengatakan biar di gandengan saja, karena sedari rumah sakit dia selalu mengandeng istri itu.


"Jangan tertawa seperti itu! Bagaimana bila ada yang melihatnya? Aku juga tidak mau berbagi dengan orang lain, walaupun hanya tawa suamiku." protes seperti hal suaminya yang melarang dia tersenyum ataupun tertawa di hadapan para kaum Adam. Bila bukan bagian dari keluarga dan sahabat.


"Benarkah? Aku akan menuruti semua peraturan yang sudah di buat oleh istriku. Apa kamu tahu? Sudah dari dulu aku ingin kamu melarang aku tersenyum ataupun yang lainnya di hadapan orang lain. Sama seperti hal yang aku pinta padamu." bukannya langsung turun tapi mereka malah berpelukan di dalam mobil.


"Aneh sekali! Mengapa kamu malah punya keinginan yang aneh seperti itu?" ucap Ayla mendengar permintaan aneh sang suami.


"Itu bukan aneh, tapi aku lelaki yang sangat mencintai pasangan ku. Dengan begitu aku tahu bahwa diriku juga berharga untuk mu." Rian melepaskan pelukannya dan menatap mata Ayla dengan penuh cinta.


"Apa kamu tidak percaya dengan cinta yang aku miliki?"


"Tidak, aku sangat percaya! Hanya saja... hanya saja, jujur sebetulnya aku sangat takut kamu meningalkan aku lagi." perasaan takut yang selama ini Rian rasakan akhirnya dia katakan juga.


"Hei... mana mungkin aku melakukan itu. Bila aku ingin, dari saat aku pergi membawa si kembar maka kita tidak akan pernah bersama lagi."


"Aku tidak melarang dan memberikan peraturan, karena aku percaya pada cinta suamiku. Maaf bila cara ku membuatmu merasa tidak nyaman." Ayla menyentuh pipi suaminya sambil memberikan senyum. Dia memang tidak tahu kalau Rian malah ingin istrinya memberikan banyak larangan. Tentunya hal tersebut bertolak belakang dengan para suami di luar sana.


"Tidak apa-apa! Tapi sekarang aku tidak memerlukan semua itu, karena aku sudah mengetahui jawaban kenapa kamu tidak pernah seperti memintanya."


Cup...


Kecupan bibir Rian baru saja menempel pada bibir ranum sang istri. Tapi harus di hentikan saat itu juga, karena suara princes Erlangga yang sedang menangis di luar mobil tersebut.


"Huua! Papa, Mama! Adek ta--takut ada hu--hu--hujan besal." ucap gadis kecil mengadukan pada kedua orang tuanya yang masih berada di dalam mobil.


Braaak...


Rian langsung membuka pintu mobilnya dengan kasar saat baru mengigat tujuan mereka pulang lebih awal, dan di susul oleh Ayla yang keluar dari arah pintu yang sama.


"Papa!" Salsa langsung merentangkan tangannya begitu melihat Rian sudah keluar dari dalam mobil.


"Sayang! Maaf ya papa lama datangnya." ucap Pria tersebut mengendong sang putri yang masih tersedu-sedu karena terlalu lama menangis.


"Ma... maaf sudah membuat Mama repot menjaga mereka." Ayla langsung saja minta maaf pada ibu mertuanya.


"Mereka cucu Mama, Nak. Jadi jangan pernah minta maaf. Hanya saja begitu hujan deras turun, Salsa langsung menangis dan untungnya Arsya tumben tidak ikut menangis seperti adiknya." jelas wanita baya itu menyentuh bahu menantunya.


Sementara itu Rian masih mengobrol dengan putrinya yang sudah mulai berhenti menangis. "Jangan menangis lagi, sekarang Papa sudah datang." Rian mendekap dengan erat dan juga mencium putrinya.


"I--iya, ta--tadi adek cuma takut nggak ada Papa sa--sa-ma Mama." jawab Salsa masih terbata-bata.


"Tidak boleh takut, kan ada Oma, Opa sama Kak Arsya juga." sekarang Rian sudah berjalan membawa putrinya masuk kedalam rumah mewah itu. Tempat dulu dia di besarkan penuh kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Begitu mereka tiba di ruang tamu, terlihat Tuan Heri sedang memangku Arsya di atas pangkuannya.


"Ri... syukurlah kalian sudah kembali. Kasihan princes menangis ingin kalian cepat datang." sapa laki-laki itu melihat Rian sudah masuk sambil mengendong Salsa.


"Iya Pa! Maaf sudah membuat Papa dan Mama bangun sepagi ini. Tadi Rian sama Nando tidur setelah jam setengah empat. Jadi begitu hujannya turun. Rian belum tahu karena sangat mengantuk." kata Rian ikut duduk di atas sofa yang berada tepat di samping Papanya, karena Rian juga ingin menyapa sang putra yang tidak pernah banyak bicara.


"Sayang maafkan Papa ya? Tadi malam Papa menemani, Ayah Nando menjaga dedek bayi. Jadi saat hujan Papa masih tidur." menjelaskan pada Arsya yang sekarang berpindah ke pangkuan nya juga.


"Iya Pa! Tadi Arsya tidak menangis lagi, kasihan Oma sama Opa kalau kami menangis semuanya." jawab Arsya yang memang begitu cepat mengerti meskipun umurnya belum lima tahun.


"Anak pintar! Adek juga lain kali jangan menagis lagi ya?" ucap Rian membelai kepala kedua anaknya secara bersamaan, karena keduanya minta di pangku oleh Rian saja.


"Apa tidak ada yang kangen sama mama?" ucap Ayla melihat kedua anaknya sudah minta di pangku oleh Rian.


"Kangen Mama juga!"menjawab dengan tersenyum bahagia.