
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Sore hari di rumah sakit Central Medika. Rian sudah bersiap-siap untuk pulang kerumah kedua orang tuanya. Dia memilih pulang kesana karena di rumah itu banyak yang akan membantu apa bila dia ingin sesuatu. Rian tidak ingin merepotkan sang istri yang sedang hamil besar saat dia membutuhkan apa-apa.
"Apakah kamu sudah kuat untuk pulang sekarang, Nak? jika belum benar-benar kuat jangan terlalu di paksakan. Soal istrimu, kamu tidak perlu khawatir, biar Mama yang akan menjaganya di rumah kita. Dan biar Aldi yang akan menjaga selama kamu menginap di sini lagi." Mama Sonya masih berusaha membujuk Rian agar mau kembali menginap di rumah sakit. Sebab ibu satu anak itu takut jika luka jahit pada dada putranya kembali terbuka bila di bawa pulang sekarang.
"Rian sudah kuat dan sudah sembuh, Ma! Mama tidak perlu khawatir seperti ini, bukanya mama sudah mendengar sendiri kan apa kata Dokter Jeklin tadi. Rian hanya tinggal pemulihan, tidak ada sakit yang lainnya lagi. Lagian mana bisa Rian jauh dari Ayla." kata Rian kembali menyakinkan mama nya.
"Jika mama terlalu khawatir seperti ini, bisa-bisa Ayla juga akan melarang Rian pulang sekarang. Jadi mama, sayang tenang saja, Ya? lagian Rian kan akan pulang ke rumah mama, bukan ke rumah kami sendiri." Rian mengelus pundak wanita yang sudah melahirkan nya dua puluh tiga tahun yang lalu.
"Ya, sudah! mana baik nya saja kalau begitu. Tapi kamu jangan terlalu banya bergerak ya, sayang? mama hanya takut kamu kembali di rawat seperti kemarin." setelah mengatakan itu, wanita paruh baya itu langsung memeluk putra nya. Tidak bisa dibayangkan jika kemarin anak nya itu tidak bisa melewati masa kritis nya. Entah apa yang akan terjadi pada dia dan juga pada menantunya.
"Terimakasih mama sudah mau memaafkan semua kesalan yang sudah Rian buat, Rian sangat menyayangi kalian semua." ucap Rian ikut memeluk wanita yang menjadi cinta pertamanya itu.
"Asalkan jangan kamu ulangi lagi, ketahuilah mama sangat menyayangi istrimu, Nak! Mama sudah mengangap nya seperti putri mama sendiri. Jadi bila kamu menyakiti dia, maka sama saja kamu menyakiti mama, Mu ini." Mama Sonya melepaskan pelukannya.
"Iya, Ma! Rian tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Rian sangat menyayangi dan mencintai nya. Di tambah sebentar lagi Rian juga akan menjadi seorang ayah." Rian tersenyum bahagia saat mengatakan itu semua.
"Mama ikut bahagia sayang, akhirnya hubungan kalian bisa bersatu lagi. Jaga dan bahagiakan istri beserta anak mu." ucap Mama Sonya sebelum pintunya di buka dari luar.
"Sayang! Kamu sudah kembali?" Rian tersenyum melihat Ayla sudah kembali membawa obat di tangannya.
"Heem, iya. Maaf membuat mu dan mama lama menunggu." kata Ayla sudah ikut duduk di samping suami dan mertuanya.
"Apa obatnya hanya segitu, Nak? mama kira tadi obatnya banyak." wanita yang sebentar lagi akan menjadi nenek itu bertanya sembari memperhatikan obat yang di bawa oleh menantunya barusan.
Tadi sebetulnya Mama Sonya yang ingin menebus obat nya. Namun, Ayla mencegah karena dia tidak ingin ibu mertuanya itu lelah. Padahal para dokter itu sudah mengatakan jika mereka akan menyiapkan semuanya. Akan tetapi karena keluarga Erlangga maupun Ridwan memang tidak memiliki hati yang sombong yang suka semena-mena dengan kekayaan mereka. Jadinya Ayla mengatakan pada Dokter Jeklin jika dia sendiri yang akan menebus obat untuk suaminya ke apotek .
"Ooh, begitu ternyata! mama tadi hanya bertanya saja sayang. Berarti jika semuanya sudah beres, kita tinggal menunggu mobilnya kan? Ini tumben sekali papa, ayah dan bunda kalian pergi dari pagi seperti ini. Agh... mama lupa, jika Aldi juga ikut bersama mereka. Sebetulnya mereka berempat pergi kemana ya?" Mama Sonya yang merasa heran, karena dari pergi tadi pagi sampai saat ini jam setengah tiga sore. Suami beserta besanya tidak ada yang kembali kesana.
Sementara itu Rian yang sudah mendapatkan pesan dari Aldi sengaja tidak ingin memberitahukan kepada mama dan juga istrinya. Karena itu perintah dari Tuan Heri, yang takut akan menjadi pikiran buat kedua wanita yang sangat di sayanginya, bila mereka berdua tau jika Bela sekarang mengalami gangguan kejiwaan.
Bagaimana wanita itu tidak akan mengalami sakit jiwa. Ayahnya baru saja meningal dunia kerena perbuatan mereka sendiri. Ibu nya pergi setelah menjual harta milik mereka yang masih tersisa. Dan dia sendiri sekarang di nyatakan hamil anak dari lelaki tua yang dia layani beberapa waktu yang lalu. Tentu saja itu semua tidak mudah baginya.
"Mungkin ada urusan mendadak, Ma. Sekarang kita pulang duluan saja, katanya ayah dan bunda nanti akan ikut menyusul bersama papa." Rian berusaha menyajikan sang mama jika tidak terjadi apapun.
"Mungkin saja apa yang kamu katakan benar, Nak. Biasanya mereka tidak akan mementingkan pekerjaan dari pada keluarganya sendiri seperti saat ini. Yang penting mereka baik-baik saja. Tadi mama hanya merasa khawatir." ungkap wanita itu yang memang menghawatirkan takut terjadi sesuatu di luar sepengetahuan nya.
Ceklek.....
Tidak lama ketika mereka masih mengobrol, terdengar suara pintu yang kembali di buka oleh sopir pribadi keluarga Erlangga.
"Permisi Nyonya, maaf saya terlambat. Tadi di jalan ada terjadi kecelakaan, jadi jalanya macet." kata seorang sopir pribadi dari keluarga mereka yang baru datang di ikuti juga oleh pengawal yang berjaga di luar ruangan itu.
"Sudahlah Pak, tidak apa-apa! Kalau begitu kita pulang sekarang saja. Tolong bantu bawa barang-barang nya ya, Pak?" Nyonya Erlangga itu meminta dengan sopan. Meskipun hanya pada sopir dan pengawal biasa.
"Baik Nyonya!"
Ucap pak sopir dan juga pengawal yang bersamanya tadi. Lalu mereka pun keluar lebih dulu sambil membawa barang bawaan yang akan di bawa pulang. Sedangkan Mama Sonya menunggu anak dan menantunya yang lagi bersiap meninggalkan ruangan itu.
"Apa tidak sebaiknya kamu naik kursi roda saja sayang? Biar salah satu pengawal papa yang mendorong kursi roda nya." Ayla kembali bertanya meskipun mereka sudah mulai berjalan beberapa meter.
"Tidak perlu, aku ini hanya terluka kena tembak, bukan nya sakit sayang. Terimakasih sudah menghawatirkan aku." ucap Rian membelai wajah sang istri yang tadi sempat berhenti saat dia menahan pergelangan tangannya.
"Eeh, mulai lagi. Ada mama nih! tunggu tiba di rumah jika kalian mau bermesraan." Mama Sonya sengaja memasang wajah galak nya. Namun bukannya takut, anak dan menantunya itu malah menjadi tertawa sambil merangkul bahunya. Jadilah dia yang diapit oleh Rian dan Ayla dari sisi kiri-kanan nya menuju ke tempat di mana mobil sudah menunggu mereka.
*BERSAMBUNG.......🤗*