Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Hanya pangilan.


🍁🍁🍁🍁🍁


.


.


"Kamu mau rasa apa Ay? Nando bertanya kearah Ayla yang berada disampingnya.


"Aku mau rasa Coklat saja kak! apa kakak sendiri tidak mau?" Ayla balik bertanya.


"Tentu saja kakak juga mau, setelah ini kita duduk di sana saja ya." ucap Nando menunjuk kearah bangku yang ada taman kecilnya.


Tadi mereka ingin langsung pergi ke taman kota. Namun ketika melihat penjual es krim, Ayla meminta mereka berhenti membelinya.


Jadilah Nando menghentikan mobilnya dulu. Karna memang niat Nando ingin membuat Ayla bisa melupakan masalah nya dan Rian. Walaupun hanya sesaat.


Karna Dokter obgin yang menangani Ayla kemarin, sudah berpesan agar orang-orang terdekat Ayla bisa menghibur nya.


Sedangkan keluarga terdekat Ayla tidak ada yang mengetahui kehamilan nya. Karna Ayla tidak mau membuat bunda Mirna ataupun mama Sonya mengetahui masalah rumah tangganya.


"Ayo kita kesana." kata Nando yang sudah membawa dua buah cup es krim, yang diikuti oleh Ayla di belakang nya.


"Ini punya mu." Nando memberikan es krim punya Ayla setelah mereka sama-sama duduk.


"Terimakasih kak." ucap Ayla sambil matanya melihat kearah taman kecil yang ada satu keluarga kecil disana.


Mereka terlihat sedang bersanda gurau bersama istri dan anak-anak nya. Pasangan itu memiliki dua anak, tapi umur kedua anak itu berbeda, mungkin saja beda empat tahun dari yang besarnya.


Melihat kebahagiaan keluarga itu. Membuat Ayla teringat kedua anak-anaknya nanti setelah lahir.


Jika harta, kedua anaknya tidak akan pernah kekurangan. Meskipun tanpa harta dari mertuanya. Harta dari keluarga Ridwan saja sudah cukup untuk kedua anaknya nanti.


Hanya saja mereka tidak dapat kasih sayang dari seorang ayah. Karna jangankan setelah mereka lahir, ketika masih dalam kandungan saja mereka sudah tidak mendapatkan itu semua.


"Ay, apa kamu baik-baik saja! makanlah es krim nya, jangan melihat mereka terus. Percayalah kamu pasti bisa melalui semuanya." ucap Nando mengengam erat jari tangan Ayla.


Seolah-olah dia ingin menguatkan Ayla. Karna Nando mengerti jika Ayla sedang membandingkan keluarga yang ada di depan mereka, dengan kehidupannya sendiri.


Mendengar perkataan Nando, Ayla tersenyum kecil kearahnya. Seraya berkata.


"Aku tidak apa-apa kak, aku tau setiap kehidupan itu. Kita sudah diberikan ujiannya masing-masing. Hanya saja, aku sedang memikirkan kehidupan kedua anakku nanti. Apakah mereka akan menanyakan kemana ayah mereka. Atau sebaliknya, mereka akan berpura-pura tidak mau tau." Terdengar helaan nafas Ayla yang berat saat mengucapkan nya.


"Ayla kakak memang mencintaimu, tapi tolong jangan salah paham dengan perkataan kakak." Nando berucap sambil meletakkan es krim yang berada di salah satu tangannya yang lain. Sebelum dia melanjutkan lagi ucapannya.


"Jika hanya panggilan seorang Ayah untuk kedua anak-anakmu. Maka kakak tidak masalah, bila mereka menganggap kakak ayah mereka. Jangan kamu memandang kakak sebagai seorang laki-laki yang pernah mencintaimu, tapi kamu anggap saja kakak ini, kakak laki-lakimu. Apa salahnya kan, jika keponakan memanggil pamannya sendiri ayah." kata Nando menghadap kearah Ayla dan memegang kedua pundaknya.


Untuk menyakinkan Ayla, jika dia mengatakan itu semua tulus, tidak punya maksud yang lainnya.


"Dengarkan kakak Ay, kakak tidak memintamu menerima kakak untuk menjadi pengantin ayah mereka. Dan kakak tidak meminta imbalan apapun. Kakak tulus, kakak ingin kamu hidup bahagia. Meskipun itu dengan Rian atau siapapun, Tapi kakak tidak bisa terima, jika ada laki-laki yang menyakitimu apalagi menduakan mu dengan wanita lain." Nando berkata sambil menarik Ayla kedalam pelukannya.


Karna mendengar semua pengakuan Nando, membuat Ayla langsung menangis.


"Menangis lah! jika itu bisa membuatmu lega. Kakak berjanji tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian, parcayalah!" seru Nando lagi mengelus punggung Ayla yang bergetar karna menahan tangisnya.


"Terimakasih kak! maafkan aku yang hanya bisa menganggap kakak sebagai kakak ku!" Ayla berkata masih dalam keadaan menangis.


"Tidak perlu meminta maaf, kakak mengerti. Kita akan sama-sama meninggalkan kota ini. Bila kamu sudah ingin pergi, karna kakak ingin menjaga kalian." ucap Nando melepaskan pelukannya dengan perlahan.


"Jika kakak ikut dengan ku, lalu bagaimana dengan kedua orang tua dan restoran milik kakak? Ayla mendongakkan kepalanya untuk melihat muka Nando.


Pertanyaan Ayla membuat Nando tersenyum mendengarnya. Sebelum dia menjawab pertanyaan itu.


"Kakak kan sudah bilang, jika kakak ini bukanlah seorang CEO perusahaan besar seperti Andre maupun Rian. Kakak hanya memiliki restoran, yang bisa di tangani oleh asisten kakak. Jadi kamu tidak usah memikirkan nya, karna nanti kemanapun kita pergi ,kakak akan membuka cabang restoran yang baru disana." terang Nando mengacak rambut Ayla lagi.


"Baiklah..! jika aku pergi kakak boleh ikut. Sekarang aku sendiri juga belum tahu, kapan akan perginya. Tapi Papa Heri kemarin datang kerumah, dan mengatakan jika sebelum aku pergi, papa yang akan membantu aku menjelaskan kepada Ayah dan bunda termasuk dengan mama Sonya juga." jawab Ayla menyetujui jika Nando ikut bersamanya nanti.


"Sudah habiskan es krim nya, kita pergi sekarang. Biar kamu tidak dirumah terus. Dan kamu harus ingat pesan dokter Ay, jangan memikirkan masalahmu dan Rian saja. Tapi pikirkan si kembar, mereka membutuhkan dirimu." Nando mengulurkan kembali mangkuk es krim milik Ayla yang sudah meleleh dari tadi.


Ayla pun menerima nya, setelah habis, mereka berdua kembali kemobil lagi, untuk melanjutkan perjalanan menuju ke taman ibu kota.


Karna disana selain tempatnya sejuk karna banyak pepohonan yang sengaja di tanam. Juga banyak penjual kuliner makanan juga.


Setelah melihat mobil Nando pergi dari sana, barulah Rian menyuruh Aldi kembali menjalankan mobilnya. Karna begitu melihat Nando dan Ayla tadi. Rian langsung menyuruh Aldi untuk menghentikan mobil mereka, yang tidak terlalu jauh dari tempat Nando dan Ayla.


Memang Rian tidak bisa mendengar pembicaraan mereka, namun Rian masih bisa melihat keduanya dari jarak jauh.


Ada rasa tidak rela ketika dia melihat Ayla berada dalam pelukan Nando. Apalagi dalam waktu yang terbilang lama.


Niat hatinya tadi ingin menenangkan pikirannya, namun bukannya sembuh malah bertambah parah.


"Aldi sekarang antarkan aku ke Apartemen saja, setelah itu kamu pergi carikan aku rujak atau buah-buahan apa saja. Rasanya aku mau demam." Rian yang memberikan perintah baru lagi.


Tak ingin bertanya ataupun membantah, Aldi langsung memutar arah mobil mereka menuju ke Apartemen milik Rian.


Dan selama di dalam mobil, Rian hanya membayangkan ketika Ayla mengungkapkan perasaan nya sambil menangis. Ketika Ayla mengatakan.


"Aku mencintaimu Ri...! tolong beri aku kesempatan. Aku mohon?"


Hanya kata-kata itulah yang terngiang-ngiang dalam benaknya.


BERSAMBUNG......