
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Begitu melihat ada beberapa bekas listip di kameja bagian dalam pakaian milik suaminya, membuat Sari terpaku beberapa saat di tempatnya berdiri. Sambil dia berpikir itu milik siapa.
"Ah aku tidak boleh berprasangka buruk pada Kakak. Sebelum aku memiliki bukti kalau dia berbuat yang macam-macam di belakang ku." sambil menggeleng-geleng kan kepalanya wanita tersebut menyimpan lagi baju itu kedalam keranjang.
Lalu setelahnya Sari berjalan masuk ke kamar dan langsung mengambil pakaian gantinya. Begitu selesai Sari tidak langsung mengering kan rambutnya. Tapi malah duduk di pinggir ranjang sambil menatap lekat sang suami. Dengan hati bertanya-tanya mungkinkah Nando mengkhianati pernikahan mereka.
"Hoam! Em... sayang, kamu sudah bangun! Apa kamu mengalami morning sinces sehingga sepagi ini sudah bangun dan mandi?" langsung duduk dengan muka khwatir. Meskipun Nando masih mengantuk tapi dipaksakan untuk membuka matanya, karena takut bila istrinya mengalami morning sinces yang biasanya sering terjadi pada hamil anak pertama.
Sari yang di tanya tidak langsung menjawab. Tapi dia diam sebelum memeluk suaminya dengan tiba-tiba, dan berkata. "Kakak... maafkan aku!"
"Maaf buat apa? Jangan ngomong setengah-setengah. Kamu malah membuat aku jadi khwatir." membalas pelukan sang istri dan sesekali mencium pucuk kepalanya.
"Maaf saja karena aku sudah---"
"Sudah apa Hem?" melongarkan pelukan mereka lalu menatap muka Sari yang seperti sedang memendam sesuatu.
"Ada apa hem? Kakak tidak bisa menebak-nebak sendiri bila kamu tidak memberitahu Kakak langsung." menatap dengan lekat.
"Tidak ada apa-apa! Aku hanya ingin minta maaf." kembali lagi memeluk tubuh suaminya karena Sari ingin bertanya tapi takut bila Nando tidak jujur. Tapi juga merasa bersalah sendiri meragukan cinta suaminya.
"Sudah jangan seperti ini, sebelum kamu minta maaf, aku sudah memaafkan dirimu. Bila ada masalah ceritakan saja. Aku tidak mau gara-gara kamu memiliki beban pikiran akan menganggu kesehatan kalian berdua. Kamu tidak lupa kan kalau ada anak kita di sini." ucap Pria tersebut sambil mengelus perut istrinya dengan satu tangan, karena tangan satunya lagi masih memeluk Sari.
"Sini rambutnya Kakak keringkan. Tidak baik membiarkan rambut basah terlalu lama. Bila cuacanya dingin akan gampang masuk angin." setelah melepaskan pelukan mereka Nando berjalan turun dari ranjang untuk mengambil Haider alat pengering rambut.
Sedangkan Sari masih diam tidak bicara sepatah katapun. Wanita tersebut hanya memperhatikan apa saja yang di lakukan oleh suaminya. Sebelum kedatangan Nando yang membawa alat tersebut.
"Berbalik kesana biar aku mudah mengeringkan rambutnya." lalu setelah Sari menuruti perintahnya untuk berbalik badan, Nando mulai mengeringkan rambut sang istri.
"Sayang hari ini aku akan berangkat ke Restoran lagi. Ada hal penting yang akan aku urus." berbicara duluan karena istrinya tidak mengatakan apapun.
"Iya, aku juga akan kerumah Ayla."
"Jangan terlalu lelah ya, bila ingin sesuatu segera hubungi aku. Aku juga tidak akan lama hanya sebentar." ucap Nando yang sudah menyelesaikan pekerjaannya.
"Kakak... apa aku boleh bertanya?" dengan ragu-ragu Sari pun akhirnya berbicara juga.
"Iya bertanya apa? Selagi aku memilih jawabannya. Maka akan aku jawab." Pria itu berdiri untuk menyimpan kembali Haider yang masih dia pegang.
"Ayo mau bertanya apa?" setelah menyimpan alat nya, Nando kembali lagi ke pingir ranjang lalu berjongkok di hadapan sang istri yang masih duduk di pinggir ranjang.
"Ka--ka--kakak kemarin siang kemana saja?" bertanya dengan ragu.
"Apa kamu hanya ingin menanyakan hal itu?" belum menjawab. Namun, kembali melemparkan pertanyaan.
"Iya aku hanya ingin menanyakan hal itu saja." Sari berusaha menormalkan cara bicara dan juga memaksakan untuk tersenyum. Di tanya seperti itu malah membuat dia merasa semakin bersalah. Tapi untuk bertanya langsung, kemarin siang Nando sedang bersama siapa dia tidak sanggup menanyakan. Meskipun dia bertanya karena ada bukti noda listip di baju suaminya.
Bukannya Sari meragukan cinta dari sang suami. Tapi untuk mengabaikan begitu saja dia juga tidak bisa.
"Kemarin dari sini aku langsung berangkat ke Restoran kita. Lalu tidak sampai satu jam setelahnya, kami langsung menggelar rapat sampai beberapa jam kemudian." Nando sengaja hanya menceritakan sampai disana, karena ingin melihat reaksi Sari bagaimana.
"Lalu setelah itu kakak kemana?" dan benar saja Sari kembali bertanya.
"Lalu setelah rapatnya beres, mereka semua pergi dan tinggal aku sendiri dalam ruangan itu, untuk memeriksa kembali data yang mereka berikan. Tapi mungkin sekitar satu jam kemudian datang Dewi untuk mengantarkan makan siang ku." jelas Nando seperti apa yang terjadi kemarin. Tidak ada cerita yang dia lewatkan.
Dengan jantung berdegup kencang. Sari kembali bertanya. Meskipun dia sudah terlihat gelisah dan hal itu tentu saja di ketahui oleh Nando.
"Mengapa Dewi yang mengantarkan makan siang untuk Kakak? Apa Kakak sendiri yang menyuruhnya? Kenapa tidak menyuruh pegawai yang lain? Bukannya pegawai laki-laki juga banyak?" sejumlah pertanyaan Sari tanyakan.
Mungkin bila itu bukan Nando, pasti bisa memercik api pertengkaran. Namum, tidak bagi Pria itu, dia malah ikut duduk di pinggir ranjang lalu langsung memeluk istrinya.
"Menangis lah, bila kamu ingin menangis. Jangan di tahan, bila sudah merasa lebih baik baru kita bicarakan dengan tenang." ucap laki-laki tersebut dengan suara lembut, karena dari awal dia sudah tahu ada yang di sembunyikan oleh istrinya.
Sudah hampir empat tahun hidup bersama. Tentu saja Nando tahu karakter istrinya seperti apa. Hanya saja Nando bukan Pria yang suka memaksa seseorang untuk berbicara jujur padanya.
"Hick... hick... Kakak maaf, maaf kan aku." terus menangis dan mengulangi kata-kata minta maaf.
"Tidak apa-apa! Apapun itu, Kakak sudah memaafkan mu. Dalam suatu hubungan pasti ada yang namanya kesalah pahaman atau memang sengaja membuat masalah itu ada." Apa bila Nando sudah mengalihkan panggilan aku menjadi kata kakak. Berarti dia sudah berada di fase yang hanya Sari lah memahaminya.
Mendengar ucapan suaminya bukanya diam. Tapi Sari malah semakin menangis. Menangis menyesali tingkah nya yang seperti anak kecil. Padahal dia sendiri ragu kalau suaminya mendua cinta mereka.
Bukannya itu saja, saat mereka bertemu Dewi di Mall malam itu. Secara tidak langsung Nando melarang dia dekat dengan Dewi. Suaminya tidak mau ada orang lain mengambil keuntungan dari kedekatan mereka. Lalu atas dasar apa dia masih meragukan sang suami. Bahkan dia sendiri malah tidak sadar sudah memberi celah untuk orang lain masuk dalam rumah tangga nya.
"Jika menangis bisa membuat mu merasa lebih baik. Menangis saja, tapi jangan sampai menyakiti diri sendiri. Kakak tidak mau terjadi sesuatu pada kalian berdua." dengan sabar Nando memeluk istrinya yang masih tersedu-sedu di dada bidangnya.
Walaupun Sari tidak menjelaskan padanya. Nando sudah tahu apa yang sudah terjadi. Hanya saja dia ingin melihat reaksi Sari. Akan berkata jujur atau malah sebaliknya.
"Apa sudah puas menangis nya?" Nando bertanya karena Sari sudah melongarkan pelukan mereka.
"I--iya, aku sudah selesai menangis nya." menundukkan kepala karena takut bila Nando malah yang akan marah padanya. Dari awal menikah mereka berdua sudah berjanji akan saling jujur apapun yang terjadi diantara keduanya, dan hal tersebut berhasil mereka lewati sampai hari ini.
Mereka akan menceritakan masalah itu paling lama sebelum waktu tiga hari. Benar saja kadang entah itu Nando ataupun Sari selalu menceritakan hal apa saja sebelum waktu tiga hari.
"Apa kamu masih meragukan cinta Kakak padamu?" bertanya sambil mengangkat dagu Sari agar melihat kearah wajahnya dan tidak lupa Nando juga menghapus sisa-sisa air mata di pipi istrinya.
Sebelum menjawab Sari mengelengkan kepalanya lebih dulu. "Tidak, aku percaya kalau Kakak sangat mencintaiku."
"Lalu kenapa tidak bicara jujur? Apa kamu ingin menyelidiki sendiri apa yang sudah terjadi dan menyiksa dirimu?" Nando menghela nafasnya, karena dia juga menyesal tidak langsung menceritakan apa yang sudah terjadi kemarin siang. Sehingga harus membuat istrinya menangis.