
πΏπΏπΏπΏπΏ
.
..
"Lalu, apa yang terjadi tadi malam?kenapa Rian malah pergi ke BAR dan mabuk-mabukan di sana.?" tanya Nando yang masih penasaran.
"Tadi malam, kami sedikit bertengkar." ucap Ayla dengan lirih.
"Ayla, tapi kakak rasa tidak mungkin Rian tidak memiliki perasaan kepadamu! kalian bahkan sudah tinggal bersama, laki-laki bodoh seperti apa yang tidak akan jatuh cinta kepada gadis seperti mu." kesal Nando yang benar-benar tidak mengerti dengan Rian sahabatnya.
"Tapi memang itulah kenyataannya kak, Rian tidak mencintaiku! Dan gadis yang dicintainya adalah Bela, lalu aku harus bagaimana lagi." Ayla yang berkata sedikit putus asa.
"Kalau kakak boleh tahu, apakah kamu menyukai Rian?" Nando yang bertanya sedikit ragu-ragu, karena takut tambah menyakiti perasaan Ayla.
Lalu Ayla pun mengganggu kan kepalanya. "Iya, jika aku harus berkata jujur, aku sudah jatuh cinta dari pertama kali melihatnya. Waktu itu, kami dipertemukan oleh kedua orang tua kami dan di sanalah awal mula kami bertemu."
"Boleh dikatakan, jika aku jatuh cinta pada pandangan pertama, dan dia juga adalah cinta pertamaku." ucap Ayla, sambil pandangan mata nya, melihat hamparan tanaman yang berada di bawah bukit yang mereka tempati.
Mendengar pengakuan Ayla. Nando pun tidak merasa kaget, karena wanita mana yang tidak akan jatuh cinta kepada seorang Ardian Rian Erlangga. Yang selalu digilai oleh semua gadis yang mengenal dirinya.
Apalagi Ayla dan Rian, mereka setiap hari tinggal bersama. Begitupun sebaliknya. Ayla adalah gadis yang didambakan oleh semua laki-laki yang berada di kampus tempat mereka menimba ilmu.
Termasuk Nando sendiri. Itu yang membuat Nando tidak habis pikir, kenapa Rian masih memilih Bela dari pada Ayla yang sudah sah menjadi istrinya. tidak lama kemudian Nando kembali bertanya.
"Apa karena pernikahan kalian, alasan kamu menolak kakak." tanya Nando yang kembali melihat ke arah Ayla.
"Salah satunya iya." jujur Ayla, yang menjawab semua pertanyaan dari Nando.
"Lalu alasanmu yang ingin kembali lagi ke kota A, setelah kita lulus nanti, apa itu karena perceraianmu dengan Rian?" ucap Nando yang semakin penasaran dengan kehidupan gadis yang sudah disukainya berapa bulan belakangan ini, dan ternyata gadis itu adalah istri sahabatnya sendiri.
"Alasanku yang ingin kembali ke kota A, karena kedua kakek dan nenekku berada di sana."
"Tapi sekarang aku belum tahu ke depan akan seperti apa, karena tadi malam aku sudah mengatakan kepada Rian jika aku mencintainya, karena hal itulah dia pergi dan tidak kembali ke rumah tadi malam."
"Entah dia marah kepadaku, atau membenciku! aku pun tidak tahu, karena dari tadi malam, dia tidak ada membalas pesan ataupun menelepon ku lagi."
"Kami bertemu hanya ketika di parkiran tadi." cerita Ayla kepada Nando, yang merasa setelah bercerita masalah kehidupannya, Ayla merasa sedikit lega.
"Lalu apa tanggapan Rian, setelah mendengar pengakuanmu?"
"Pertama mendengar pengakuanku, dia marah dan berkata jika aku tidak seharusnya menyukainya."
"lalu aku memohon kepadanya, agar memberiku waktu selama sisa pernikahan kami."
"Aku melakukan semua ini karena tidak ingin kedua orang tuaku ikut menderita, dan persahabatan Ayah mau pun Papa Heri pasti tidak akan baik-baik saja ke depannya." jawab Ayla yang sudah kembali mengeluarkan air mata nya.
Bila membayangkan perceraian mereka, betapa banyak hati yang akan tersakiti.
Melihat Ayla yang sudah kembali menangis, Nando tidak bertanya lagi dan langsung mengelus kepala Ayla.
"Sudahlah, jangan menangis lagi, simpanlah air matamu untuk orang yang juga mencintaimu, jika memang Rian tidak bisa menerima dirimu, maka jangan kamu paksakan."
"Karena nantinya kamu sendiri yang akan semakin terluka, cinta itu tidak harus memiliki Ay."
"Tapi, cinta itu kita akan ikut bahagia, apabila orang yang kita cintai hidup bahagia, dan percayalah satu hal, jika memang kalian berjodoh, maka kalian berdua tidak akan ada yang bisa memisahkan walaupun ada Bela di antara hubungan kalian berdua." nasehat Nando, agar Ayla tidak membuat dirinya menjadi rendah didepan Rian. Hanya karna cinta nya yang tak terbalas.
"Kamu mengerti kan maksud kakak."
Ayla langsung melihat kearah Nando, sambil tersenyum meskipun mata dan hidung nya masih terlihat memerah, akibat terlalu banyak menangis.
"iya, Ayla mengerti apa yang kakak katakan, terima kasih banyak kak! jika tidak ada ka Nando, aku tidak tahu akan bercerita dengan siapa dan terimakasih karena kakak sudah mengingatkan aku, agar tidak merendahkan martabatku sendiri." ucap Ayla dengan tulus.
Karena menurut Ayla, Nando sudah benar-benar seperti sosok seorang kakak laki-laki baginya. Melihat Ayla sudah lebih baik. Nando pun ikut tersenyum.
"Ayla ketahuilah, kakak memang mencintaimu! tapi, kakak tidak mau memaksa jika kamu tidak mencintai kakak. Jika kamu memang bahagia dengan pilihanmu maka perjuangkanlah, namun apabila kamu sudah merasa tidak sanggup, maka berhentilah jangan kamu paksakan lagi, karena itu tidak baik untuk dirimu sendiri."
"Kakak akan mendoakan yang terbaik untuk hubungan kalian berdua, dan satu hal yang perlu kamu ketahui, apabila Rian tidak memilihmu, maka kakak akan kembali memperjuangkan cinta kakak kepadamu."
"Kakak berjanji akan mencintai dan membahagiakan mu, akan kakak jadikan kamu satu-satunya Ratu dihati kakak." Terang Nando menyakinkan Ayla, bahwa cintanya benar-benar tulus.
Mendengar ketulusan hati Nando, Ayla pun langsung kembali memeluk Nando dan berkata.
"Kakak sekali lagi aku ucapkan terimakasih, aku berjanji kepada kakak, apabila Rian benar-benar tidak mengharapkan kehadiranku lagi, maka aku akan mencoba memberikan kakak kesempatan itu." ucap Ayla bersungguh-sungguh.
"Sudahlah, jangan berterimakasih terus, sekarang pikirkan bagaimana caranya kamu membuat Rian jatuh cinta kepadamu." kata Nando mengigatkan Ayla, jika perjuangannya baru mau di mulai.
Mendengar ucapan Nando, Ayla pun langsung melepaskan pelukannya, lalu Ayla mengangkat jarinya kelingking nya, untuk mengajak Nando berjanji.
"Kak, berjanjilah kepadaku, jika semuanya ini, hanya kita berdua yang tahu! anggap saja seperti biasanya nya, seolah-olah kakak tidak tahu pernikahan antara aku dan Rian." pinta Ayla, karena takut jika orang lain ikut mengetahui pernikahan mereka.
Nando pun akhirnya ikut mengaitkan jari mereka. "Baiklah kakak berjanji." seru Nando yang ikut tersenyum.
"Tapi, kakak tidak bisa berjanji untuk tidak memberikan Rian pelajaran, karna sudah membuat adik kakak yang cantik ini menangis.!" ujar Nando yang sudah mengepalkan tangannya nya, yang berada di samping Ayla.
Nando benar-benar tidak bisa terima, Rian meyakiti Ayla, gadis yang sangat dia sayangi. Entah Ayla membalas perasaan nya ataupun tidak.
BERSAMBUNG....