
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Begitu pintu ruangan rapat terbuka semua mata langsung mengarah ke sana. Semua orang baik itu laki-laki maupun perempuan memandang kagum pada Presdir Erlangga Group karena semua orang tahu sepak terjang Rian dalam menangani masalah perusahaan.
Meskipun semenjak istrinya melahirkan Rian libur total tidak berangkat ke perusahaan Namun, dia tetap masih bekerja dari rumah akan tetapi sedikitpun tidak ada kekeliruan dalam pekerjaannya.
Dari sanalah rekan kerjanya semakin segan dan kagum kepada putra tunggal Tuan Heri Erlangga itu. Meskipun ada beberapa orang yang tidak menyukainya lebih tepatnya mereka iri dengan keberhasilan Rian tapi semua itu tidak dapat mempengaruhi perusahaan Erlangga Group.
Kalau urusan pekerjaan Rian orangnya sangatlah teliti. Dia tidak pernah memikirkan untung besar seperti pengusaha lainnya. yang dipikirkan oleh Rian hal yang pertama tidak merugikan rekan bisnisnya, kedua tidak merugikan para pekerja di lapangan. Selain hebat Rian juga terkenal dengan kejujurannya semua orang tahu bahwa Presdir dari perusahaan Erlangga adalah orang sangat jujur. jadi tidak heran jika berbondong-bondong perusahaan lain yang ingin bekerja sama dengan perusahaan miliknya.
Bodohnya Rian saat berhubungan dengan perasaan karena hampir tiga tahun lelaki itu dibodohi oleh Arabella Sanjaya yang sekarang hanya tinggal namanya saja. Bahkan saking bodohnya Rian tidak sadar bahwa dia sudah mencintai istrinya sendiri dari awal mereka menikah.
"Selamat pagi semuanya!" sapa Rian ramah karena sebagian dari peserta rapat adalah orang tua maka dari itu Rian menyapa mereka lebih dulu.
"Selamat pagi juga tuan Ardiaz," jawab semua yang ada dalam ruangan itu sembari berdiri lalu menundukkan sedikit kepala mereka untuk memberi hormat pada Rian. Di kalangan pebisnis Rian memang dikenal dengan sebutan Tuan Ardiaz yaitu nama awal Rian.
"Silahkan kembali duduk. Maaf Saya sedikit terlambat." kata Rian ikut duduk di kursi pimpinan miliknya. Begitupun dengan Andre lelaki itu juga mencari kursi bagian dia sendiri karena semuanya sudah di atur jadi dari berbagai perusahaan tinggal duduk saja.
"Baiklah karena Tuan muda sudah datang kita mulai saja rapatnya." sekertaris Aldi pun mulai membuka rapat itu sebelum mereka memberi masukan satu persatu meskipun hasil akhirnya Rian sendirilah yang menentukan.
Sampai dua jam berlalu rapat itu belum juga usai sehingga membuat Rian mulai merasa gelisah karena saat ini adalah jam kedua anaknya bangun. Yang ada dalam pikirannya adalah mampukah sang istri mengurus si kembar apabila mereka menangis secara bersamaan.
"Menurut Saya bagaimana kalau satu dari perusahaan kita mencoba membangun pusat perbelanjaan di daerah bagian barat. Bukanya disana masih jarang Minimarket, mana tau dengan berdirinya sebuah pusat perbelanjaan besar akan meningkatkan harga saham kita yang ada di daerah sana." ucap salah satu dari pengusaha yang ikut mengeluarkan pendapatnya.
"Saya setuju dengan usul Tuan Dapid. Kalau semuanya setuju kita tinggal minta pendapat dari Tuan Ardiaz," sambut satu orang lagi ikut memberikan pendapat.
"Tunggu dulu!" Rian berdiri dari duduknya dengan wajah dingin. Sehingga yang memberikan usul tadi menjadi gemetar merasa takut melihat muka Rian sepertinya sedang kesal.
Padahal pimpinan mereka bukanlah kesal karena hal itu melainkan kesal sudah dua jam rapatnya belum juga selesai. Dulu bagi seorang Rian waktu dua atau tiga jam lebih berada diruang rapat tidak menjadi masalah. Tapi berbeda untuk saat ini ada istri dan anaknya di rumah. Yang mungkin saja sedang membutuhkan sesuatu. Itulah yang ada dalam pikiran Rian.
"Ada apa Tuan muda?" Aldi merasa usul dari Dapid tidak ada yang salah akhirnya bertanya langsung.
"Kita breek sejenak. Aku ingin menelepon istriku!" ucap pria itu dengan entengnya tanpa dia sadari kalau semua yang ada disana sudah sport jantung takut pimpinan mereka marah. Terkecuali Andre dan sekertaris Aldi. Mereka berdua malah menahan tawanya melihat kelakuan Rian yang sudah membuat seisi ruangan menjadi gaduh.
"Kalau begitu silahkan menelepon istri Anda dulu Tuan Ardiaz. Kami akan menunggu disini saja. Jangan terburu-buru kita memang butuh istirahat sejenak agar bisa memikirkan ide lebih brilian lagi." seru Andre mempersilahkan karena dia tahu orang-orang yang ada dalam ruangan itu tidak berani membuka suaranya.
Rian yang sudah rindu pada istri dan anaknya pun langsung pergi keluar dari sana dan dia kembali keruangan dia sendiri agar tenang saat berbicara dengan keluarga kecilnya.
"Ri... Tuan muda apa Anda butuh sesuatu?" Elin berdiri begitu melihat Rian sudah kembali.
Tuuuuuuuut....
Tuuuuuuuut....
Dua kali tersambung barulah di angkat oleh Ayla karena dia sedang bermain bersama si kembar yang sudah bangun dari beberapa menit lalu.
📲 Ayla : "Iya pa!" ucap Ayla begitu mengangkat telepon dari suaminya.
📱 Rian : "Sayang anak-anak sudah bangun. Agh... papa merindukan kalian semua," ucap Rian tersenyum melihat anak-anaknya sudah bangun dan sedang di temani oleh sang istri.
📲 Ayla : "Iya mereka baru saja bangun beberapa menit lalu. Apa rapatnya sudah selesai?" tanya wanita itu merasa heran. Soalnya meskipun Ayla bukan pekerja kantoran tapi biasanya Rian sering bercerita kalau rapat seperti hari ini akan menghabiskan waktu berjam-jam.
📱 Rian : "Belum selesai hanya rapatnya aku breek dulu karena aku tahu jam segini waktunya kakak dan adex bangun tidur. Apa mereka tidak menangis serempak lagi?" kata Rian sembari melihat gerakan apa saja yang di lakukan oleh kedua buah hatinya melalui pangilan Vidio Cal.
📲 Ayla : "Mereka tidak menangis serempak mungkin karena tahu kalau papanya tidak ada di rumah. Apalagi mama sama bunda tidak jadi kesini karena papa dan ayah ada acara mendadak."
📱 Rian : "Syukurlah kalau mereka tidak menangis di waktu yang sama. Aku mengkhawatirkan mu maka dari itu rapatnya aku berhentikan sesaat. Iya papa dan ayah memang ada acara hari ini, aku lupa memberitahu mu." kata Rian semakin seru saat berbicara dengan istrinya. Padahal di ruang rapat orang-orang pada gelisah menunggu kedatangannya.
📲 Ayla : "Ini mau sampai jam berapa rapatnya di tunda? Kasihan mereka yang menunggu mu sayang." Ayla menggigatkan karena Rian sudah meneleponnya hampir lima belas menit.
📱 Rian : "Hm aku hampir lupa sayang!' Baiklah papa kerja lagi ya anak-anak papa tidak boleh nakal ingat pesan papa." ucap Rian kembali mengingatkan anak-anaknya.
📲 Ayla : "Oke papa, kami tidak akan nakal. Papa juga tidak boleh nakal." jawab Ayla menirukan suara anak kecil. Seolah-olah Baby Arsya dan Salsa lah yang menjawabnya.
📱 Rian : "Aku kembali bekerja ya, maaf aku tidak bisa membantu mu menjaga anak-anak. Aku mencintaimu!" seru Rian sebelum mematikan sambungan telepon nya.
Setelah melepaskan rasa rindu dan khwatir pada sang istri barulah Rian kembali lagi menuju ruangan rapat. Namun, begitu Rian membuka pintu ruangannya sendiri, dia di kagetkan dengan keberadaan Elin.
.
.
.
.
.
...Hai...hai...!!! Buat pembaca setia TACDS terimakasih ya kalian masih setia sama bbg Rian. Ini ceritanya memang Mak hadirkan Elin tapi dia tidak akan menggangu kebahagiaan Rian dan Ayla karena Mak juga nggak suka ada pelakor nya. Hanya saja sambil menunggu pernikahan bbg Nando yang baik hati, kita kasih bumbu-bumbu pernikahan untuk bbg Rian ya. Sekalian kita uji bbg Rian nya, apakah dia akan setia sama janjinya atau malah sebaliknya. Terimakasih 🙏🙏🙏 Peluk jauh buat kalian semua.😘😘😘...