
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Saat ini Rian dan Ayla sedang dalam perjalanan menuju rumah yang akan mereka tempati beberapa hari lagi. Jika tidak mamfir ke rumah orang tua Ayla lebih dulu, maka sudah dari tadi mereka sampai. Terakhir kali Ayla pulang ke rumah orang tuanya adalah sebelum dia pergi keluar pulau. Namun, berbeda dengan Rian, lelaki itu baru dua minggu ini tidak mendatangi rumah mertuanya itu karena selama sang istri pergi meninggalkan dirinya. Hampir setiap minggu lelaki itu menginap di sana. Agar bisa mengobati rasa rindunya pada Ayla dan berharap istrinya ada di sana.
"Ternyata rumah di komplek sini bagus-bagus juga. Hampir sama dengan kompleks perumahan kita sebelumnya. Sejujurnya aku tidak masalah kita tetap tinggal di rumah itu." ucap Ayla menoleh kearah Rian yang sedang mengemudikan mobilnya.
Semenjak di operasi karena tertembak. Memang baru hari inilah Rian membawa mobil sendiri, biasanya apabila kontrol ke rumah sakit mereka selalu di antar oleh Aldi atau sopir pribadi keluarga Erlangga.
"Aku memang sengaja mencari rumah yang tidak terlalu jauh dari perusahaan, agar di saat sengang aku bisa pulang melihat kalian. Rumah lama kita terlalu kecil untuk kita yang akan memiliki anak kembar, lagian aku tidak mau membuat, mu kembali mengigat apa yang sudah aku lakukan. Aku hanya ingin kita memulai lembaran baru." Rian sedikit tersenyum, sesungguhnya di dalam hati lelaki itu, sangat sakit bila mengingat nyawa istri dan anaknya hampir saja melayang di rumah lama mereka karena perbuatannya yang pergi dari rumah demi ke kasihnya.
"Nanti jika si kembar sudah lahir, kita bisa membawa mereka bermain di taman yang ada di sini. Aku hanya iging istriku merasa nyaman berada di samping, ku" kata Rian kembali, sembari mengelus kepala istrinya dengan sayang mengunakan satu tangan, karena satu tangannya lagi masih menyetir mobil.
"Sengaja? Bukanya kata mu..., sudah lama membeli rumah ini? Lalu kenapa kamu bisa berpikiran akan membawa si kembar bermain di sini?" wanita itu menaikan satu alisnya keatas, setelah mendengar cerita suaminya.
"Hm, benar sekali. Memang sudah lama aku membeli rumah ini. Tepatnya setelah aku tau kamu sedang mengandung anak, ku. Aku berjanji pada diriku sendiri, akan membahagiakan istri dan kedua anakku apabila aku sudah menemukan kalian. Hal pertama yang aku lakukan adalah membeli rumah ini." ujar Rian sudah memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah mewah berlantai dua.
"Dunia ku bagaikan terang kembali setelah aku mengetahui jika kamu pergi membawa anak kita. Terimakasih sudah mau mempertahankan mereka, meskipun waktu kamu pergi membawa luka karena perbuatan ku. Tapi kamu tetap menjaga anakku. Terimakasih sayang! Aku sangat mencintaimu!" lirih Rian menarik Ayla kedalam pelukannya di sertai air matanya.
"Aku berjanji akan membahagiakan kalian bertiga. Sekarang aku tidak ingin apapun, kecuali hidup bersama kamu dan si kembar. Tolong maafkan aku sudah mengabaikan kamu yang sedang mengandung anakku, pasti kamu sangat menderita karena aku."
Cup....
Lelaki itu membenamkan ciuman pada kepala istrinya berulang kali. Untuk menyalurkan semua rasa cinta penuh penyesalan.
"Sebelum kamu meminta maaf, aku sudah memaafkan, mu. tidak usah mengigat yang sudah terjadi, mari kita buka lembaran baru bersama kedua anak kita." Ayla ikut membalas pelukan suaminya yang mendekap tubuhnya dengan erat.
"Aku juga sangat mencintaimu, terimakasih juga sudah mau membuka pintu hati mu, untuk aku dan anak kita. Sekarang aku sangat bahagia, jadi jangan menghukum dirimu karena kesalahan masa lalu. Semua orang pernah berbuat salah, yang penting sekarang kamu sudah berubah, itu sudah cukup bagiku." ucap Ayla mengelus punggung yang masih memeluk nya.
"Aku benar-benar merasa berdosa kepadamu sayang! Selama ini mataku sudah di butakan oleh cinta yang salah dan karena itu pula aku hampir kehilangan kalian. Terimakasih, terimakasih untuk semua kesempatan ini. Aku sangat mencintaimu!" Rian melepaskan pelukannya dan menatap muka sang istri yang ikut menagis mendengar ungkapan hatinya tadi. Lalu dia menghapus air mata di pipi wanita itu dan berkata.
"Sekarang ayo kita turun dan masuk ke dalam untuk melihat rumahnya. Jika seperti ini kita bisa-bisa tidur di dalam mobil." goda Rian yang sudah melepas safeti belt pada tubuh dia dan istrinya, dan hanya di angguki oleh wanita itu.
"Apabila kamu tidak suka, tolong bilang padaku, ya? Kita akan mencari rumah yang lain, rumah yang kamu sukai." ucap Rian yang sudah membantu Ayla turun dari mobil.
"Selamat sore Tuan, Nona muda!" sambut seorang lelaki separuh baya penjaga di rumah mewah itu.
"Iya, selamat sore juga, Pak. Kenalkan ini istri saya namanya, Ayla" Rian memperkenalkan penjaga rumah itu dengan istrinya.
"Iya, kenalkan nama saya Muklis, Nona...Ayla." penjaga rumah itu ikut memperkenalkan dirinya.
"Nama saya Ayla, Pak. Terimakasih sudah repot-repot menyambut kedatangan kami. Jika begitu kami masuk dulu, ya." kata Ayla merasa tidak enak dengan lelaki itu. Sebab sudah menunggu kedatangan Rian dan Ayla sedari pagi.
"Oh, iya silahkan langsung masuk saja Tuan, Nona. Kuncinya sudah saya buka." Pak Muklis pun mempersilahkan pemilik rumah itu untuk melihat kedalam.
Tidak banyak bicara lagi Rian langsung saja mengandeng tangan sang istri masuk kedalam rumah yang sudah dia persiapkan untuk kembali membangun keluarga kecilnya.
"Bagaimana apa kamu menyukainya?" tanya Rian setelah membawa Ayla berkeliling di lantai bawah.
"Hm, aku sangat menyukainya. Tapi di mana letak kamar kita?" Ayla bertanya karena belum di ajak melihat kamar mereka padahal dia sudah penasaran dari tadi.
"Ada, tapi untuk sekarang kamar kita di lantai bawah dulu, ya? Aku tidak mau kamu kenapa-napa saat naik turun tangga. Sekarang ayo kita lihat ke sana." ajak Rian kembali menuntun tangan sang istri.
"Sayang, kamu!" Ayla termangu di tempatnya berdiri setelah Rian membuka pintu kamar mereka.
"Bagaimana, apa kamu suka dengan kamar kita?" pria itu memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Hm, sangat! Aku sangat menyukainya, apa lagi di sini sudah ada box untuk bayi kita juga. Terimakasih! Apakah kamu sendiri yang menyiapkan semua ini?" tanya Ayla membalikan tubuhnya melihat kearah sang suami.
"Iya, aku sendiri yang menyiapkan nya. Aku ingin kedua anak kita tidur di sini. Agar aku bisa membantu menjaga mereka apabila mereka menangis." Rian pun kembali menuntun Ayla masuk untuk melihat kamar yang sudah dia siapkan dengan dua box bayi di samping tempat tidur mereka.
BERSAMBUNG....