Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Tuan Heri dan Ayah Ridwan.


🍁🍁🍁🍁🍁


.


.


Di dalam ruang rawat Ayla.


Setelah sadar dari masa kritis nya tadi, Rian akhirnya juga di pindahkan keruang rawat tempat Ayla di rawat dari tadi malam.


Sungguh sebuah keajaiban. Rian bisa melewati masa kritis nya. Padahal harapannya untuk bisa bertahan sangat kecil.


Hal pertama yang membuat Rian berusaha untuk bangun adalah, saat merasakan pergerakan dari kedua calon anaknya.


Yang di mintai oleh Ayla untuk membangunkan Papa mereka. Seperti sudah mengerti saja, begitu tangan Rian menempel pada perut Ayla, kedua calon anak mereka pun langsung bergerak tidak berhenti


Ternyata pilihan Ayla yang menempelkan tangan Rian pada perutnya. Bisa membuat Rian berusaha untuk bangun dari tidurnya yang panjang.


Sebuah keajaiban terjadi pada Rian. Setelah mendapatkan tendangan dari kedua calon anaknya tadi. Rian langsung bisa menggerakkan jarinya satu persatu.


Bahkan setelah sadar, Rian pun ikut bisa membalas pelukan Ayla yang menagis memeluk tubuhnya. Padahal dia sudah kritis satu hari, satu malam. Dan ternyata tidak ada yang susah, bila mak author sudah mengambil keputusan.


"Apakah Nando belum datang?" Tuan Heri bertanya pada Ayah Ridwan yang duduk bersama nya, di sofa yang tidak jauh dari tempat Rian berbaring.


"Belum, mungkin sebentar lagi. Tadi dia mengabari Aku. Katanya dia kembali lagi ke Restorannya, yang ada di jalan F. Karna ada klien yang mengajaknya bertemu." jawab Ayah Ridwan bercerita.


Karna memang setengah jam yang lalu. Nando kembali menelpon Ayah Ridwan. Dan mengatakan, jika dia harus kembali ke Restoran nya lebih dulu. Setelah itu baru dia akan kembali kerumah sakit lagi.


Mendengar percakapan antara Papa dan Ayah mertuanya. Yang menyebut nama Nando. Membuat Rian langsung terhenyak. Rian baru sadar, ternyata dia sudah melupakan hubungan Istrinya dan Nando.


Lalu Rian hanya terdiam sambil pikiran yang melayang kemana-mana. Salah satunya, Rian memikirkan hubungan dia dan Ayla. Apakah mungkin, Ayla mau memperbaiki rumah tangga mereka berdua.


Karna yang dia ketahui, Nando dan Ayla sudah bertunangan. Dan akan menikah, setelah Ayla melahirkan anak mereka.


Sungguh, setelah kembali mengingat pernikahan antara Nando dan istrinya. Membuat pikiran Rian semakin tidak karuan. Namun dia belum memiliki kesempatan untuk bicara berdua dengan Ayla.


Sedangkan orang yang dia pikirkan, saat ini lagi membersihkan dirinya di dalam kamar mandi.


Yang ada di dalam ruangan itu hanya Papa nya, Ayah Ridwan dan dirinya sendiri.


Sedangkan Mama Sonya dan Bunda Mirna. Juga lagi pergi keluar, untuk mencari makanan yang cocok untuk Ayla dan Rian.


Dalam lamunan. Rian kembali mendengar suara Papa nya yang mengajak Ayah Ridwan pergi keluar mencari kopi.


"Bagaimana jika kita pergi keluar mencari kopi. Rasanya, kepala ku sakit sekali." ucap Tuan Heri menoleh kearah Rian yang sedang memejamkan matanya.


Setelah mendengar pembicaraan Papa dan mertuanya yang menyebutkan nama Nando tadi. Rian memang berpura-pura tidur.


"Boleh,! tapi siapa yang akan menjaga Rian?" jawab Ayah Ridwan singkat. Namun dia juga memicingkan matanya melihat Tuan Heri.


"Tunggu Ayla keluar, setelah itu, baru kita pergi mencari kopinya." Tuan Heri melihat kearah pintu kamar mandi dengan tersenyum samar.


Karna ternyata besanya itu bisa menebak dengan mudah apa yang ada dalam pikirannya.


Sebab tadi dia memang sengaja ingin mengajak Ayah Ridwan pergi mencari kopi. Agar mereka bisa memberikan Rian dan Ayla waktu luang berdua.


Ceklek.....


Suara pintu kamar mandi Yang Ayla buka dari dalam. Setelah kurang lebih dua puluh menit dia berada di dalam sana. Dan begitu keluar, Ayla juga sudah rapi dengan pakaiannya.


"Bunda dan Mama keman Yah!" Ayla berjalan mendekat kearah Ayah Ridwan dan Papa mertuanya. Karna dia melihat jika Rian sedang tidur.


"Bunda dan Mama pergi keluar. Mereka ingin mencari keperluan untuk kalian." jawab Ayah Ridwan.


"O'ya sayang..! Papa dan Ayah mu. Akan pergi mencari kopi keluar. Kalian tidak apa-apa kan, tinggal berdua disini?" Tuan Heri yang berbicara lebih dulu.


Karna dia ingin masalah antara anak dan menantunya itu segera berakhir.


"Tidak apa-apa, biar Ayla yang menjaga Rian disini. Ayah dan Papa pergi saja." ucap Ayla, kembali melihat kearah Rian yang sepertinya sedang tertidur pulas.


Padahal Rian hanya sedang berpura-pura. Jika saja dia tidak habis di operasi. Mungkin ketika Papa nya ingin mengajak Ayah Ridwan mencari kopi. Rian akan meloncat kegirangan. Karna akhirnya dia memiliki waktu berdua dengan Ayla.


Sebab dia sangat paham Tuan Heri mengajaknya keluar. Pasti sahabatnya itu ingin Rian dan Ayla bisa membicarakan masalah mereka.


"Ternyata kamu memang sahabat sejati ku Rid." Tuan Heri tersenyum, dan dia ikut berdiri. Untuk pergi dari ruang rawat itu.


"Ciih..! Kamu ini." Ayah Ridwan berdecih sambil menggelengkan kepalanya.


Karna antara dia dan Tuan Heri memang saling memahami dari segi apapun itu.


"Nak kami pergi dulu ya,! jika ada apa-apa. Segera hubungi Ayah ataupun Papa Heri." ucap Ayah Ridwan mengelus kepala Ayla.


Setelah berpamitan pada Ayla. Ayah Ridwan dan Tuan Heri pun langsung pergi dari sana. Karna mereka berdua takut, bila para istrinya akan segera kembali.


Tiba di luar ruang rawat.


"Kamu ini semangat sekali sudah tua juga." Ayah Ridwan menyenggol lengan Tuan Heri.


"Tentu saja aku masih bersemangat. Apa kamu tidak tau kegelisahan putra ku. Andai dia berani, mungkin setelah dia sadar tadi. Dia akan mengusir kita untuk keluar dari ruang rawat ini. Karna dia ingin membicarakan masalah hubungan mereka." Tuan Heri langsung duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruang rawat Rian.


Sebab rencananya, Tuan Heri dan Ayah Ridwan akan mencegah siapa saja yang akan masuk kedalam.


"Huuh...! kamu benar, kasihan juga mereka berdua. Rian demi melindungi nyawa putriku, dia rela mengorbankan perasaannya. Sedangkan putri ku, demi ketentraman keluarga kita, dia juga ikut mengorbankan perasaannya. Putriku harus berbohong, bahwa dia dan Nando sudah bertunangan." ucap Ayah Ridwan ikut duduk disamping Tuan Heri.


*****


Sementara itu, setelah para orang tuanya pergi keluar. Rian langsung saja bangun membuka matanya dan menarik Ayla kedalam pelukannya.


Karna ketika Ayah dan Papa mertuanya pergi tadi. Ayla memang berjalan kearah sofa yang ada di samping ranjang tempat tidur Rian. Namun baru saja dia ingin duduk, Rian sudah menarik nya.


"Ri, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja kan?" tanya Ayla binggung dan kaget.


"Tidak, aku tidak baik-baik saja Ay." jawab Rian semakin memeluk Ayla.


"Apanya yang sakit? tolong lepaskan aku dulu. Aku sesak, kamu peluk seperti ini." ujar Ayla agar Rian melepaskan dirinya.


Mendengar ucapan Ayla. Rian pun melepaskan pelukannya. Namun dia tetap menggenggam salah satu tangan Ayla.


"Sekarang ayo katakan, mana yang sakit? biar aku panggilkan Dokter untuk memeriksa nya."


"Ay...! yang sakit hatiku. Aku sakit setelah Papa dan Ayah menyebut nama Nando." seru Rian jujur.


"Kenapa dengan kak Nando? apa salahnya ayah menyebut namanya?" Ayla bingung belum paham.


"Tidak salah dengan nama nya. Tapi yang salah dia akan menikahi Istriku. Aku tidak sanggup Ay, walaupun hanya mendengar namanya saja. Karna Aku benar-benar mencintaimu." Rian menatap wajah Ayla yang masih terlihat sembab.


"Jika kamu juga masih mencintai ku. Aku mohon, batalkan niat mu untuk menikah dengan nya. Setidaknya demi kedua anak kita. Aku berjanji tidak akan membuat mu terluka lagi Ay!" ujar Rian lagi.


Mendengar nya, Ayla pun tersenyum. Karna dia baru mengerti, jika Rian masih mengangap dia dan Nando benar-benar bertunangan.


BERSAMBUNG.....


.


.


.


.


.


Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungannya ya...!


Like.


Vote.


Favorit.


Dan juga hadiah lainnya, Terimakasih...😘😘