
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Saat ini Nando sedang bersama kedua sahabat dan juga para istri mereka bertiga. Para orang tua semuanya sudah kembali kerumah mereka masing-masing termasuk kedua orang tua Sari. Orang tua Sari tidak bisa menginap, karena sang adik hanya sendirian tidak ada temannya. Hari ini kedua orang tuanya hanya datang untuk menyambut berita bahagia atas kehamilan putrinya.
Tiga tahun lebih bukanlah waktu yang sebentar. Selama itulah kedua orang tua Nando maupun Sari menanti kehadiran sang cucu. Kalau orang tua Sari masih memiliki anak satu lagi. Namun, kalau orang tua Nando hanya memiliki satu putra yaitu Nando sendiri. Jadi kehadiran cucu pertama mereka saat ini benar-benar berita besar bagi semua keluarga.
"Arsya sudah bobo, Pa." ucap Ayla mengatakan pada suaminya. Sehingga para laki-laki yang sedang mengobrol pun melihat kearah Ayla dan Arsya.
"Sudah bobo, cepat sekali. Ini adek nya malah nemplok kayak cicak." ujar Andre yang langsung mendapatkan pukulan dari Nando.
"Auuh! Lo apa-apaan sih! Belum juga jadi bapak galaknya minta ampun. Belajar tu sama Rian. Punya anak kembar mana pernah mukul-mukul orang." sungut Andre karena Nando memukul tangannya dengan kasar.
"Salahnya asal ngomong. Enak aja anak cantik di samain kayak cicak. ini tu orang Andre bukan hewan." imbuh Nando yang tidak boleh ada orang menyamakan kedua anak angkatnya tersebut.
"Aaaiis... orang gue ngomongnya ibarat cicak nempel. Bukan bilang cicak beneran." mereka berdua malah meributkan hal yang tidak penting.
"Sudah, sudah jangan pada berisik ini princess gue mau tidur, kalau sudah nemplok seperti ini." Rian menengahi perdebatan kedua sahabatnya. Putrinya jika sudah mengantuk memang seperti itu, jadi Rian sudah sangat paham.
"Kasih bantal saja jangan di pangku terlalu lama, sayang. Mungkin dia lelah bermain dari tadi. Biarkan dia tidur, nanti aku yang akan menggendong nya." kata Rian melihat Ayla masih memangku kepala putranya di atas paha. Saran dari Rian pun di turuti oleh Ayla karena kakinya memang tidak kuat kalau menahan terlalu lama.
"Selamat ya, Nan. Kita ikut bahagia banget Lo akhirnya bisa punya anak sendiri." ucap Andre yang tumben bisa bicara benar.
"Thanks ya tapi... walau bagaimanapun kalian sudah keterlaluan ngerjainnya. Dunia gue hampir berakhir saat itu juga, Apa lagi setelah melihat ruang tamu yang berantakan. Jadi gue ngiranya rumah gue, benar-benar di rampok." menjawab dengan suara kesal nya.
"O'ya kalian tahu dari mana istri gue hamil?" pertanyaan yang sudah bersarang di hatinya baru Nando tanyakan karena dia masih bingung bagaimana sahabat dan keluarganya sudah tahu duluan. Padahal kalau dia pikir-pikir yang membuat adonan bayinya dia dan Sari.
"Tanya tu sama mamanya si kembar, bagaimana awal kita mengetahui kalau Istri Lo hamil." jawab Andre menujuk pada Ayla karena Istri dia dan Sari sedang ke belakang membuatkan kopi untuk para laki-laki tiga orang tersebut.
"Ay!" Nando beralih ikut duduk di atas karpet seperti Ayla saat ini. Sehingga dia mendapat tatapan tajam dari Rian.
"Eh mau nanya atau mau apa, geser duduknya jangan dekat-dekat." kata Rian marah karena dia masih tetap cemburu pada Nando dan Vino.
"Aiis berisik! Gue mau nnya sama adik perempuan gue. Jangan dikit-dikit cemburu. Kalau gue mau maka Arsya dan Salsa akan mangil papa bukannya Ayah." geram sendiri melihat Rian sangat cemburu walau hanya duduk berdekatan.
"Sudah Ay jangan dengarkan apa kata suami bucin mu itu. Tolong ceritakan pada kakak apa yang sudah terjadi?" kata Nando tidak mendengar Rian mengerut kecil sambil mengelus kepala putrinya agar segera tidur.
"Jadi tadi tu gini, Sari datang kerumah dan meminta aku menemaninya ke Dokter untuk mengobati sakit asam lambung nya yang kambuh." ucap Ayla mulai bercerita.
Flashback on...
Setelah mengantar kepergian sang suami masuk sampai kedalam mobil. Sari kembali lagi masuk kerumahnya. Lalu kembali kekamar mereka yang terletak di lantai atas. Namun, tidak lama setelahnya wanita itu merasa mual dan sakit kepala seperti saat asam lambung nya kembuh.
Dari bagun tidur tadi pagi, dia memang sudah merasakan tidak enak badan. Hanya saja tidak mau membuat suaminya khwatir dan mengangu pekerjaan sang suami. Sari memilih diam daripada Nando tidak berangkat ke Restoran mereka, karena sedari malam Pria tersebut mengatakan akan berangkat pagi. Sebab memiliki rapat bersama para Manejer nya dari berbagai cabang.
Tidak tahan lagi menahan pusing di kepala dan mual pada perutnya. Wanita itu menelepon sahabatnya, minta di temani kerumah sakit. Lalu langsung di iyakan oleh ibu dua anak tersebut. Tapi Ayla minta tunggu sebentar, karena ingin menitipkan si kembar pada Mama Sonya dan Bunda Mirna.
Kedua wanita baya itu selalu bertanya kapan lagi mau menitipkan cucu mereka. Aneh memang, tapi begitulah kedua nenek tersebut. Padahal bila mereka ingin berkunjung melihat sang cucu tidak perlu menanyakan kapan lagi mau menitipkan cucunya.
Tidak lama setelah Ayla menelpon bunda dan mama mertuanya. Mereka sudah datang dengan membawa berbagai macam oleh-oleh untuk cucu dan anaknya.
"Bunda, Mama! Maaf ya, Ayla mau titip anak-anak lagi. Soalnya Sari tidak bisa membawa mobilnya sendiri dalam keadaan sakit." ucap Ayla setelah kedua ibunya duduk di ruang keluarga bersama si kembar yang sedang main di atas karpet.
"Tidak perlu minta maaf, Nak. Kami malah sangat senang bila di titipkan anak kalian. Seperti pada orang lain saja. Sudah! Cepat pergi tamani Sari. Tapi hati-hati jangan kencang-kencang membawa mobilnya." ucap Mama Sonya dengan suara gemas pada menantunya itu. Dari dulu sampai saat ini setiap akan menitipkan anaknya Ayla selalu minta maaf lebih dulu.
"Ya sudah kalau begitu Ayla berangkat sekarang.' Kakak sama adek nggak boleh nakal dan merepotkan nenek sama Oma ya, ingat pesan mama. Muaah!, Muaah!" pesan Ayla pada si kembar lalu memberikan ciuman sebelum pergi.
"Iya ma! Mama juga hati-hati." Arsya yang menjawab karena adik perempuannya tetap melanjutkan menyusun permainan rumah susun yang di belikan oleh kedua kakeknya.
Lalu ibu muda tersebut langsung pergi dan menjemput Sari yang tidak jauh dari kediamannya, dan kebetulan sekali wanita itu sudah menggu di depan rumahnya.
Tiin...
"Ayo masih kuat berjalan sendiri kan?" Ayla membuka pintu mobil dari tempat kemudinya.
"Masih kuat lah, hanya asam lambung ku yang kumat, bukannya hamil.", cibir sari masuk kedalam mobil lalu menutup pintunya kembali.
"Ha... ha...! Tapi wajah mu malah pucat seperti orang hamil." Ayla tertawa dan mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena saat ini jam masuk kerja. Jadi jalanya masih sepi belum kembali ramai seperti saat jam makan siang.
Benar saja tidak sampai lima belas menit. Mobil mereka sudah tiba di rumah sakit. Lalu Ayla langsung mengajak sahabatnya turun dan menemui dokter spesialis penyakit dalam.
Termasuk penyakit asam lambung. Sesuai dengan penyakit yang Sari derita. Namun, setelah melakukan pemeriksaan dokter setengah tua itu kaget dan kembali lagi mengecek keadaan pasien berulang kali, karena dia tidak menemukan penyakit asam lambung pada pasien nya tersebut. Sebelum dia melepaskan alat pemeriksaan nya dan berkata.
"Maaf Nona, Nona! sepertinya kalian harus ke Dokter Obgyn untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut." terang sang dokter memperbaiki letak kacamataya. Jangan lupakan dia juga sedikit tersenyum bahagia untuk ikut menyampaikan rasa senangnya.
"Apa Dokter Obygn?" ulang kedua wanita tersebut secara bersamaan.
"Iya Nona, Nona, pergilah! sepertinya akan ada kebar baik. Soalnya dari hasil pemeriksaan Saya, Nona Sari tidak sakit asam lambung ataupun sakit yang lainnya." dokter tersebut kembali menjelaskan agar pasien nya tidak bingung, dan kabar baik yang di maksud sang dokter. Tentu saja, baik Ayla ataupun Sari sudah tahu jawabannya. Lalu setelah nya mereka berdua pun berpamitan untuk pergi dari ruangan itu dan menuju keruang Dokter Obygn seperti yang di rujuk dokter sebelumnya.
Dengan senyum merekah keduanya berjalan menemui Dokter Elida dalam ruangannya. "Sar, semoga saja benar ada berita baik. Aku bahagia sekali mendengar nya." Ayla berkata dengan girang karena dia ikut merasakan bahagia walaupun belum tahu pasti. Tapi melihat wajah pucat temannya. Ayla sangat yakin kalau Sari tengah mengandung.
"Wah para Nona muda, ada hal apa? Apakah si kembar akan memiliki adik lagi." canda dokter tersebut karena mereka memang sudah akrab.
"Bukan Saya, Dok. Tapi Sari yang mau di periksa. Tadi kami sudah menemui dokter penyakit dalam. Tapi beliau menyarankan untuk menemui Dokter Elida." yang di jawab oleh Ayla, karena Sari hanya tersenyum kecil, sebetulnya wanita itu sudah malu berulang kali datang ke Dokter Obgyn tapi bila di periksa selalu saja sama. Dia tidak kunjung hamil.
"Wah kalau begitu sangat baik sekali. Mari Nona kita periksa sekarang, Saya juga tidak sabar ingin melihat apakah sudah ada Nando Junior atau belum." kata dokter tersebut seraya berdiri.
Sari yang sudah sering melakukan periksakan langsung saja menuju ranjang tempat di dilakukan USG. Diikuti juga oleh Ayla dan perawat yang akan membantu dokter tersebut. Setelah mengoleskan Gell pada perut datar Sari, satu buah alat pemeriksaan pun di tempelkan untuk uji pemeriksaan.
Beberapa menit setelah mulai melakukan pemeriksaan berulangkali. Dokter Elida tersenyum lebar dan mengucapkan selamat. "Selamat ya Nona Sari. Akhirnya Anda memiliki kesempatan untuk hamil, dan sekarang sudah berusia dua minggu. Tolong jangan beraktivitas berlebihan termasuk berhubungan suami-istri. Sebab kita belum tahu rahim nya kuat atau tidak." jelas dokter itu memberikan pengarahan pada pasien nya.
"Apakah Dokter tidak berbohong? Saya benar-benar hamil kan?" seru wanita itu meneteskan air mata bahagianya. Begitu pula dengan Ayla, sahabatnya itu ikut menangis haru. Tidak disangka-sangka setelah mereka tidak terlalu berharap lagi baru Tuhan menitipkan malaikat kecil di rahim nya.
"Benar Nona, Anda benar-benar sedang hamil. Sekali lagi selamat! Saya juga ikut merasa bahagia. Akhirnya penantian setelah tiga tahun lebih membuahkan hasil." ikut tersenyum melihat Sari menangis haru dalam pelukan sahabatnya.
Disaat dia melakukan periksa bersama sang suami. Mereka selalu mendapatkan kekecewaan. Hasil negatif sudah biasa mereka dengar karena terlalu sering melakukan pemeriksaan.
Singkat cerita setelah mendapatkan hasil USG, menebus obat untuk menghilangkan rasa mual dan pusing buat Sari. Mereka langsung pulang untuk memberi kabar bahagia pada Mama Sonya dan Bunda Mirna. Sari tidak berhenti menagis bahagia, tapi dia belum memberi tahu suaminya karena ingin membuat kejutan.
Saat dalam perjalanan pulang. Ayla menelepon suaminya yang sedang berada di perusahaan. Kebetulan sekali saat Ayla menelepon sang suami, Andre ada disana, jadi sekalian menyampaikan pada Andre berita kehamilan Sari.
Baik Rian maupun Andre bersorak bahagia. Akhirnya sahabat mereka mendapatkan keturunan juga. Setelah mendengar berita kalau Sari sudah hamil. Kedua Pria tersebut langsung melesatkan pergi ke rumah Nando.
Lalu mereka berencana untuk membuat kejutan pada Nando. Dengan menyuruh nya pulang, karena mereka semua sudah menyiapkan pesta kecil yang di hadiri oleh keluarga dan sahabat Nando saja. Sebagai ucapan syukur karena Sari akhirnya bisa mengandung.
Lalu setelah kejutan tersebut siap. Sari menelepon nomor Manejer Restoran untuk menanyakan suaminya, dan menyuruhnya pulang. Tapi setelah Manejer itu melihat ke ruangan bos nya. Nando sedang tidur dengan nyenyak. Alhasil Andre mengajak mereka semua mengerjai Nando karena merasa sudah menunggu sangat lama.
Memang tidak tangung-tangung untuk membuat seperti habis di rampok. Harus memecahkan beberapa guci mahal dan barang lainnya. Tapi mereka berhasil sampai-sampai membuat Nando menangis.
Flashback off...
"Nah begitu ceritanya. Aku juga awalnya tidak percaya kalau Sari hamil. Tapi maaf ya sudah membuat kakak lari sana, lari sini. Padahal kami semua menahan tawa melihat Kakak seperti itu." ucap Ayla mengakhiri ceritanya dengan tersenyum bahagia.
Bagi Ayla Nando memang sosok kakak laki-lakinya. Hanya saja Rian yang masih suka cemburu melihat kedekatan keduanya.
"Ya tidak masalah, angap saja kakak sedang berbaik hati jadi tidak menghukum Rian dan Andre. Keterlaluan sekali sampai-sampai harus memecahkan guci kesayangan Kakak yang di beli saat kami bulan madu." sungut Nando pada kedua sahabatnya yang malah tertawa.
"Eh kalo mecahin guci itu bukan ide gue, Nan. Tapi idenya Rian." tunjuk Andre tidak terima kalau hanya dia yang di tuduh memiliki rencana perampokan.
"Lah aneh saja tau nggak. Dimana-mana kalau yang di rampok nya rumah mesti mecahin barang. Walau tidak semua barang nya di hancurin. Setidaknya ada yang hancur, kalian ini bagaimana sih. Kan nggak lucu perampok ngehancurin nya tempat garam." Rian tergelak sendiri mendengar ucapannya. Begitu pula dengan Andre dan Nando.
Saat mereka tertawa Sari dan Pika istrinya Andre sudah kembali kedepan sambil membawa kopi, jus dan makanan ringan. Lalu setelah meletakkan kopinya di atas meja Sari berkata. "Kakak mandi dulu ganti bajunya, masa iya dari pagi baju itu terus." ujar wanita tersebut tiba-tiba.
*BERSAMBUNG*...