
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Setelah mengantar Arsya dan Salsa. Pasangan yang masih selalu berdua ini kembali kerumah mereka sendiri. Tiba dirumah, keduanya membersihkan diri lebih dulu sebelum istirahat tidur karena jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.
"Kakak ada yang ingin aku katakan!" Sari masuk kedalam pelukan suaminya yang sudah merentangkan tangan dari sebelum dia bicara akan mengatakan sesuatu. Sekarang mereka sudah baring di atas tempat tidur.
"Hem! Ingin mengatakan apa?" ucap Nando membelai rambut sang istri yang sedang baring dengan nyaman di dada bidangnya.
"Apa kakak tahu kenapa Dewi pegawai kakak membawa anaknya bekerja?" awal-awal sebelum menyampaikan permintaannya.
"Setahu ku karena pengasuh anaknya sedang sakit." menjawab seperti apa yang di sampaikan oleh Manajer nya tadi.
"Iya benar! Tapi bukan hanya itu saja, sekarang pengasuh anaknya tidak bisa menjaga Cika lagi, karena beliau ingin membantu mengasuh cucunya sendiri yang baru lahir." meskipun Sari tahu kalau suaminya akan menuruti permintaannya agar mengizinkan Dewi membawa anaknya bekerja. Tetap saja dia harus mengatakan dengan benar karena Nando adalah orang yang sangat di siplin dan tidak mudah percaya begitu saja pada orang yang baru di kenalnya.
"Lalu ada apa lagi selain pengasuh Cika ingin menjaga cucunya sendiri?" Nando menangapi agar istrinya tidak merasa kecewa bila dia bersikap cuek.
"Lalu Dewi sedang bingung ingin menitipkan anaknya dimana lagi, tadi dia bercerita padaku." ucap wanita tersebut dengan nada kasihan, karena dia yang biasa hidup enak merasa simpati pada cerita Dewi. Padahal dari awal bertemu, Sari sudah tidak menyukai Dewi karena cara dia melihat Nando seperti kucing melihat ikan asin.
"Dia kan bisa mencari pengasuh baru. Lalu kenapa harus bingung." jawab Nando dengan santai. Menurutnya mencari pengasuh tidaklah susah bila di beri gaji yang sesuai kerja orang tersebut.
"Nah itu masalah nya, Kak. Kalau dia mencari pengasuh baru maka bayarannya kan lebih mahal dari biasanya, karena kalau orang yang menjaga Cika selama ini tidak pernah mencantumkan gajinya. Beliau hanya membantu Dewi dan menerima uang seberapa pun yang Dewi berikan." Sari yang memiliki hati yang tulus tidak sadar dengan niat orang yang dia kasihani.
"Sayang dengarkan aku baik-baik! Dengan gaji dari Restoran kita, Dewi bisa mencari pengasuh baru dan memberikan gaji seperti pada umumnya." berhenti sejenak sebelum melanjutkan memberi sang istri pengertian.
"Meskipun dia hanya sebagai pegawai Restoran tapi gajinya besar. Kalau di bandingkan, gajinya sama seperti gaji Staf di perusahaan Erlangga group." terang Pria itu merasa gemas dengan kepolosan istrinya.
Mana mungkin Dewi tidak sanggup membayar gaji pengasuh baru sedangkan gaji yang Nando berikan sangatlah pantastis. Belum lagi setiap seminggu sekali semua pegawai Restorannya akan mendapatkan tambahan uang jajan sebagai obat lelah mereka yang sudah bekerja dengan baik.
"Tapi katanya kurang, kalau untuk makan dan membayar kos-kosan juga." ucap Sari seperti apa yang dia dengar.
"Tidak akan kurang kalau dia tidak boros. Memangnya kenapa dia bercerita kepada mu? Bukannya kalian baru kenal tadi sore?" Nando yang sangat teliti dalam segala hal tentu akan bertanya semuanya.
"Em... Begini jujur saja awal melihatnya, aku tidak menyukai dia." mulai mengakui meskipun merasa malu sendiri.
"Jika tidak menyukai dia kenapa malah bercerita seperti ingin menolongnya?" Nando tergelak karena dia sudah tahu maksud istrinya dari awal bercerita kehidupan Dewi. Wanita yang baru mereka temui hari ini.
"Aish! Jangan mengejek ku. Aku akui kalau pertama kali melihatnya aku tidak suka karena dia sepertinya menyukai, kakak. Tapi perasaan tidak suka itu langsung hilang setelah dia mengatakan kalau aku adalah wanita yang beruntung." cicit Sari semakin membenamkan wajahnya kedada sang suami.
"O'ya? Agh... sepertinya dia masih muda. Tidak salah kalau dia mau padaku." semakin senang mengerjai Sari. Mendengar istrinya cemburu pada wanita lain membuat hati Pria itu seperti berbunga-bunga.
"Kakak... aku sedang serius jangan bercanda. Begini, aku akan jujur! Sebetulnya aku ingin Kakak memberikan Dewi izin untuk membawa anaknya bekerja lebih dari waktu yang di tentukan." ucap Sari langsung duduk dengan menampilkan muka imutnya agar Nando mau mengabulkan permintaannya.
Melihat istrinya kembali duduk. Pria itu pun ikut duduk karena merasa kalau masalah yang sedang istrinya ceritakan tidak sesederhana seperti yang dia pikirkan di awal, lalu diapun bertanya dengan serius. "Sebelum aku menjawabnya, tolong kamu ceritakan dengan jujur. Apa yang Dewi katakan sehingga kamu yang awalnya tidak suka tiba-tiba saja menjadi kasihan pada wanita itu?"
"Em... hem! Dia memuji katanya aku adalah wanita yang sangat beruntung. Memiliki suami seperti kakak dan memiliki kehidupan yang nyaris sempurna di bandingkan dengan kehidupan dia yang sudah janda dari waktu hamil anaknya." kata Sari berdehem sebelum mulai menceritakan apa saja yang Dewi katakan.
"Lalu apa karena dia menceritakan kehidupan pribadinya, hal itu yang membuat mu kasihan dan melupakan cara dia yang mungkin saja menyukai suamimu?" tersenyum karena apa yang Nando pikiran dari tadi sudah mulai terjawab dengan keterangan yang istrinya jelaskan.
"Bagaimana mungkin saja iya dan mungkin saja tidak, kamu membuatku bingung?" Nando menyergit kan satu alisnya ke atas karena tidak paham bagaimana maksud istrinya.
"Ya maksudku begini, mungkin saja aku memang kasihan karena dia janda, dan mungkin juga bukan karena dia janda tapi karena hanya ingin menolong saja sebagai sesama perempuan yang melihat perempuan lainnya kesusahan." jawaban itulah yang Sari katakan karena dia sendiri juga masih bingung.
Kalau dipikir-pikir memang sedikit aneh, awal bertemu Sari tidak menyukai wanita itu. Lalu setelah mendengar Dewi bercerita kehidupan pribadinya yang sangat memprihatinkan, membuat Sari melupakan pikiran buruknya terhadap wanita tersebut.
"Hem masuk akal juga alasannya. Lalu sekarang aku tanya selain memberikan izin dia membawa anaknya bekerja kamu ingin aku melakukan apa?" Nando membelai muka istrinya yang menunduk seperti merasa takut tidak di berikan izin.
Mendengar pertanyaan dari suaminya, Sari pun mengangkat pandangannya ikut menatap muka sang suami yang juga masih menatap mukanya.
"Aku--aku hanya minta itu saja.!Aku hanya merasa kasihan dia masih muda tapi harus menghidupi anaknya sendirian. Bila dia tidak bekerja dari mana mereka bisa makan. Walaupun aku sendiri tidak tahu mengapa suaminya meninggalkan dia." ucap Sari dengan sendu. Tidak bisa dia bayangkan bila itu terjadi pada kehidupannya.
"Baiklah aku akan mengabulkan permintaan Istriku. Tapi kamu harus ingat apa yang aku lakukan ini, bukan karena ingin menolongnya. Tapi karena aku tidak mau membuat istriku bersedih." kata Nando yang terpaksa mengabulkan permintaan sang istri.
"Kakak! Hick... hick...! Terimakasih Kakak sudah mengerti aku." Sari langsung menangis memeluk tubuh suaminya karena dia juga bingung kalau Nando tidak setuju. Sedangkan dia sudah berjanji pada Dewi kalau dia akan membantu wanita tersebut.
"Sudah tidak perlu menangis, niatmu tidak salah, hanya saja aku tidak mau orang lain memanfaatkan niat baikmu yang ingin menolongnya." seru Nando mengelus punggung Sari yang masih menangis.
"Maksud kakak? Memanfaatkan bagaimana?" Sari longgarkan pelukan mereka dan melihat suaminya untuk mendapatkan jawaban dari ucapan dari sang suami.
"Maksudku kamu jangan percaya begitu saja pada orang yang baru kita kenal. Kamu baru mengenal Dewi hari ini, terus apa kamu tidak curiga dia langsung menceritakan kehidupan pribadinya. Terlebih lagi kamu adalah istri dari bos tempat dia bekerja. Rasanya tidak pantas ada orang yang begitu berani menceritakan aib pernikahannya." Nando menjelaskan dengan suara lembut agar istrinya itu bisa mencerna setiap ucapannya.
"Maksud Kakak mungkin saja Dewi sengaja bercerita karena ingin memanfaatkan aku?" ulang Sari mulai paham.
"Tidak juga, kita tidak boleh menuduh orang sembarangan sebelum ada buktinya. Tapi mencegah akan lebih baik daripada mengobati." dari dulu sampai saat ini Nando memang menjadi Pria yang bijak dalam menyelesaikan setiap masalah.
"Kakak terimakasih sudah mengingatkan aku! Aku lupa akan hal itu. Tadinya aku hanya kasihan karena dia seorang janda." merasa bersalah dan kembali lagi memeluk suaminya penuh rasa haru. Bagaimana wanita itu tidak merasa terharu, suaminya malah lebih berhati-hati dari pada dirinya sendiri.
"Sudah tidak apa-apa. Manusia memang memiliki sifat khilaf dan salah. Satu hal yang harus kamu ketahui." Nando menghentikan ucapannya karena ingin melihat respon istrinya seperti apa.
"Ketahui apa Kak?" bertanya tidak sabar.
"Jangan karena ingin menolong seorang janda. Tapi malah menjandakan istri sendiri. Tapi tidak semua janda itu sama. Seperti yang aku katakan tadi. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Apa kamu sudah paham? Muaaah!" Pria itu mencium bibir sang istri di akhir ucapannya.
"Hem aku sudah mengerti!" ucap Sari tersenyum dengan hidung yang sudah memerah bekas dia menangis.
"Bagus kalau sudah mengerti! Maaf sudah membuat mu menangis. Aku hanya takut kehilanganmu, makanya aku selalu berhati-hati dalam bertindak." mungkin ketakutan kehilangan yang paling besar adalah Nando karena Pria itu sudah pernah mengalami di tinggalkan untuk selama-lamanya.
Meskipun sudah menikah dan mendapatkan cinta yang baru lagi. Tidak membuat Nando melupakan cinta pertamanya itu, karena sampai saat ini hampir satu bulan sekali. Pria itu masih datang mengunjungi makam Almarhum Nesa kekasihnya.
Terkadang dia datang sendiri dan kadang lagi bersama istrinya. Tidak ada rasa cemburu yang Sari rasakan malah dia semakin mencintai suaminya tersebut, karena dari situ juga dia bisa baik-baik saja. Walaupun sampai saat ini belum bisa mengandung anak suaminya.
Pelajaran yang dia dapatkan dari sana adalah, bahwa suaminya orang yang setia. Kalau di pikir secara logika, Nando tidak perlu mendatangi makam Almarhum Nesa karena gadis itu sudah meninggal dunia hampir enam tahun lalu. Bahkan kalau saja mereka di berikan kepercayaan anak mereka sudah pandai berjalan.
"Kita tidur sekarang ya, ini sudah malam. Besok aku akan ke Restoran agak pagi karena seluruh Manejer aku suruh datang ke Restoran baru kita untuk memberikan laporan bulanan." ajak Nando kembali merebahkan tubuhnya dan sang istri seperti tadi.
Akhirnya malam ini mereka tidur bersama dalam keadaan saling memeluk untuk memberikan rasa nyaman pada diri mereka masing-masing.