
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Setelah membereskan masala Dewi. Nando berangkat ke perusahaan Erlangga group untuk bertemu dengan kedua sahabatnya, karena baik Rian ataupun Andre sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang ingin Pria itu ceritakan.
Satu jam lalu Nando sudah mengabari mereka melalui group Watsp yang hanya di huni oleh mereka bertiga. Dewi sengaja di pindahkan saja dan tidak di pecat, karena Nando tidak tega bila memutuskan pekerjaan janda beranak satu tersebut.
Kemarin siang apa yang di lakukan Dewi padanya di ketahui melalui cctv, hanya Nando sendiri yang mengetahui tempatnya. Jangankan sang Manejer Restoran. Mak author saja tidak tahu di mana Nando menyimpan kamera tersebut.
Dewi pergi dari Restoran itu, juga dalam keadaan terhormat. Tidak ada satu orang pegawai yang mengetahui kalau wanita tersebut telah mencoba ingin menjebak bos mereka. Malahan berita yang tersebar kalau Dewi di pindahkan karena di percayai oleh Nando untuk mengelola Restoran nya yang lain.
"Ha... ha... jadi kemarin siang Lo hampir di perkosa sama janda?" Andre tidak mampu menahan tawanya. Bukannya merasa simpati, tapi dia malah tertawa.
"Seneng banget melihat gue susah." mendelik karena sedari dia mulai bercerita, kedua sahabatnya selalu tertawa.
"Bukannya senang, tapi cuma perihatin aja sama nasip Lo. Dimana-mana biasa yang melakukan hal seperti itu laki-laki. Bukan perempuan, lah ini malah janda yang hampir memperkosa Pria." ucap Andre yang masih tertawa.
"Auah pusing gue mikirin ada wanita seperti itu. Hampir saja rumah tangga gue berantakan karena nya." Nando pun tidak habis pikir dengan perbuatan pegawainya tersebut.
"Tidak apa-apa, angap saja itu ujian untuk rumah tangga kalian. Lo sama Andre tahu sendiri seperti apa kisah rumah tangga kami. Intinya kita harus berhati-hati buat kedepannya." timpal Rian setelah ikut menertawai Nando.
"Tapi Ri... saat Lo di gangguin sama Elin emang nggak tertarik beneran sama si lampir?" tanya Andre karena mereka hanya tahu kalau Elin menyukai Rian.
"Biasa-biasa saja, nggak ada rasa tertarik sama sekali. Mungkin karena di hati gue ini hanya ada mamanya kembar." tersenyum walau hanya menyebutkan sang istri.
Diantara mereka bertiga Rian memang pemecah rekor sebagai bucin akut. Mungkin karena dia sudah tau merasakan ditingal pergi oleh Ayla bahkan pernah di kirim surat gugatan perceraian. Jadinya menjadi trauma tersendiri bagi Pria tersebut.
"Apa yang Rian katakan benar, rasa cinta lebih besar pada istri kita jadinya tidak membuat tertarik pada wanita lainnya." ujar Nando ikut membenarkan karena dia sendiri juga merasakan hal yang sama. Bedanya Nando tidak menjadi bucin akut begitu pula dengan Andre.
"Hem... kalau gue jujur saja, andai waktu bisa di putar kembali. Dari awal sudah menerima perjodohan sama halnya seperti Andre. Buktinya pernikahan mereka baik-baik saja, padahal nikah karena perjodohan juga." sampai saat ini Rian memang masih menyesali keputusannya yang tidak menerima perjodohan yang di lakukan oleh orang tuanya.
Sehingga keputusannya itu menyebabkan begitu banyak hati yang terluka. Termasuk kedua orang tuanya sendiri. Untung saja setelah sempat berpisah beberapa bulan. Ayla masih mau kembali padanya.
"Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki. Orang tua kita juga tidak mungkin mengambil keputusan seperti itu bila tidak memiliki alasannya 'kan," kata Andre yang terkadang bisa bicara serius, dia memang menikah karena di jodohkan oleh orang tua. Tapi Andre langsung menerima tidak menolak seperti Rian.
"Jangan menyesali yang sudah terjadi, Ri. Yang penting sekarang kalian sudah bahagia dan tinggal Lo menjaga mereka untuk selalu bahagia." saling menasehati itulah bagian dari persahabatan. Bukannya mencari celah untuk menyalahkan, dan beginilah persahabatan mereka bertiga bisa terjalin sampai saat ini.
"Sepertinya Rian lebih dulu punya menantu daripada kita berdua, Nan." ucap Andre lagi setelah saling memberi nasehat.
"Jelas dong, istrin gue aja baru hamil dua Minggu. Ck, habis Rian baru tuh Lo yang nyusul punya menantu." bergantian Nando yang mengoda mereka berdua.
"Ya.. nggak apa-apa cepat punya menantu juga. Biar bisa bersama mamanya terus." jawab Rian dengan santai.
"Menurut gue apapun status kita nantinya yang penting bisa selalu bersama wanita yang kita cintai. Maka dari itu gue sangat menjaga kedekatan dengan wanita yang bukan bagian dari keluarga kita." kata Rian yang memang sama seperti Nando begitu menjaga perasa sang istri.
Mendapatkan maaf dari Ayla adalah sebuah anugerah buat Rian. Walaupun dia juga tidak terlalu bersalah. Tapi tetap saja rasa penyesalan itu selalu menghantui nya.
Sore pun tiba. Setelah kedua sahabatnya pulang, Rian pun ikut menyusul pulang tidak lama setelahnya. Nyatanya meskipun kedua anaknya sudah besar, perubahan jam kerjanya tidak berubah sampai saat ini. Rian tetap pulang setiap jam tiga sore.
Tiiin...
Rian membunyikan klakson mobil, karena tau kalau jam tiga sore kedua anaknya sudah bangun tidur. Menjadi ayah idaman membuat Rian hapal apa saja tentang kedua anaknya.
"Papa sudah datang!" si kecil yang masih cengeng langsung berlari keluar menyusul sang papa. Meskipun sudah sering dibilang tidak perlu berlari keluar, karena papanya yang akan masuk.
"Pasti nunguin papa ya?" Rian pun sengaja berjongkok untuk menyambut pelukan dari putri kecilnya.
"Iya, sudah dali tadi nunggunya. Capek ini." berkata dengan cemberut sehingga membuat Rian semakin gemas. "Muuah! Jangan cemberut, nanti sebagai gantinya kita kerumah Oma. Bagaimana mau?" tawar Rian berjalan masuk dengan Salsa di dalam gendongan nya.
"Mau, mau kerumah Oma. Apa kita akan belangkat sekalang?" bila diajak kerumah Oma maupun neneknya si kembar selalu bersemangat. Bagaimana tidak, kedua neneknya begitu memanjakan mereka.
"Tidak boleh sekarang. Papa kan baru pulang, biar papa istrirahat dulu." Ayla yang mendengar percakapan suami dan putri kecilnya ikut menimpali.
"Tapi ma... adek maunya sekalang."
"Nanti ya.. sore saja kita kesanaya. Besok kan papa libur, biar nanti malam bisa menginap dirumah Oma." ucap Ayla membujuk dengan membelai kepala sang putri. Salsa memang lebih susah di bilagi dari pada Arsya.
Sebetulnya sore ini memang waktunya mereka menginap di rumah orang tua Rian. Hal yang rutin mereka lakukan bila di akhir pekan.
"Iya deh, tapi jangan sole-sole nanti adek nggak bisa main sama Oma." jawab Salsa yang terpaka harus menuruti apa kata mamanya.
"Tentu! Adek main lagi ya. Papa pasti capek seharian sudah kerja." rayu Ayla agar anaknya tidak selalu di gendong. Meskipun Rian tidak masalah, tapi Ayla selalu melarang bila anak-anak nya terlalu di manjakan.
"Iya adek tulunin aja, pa. adek masih mau main."
"Oke, anak pintar! Muuuaaah! Mainnya hati-hati ya." Rian memberikan ciuman sebelum menurunkan anaknya. Lalu setelah Salsa kembali bermain, baru waktunya memeluk sang istri.
"Sayang! Aku merindukanmu!" memeluk seperti sudah satu minggu tidak bertemu.
"Akupun sama rindunya." Ayla ikut membalas pelukan dari suaminya.
"Em... Kakak kemana? Apa masih di kamar?" tanya Rian yang hapal kalau Arsya lebih senang bermain mobil-mobilan di dalam kamarnya sendiri.
"Iya dimana lagi kalau bukan di kamarnya. Hobinya seperti itu." ucap Ayla tidak tahu harus bicara apa, memang Arsya sukanya seperti itu.
Wajah Arsya memang lebih mirip ke mamanya. Tapi sipat dan pendiamnya sama seperti Rian. Begitu pula sebaliknya, Salsa lebih mirip dengan papanya, tapi sipat dan cerianya sama seperti Ayla.
Mereka memang kembar, tapi bukan identik. Yang mirip hanya hidung mereka yaitu sama-sama mancung. Sama seperti hidung Rian lebih mancung di bandingkan Ayla.
"Tidak apa-apa suka main dikamar juga yang penting hanya saat bermain. Aku dulu juga suka seperti itu." Rian tersenyum karena sipat Arsya menggigat kan saat dia kecil.
"Aku sudah tahu, karena mama sudah bercerita. O'ya apa kamu sudah makan siang?" ucap Ayla membantu melepaskan dasi yang berada di leher suaminya.
"Sudah, tadi makan siang setelah menelepon kalian. Ada Nando dan Andre yang datang ke kantor ku membawa makan siang dari Restoran nya." semakin menarik pingang Ayla biar semakin dekat dengannya.