
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Kakak, aku minta maaf, aku--aku tidak bermaksud---"
"Suuuiiit! Sudah tidak perlu minta maaf karena kamu tidak bersalah. Kakak juga minta maaf tidak langsung memberitahu mu tadi malam." ucap Nando mencegah Sari yang kembali meminta maaf. Bahkan dia sendiri juga merasa bersalah tidak langsung menceritakan seperti biasanya.
"Tidak, Kakak juga tidak bersalah, seharusnya aku mengerti kenapa Kakak belum bercerita padaku." akhirnya pasangan ini malah saling menyalahkan diri mereka masing-masing.
Rumah tangga yang seharusnya memang seperti itu, karena dengan saling merasa bersalah kita akan memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut. Akan tetapi bila kita saling menyalahkan setiap ada masalah, maka salah satu yang merasa benar akan selalu membenarkan dirinya.
Sari merasa bersalah karena tidak sabar saat suaminya menceritakan sendiri apa sebenarnya yang sudah terjadi. Padahal dia sudah tahu seperti apa suaminya.
Sedangkan Nando menyalahkan dirinya yang tidak langsung menceritakan kepada sang istri. Dia hanya mengira kalau istrinya tidak akan mengetahui sendiri sebelum dia menceritakan semuanya.
"Jadi Kakak sudah tahu ada listip di bagian dalam baju Kakak ?" Sari yang mulai bisa meredam rasa cemburunya mulai bertanya, tapi dengan tema yang berbeda.
"Tentu saja Kakak tahu. Apa kamu pikir Kakak orang yang ceroboh, hem!" Nando memang orang yang paling teliti dalam segala hal. Dia tidak mudah percaya begitu saja pada orang yang baru di kenalnya. Apalagi pada perempuan karena dia lebih sensitif. Bukannya tidak mau berteman dengan wanita, hanya saja Nando ingin menjaga perasaan istrinya. Terkecuali pada para sahabatnya nya
"Tidak, Kakak bukan orang seperti itu. Tapi bagaimana mungkin listip tersebut bisa menempel pada baju. Kalau bajunya tidak di lepas?" meskipun sudah percaya tetap saja Sari merasa heran.
Mendengar pertanyaan Sari Nando kembali tersenyum. Setidaknya Sari sudah bisa mengendalikan emosi yang entah karena cemburu atau bawaan dari hamilnya.
"Kemarin setelah setengah jam Dewi mengantarkan makanan tersebut. Sebelum memakannya Kakak menelepon Manejer yang Kakak suruh sebelumnya. Dia bilang kalau makanan itu sudah di antar oleh pegawai laki-laki. Padahal Kakak tidak bertanya apa-apa."
Kemaren sebelum menghabiskan makan siangnya. Nando memang sempat menelepon Manejer nya lebih dulu. Tapi karena dia penasaran apa yang akan di lakukan oleh Dewi, dia nekat untuk menghabisi makanan tersebut.
Padahal Nando tahu kalau makanan itu sudah di campur sesuatu. Jika dia tidak nekat seperti kemarin. Maka dia tidak akan menjadi anak didik dari Tuan Heri dan Ayah Ridwan.
Pria tersebut sudah di latih Tuan Heri dari awal dia melindungi Ayla. Makanya di bandingkan dengan Rian anaknya. Tuan Heri lebih dekat dengan Nando.
"Kalau Kakak sudah tahu makanannya telah di campur sesuatu, kenapa masih di makan dan tidak di buang saja?" setelah suaminya bercerita Sari hanya bisa menggelengkan kepalanya. Tidak menyangka untuk menangkap basah perbuatan Dewi.
Suaminya sampai berbuat nekad yang bisa saja membahayakan nyawa Nando sendiri.
"Kenapa harus takut memakannya. Tidak mungkin kan dia meracuni Kakak. Apa kamu pikir dia wanita bodoh! Dia melakukannya karena ingin mendapatkan keuntungan dari pertengkaran kita, istriku." gemas sendiri karena Sari malah takut dia kena racun.
"Agh bukan bodoh, tapi menurutku dia terlalu licik. Bila kemarin aku tidak ada menelepon Menejer kita. Mungkin aku sudah marah dari awal melihat bekas tersebut." ucap Sari mengigat kejadian kemarin siang. memang karena hal itulah membuat Sari masih sabar tidak langsung marah pada suaminya.
Walau bagaimanapun, yang namanya seorang istri, bila itu ada hubungannya dengan perselingkuhan tentu tidak bisa diam begitu saja.
"Justru itu Kakak membiarkan dia menjalankan aksinya sebelum dia pergi meninggalkan Restoran kita."
"Apa? Pergi dari Restoran kita! Apa kakak akan memecatnya?" meskipun Sari kesal dengan perbuatan Dewi tapi tetap saja dia merasa kasihan. Itulah manusia, terkadang dari rasa kasihan kita, malah membuat orang lain mendapatkan kesempatan untuk masuk .
"Tidak! Kakak tidak akan memecatnya. Hanya akan memindahkan dia ke Restoran yang lainya lagi. Bila Kakak memecat Dewi, kasihan dengan Cika, akan di kasih makan apa anak tersebut. Yang salah ibunya kan, jangan karena dia melakukan kesalahan, kita memutuskan rejeki seseorang." hari ini Nando memang berniat akan menyelesaikan masalah Dewi, karena dia juga tidak mau memiliki anak buah seperti itu.
"Kakak! Aku sungguh beruntung memiliki suami yang tidak memikirkan kebahagiaan kita sendiri." seru Sari semakin kagum pada sosok suaminya.
"Dengarkan Kakak ya, apa yang kita lakukan hari ini, bukan untuk menolong orang lain. Melainkan untuk menolong kita ataupun anak dan cucu kita suatu saat nanti."
"Tapi tetap saja Kakak benar-benar hebat sudah mau memaafkan kesalahan Dewi dan berbesar hati masih memperkerjakan dia." tidak henti-hentinya memuji sang suami.
"Semuanya demi kamu dan buah hati kita. Kakak sangat mencintaimu jadi mana mungkin akan membiarkan orang lain merusak nya. Sudah, Kakak mau mandi dulu, setelah kita sarapan Kakak akan menyelesaikan masalah Dewi lebih dulu. Muuuaaah!" Nando kembali mencium sang istri lalu diapun berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sari yang sudah mendapatkan kejelasan pun semakin tersenyum bahagia. Tidak semua masalah di selesaikan dengan pertengkaran. Walaupun dulunya Sari gadis yang bar-bar tapi semenjak menikah dengan Nando semuanya berubah drastis. Begitu pula dengan Nando.
Lima belas menit Nando sudah keluar dari kamar mandi dengan keadaan lebih segar. Sebetulnya dia akan memberitahu sang istri setelah memindahkan Dewi dari Restoran mereka. Namum, karena sudah ketahuan jadinya harus bicara jujur.
"Kak ini bajunya sudah aku siapkan." Sari berjalan mendekati sang suami dan memberikan pakain ganti tersebut.
"Terimakasih! Lain kali tidak perlu di siapkan, biar Kakak mengambilnya sendiri. O'ya apa kamu mau ikut ke Restoran juga?" sambil mengobrol Nando pun telah selesai memakai pakaiannya di hadapan sang istri.
"Em... tidak! Aku ingin kerumah si kembar saja boleh?" ucap Sari meminta izin seperti biasanya. Meskipun rumah Ayla dan rumahnya berdekatan.
"Tentu saja boleh, mau kesanaya kapan? Biar setelah mengantar mu baru Kakak berangkat. Biasanya si kembar berangkat bareng sama papanya." kata Nando yang sudah hapal betul apa saja kegiatan anak angkat mereka.
"Boleh juga, Kalau begitu kapan waktunya Kakak berangkat saja." semakin tersenyum bahagia karena Nando benar-benar sosok suami idaman.
Meskipun masih berumur dua puluh empat tahun. Pikiran Nando sangat dewasa melebihi umurnya. Dia bisa menyeimbangi seperti apa saja tingkah orang-orang di sekitarnya.
"Apa kamu ingin bercerita kepada mama si kembar, Kalau Kakak sudah mau di perkosa oleh Dewi?" tergelak saat mengatakan jika dia hampir di perkosa oleh seorang perempuan.
"Tentu saja aku akan bercerita pada Ayla. Apa Kakak tahu dia adalah guru kedua ku setelah kita menikah. Aku belajar banyak padanya, meskipun umur kami sama, tapi masalah rumah tangga, ku akui Ayla benar-benar sosok istri yang sabar." apa yang Sari katakan adalah benar. Selama ini bila bukan karena dukungan dari Nando dan Ayla. Mungkin Sari sudah lama mengajukan surat perceraian mereka.
"Hem Kakak baru mengetahuinya. Ya sudah! Ayo kita sarapan. Setelah itu kita kerumah si kembar dulu. Kakak juga ingin bertemu sama mereka."
Lalu pasangan muda yang baru di berikan kepercayaan memiliki keturunan itu, turun kelantai bawah untuk sarapan.
...****************...
Tidak berbeda jauh dari kediaman Nando. Di rumahnya, Rian pun masih bersiap-siap belum berangkat ke perusahaan. Hal rutin semenjak kedua anaknya masuk sekolah paud, khusus bagi anak seumuran Arsya dan Salsa. Rian harus membantu istrinya menyiapkan semua keperluan si buah hati, walaupun Ayla tidak pernah memintanya.
Sampai saat ini, meskipun anak mereka hampir berumur empat tahun. Ayla tetap pada pendirian awalnya. Tidak boleh kedua anaknya di asuh oleh babysister. Wanita itu lebih memilih menjadi ibu rumah tangga biasa, daripada menyerahkan tanggung jawabnya sebagai seorang ibu pada orang lain.
Ma, apa kami di antar oleh Papa lagi?" tanya si sulung saat sudah bersiap-siap di ruang tengah.
"Iya, nanti pulang nya Mama yang jemput." sahut ibu muda tersebut yang masih mengikat rambut gadis kecil nya.
Sedangkan Rian setelah sarapan kembali lagi kelantai atas tempat kamar mereka berada. Sebab dia juga belum membawa tas dan jas kerjanya.
Arsya dan Salsa meskipun dalam seminggu hanya masuk sekolah empat kali. Tapi keduanya sangat rajin, mereka akan libur hanya saat sakit.
Tiiin...
Tiiin...
Suara klakson mobil Nando yang baru saja tiba di kediaman mereka.
"Mama, itu pasti mobil Ayah sama bunda." ucap Salsa yang sudah selesai di dandani sesuai keinginannya sendiri.
"Tentu saja itu mobil ayah Nando. Siapa lagi kalau bukan mobilnya, kita tidak memiliki tamu lain selain mereka." di jawab oleh Rian yang baru saja datang.
"Papa!" gadis kecil itu langsung berlari kearah sang papa. Serapi apapun Rian, bila kedua anaknya sudah minta di gendong maka dia tidak bisa menolak nya.
"Apa Princess! Mau ikut Papa bekerja, atau mau sekolah bersama Kak Arsya?" Rian langsung mengendong sang putri yang bertambah besar malah semakin mirip dengan wajahnya.
"Mau ikut Kakak aja, ikut Papa kalau sudah libul." jawab si gadis kecil yang belum bisa menyebutkan huruf R sampai saat ini.
"Kenapa di gendong? Sudah cantik, tapi malah di gendong sama Papa nya." itu adalah suara Nando yang baru saja masuk di ikuti oleh Sari di sampingnya.
Hubungan mereka memang bagaikan saudara sendiri. Tidak jarang apa bila Arsya dan Salsa sakit. Nando dan Sari ikut menginap untuk menemani Rian dan Ayla, karena biasanya bila Salsa sudah demam, maka kakaknya pun akan ikut demam juga.
"Ayah, Bunda!" sapa Arsya dan Salsa.
"Apa ayah tidak berangkat kerja?" tanya Arsya yang sudah di pangkuan Nando.
"Tentu saja Ayah akan bekerja. Sebentar lagi kan, kalian berdua akan memiliki adik bayi. Jadi Ayah harus semangat bekerjanya, biar bisa membeli mainan baru untuk kalian." Nando menjawab pertanyaan Arsya seperti sedang mengobrol dengan orang dewasa.
"Lo mau berangkat ke Resto juga?" tanya Rian menurunkan putrinya.
"Iya gue ada urusan sedikit. Ayo kita berangkat sekarang. Nanti kalau sudah beres gue ceritain." Nando pun langsung berdiri dan mengajak Rian berangkat, karena takut bila Arsya dan Salsa akan terlambat.
Lalu kedua pasangan tersebut berpamitan pada para istri mereka. Rian berangkat bersama si kembar. Setelah memastikan anaknya sudah masuk kelas dan dalam pengawasan gurunya. Barulah Rian berangkat ke perusahaan Erlangga group.
...****************...
Empat puluh lima menit kemudian.
Di dalam ruangan nya, Nando sedang bersama dengan Dewi. Wanita tersebut sudah menunduk dengan wajah pucat, karena Nando mengancam bila poto yang Dewi ambil kemarin siang, tidak di serahkan padanya. Maka Pria itu akan membawa Dewi ke kantor polisi.
"Saya tidak pernah main-main dengan ucapan Saya, Dewi. Jadi cepat serahkan ponsel kamu sekarang juga." Nando kembali meminta untuk kesekian kali, karena wanita itu takut menyerahkan ponselnya, takut bila Nando melaporkan perbuatannya pada pihak yang berwajib.
"Tapi... Tuan muda, tidak akan melaporkan Saya ke kantor polisi kan?"
"Tidak! Bila kamu tidak mempersulit Saya." ucap Nando dengan serius. Bila dia tidak merampas ponsel wanita yang sedang bersama nya saat ini. Maka itu akan menjadi bumerang untuk nya suatu saat nanti.
"Baiklah Saya akan menyerahkan ponsel nya. Tapi tolong jangan pecat Saya dari sini, Tuan. Kemana lagi Saya akan mencari gaji besar dan kerja enak, bila tidak di Restoran Tuan muda."
"Ck, sudah tahu perbuatan kamu salah, masih juga di teruskan. Saya sengaja memanggil kamu kesini, agar cukup kita saja yang tahu masalahnya. Tapi sebagai sanksinya kamu harus pindah ke Restoran Saya yang lain."
"Apa! Tapi Saya betah nya kerja disini Tuan muda." sudah tahu salah masih berani protes.
"Terserah padamu, mau pindah ke tempat lain. Atau angkat kaki dari sini. Apa kamu lupa kalau Saya memiliki rekaman cctv yang tidak kamu ketahui tempatnya?" ucap Nando tersenyum karena Dewi sudah berani ingin menjebaknya.
"Jika Saya tidak kasihan pada putrimu. Maka sekarang kamu sudah berada di penjara, bukan disini."
"Ba--baiklah! Saya mau di pindahkan tempat kerjanya, asalkan Tuan muda, tidak memasukkan Saya kedalam penjara."
"Pilihan yang bagus! Coba dari tadi, Saya tidak perlu menghabiskan waktu dengan sia-sia berada bersama mu. O'ya Saya peringatan sekali lagi, bila kamu masih melakukan hal yang sama pada Saya ataupun orang lain. Maka rekaman cctv ini akan menjadi sebagai alat buktinya."