Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Melihat bibit Lele.


🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Di kota A. Nando sedang melakukan Diner bersama dengan Sari wanita yang akan dia nikahi dalam waktu dekat ini. Sungguh dia sendiri tidak menyangka jika akan jatuh cinta pada wanita bar-bar seperti calon istrinya.


Keduanya memiliki karakter berbeda, Sari ini karakternya hampir sama seperti Andre. Sedangkan Nando orangnya pendiam sangat irit bicara bila dia tidak dekat dengan orang tersebut. Dibandingkan Rian saja, mungkin lebih pendiam Nando karena kalau Rian masih sering berdebat dengan Andre dan yang menjadi penengah diantara keduanya adalah Nando.


"Kak, barusan Ayla mengirim pesan katanya mereka jadi pindah malam ini." cerita Sari setelah mereka selesai menghabiskan makanan malam nya masing-masing.


"Iya, tadi Rian juga sempat mengirim pesan pada, kakak. Katanya tadi siang mereka belum di izinkan pergi oleh Tante Sonya. Jadi mereka baru pindah malam ini." jawab Nando membenarkan.


"Apa kakak tidak merasa cemburu ataw apa gitu, melihat Ayla sudah kembali bersama Rian?" tanya Sari masih ingin menyakinkan perasaan Nando terhadap sahabatnya.


"Merasakan sesuatu?" ulang Nando menautkan alisnya keatas.


"Iya merasakan sesuatu! Maksudku begini, em. Hm, maksud ku apa kakak tidak merasa cemburu melihat mereka bersama?" Sari bingung sendiri dengan pertanyaan nya.


"Pertanyaan seperti apa, itu? tentu saja kakak merasakan cemburu pada mereka berdua." Nando tersenyum penuh arti saat menjawab pertanyaan dari calon istrinya.


"Berarti kakak masih mencintai Ayla, ya?" tanya Sari sedikit cemberut mendengar jawaban Nando.


"Tidak, kakak kan sudah bilang kalau kakak sudah mencintaimu." ujar Nando dengan santai.


"Lah katanya cemburu pada mereka berdua, tapi bilang cinta juga. Kakak membuatku bingung." gadis itu malah mengeleng kepala.


"Kakak cemburu karena mereka akan memiliki anak kembar. Sedangkan kita belum mencicil membuatnya. Itu yang membuat kakak cemburu." Nando tergelak sudah berhasil membuat Sari cemberut.


Meskipun gadis itu terkesan cuek padanya. Tapi Nando tau kalau Sari sudah mencintai dia juga.


"Kakak! Jangan bicara seperti itu lagi. Nanti bagaimana jika aku menjadi khilaf. Lalu kita mulai menyicil." kata sambil Sari tertawa dan sudah kembali ke mode bar-bar nya.


"Tidak masalah jika kita mulai mencicil lebih dulu. Kakak tidak akan menolak." imbuh Nando ikut tertawa dengan kekonyolan mereka berdua, yang setiap kali bertemu selalu membahas anak. Padahal menikah saja belum.


Mungkin karena akhir-akhir ini mereka sering menghabiskan waktu bersama, jadi lambat laun Nando malah sekarang lebih sering bercanda. Atau sekedar menjahili Sari, entah mengapa mengoda Sari menjadi kebiasaan baru nya.


********


Sementara itu di kota B. Pasangan suami istri yang baru merasakan kebahagiaan pada rumah tangga mereka sedang saling bercumbu satu sama lain. Entah siapa yang memulai lebih dulu, yang jelas bukan Mak author, ya.


Semakin lama ciuman Rian semakin dalam. Lelaki itu terus memberikan pemanasan agar istrinya tidak kaget bila dia ingin lebih dari sekedar ciuman. Mendengar lenguhan dari Ayla membuat jiwa kelelakian Rian semakin bangkit. Dia hanya melepaskan pangutan bibi mereka ketika memberikan pasokan oksigen agar istrinya bisa mengambil nafas lagi.


Um!


"Sayang!" lenguh Ayla begitu tautan bibir mereka terlepas.


"Hm! Kenapa?" Rian menjawab tapi setelah itu dia kembali lagi menyambar bibir ranum Ayla yang sudah membuatnya menjadi candu.


Lama Rian memberikan cumbuan, setelah itu baru dia berhenti dan menempelkan kening mereka dengan nafas tersengal-sengal karena sama-sama sudah merasakan gejolak aneh dari tubuh keduanya.


"Aa--"


"Tidak apa-apa jika kamu belum siap, maafkan aku." potong Rian cepat takut istrinya merasa tidak nyaman saat mengatakan belum siap. Dia tidak mau Ayla kembali melayaninya karena merasa terpaksa seperti dulu.


"Tidak, bukan seperti itu! Bukanya aku tidak siap. Tapi...aku sedang hamil." Ayla yang memang tidak pernah menanyakan kepada dokter kandungan masalah berhubungan intim setelah hamil tentu saja merasa takut. Karena mereka melakukannya hanya sekali dan itupun langsung hamil, si kembar.


"Soal itu kamu tidak perlu khawatir. Aku sudah bertanya pada dokter kandungan, mu. Katanya boleh, asalkan aku melakukannya pelan-pelan." Rian tersenyum merasa jika dia sangat pintar sudah antisipasi lebih dulu sebelum menyentuh istrinya.


"Kapan kamu menanyakan nya?" tanya Ayla kurang percaya, sebab selama Rian dirawat sampai saat ini mereka selalu menghabiskan waktu berdua. Jadi kapan Rian menemui dokter, pikir Ayla. Sedangkan dua hari belakangan ini suaminya itu hanya berangkat ke perusahaan.


"Waktu aku di rawat. Dokter Elida datang membesuk, ku. Jadi waktu itu aku bertanya padanya." jujur Rian yang tidak ingin menyembunyikan hal sekecil apapun lagi pada istrinya.


"Apa! Kamu ini membuatku malu, bertanya tidak pada tempatnya." Ayla mengelengkan kepalanya merasa tingkah Rian benar-benar konyol. Seorang CEO perusahaan besar bertanya hal seperti itu pada orang yang kebetulan membesuk nya.


"Aku takut khilaf selama di sana. Jadi aku langsung bertanya saja. Sudahlah ayo kita coba lagi, Suamimu ini sudah merendahkan harga dirinya, jadi kamu harus kasihan padanya." ucap Rian yang sudah kembali lagi menyambar bibir ranum Ayla sebelum istrinya kembali bicara.


Um!


"Aaaakkhh!" leguh Ayla kembali merasa desiran aneh yang tadi sempat hilang kini sudah datang lagi karena saat ini Rian tidak hanya mencium bibirnya saja, tapi tangannya pun sudah ikut kelayapan kemana-mana.


Sampai beberapa menit berlalu keduanya pun sudah tidak memakai sehelai benang pun. Menyadari hal itu wajah Ayla langsung berubah seperti cabe keriting karena merasa malu apa lagi sekarang perutnya terlihat membuncit.


"Tidak usah malu, bukankah kita sudah pernah melakukannya. Lagian tubuh, mu seperti ini pun karena perbuatan, ku." kata Rian yang mengerti jika Ayla merasa malu dengan penampilannya.


Lalu lelaki itu pun kembali lagi memberikan pemanasan agar sang istri bisa merasa rileks. Setelah merasa jika Ayla sudah benar-benar terhanyut dengan permainan. Barulah dia membaringkan tubuh itu agar mempermudah kerjanya yang juga ingin melihat hasil bibit lele yang dia tabur delapan bulan lalu.


"Sayang sekarang, ya? Aku akan melakukannya dengan pelan agar tidak menyakiti, mu dan anak kita." kata Rian dengan suara berat menahan si tabung yang sudah siap untuk bertempur. Antara hidup dan mati, eh salah memang sengaja di matikan.


Ayla yang sama sudah tidak tahan hanya mengangguk pelan sambil memejamkan mata merasakan tabung lele Rian sudah mulai mencari jalannya. Sampai pada akhirnya dia menjerit setelah tabung itu bisa kembali masuk ketempat yang pernah dia datangi.


"Aaggkkhh!" jerit Ayla menaha suaranya agar tidak terdengar oleh para raeder.


"Keluarkan saja sayang, di sini hanya ada kita." ucap Rian ikut memejamkan matanya merasakan nikmat dunia. Apalagi rasanya masih sama seperti pertama kali mereka melakukannya.


Setelah mendiamkan si tabung beberapa menit, Rian pun mulai mengerakkan nya dengan pelan agar Ayla merasa nyaman dan aman juga untuk kedua calon anaknya. Rian juga tidak mau karena nafsu birahinya malah akan menyakiti ketiga orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Aaauuh!" racau Ayla ketika dia sudah mau sampai pada puncak nirwana kenikmatan. Begitu pula dengan suaminya, pria itu juga semakin melayang mendengar suara merdu Ayla.


.


.


.


.


.


Kira-kira Ayla sedang menyanyikan lagu apa ya🤔 Jadi pengen dengar 😂 Eh, astagfirullah alazim 🤦 khilaf gue bbg Rian. Mak author yang polos ini jadi tercemar gara-gara suara kalian.😌😌😌