
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Hari berganti hari. Bulan pun berganti bulan. Hari ini sudah genap lima bulan Ayla pergi meninggalkan Rian. Seharusnya jika Rian menerima gugatan cerai yang Ayla layangkan. Mereka sudah resmi berpisah dua bulan lalu.
Sesuai perjanjian mereka sebelum menikah. Yang akan berpisah setelah satu tahun. Namun siapa sangka, jika keduanya malah saling jatuh cinta. Hanya saja Rian telat menyadari perasaannya sendiri.
Karna biasanya dia hanya mengira jika rindunya terhadap Ayla, hanya sebagai seorang sahabat. Namun setelah Ayla lelah dan mulai berhenti memperjuangkan cintanya. Barulah Rian menyadari jika dia juga sangat mencintai Ayla.
Dan karna Rian menolak keras semua gugatan itu, Ayla masih tetap menjadi istrinya sampai saat ini. Dengan alasan sekarang Ayla sedang mengandung anaknya. Jadi pihak dari pengadilan masih memberikan Rian dan Ayla waktu.
Semenjak lulus dari kuliah nya. Rian hanya pokus dengan pekerjaan di perusahaan saja. Terkadang jika di akhir pekan. Rian menginap dirumah orang tua maupun mertuanya.
Sama persis ketika dulu Ayla yang bergantian berkunjung ke rumah kedua orang tua mereka. Saat Rian meninggalkan Ayla dulu. Dan sekarang posisi itu Rian lagi yang mengalami nya.
Tok ...Tok....
"Masuk." sahut Rian dari dalam kantornya.
"Ada apa Em? bukankah saya sudah bilang, jangan mengangu saya meskipun itu sangat penting." Rian melihat Emi dengan sorot matanya yang tajam. Karna begitu keluar dari ruang meeting tadi. Rian sudah berpesan pada Emi untuk tidak menggangu nya.
"Maafkan saya tuan muda. Tapi resepsionis memberitahu saya. Jika Nona Bela kembali lagi mengamuk di bawah. Dan dia tidak mau pergi sebelum tuan muda mau menemuinya." kata Emi menunduk takut.
Karna biasanya ini semua bukanlah bagian pekerjaannya. Melainkan pekerjaan Aldi. Namun sudah dua hari ini. Aldi pergi untuk menyelesaikan pekerjaan yang ntah pekerjaan apa.
Karna setau Emi, tidak ada pekerjaan dari perusahaan Erlangga untuk perjalanan keluar kota maupun keluar Nengri.
"Wanita itu. Mau apalagi dia,! Biarkan dia masuk. Tapi suruh dua orang pengawal mengantar dia kemari." Rian berdiri lalu berjalan menuju ke sofa.
"Baik tuan muda. Saya permisi dulu." pamit Emi kembali keluar dan menelpon resepsionis lagi. Untuk membiarkan Bela masuk.
Sepuluh menit setelah itu, pintu kantor Rian dibuka dengan keras oleh Bela.
Braaak.....
"Rian, Sayang! Aku merindukanmu..! kenapa kamu tidak pernah mau menemuiku lagi." begitu masuk, Bela langsung saja berlari kearah Rian dan memeluknya dari belakang. Karna Rian sedang berdiri menghadap dinding kaca besar di samping sofa yang Rian duduki tadi.
"Maafkan kami tuan muda. Nona ini berlari tanpa bisa kami cegah." ucap salah satu orang penggawal yang mengantar Bela. Sesuai perintah dari Emi tadi.
"Ri...!! Aku sangat merindukanmu. Kenapa kamu malah mengabaikan aku seperti ini. Aku tidak mau kita putus. Aku mencintaimu." Bela kembali lagi mendekat kearah Rian dengan menangis.
"Bela, diantara kita sudah tidak ada hubungan apapun. Hubungan kita sudah berakhir dari lima bulan lalu. Sekarang aku pinta, kamu jangan pernah lagi datang kekantor ku dan menyebarkan isu jika kamu adalah calon tunangan ku. Karna sampai kapanpun, Istriku hanyalah Ayla. Jangan mempermalukan dirimu sendiri." ucap Rian melihat kearah Bela yang masih menangis disampingnya.
"Kamu jahat Ri, kenapa kamu mengkhianati cinta kita. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan kita akan bertunangan setelah kita lulus. Lalu kenapa kamu malah membatalkan semuanya." tangis Bela tanpa menyadari kesalahan yang sudah diperbuatnya.
"Ciih..! Cinta kita. Aku akui jika aku memang sudah mengkhianati hubungan kita Bela. Memang sebelum aku mengetahui semua kebusukan mu. Aku sudah jatuh cinta kepada istriku. Tapi kamu, jauh lebih dulu mengkhianatinya. Jadi kita impas kan."
"Rian kamu salah paham. Semua poto yang diberikan oleh sekertaris mu itu bohong. Mereka hanya sahabat ku. Aku tidak pernah mengkhianati mu." seru Bela mencoba membuat Rian percaya seperti dulu lagi.
"O'ya...? Jika kamu hanya bersahabat dengan mereka. Lalu bagaimana dengan Poto-poto telanjang mu dan Leo. Apa itu juga hanya bersahabat." tanya Rian mengejek.
"Sudahlah Bela, lupakan aku dan cari kebahagiaan mu sendiri. Mari kita sama-sama memulai hidup kita masing-masing. Aku juga akan memulai hidup dengan keluarga ku. Aku sudah memaafkan semua perbuatan dan rencana kalian yang ingin menyakiti istriku. Tapi jika kalian masih ingin melakukannya, maka jangan salahkan aku, jika aku akan menghancurkan seluruh perusahaan Sanjaya maupun Barclay dalam waktu satu malam. Kamu mengerti kan apa maksut ku. Sekarang pergilah dan jangan pernah kembali lagi kesini." kata Rian memberikan penegasan kepada Bela.
Rian langsung berdiri tanpa menghiraukan Bela yang malah menangis semakin jadi.
"Emi, suruh mereka masuk. Dan bawa dia pergi dari sini." Rian memangil Emi melalui telpon kantor nya.
"Rian aku tidak mau kita putus. Jika kamu berani melakukannya, maka aku sendiri yang akan menghabis wanita jala."
"Apa kata mu. Kamu ingin mengancam ku lagi. Sebelum kamu berhasil. Maka akan aku hancurkan kalian lebih dulu." Rian menjepit dagu Bela dengan cukup kuat. Sehingga Bela merintih menahan sakit bekas cengkraman tangan Rian.
"Bawa wanita ini pergi. Apapun yang terjadi, jangan pernah biarkan dia menginjakkan kaki di wilayah perusahaan Erlangga group." ucap Rian mendorong Bela sampai terjatuh kelantai.
Belum sempat Bela menjawab perkataan Rian. Dia sudah diseret paksa oleh kedua pengawal tadi.
"Bagaimana mungkin aku bisa berpacaran dengan wanita serigala itu. Bahkan dulu aku sangat mencintai nya." Rian menjambak rambutnya sendiri kebelakang. Merasa benar-benar bodoh tidak bisa membedakan mana gadis yang baik dan buruk.
Ttttddddd...
📲 Rian : "Iya Al,! Apa kalian sudah berhasil." Rian mengangkat telpon dengan penuh harapan.
📱 Aldi : "Sudah Tuan muda. Sekarang kami sudah menemukan tempat Nona Ayla. Ternyata benar dugaan kita. Tuan besar membawa Nona ke Villa keluarga Erlangga sendiri." jawab Aldi dari pulau tempat Ayla berada.
📲 Rian : "Ternyata lebih pintar Papa daripada kita. Kita sudah berhasil di kecoh oleh Papa selama lima bulan ini. Aldi sekarang juga siapkan penerbangan. Aku akan berangkat sekarang." Rian langsung mematikan telponya sebelum Aldi menjawab.
"Ayla.....! Aku akan membawa kalian kembali kerumah kita. Akhirnya setelah sekian lama, aku menemukanmu!" lirih Rian meneteskan air mata bahagia dan juga kembali terduduk diatas sofa.
Karna mendapatkan berita ini, kaki Rian rasanya mendadak tidak bisa digerakkan. Sungguh Rian merasa tidak berdaya. Sebab sebentar lagi dia akan bertemu dengan istri yang sangat dirindukannya selama ini.