Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Presdir Erlangga Group


🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Pagi pun tiba.


Di rumah mewah berlantai dua sepasang suami-istri tengah berbagi tugas mengurus dua bayi kembar yang baru berumur satu bulan empat hari. Pagi-pagi sekali Ayla sudah bangun untuk menyiapkan semua keperluan suaminya bekerja.


Setelah itu dia juga menyiapkan pakaian untuk kedua buah hatinya. Sebelum sang suami berangkat ke perusahaan Ayla ingin kedua anaknya sudah mandi. Agar mempermudah bila dia tinggal sendiri. Bukan tidak ada orang lain disana tapi memang Ayla ingin mengurus Baby Arsya dan Salsa dengan kedua tangannya sendiri.


"Uuh pagi-pagi sekali sudah mandi," ucap Rian mengajak Arsya berbicara.


"Nanti kalau kakak sudah besar harus bangun dan mandi lebih pagi dari ini. Kakak kan akan mengantikan papa di perusahaan jadi harus memberi contoh yang baik untuk karyawan nya." kata Rian seperti menasehati anak yang sudah besar.


Ayla yang mendengar percakapan antara suami dan anaknya hanya tersenyum. Bila sedang bersama putranya Rian memang selalu bercerita tentang perusahaan seperti Arsya sudah mengerti saja. Padahal anak itu hanya tersenyum atau tertawa melihat sang papa berbicara kepadanya.


"Hari ini papa akan kembali kerja di perusahaan kita. Jadi kalian berdua jangan nakal sampai papa pulang. Kasihan sama mama, tidak ada yang membantunya bila oma sama nenek tidak datang kesini." Rian memang sangat senang mengajak anak-anaknya mengobrol hal apa saja yang menurutnya baik.


Asalkan Baby Arsya dan Salsa tidak menangis, dan kebetulan sekali kedua bayi itu sangat dekat dengan Rian. Baru mendengar suara papanya saja mereka sudah melihat kekiri dan kanan untuk mencari sumber suara.


"Sayang kamu juga bersiap-siaplah. Habis itu kita sarapan, biar aku yang menjaga mereka." kata Ayla sudah selesai mengurus putri kecilnya.


"Baiklah aku bersiap-siap dulu ya, cup, cup, cup!" Rian mencium istri dan kedua anaknya sebelum dia berganti pakaian kantor karena begitu bangun tadi pg Rian memang sudah mandi.


Sampai beberapa menit kemudian Rian kembali lagi dengan penampilan sangat cool karena dia sudah memakai jas kerjanya. Di tambah lagi dengan wajah tampannya yang akhir-akhir ini selalu tersenyum bahagia. Intinya semenjak bersama Ayla lah Rian bisa tersenyum dan sangat terlihat bahagianya.



"Wah lihat papa siapa yang sudah tampan!" tanya Ayla pada kedua anaknya sembari tersenyum manis pada sang suami.


"Tentu saja papanya Arsya dan Salsa. Namun, sudah menjadi hak milik mamanya." seru Rian langsung mengecup bibir ranum istrinya.


"Aku titip anak-anak sama kamu juga ya. Jangan terlalu lelah! Bila butuh sesuatu segera hubungi aku." kata Rian mengelus pipi Ayla penuh dengan cinta.


"Iya papa juga hati-hati. Kami pasti akan merindukan papa." sahut Ayla menirukan suara anak kecil. Sehingga ibu muda itu langsung mendapatkan ciuman yang di sertai pelukan dari suaminya.


"Muuuaaah! Aku pasti akan lebih merindukan kalian. Kalau tidak terpaksa, rasanya aku enggan kembali ke perusahaan." kata Rian dengan jujur. Semenjak istrinya melahirkan pria ini memang menjadi malas pergi dari rumah. Waktunya hanya dia habiskan bersama istri dan kedua anaknya.


Pernah di tinggal oleh Ayla membuat Rian takut jauh dari istrinya. Apalagi sekarang rasa cinta itu semakin besar dengan adanya Baby Arsya dan Salsa. Rian merasa tidak membutuhkan apa-apa lagi kecuali istri beserta buah hatinya.


Lalu mereka pun keluar dari kamar dengan Rian mendorong kereta kembar tempat Arsya dan Salsa di tidurkan dengan nyaman. Kedua bayi itu sudah dimandikan oleh mamanya jadi bukan hanya harum tapi juga terlihat semakin tampan dan cantik.


Tiba di meja makan berbagai macam makanan kesukaan Rian dan Ayla sudah tertata rapi. Tau tuanya mulai masuk kantor hari ini mereka semua bagun lebih pagi dari biasanya.


"Selamat pagi Nona, Tuan!" sapa Susi menghampiri meja makan guna melayani majikannya.


"Pagi juga, Mbak." yang di jawab oleh Ayla sedangkan Rian hanya diam seperti biasanya. Bedanya sekarang walaupun tidak menjawab sapaan dari pekerja di rumahnya Rian tidak menampilkan muka dinginnya. Jadi mereka yang sudah paham sipat Rian tidak merasa aneh. Justru menurut mereka Rian adalah majikan yang sangat baik dan perhatian pada para pekerjanya.


Apabila Aldi mengantarkan pesanan makanan atau sebagainya untuk Rian. Bila masih berhubungan makanan pasti Rian juga menyuruh Aldi membelikan untuk ketiga pekerjaannya. Terkadang Rian juga sengaja memesan makanan lewat diliveri dan begitulah cara Rian menunjukkan perhatiannya.


"Mbak Susi tidak ikut sarapan sekalian?" tanya Ayla sudah mulai mengisi piring untuk sang suami.


"Tidak Nona kami sudah sarapan pagi-pagi sekali. Nona dan Tuan sarapan saja biar saya yang menjaga Baby Arsya dan Salsa." kata Susi sudah duduk di dekat kereta bayi kembar itu.


Sadar kalau suaminya akan berangkat ke kantor Ayla pun tidak menolak tawaran dari Susi karena takut Rian terlambat. Yang akhirnya mereka sarapan dengan tenang tidak banyak bicara sampai sarapannya habis.


Setelah selesai menghabiskan sarapan nya Rian pun berpamitan berangkat ke perusahaan. Di ikuti Ayla sampai ke pintu depan untuk mengantar kepergian suaminya.


"Aku berangkat dulu ya, ingat jangan terlalu lelah. Bila kamu sudah tidak sanggup menjaga anak-anak kita segera hubungi aku." pesan Rian untuk kesekian kalinya. Sehingga membuat Ayla tersenyum mendengar sang suami mengingatkan dia sudah seperti anak kecil.


"Papa berangkat kerja ya, Nak. Ingat tidak boleh nakal sebelum papa pulang. Cup, cup!" Rian beralih mencium Arsya dan Salsa yang berada di kereta bayinya.


Baru setelah itu dia masuk kedalam mobil. Mau berangkat saja lelaki itu harus menghabiskan waktu hampir dua puluh menit karena saking tidak relanya berpisah dengan Ayla dan si kembar.


Didalam mobil menuju ke perusahaan Erlangga group.


"Al apa kamu sendiri yang interviu sekertaris baru itu?" tanya Rian memecahkan kesunyian di antara mereka berdua.


"Iya Tuan muda, Saya sendiri yang memilihnya. Diantara ratusan peserta dia paling unggul nilainya karena dia lulusan dari Universitas Erlangga. Bukan hanya itu cara dia menangapi apabila ada masalah mendadak pun sama seperti Emi, maka dari itu Saya memilih nya." jawab Aldi sambil memperhatikan jalan di depan nya.


"Memangnya kenapa Tuan apa ada masalah?"


"Tidak ada masalah sih, hanya saja sebetulnya selain Emi aku tidak mau memiliki sekertaris perempuan." kata Rian yang tidak mau membuat istrinya merasa tidak nyaman saat dia berada di perusahaan. Walaupun Rian sudah menjelaskan dan Ayla berkata tidak apa-apa tapi tetap saja Rian tau kalau istrinya pasti merasa kurang nyaman.


"Kalau begitu Saya akan memindahkan sekertaris baru itu di bagian lain. Tapi tolong beri Saya waktu untuk mendapatkan pengantinya." Aldi yang selalu mengerti perasaan tuan muda nya hanya bisa mencari cara agar semuanya berjalan lancar.


"Baiklah kamu atur saja aku hanya tidak ingin membuat Istriku tidak nyaman. Dia sudah lelah menjaga anakku jadi jangan sampai lelah pikiran juga." sekarang Rian memang sudah menjadi lelaki dewasa yang selalu mementingkan keluarganya.


"Baik Tuan muda hari ini pun Saya akan langsung mencari penganti nya." jawab sekertaris Aldi dengan yakin.


Hampir dua puluh menit mobil Mercedes Benz yang di sopir oleh Aldi sudah tiba di depan lobi perusahaan raksasa yaitu perusahaan Erlangga group. Tidak ada yang tidak mengenal perusahaan induk ini karena perusahaan Erlangga memegang semua kendali di kota B. Semenjak Rian yang menjadi Presdir nya menang semua cabang industri maupun yang lainnya sudah dikendalikan oleh perusahaan Erlangga. Jadi tidak salah begitu banyak orang yang mengincar pewaris Erlangga untuk di jadikan menantu. Namun, semua itu hanya mimpi karena Rian bukan hanya sudah menikah tapi dia sudah memiliki dua orang anak.


Begitu melihat mobil Mercedes Benz berhenti di depan lobby perusahaan. Semua mata karyawan langsung mengarah pada mobil itu karena mereka semua tahu pasti Presdir Erlangga lah Yang ada di dalam mobil itu.


Hal yang di nanti-nanti oleh para kaum hawa meskipun mereka sudah tahu kalau Rian sudah memiliki istri dan anak. Tapi tetap saja lelaki itu menjadi idola karena bagi mereka khususnya karyawan wanita Rian bagaikan penyemangat mereka selama berada di perusahaan.


Melihat Rian sudah turun dengan gagahnya semua karyawan laki-laki maupun perempuan menunduk hormat saat bertemu sang Presdir. Sedangkan Rian hanya diam dan berjalan terus menuju ke dalam lift khusus bagi petinggi perusahaan Erlangga Group. Baik Rian maupun sekretaris Aldi mereka berdua tidak ada bedanya sama-sama dingin tapi tetap saja menjadi incaran para kaum hawa.


Di dalam lift Rian merogoh saku jasnya lalu mengeluarkan HP miliknya untuk menelpon sang istri. Begitu tersambung teleponnya pun sudah diangkat oleh Ayla.


📲 Ayla : "Halo iya sayang ada apa?" jawab Ayla dari sebrang sana.


📱Rian : "Tidak ada apa-apa aku hanya merindukanmu! Anak-anak mana apa mereka sudah tidur?" tanya Rian tersenyum karena dia sangat hapal jam berapa saja kedua buah hatinya tidur ataupun bangun. Sekertaris Aldi yang berada di belakangnya hanya diam bagaikan patung berjalan. Semenjak mencintai istrinya Rian memang tidak pernah mengenal tempat atau waktu untuk mengungkapkan perasaannya pada wanita yang di cintai.


📲 Ayla : "Anak-anak baru saja tidur. Aku juga merindukanmu suamiku! Apa kamu sudah sampai ke perusahaan?" balas Ayla tersenyum bahagia mendengar Rian sudah merindukannya padahal mereka berpisah belum ada setengah jam.


📱Rian : "Aku baru saja keluar dari lift. Syukurlah kalau mereka sudah tidur. Kamu jangan lupa untuk istrirahat ya jangan terlalu lelah. Bila ada apa-apa segera hubungin aku." ucap Rian kembali mengingatkan istrinya.


📲 Ayla : "Hm tentu saja, Papa jangan lupa untuk istirahat dan makan siang tepat waktu ya! Kami semua akan menunggu Papa pulang." kata Ayla ikut membalas perhatian yang suaminya berikan.


📱 Rian : "Tentu saja aku tidak akan lupa pesan dari Istriku. Sayang---" Rian terhenti karena mendengar suara yang memanggil namanya.


"Rian" ucap seorang wanita yang langsung berdiri dari duduknya begitu melihat kedatangan Presdir Erlangga Group.


📱 Ayla : "Sayang ada apa? Siapa yang memangil namamu?" seru Ayla merasa heran ada yang menyebut nama suaminya di perusahaan Erlangga.


📲 Rian : "Eh bukan siapa-siapa sayang. Nanti aku hubungi lagi ya, aku ada urusan sebentar. Aku mencintaimu!" ucap Rian begitu manis pada sang istri Namum, tidak dengan sorot matanya sudah seperti ingin menerkam dan mencabik-cabik wanita yang sudah berani memangil namanya tadi.


"Rian akhirnya setelah beberapa bulan kita tidak bertemu hari ini aku melihatmu lagi." ucap wanita itu yang menjadi sekertaris baru Rian.


"Maaf Nona Elin ini perusahaan jadi tolong jaga sikap Anda. Selain Nona Ayla tidak boleh ada orang yang menyebut nama Tuan muda." selak Aldi sebelum Rian semakin marah karena wanita itu sudah berani mengangu saat Rian menelepon istrinya.


"Tapi kami berdua adalah teman satu kelas, iya kan Ri?" Elin meminta persetujuan dari Rian yang dia harap bisa membelanya.


"Apa yang di katakan oleh sekertaris Aldi adalah benar, Elin. Kita memang pernah menjadi teman satu kelas. Tapi ini adalah perusahaan ku, jadi bila kamu ingin tetap bekerja disini maka patuhi peraturan yang ada. Kamu paham! Ini untuk pertama dan terakhir kalinya aku mendengar kamu menyebut namaku." seru Rian sebelum pergi dari sana lalu masuk kedalam kantornya.


Sehingga membuat wanita itu mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Dari semasa kuliah Elin memang sudah menyukai Rian tapi karena takut pada Bela dia mengurungkan niatnya. Begitu ada lowongan pekerjaan menjadi sekertaris Rian, wanita itu langsung ikut mendaptarkan dirinya.


Kebetulan sekali dia terpilih karena Elin memang gadis pintar. Berharap dengan menjadi sekertaris Rian dia bisa mendekati pria itu. Tapi nyatanya belum apa-apa dia sudah langsung di hempaskan dari mimpinya yang terlalu tinggi.