Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Bertemu di Mall.


🌿🌿🌿🌿🌿


Dipusat perbelanjaan terbesar yang berada di kota B. Ayla dan kedua sahabatnya, sedang berbelanja, mereka mencari gaun untuk kepesta ulang tahunnya Eka.


Sebelumnya tadi, mereka bertiga sudah menonton terlebih dahulu.


Dan sekarang, jam sudah menunjukkan pukul setengah empat sore, tapi mereka masih memasuki dari tokoh ke tokoh yang ada, untuk mencari gaun yang cocok, dengan keinginan masing-masing.


"Riri, Ayla..,kesana yuk! sepertinya disana banyak pilihannya." ajak Amel yang sudah lebih dulu berjalan meninggalkan Riri dan Ayla.


Alhasil, Riri dan Ayla pun menyusul Amel masuk ke tokoh yang memang hanya menjual barang yang limited edition, jadi pembeli nya juga tidak banyak.


Begitu masuk, Ayla melihat sebuah gaun yang berwarna tosca muda yang dipajang di dalam lemari kaca,


dan Ayla pun langsung tertarik mendekati gaun itu.


"Ri, aku mau melihat gaun yang ada di sana ya! kamu pergi saja ke Amel, nanti dia nyariin kita." suruh Ayla kepada Riri.


"Heeem, aku duluan ya!"


Setelah Riri pergi ke sebelah tempat mereka berdiri sekarang. Ayla pun langsung mendekati gaun yang di pajang, di sebuah patung makenik.


"Gaun nya indah sekali, aku menyukainya." seru Ayla yang sudah memegang gaun itu.


Seorang pegawai, datang menghampiri Ayla dengan ramah.


"Selamat sore Nona! ada yang bisa saya bantu?" sapa nya ramah.


"Iya, sore juga kak! saya tertarik dengan gaun ini." balas Ayla sopan, karena wanita itu terlihat hanya berbeda beberapa tahun lebih tua darinya.


"Ternyata, Nona bener-bener tau jika barang ini bagus. Ini barang edisi terbatas, Nona adalah wanita yang sangat beruntung bisa membelinya."


Mendengar perkataan si pegawai, Ayla sedikit tersenyum. karena bukan masalah harga yang membuat Ayla tertarik, tapi warnanya.


"kalau begitu, mari Nona ikut saya, biar teman saya nanti, yang akan membawa gaun itu." ajak nya sopan.


Ayla pun mengikuti pegawai toko ke tempat menejer disana. Karena si pegawai tau, jika Ayla pasti bukan dari kalangan biasa, jadi mereka ingin memberikan pelayanan terbaik untuk pelanggan yang boleh juga di sebut jika Ayla ini adalah pelanggan VIP.


Namun tidak berapa lama, terdengar kegaduhan di meja kasir.


"Apah, mana mungkin ada yang membeli nya! aku sudah dua kali datang kemari, dan gaun itu masih ada." ucap nya kesal.


"Tapi, kami juga tidak berbohong Nona, gaun itu baru saja dibeli. Dan yang membeli nya pun, masih berada disini."


"Mana dia? panggilkan kemari! sekalian menejer toko ini, apa kalian semua tidak tau, jika aku adalah kekasih dari pemilik maal ini." titah nya memerintah dengan angkuh dan kesombongannya.


Lagian siapa sih, yang tidak mengenal Rian Erlangga. Pewaris tungal dari keluarga Erlangga, apa lagi, mereka sering melihat Rian di televisi maupun di berita-berita, saat dia menghadiri acara- acara penting.


Jadi, tentu saja semua pegawai disana merasa takut. Bisa-bisa mereka kehilangan pekerjaan.


"Baiklah, biar teman saya memanggil nya sebentar. Nona dan tuan, mari silahkan duduk dulu." ucap si pegawai sopan.


Mau tak mau, Bela dan Rian pun mengikuti instruksi dari pegawai disana.


"Nona, mohon maaf! sepertinya, gaun ini belum bisa Nona beli." si pegawai yang merasa bersalah kepada Ayla dan memohon maaf atas ketidak nyamanan pembeli di toko mereka.


"Kenapa? bukankah tingal pembayaran saja!" tanya Ayla binggung.


"Begini Nona! di depan, ada anak pemilik Mall ini, bersama kekasihnya.


Dan kekasih dari tuan muda, ingin membeli gaun ini. Kami mohon kebaikan Nona! karena, jika dia tidak mendapatkan gaun ini. Bisa-bisa kami semua dipecat." mohon si menejer dan para pegawainya. Yang sudah berdiri didepan meja yang di duduki oleh Ayla.


"Kalian jangan memohon seperti ini, aku akan mengembalikan gaunya, jika itu bisa membantu menyelamatkan pekerjaan kalian semua."seru Ayla.


"Tapi, siapa tuan muda anak dari pemilik Mall ini? kenapa hanya karena sebuah gaun, mereka ingin memecat kalian?"


Mendengar Nama Erlangga, Ayla langsung terbelalak, karena baru ingat, ibu mertuanya pernah mengatakan, jika Mall yang terbesar dikota B, adalah milik keluarga Erlangga.


"Apakah Nama tuan muda itu, Ardiaz Rian Erlangga?" tanya Ayla memastikan kembali, karena takut jika salah orang.


"Anda benar sekali Nona, yang berada di depan memang tuan muda Rian." sahut si menejer membenarkan.


"Kalau begitu, tolong bungkus gaun nya. Karena aku yang akan membeli gaun ini. Kalian semua, tidak usah takut, jika dipecat. Aku adalah Putri Mikhayla Ridwan, tidak akan membiarkan hal itu terjadi." ucap Ayla bersungguh-sungguh.


Mendengar, Nama yang disebut Ayla, membuat mereka menjadi dilema. Pasalnya, mereka juga tau, jika keluarga Ridwan tak kalah kayanya dari keluarga Erlangga.


"Baiklah, kami semua percaya pada Nona." putus sang menejer yang tadi sempat dilema.


Tapi, melihat dan mendengar ketika Ayla berbicara, membuat nya yakin, jika Ayla adalah gadis baik. Yang tidak akan membahayakan pekerjaan mereka, hanya untuk kepentingan nya sendiri.


Lalu mereka semua kembali kedepan, tempat Rian dan Bela tadi menunggu.


"Kenapa kalian lama sekali!" sergah Bela tidak suka.


"Dan, mana gaun nya?" tanya Bela tidak sabar.


"Mohon maaf, Nona dan tuan muda! gaunya sudah dibeli oleh" si menejer mengantung ucapannya, karena melihat Ayla tidak ada.


"Oleh siapa? kalian jangan membohongi ku! apa kalian sudah bosan bekerja disini?" kata Bela yang bertambah emosi, karena tidak mendapatkan keinginannya.


"Maaf pak! memangnya siapa yang telah membeli gaun itu? kenapa dia tidak mau mengalah untuk kekasih saya." tanya Rian dengan aura dingin, yang bisa membuat semua orang membeku di tempatnya.


"Maaf, tuan muda Ardiaz Rian Erlangga! yang membeli gaun nya, adalah saya."


Mendengar suara yang tidak asing baginya, Rian langsung menoleh.


Deg.....


"Kenapa harus Ayla, yang membeli gaun itu!" ucap Rian di dalam hatinya.


"Jadi kamu yang sudah membeli gaun ku?" murka Bela yang langsung berdiri, melihat kedatangan Ayla.


"Gaun mu? bukankah aku yang lebih dulu membelinya! bagaimana mungkin, ini gaun mu?" imbuh Ayla sambil tersenyum.


Melihat pertengkaran Bela dan Ayla yang memperebutkan gaun, Rian pun langsung membujuk Bela, agar mencari gaun lain saja.


"Apa maksudnya Ri.! aku ingin gaun itu, aku tidak mau yang lain." tolak Bela cepat.


"Sayang! dengerin aku, aku akan membelikan apapun untuk mu, tapi jangan gaun ini ya!" pinta Rian, sambil menggenggam dan mencium kedua tangan Bela, depan para pegawai dan lebih parahnya, di depan Ayla istri sah nya sendiri.


Menyaksikan hal itu, Ayla langsung membuang muka, dan meminta tagihan gaun yang sudah diperebut Bela tadi.


"Maaf pak, silahkan urus pembayaran nya, saya sudah tidak betah berada di sini lama-lama. Takutnya banyak pirus jahat yang berkeliaran." ucap Ayla, yang dengan sengaja mengibas-ngibaskan tangannya, seperti orang kepanasan.


Rian yang tau jika perkataan Ayla untuk dia dan Bela, langsung melepaskan pengangan tangannya.


"Nona ingin membayar pake apa?" tanya si pegawai. Karena si menejer, sedang turun tangan langsung melayani Bela, sebab Rian berhasil membujuk Bela, dengan menuruti semua kemauannya.


"Saya membayar pakai kartu ini." Ayla yang akhirnya memakai kartu pemberian dari Rian. Biasanya, Ayla memakai kartu itu, hanya membeli kebutuhan mereka berdua saja, karena jika untuk kebutuhan pribadi. Selalu kakek nya yang membelikan, dan Ayla pun tidak bisa menolak.


"Ini Nona, silahkan masukan PIN nya." pinta si pegawai dengan sopan.


Lalu Ayla pun memasukan nomor PIN kartu black kard yang diberikan Rian, saat tiga hari mereka menikah.


Melihat nomor PIN yang dimasukkan Ayla, si pegawai pun berucap.


"Wah, nomor PiN nya cantik sekali Nona! pasti nomor ini, sangat sepesial buat hidup Nona." seru nya, karena dia tidak sengaja melihat angka yang Ayla tekan.


"Tentu saja, PIN nya, memang tangal yang paling bersejarah buat hidup saya! tapi sayang, bagi yang memiliki pasangan tangal ini, baginya ini adalah tanggal pembawa petaka dalam hidupnya." setelah mengatakan itu, Ayla pun langsung berpamitan. Dan tidak menoleh kearah Rian yang sedang duduk sambil menunggu Bela.