
🍃🍃🍃🍃🍃
.
.
Setelah Tuan Heri meningalkannya diruang keluarga. Sebelum pergi dari rumah itu. Rian memeriksa seluruh kediaman keluarga nya, karna dia takut jika Ayla ada di sana.
Hanya saja tuan Heri sengaja tidak mau memberitahu dia. Pikir Rian yang kembali lagi memeriksa kamar dia sendiri. Walaupun itu semua tidak mungkin, tapi tetap Rian memeriksanya.
Ceklek....
Bunyi pintu yang Rian buka pelan.
Tiba di dalam kamar, sunyi yang terasa, karna kamar Rian memang tidak pernah ditempati lagi, jika dia dan Ayla tidak kembali kerumah ini.
Yang boleh masuk kesana hanya salah satu pelayan khusus saja, sebab tidak sembarang pelayan boleh membersihkan kamar Rian.
Rian langsung melihat di atas kepala ranjang. Pada dinding diatasnya, terdapat Poto pernikahan dia dan Ayla yang sedang tersenyum menghadap ke kamera.
"Ayla....!! Apa karna kamu sangat membenciku, makanya semua Poto pernikahan yang ada dirumah kita kamu lepas dan diganti dengan lukisan lain? tolong maafkan aku! Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Akan aku lakukan segala cara untuk melindungi mu. Tapi aku mohon kembalilah! Kamu sekarang ada dimana? biar aku menjemputmu..!" Rian mengusap muka dan memijit pelipisnya yang terasa pusing.
Tidak lama setelah itu.
Rian langsung berlari kearah kamar mandi yang ada didalam kamarnya.
"Oooeek....Oeeek..."
Rian kembali muntah-muntah seperti biasanya.
"Ada apa lagi dengan ku? kenapa akhir-akhir ini aku punya penyakit seperti ini..!" Rian membasuh wajahnya dengan air agar kembali Segar.
Karna sekarang bukanlah waktunya dia mengeluh. Sebab dia harus menemukan Ayla dan membawanya pulang bersamanya.
Rian keluar dari kamar mandi dan langsung saja menyambar kunci mobilnya yang tadi dia letakkan diatas meja.
"Den Rian mau kemana? Apa tidak menginap disini?" tanya seorang pelayan yang sudah bekerja di sana semenjak Rian masih duduk di bangku SMP.
"Tidak Bik, Rian mau pulang sekarang. Jika Mama keluar dari kamar, tolong sampaikan maaf Rian kepada Mama. Rian akan kembali kesini, bila sudah menemukan menantu Mama!" ucap Rian kepada perempuan baya yang sudah dia anggap seperti bibinya sendiri.
Karna Mama Sonya adalah anak tunggal. Sedangkan Papa nya memiliki tiga orang adik. Dua laki-laki dan satu perempuan yang kembaran dari adik bungsunya.
Namun mereka jarang bertemu, Karna sibuk dengan urusan masing-masing.
"Iya, nanti Bibik sampaikan. Tapi luka di pipi Aden lebih baik di obati dulu." kata Bibik Ira melihat pipi Rian yang memar dan luka disudut bibirnya.
Rian tersenyum dan menggeleng kecil. Karna rasa sakit yang di tampar oleh Papanya tidak terasa sama sekali.
Apalagi jika dia mengingat perlakuannya yang pernah menampar Ayla juga. Karna lebih mempercayai perkataan Bela daripada istrinya sendiri.
Pasti Ayla lebih merasakan sakit dari pada yang dia rasakan sekarang.
"Tidak Bik, ini tidak sakit. Rian pergi dulu." pamit Rian yang ingin pergi mencari Ayla.
Di dalam mobil, Rian menelpon Andre. Karna ingin menanyakan Ayla dan meminta alamat kedua sahabat Ayla. Yaitu Riri dan Amel.
Karna Rian ingin mencari Ayla kesana.
📲 Andre : "Iya Ri...! Ada apa?" jawab Andre dari sebrang sana.
📲 Rian : "Dre...! Gue mau nanya. Apa Lo tau Ayla kemana? kalo Lo tau, gue mohon kasih tau gue!" ucap Rian memohon. Karna mana tau Andre mengetahuinya, sebab Andre dan Ayla juga berteman dekat.
📲 Andre : "Maaf gue gak diberitahu sama Ayla dia akan kemana. Dia tadi hanya berpamitan jika dia akan pergi. Lagian Lo ngapain nyari dia? bukannya bagus kalo dia pergi. Biar Lo bebas mau ngapain aja." Andre dengan sengaja berbicara seperti itu. Agar Rian tau kesalahannya.
"Dre..? Gue gak mau mendengar ceramah Lo, kalo Lo gak tau ya sudah. Tolong kirim alamat Riri dan Amel. Gue mau melihat Ayla dirumah mereka."
"Gue kan ngomong bener Ri. Yaudah nih gue kirim alamatnya." Andre mematikan telponya begitu saja.
Setelah mendapatkan alamat Riri dan Amel. Rian langsung memutar arah setir mobilnya.
"Ayla aku harap kamu ada dirumah mereka. Aku mohon jangan seperti ini. Jangan membuatku gila karna mu Ay!" Rian melajukan mobilnya kerumah Amel lebih dulu.
Dan hanya lima belas menit, mobilnya sudah tiba dikediaman Amel.
Tanpa disangka ternyata disana ada Riri juga. Mereka terlihat akan pergi keluar. Namun tidak ada Ayla disana.
Setelah mobilnya berhenti tepat disamping mobil milik Amel. Rian langsung keluar untuk bertanya kepada mereka.
"Kak Rian,! Ada perlu apa?" Amel dan Riri sama-sama merasa kaget.
"Riri, Amel..! Apakah Ayla ada disini?" tanya Rian seperti orang bodoh. karna dia sudah tahu jika Ayla tidak ada disana.
"Tidak ada kak,! Ayla tidak ada disini. Ayla kan sudah pergi tadi siang." yang dijawab oleh Riri.
"Apa kalian berdua tau dia pergi kemana?"
Mereka berdua sama-sama mengelengkan kepalanya. Karna memang mereka tidak tau Ayla pergi kemana.
"Lalu apa kalian tau jika Ayla pernah dirawat dirumah sakit, mungki satu bulan yang lalu?" tanya Rian lagi.
"Tidak juga kak, tapi kan Ayla memang pernah hampir satu minggu tidak masuk kuliah." jawab Amel mengingat-ingat.
"Apakah waktu Ayla menelpon ku pada pagi itu? saat itu aku sedang bersama Bela, dan itu adalah telpon pertama dari Ayla, setelah nomornya aku blokir. Ya Tuhan suami macam apa aku ini, disaat istriku sakit dan membutuhkan aku, malah aku sedang bersama kekasih ku."
Rian berbicara didalam hatinya.
"Kak, Apa kakak baik-baik saja?" suara Riri menyadarkan Rian dari lamunannya.
"Agh...Iya, kakak tidak apa-apa! Eeem Heem..! Itu, jika Ayla ada menelpon kalian berdua, tolong kabari kakak ya? Kakak Mohon pada kalian." pinta Rian sebelum dia pergi.
"Kak, tunggu dulu! kami akan mengabari kakak jika Ayla memberi kami kabar. Tapi antara kak Rian sama Ayla ada apa ya? Kenapa kakak mencari Ayla? Amel bertanya untuk menghilangkan rasa penasar nya.
Rian berhenti lalu menoleh kebelakang. Menghadap ke arah Riri dan Amel yang masih berdiri di dekat mobil mereka.
"Dia istri kakak!" Rian menjawab dengan tersenyum miris. Lalu dia langsung masuk ke mobilnya. Tanpa menunggu ucapan Riri dan Amel.
Lalu Rian kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh. Untuk kembali kerumahnya dan Ayla.
Hanya beberapa menit saja. Rian sudah tiba didepan rumahnya. Lalu Rian turun dari mobil dan membuka pintu. Karna sebelum dia pergi tadi, Susi sudah menyerahkan kunci yang baru. Dan mengatakan jika dia akan berhenti bekerja.
Di dalam kamar.
Rian duduk di sofa yang ada disana. Lalu mengeluarkan HP nya untuk menghubungi Aldi. Karna tadi Aldi sudah mengirimkan pesan kepada nya. Dan mengatakan jika gugatan itu benar.
Tuuuut...
Hanya satu kali berdering saja. Aldi sudah mengangkat telpon darinya.
📲 Aldi : "Iya tuan muda? Saya sudah menyuruh mereka mengecek disetiap Apartemen dan hotel. Mana tau Nona Ayla masih berada di kota ini." jelas Aldi sebelum Rian bertanya kepada nya.
Karna dalam kepergian Ayla ini. Tuan Heri memang tidak melibatkan dirinya. Sebab beliau tau jika Aldi pasti akan membantu Rian.
📲 Rian : "Baiklah, suruh mereka berpencar mencari disetiap penjuru kota ini. Aku sangat yakin jika semuanya pasti ada campur tangan Papa." ucap Rian prustasi, karna mana mungkin dia bisa mengalahkan Papa nya sendiri.
Setelah mengobrol beberapa saat dengan Aldi. Rian mematikan telponya, lalu Rian berjalan kearah ranjang dan duduk disana.
"Ayla kamu dimana? tolong jangan seperti ini. Aku tau jika aku bersalah sudah menyia-nyiakan mu! tapi aku mohon kembalilah. Bukannya kamu selalu mengharapkan aku pulang! Sekarang aku sudah pulang." Rian yang berbicara sendiri.
BERSAMBUNG.......