
🍁🍁🍁🍁🍁
.
.
"Wah sepertinya, lo bahagia banget nih Ri..! sudah di kenalin oleh tuan Sanjaya kepada semua kerabat dan rekan bisnisnya, sebagai calon menantu tungal nya" ucap Andre yang ikut kesal dengan Rian. Sehingga dia berbica menyindir seperti itu.
"Maksud lo apa sih Ndre?" sergah Rian merasa sedikit emosi. Karna sebetulnya dia memang sudah emosi kepada dirinya sendiri yang harus melakukan semuanya di depan Ayla.
Bukan seperti ini kemauan Rian, dia memang tidak mencintai Ayla. Tapi tidak harus membuat Ayla terluka, karna menyaksikan kemesraan yang mereka lakukan.
Apalagi dia tahu, jika Ayla mencintai nya. Tapi Rian tidak berdaya untuk menolak, apalagi di depan orang tua Bela.
"Aku pamit ke toilet dulu." pamit Ayla langsung pergi membawa tas yang dia bawa. Sehingga tidak sempat mereka semua yang ada disana, untuk bertanya kepada Ayla.
Karna semakin lama dia berada di dekat Rian. Itu akan membuatnya semakin sakit. Jadi Ayla Ingin menghindar.
Namun apa, begitu Ayla tiba di toilet wanita. Disana dia mendengar seseorang sedang menelpon kekasih nya.
Dan orang itu adalah Bela. Tapi siapa yang dia telpon. Bukannya Rian ada di dalam. Pikir Ayla bertanya pada dirinya sendiri.
"Agh.., Ayla! apakah kamu sudah lama? tapi kamu tidak mendengar ketika aku sedang berbicara di telepon tadi kan?" ucapnya seperti merasa terciduk oleh Ayla.
"Kenapa? apa kamu takut jika aku mengatakan kepada Rian, jika kekasih nya ini adalah seorang ******."
"Bukan seperti itu Ay, aku bisa menjelaskannya kepada mu." seru Bela mencoba menggapai tangan Ayla.
Jelas saja Ayla langsung menarik tangannya kembali. Tanpa Ayla sadari jika Bela sudah merencanakan semuanya dengan matang.
Tiba-tiba saja Bela terjatuh ke lantai, sehingga gaun yang dia pakai menjadi ikut kotor.
Dan ketika Ayla ingin bertanya, kenapa kamu terjatuh Bela. Malah Rian sudah hadir disana membantu Bela berdiri. Lalu melihat kearah Ayla dengan sorot mata yang tidak bisa terbaca.
"Apa ada yang sakit? kenapa kamu bisa terjatuh?" tanya Rian sambil membersihkan gaun Bela yang memang terkena air dilantai.
"Aku, aku di dorong oleh Ayla. Tidak hanya itu saja, dia juga mengatakan jika aku adalah seorang ******." tangis Bela langsung pecah mendengar pertanyaan Rian.
"Rian, kamu jangan percaya kepadanya. Aku tidak mendorongnya, tapi dia menjatuhkan dirinya sendiri." Ayla mencoba membela dirinya.
"Ayla sudah cukup! Sekarang kamu pulang lah. Dan tunggu aku dirumah, kita selesaikan ketika aku kembali." ucapnya yang sudah membawa Bela pergi dari sana.
"Tapi Ri, aku tidak berbohong kepada mu! Semua ini pasti rencananya ingin menjebak ku." Ayla masih berusaha mengejar Rian sampai di depan pintu keluar.
Disana juga sudah ada Nando yang ingin menyusul Ayla. Karna Nando melihat jika Bela juga tidak ada di tempat pesta berlangsung. Sehingga membuatnya khwatir kepada Ayla.
"Ayla cukup! aku benar-benar kecewa kepadamu. Jika kamu marah kepadaku, kenapa kamu harus menyakiti Bela. Dia tidak bersalah, yang salah adalah aku yang menerima perjodohan kita." setelah mengucapkan kata-kata itu. Rian langsung meninggalkan Ayla dan Nando disana.
Sedangkan Bela, benar-benar merasa puas sudah menghidupkan api diantara Rian dan Ayla.
"Rian, kenapa kamu tidak percaya kepadaku! aku tidak berbohong." ucap Ayla lirih ditempatnya berdiri.
"Ay, sudah! percuma saja kamu menjelaskannya sekarang. Karna Rian pasti hanya melihat bukti, bukan perkataan." Nando mencoba menenangkan Ayla yang sudah hampir menangis.
"Tapi aku berkata benar kak! aku tidak mendorong Bela. Dia sendiri menjatuhkan dirinya."
"Ayla, kakak percaya kepada mu! Rian sedang emosi sekarang, jadi lebih baik kamu pulang ya, biar kakak antar. Ketika dirumah, kalian bisa membicarakannya lagi. Bicarakan dengan pikiran yang tenang. Agar tidak menjadi besar masalahnya." Nasihat Nando yang memengang kedua pundak Ayla.
Untuk menyakinkan Ayla, bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Mendengar ucapan Nando. Ayla akhirnya setuju untuk tidak menjelaskan sekarang. Karna percuma saja Rian tidak akan percaya kepadanya.
"Baiklah kita pulang saja, nanti atau besok pagi. Aku akan menjelaskan kepada Rian." seru Ayla merasa kecewa.
Lalu Nando mengengam tangan Ayla untuk pergi meninggalkan tempat itu. Dan langsung membawa ke tempat mobilnya berada.
"Kak aku kesini tadi bersama sopir. Jadi kakak tidak perlu repot-repot mengantar ku."
"Kamu kasih tau saja padanya, jika kamu akan pulang bersama kakak. Kita bisa mencari makanan yang kamu sukai atau jalan-jalan lebih dulu, agar kamu tidak terlalu memikirkan masalah tadi" kata Nando yang sudah membukakan pintu mobilnya dan menyuruh Ayla masuk.
Lalu Ayla masuk dan langsung mengambil handphone nya untuk mengabari pak Ilham jika dia sudah pulang lebih dulu.
"Sudah?" tanya Nando yang juga sudah ikut masuk dan mulai menjalankan mobilnya.
"Sudah kak, tapi kita langsung pulang saja ya! aku ingin istirahat." ajak Ayla yang sengaja memejamkan matanya, karna tiba-tiba saja kepalanya merasa pusing.
Ayla hanya mengangguk, karna semua yang dikatakan Nando benar. Dia tidak boleh hanya memikirkan dirinya. Tapi juga harus memikirkan anak yang sedang dia kandungan.
Dua puluh lima menit, mobil Nando sudah tiba di kediaman Ayla dan Rian. Sebelum berpamitan untuk masuk kerumahnya. Ayla memberitahu Nando lebih dulu, jika besok pagi dia akan merayakan ulang tahunnya di panti xx.
Dan Nando sempat terkejut mendengarnya, namun Nando berjanji jika besok dia akan datang bersama Andre.
Jika Amel dan Riri memang sengaja tidak Ayla beritahu. Karna disana nanti juga akan ada Rian. Ayla hanya belum siap menjelaskan kepada kedua sahabatnya itu tentang pernikahannya.
Lalu Ayla masuk kerumahnya, dan langsung memilih untuk istirahat. Karna jam juga sudah menjukan pukul sebelas malam.
Pagi-pagi sekali Ayla sudah bangun, mandi dan memasak untuk mereka sarapan, karna dia akan membicarakan masalah tadi malam terlebih dahulu. Sebelum meraka berangkat ke panti.
Sedangkan Rian, Ayla tidak tahu dia pulang jam berapa. Dan selama Ayla masih berada di lantai bawah. Ternyata Rian juga sudah bangun dan membersihkan dirinya.
Setelah selesai bersiap-siap, barulah Rian turun untuk menemui Ayla yang dia tau pasti sudah berada di meja makan.
Tap...Tap...
Bunyi sepatu Rian yang beradu dengan lantai keramik. Sehingga Ayla langsung menoleh kearah Rian.
Tapi ada yang berbeda hari ini. Raut muka Rian masih terlihat marah kepada nya.
Sehingga Ayla langsung saja bicara sebelum Rian duduk di kursi meja makan.
"Rian! apa kamu masih marah kepada ku? aku bisa menjelaskan semuanya kepadamu. Semuanya tidak seperti yang dikatakan Bela." ucap Ayla yang masih berusaha merendahkan nada bicaranya agar tidak menimbulkan pertikaian antara mereka.
"Apa yang ingin kamu jelaskan? semuanya sudah jelas. Bela sudah menjelaskan kepadaku apa yang terjadi sebenarnya." sergah Rian yang sudah kembali emosi mengigat perkataan Bela tadi malam.
"Benar kah! jika dia sudah menjelaskannya kepadamu, kenapa kamu masih marah kepada ku? atau jangan-jangan dia mengatakan kebohongan kepadamu!"
"Ayla! ini masalah kita, jadi jangan bawa-bawa Bela. Karna dia tidak bersalah." bentak Rian yang sudah merasa emosi
"Jelas saja ini ada hubungannya dengan Bela. Karna dia sudah berusaha membuat hubungan kita retak Ri..! aku mohon percayalah kepadaku." ucap Ayla memohon, sebelum kembali lagi untuk menjelaskan kepada Rian.
"Tadi malam, aku tidak sengaja mendengar Bela berbicara lewat telpon. Dia sedang menelpon seseorang, tapi aku tidak tau siapa orang itu. Namun aku mendengar jika dia berjanji kepada orang itu. Jika dia akan menghabiskan malam bersama." perkataan Ayla terputus begitu saja
karna Rian sudah lebih dulu memotong ucapan Ayla.
"Ayla, sudah cukup! apa kamu akan mengatakan jika Bela adalah seorang ******? ternyata aku terlalu baik kepadamu selama ini, sehingga membuatmu menjadi besar kepala seperti sekarang."
"Rian, aku tidak berbohong. Bela memanglah seorang ******." Belum selesai Ayla berbicara, ternyata satu buah tamparan sudah mendarat di pipinya.
Plaaak....!!
Suara tangan Rian yang sudah melayang ke pipi Ayla.
"Ayla, aku baik kepadamu selama ini, karna aku merasa bersalah kepada mu. karna aku sudah merenggut kesucianmu. Tapi bukan berarti aku mencintaimu!" Rian yang berbicara tanpa memikirkan perasaan Ayla.
Deg.....
.
.
.
.
.
.
Ini udah mak author penuhi ya, yang selalu minta carz uup. jadi jika pengen mak author uup nya rajin. Tolong jangan lupa berikan dukungannya. Jika banyak dukungannya nanti. Insha Allah akan uup satu bab lagi.🤗
Like.
Komen.
Vote.
Dan kopi atau bunga juga 😍😍
Terimakasih 🙏