
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
"Lena, tolong ceritakan padaku tentang bos kita. Aku hanya ingin tahu tidak ada maksud apa-apa." Dewi terus saja bertanya pada teman kerjanya itu tentang kehidupan pria yang sudah kembali membuatnya jatuh cinta. Namum, Lena tidak menceritakan apa-apa lagi. Mengatakan kalau bosnya belum memiliki keturunan saja membuat Lena merasa bersalah pada Sari.
Pasalnya dia takut temanya itu punya niat lain apalagi saat dia memandang Nando sudah tidak biasa. Sari dikenal Nona yang sangat baik dan ramah di kalangan para pegawai Nando.
Bila ada waktu senggang Nando memang sering membawa istrinya mendatangi setiap Restoran miliknya. Dari sanalah mereka mengetahui sosok Sari yang setiap kali berkunjung pasti membawakan oleh-oleh untuk para pegawai suaminya.
Maka dari itu Lena merasa bersalah pada istri bosnya. Seakan-akan dia memberi peluang untuk Dewi mendekati Nando. Meskipun Lena tidak sengaja mengatakannya. Dari pandangan Dewi melihat bos mereka, Lena tahu janda beranak satu tersebut menyukai Nando. Maka dari itu juga dia tidak ingin bercerita apa-apa lagi.
"Lena aku mohon! Ceritakan padaku sedikit saja. Aku hanya penasaran bagaimana mungkin bos kita sudah tiga tahun menikah tapi belum mempunyai keturunan. Itu berarti istrinya mandul kan," Dewi terus saja mendesak. Saat ini kebetulan mereka sedang berada di ruang ganti karena sudah saatnya untuk pulang. Meskipun tadi Nando sudah berpesan agar Dewi diperbolehkan pulang setengah jam dari pada teman-teman kerjanya. Tapi oleh Manejer tersebut tidak di berikan izin melihat Dewi terlalu banyak mengobrol.
"Dewi jaga ucapan mu! Kalau sampai ada pegawai lain mendengar kamu mengatakan Nona Sari mandul. Lalu mereka menyampaikan nya pada Tuan Nando bisa-bisa kita berdua bisa di pecat dari sini." sergah Lena menahan geram.
Dewi ini orangnya memang sangat susah bila di ajak bicara baik-baik ataupun di beri saran oleh teman satu propesi nya. Oleh sebab itu di tempat ini dia hanya dekat dengan Lena.
"Habisnya kamu tidak menjawab pertanyaan ku. Padahal kan aku hanya penasaran dengan kehidupan bos tempat kita bekerja. Memang salahnya di mana." keluh wanita itu tidak ingin di salahkan.
"Kalau hanya ingin sekedar tahu tidak ada yang salah, Dewi. yang salah bila kamu memiliki niat tertentu terhadap bos kita. Aku peringatkan kepadamu jangan pernah berbuat yang tidak-tidak karena nanti akan merugikan dirimu sendiri. Zaman sekarang kita bisa bekerja di tempat seperti ini. Dengan gaji mahal bos nya pengetian kita harus bersyukur. Sudah ayo pulang anak mu menunggu di luar." ucap Lena meninggalkan Dewi yang masih membereskan barang-barang nya.
"Brengsek! Awas saja kalian semua. Bila aku berhasil mendekati si tampan itu maka siap-siap saja untuk dipecat." geram Dewi sambil berlalu keluar.
Mendengar cerita Lena kalau bos mereka sudah tiga tahun menikah dan belum mempunyai keturunan. Membuat wanita itu merasa memiliki kesempatan untuk mendekati bos mereka. Entah itu akan berhasil atau tidak dia sudah bertekad akan menggunakan anaknya sebagai umpan dan akan mencobanya meskipun harapannya kecil.
Tiba di luar ruangan tempat mereka berganti seragam. Dewi langsung membawa putrinya menemui Manajer Restoran yang masih berada di ruang kerjanya.
Tok...
Tok....
"Masuk!" perintah dari Manajer tersebut.
Cek....lek...
Setelah mendapatkan izin. Dewi pun membuka pintu ruangan Manager diikuti oleh sang putri yang berjalan di sampingnya. "Selamat sore Pak!" sapanya menunduk sopan.
"Iya selamat sore juga, Dewi. Ada perlu apa kamu menemui Saya?" ucap Manager tersebut.
"Begini Pak barusan Saya mendapat telepon dari orang yang biasa mengasuh putri Saya. Beliau mengatakan untuk beberapa waktu belum bisa dititipkan putri Saya lagi, karena beliau harus menjaga cucunya sendiri yang baru saja lahir tadi siang." dusta wanita itu yang sudah tahu peraturan Restoran tersebut boleh membawa anak. Asalkan tidak mengganggu saat orang tua mereka bekerja.
Memang seluruh restoran di dunia nyata tidak ada peraturan seperti itu. Hanya di Restoran milik Nando sajalah yang memperbolehkan membawa anak saat bekerja.
"Baiklah Saya akan memberi laporan pada bos kita. Tapi ingat kamu harus mematuhi peraturan yang sudah Saya buat. Oh ya satu lagi! Tolong di saat jam kerja jangan terlalu banyak mengobrol, karena kita yang bekerja di sini dibayar dengan gaji yang fantastic." Pak Managernya kalau bicara sangat pedas. Sehingga membuat pegawai yang tidak konsisten akan merasa tertampar mendengar ucapan peringatan darinya.
"Terimakasih, Pak. Saya berjanji tidak akan melalaikan pekerjaan walaupun membawa putri Saya bekerja." menjawab dengan semangat karena awal langkahnya untuk memulai rencana berjalan dengan sangat mulus.
"Kalau begitu Saya permisi dulu, Pak. Sekali lagi Saya ucapkan terimakasih." seru Dewi sebelum meninggalkan ruangan itu dan langsung pulang menuju ke kosan tempat dia tinggal bersama putrinya.
Sedangkan di lain tempat. Nando lagi bermanjaan dengan istrinya di balkon kamar. Hal yang hampir setiap sore mereka lakukan apabila Nando tidak sibuk dengan pekerjaannya.
"Sayang!" ucap Nando memanggil Sari yang berbaring di bahu sebelah kanannya. Seolah-olah mereka berjauhan saja.
"Hem iya ada apa, Kak?" jawab wanita itu mendoakan kepalanya ke atas untuk menatap muka sang suami yang lebih tinggi daripada dirinya.
Sampai saat ini Sari memang belum mengubah panggilannya dengan sebutan kakak. Dia mengatakan akan memanggil Nando, ayah apabila sudah memiliki Buah Hati mereka. Namun, apabila sedang bersama Arsya dan Salsa mereka berdua saling menyebutkan ayah dan bunda. Untuk mengajarkan kedua balita tersebut.
"Tadi sepulang dari perusahaan Rian. Aku mendatangi Restoran kita yang sedang direnovasi kantornya." Nando memang selalu menceritakan hal apa saja yang sudah dilakukannya saat berada jauh dari sang istri.
Baik saat dia ke rumah orang tuanya atau ke manapun. Nando selalu bercerita pada sang istri. Begitupun sebaliknya, intinya tidak ada rahasia di antara mereka berdua.
"Lalu!" jawab Sari singkat dan padat.
"Lalu begitu aku memasuki Restoran kita, tepatnya saat ingin menaiki tangga. Ada seorang anak kecil menabrak kakiku."
"Anak kecilnya tidak apa-apa kan?" wanita itu bertanya penuh rasa khawatir. Meskipun Sari dulunya adalah wanita yang bar-bar tapi dia adalah sosok perempuan yang memiliki sifat ke ibu-ibuan.
Cup...
"Aku kan belum selesai bercerita, dengarkan aku dulu." ucap Nando setelah mencium bibir istrinya karena merasa geregetan sendiri melihat wajah imut sang istri.
"Em... anak kecilnya tidak apa-apa. Hanya saja dia bukan anak pengunjung di Restoran. Melainkan anak dari salah seorang pegawai di Restoran kita." tidak ada yang ditutupi oleh pria itu semuanya dia ceritakan.
"Memangnya sudah umur berapa, Kak? Kasihan sekali. Kemana ayahnya?" semakin mengeratkan pelukan pada dada Nando yang sedang mengelus rambut panjangnya.
"Mungkin seumuran dengan Salsa. dia juga perempuan hanya saja sepertinya kulit Salsa lebih putih daripada anak tersebut." Nando kembali mengingat-ingat anak kecil itu. Tadi Nando memang tidak begitu memperhatikannya karena ibu dari anak itu sudah datang.
"Kakak belum menjawab pertanyaanku! Ayahnya ke mana Mengapa dia dan ibunya harus bekerja?"
"Kalau soal itu aku tidak tahu. Mungkin ayah nya sedang sakit atau memang tidak memiliki ayah." ucap Nando cuek karena merasa tidak penting juga buat mengetahuinya.
"Kasihan sekali! Apa ibunya masih muda?" kembali bertanya merasa simpati dengan kehidupan anak kecil yang di ceritakan sang suami.
"Lumayan muda, mungkin lebih tua sedikit dari kamu."
"Kira-kira suaminya kemana ya, kak?"
Cup...
"Itu tidak penting, lebih baik sekarang kita olah raga. Lalu langsung mandi. Setelah nya kita pergi jalan-jalan. Kalau Arsya dan Salsa ada di rumah kita bawa mereka juga." Nando sudah kembali mencium bibir sang istri karena terus bertanya masalah yang menurutnya tidak penting.
Soalnya tadi Nando hanya bercerita bukan ingin mengetahui lebih banyak kehidupan orang yang sedang mereka bicarakan. Prinsipnya tidak ingin mencari sesuatu hal yang tidak penting apalagi masalah tersebut tidak ada hubungan dengan keluarga maupun sahabat mereka.
"Tapi kak---"
"Suuuiiit sudah ya! Kakak tidak suka kita membahas masalah yang tidak penting. Kakak bercerita padamu bukan karena ingin mencari tahu kehidupan mereka. Tapi karena kakak ingin kamu mengetahui apa saja yang sudah terjadi saat kakak jauh dari mu." seru Nando dengan mengubah pangilan dari aku menjadi kakak. Itu berarti dia sudah tidak mau di bantah.
"Iya maafkan aku!" ucap Sari kembali memeluk tubuh suaminya. Tempat ternyaman nya.
"Iya tidak apa-apa! Sudah ayo kita mandi bersama. Setelah itu kita pergi jalan-jalan bersama anak-anak." ajak nya duduk dari kursi yang mereka baringi lalu diapun berdiri dan mengendong tubuh Sari kembali kedalam kamar.
Kalau sudah seperti itu pasti Nando bukan hanya ingin sekedar mandi biasa. Melainkan olah raga panas seperti yang dia katakan tadi. Sari pun hanya bisa melingkarkan tangannya pada leher sang suami.
Dari balkon sampai kedalam kamar. Nando pun sudah mulai memberikan pemanasan dengan sesekali mencium bibir sang istri.
"Mau disini dulu, atau mau langsung di kamar mandi?" bertanya dengan suara berat karena menahan si Naga bergola yang sudah bangun dari tadi minta untuk segera di bebaskan dari pertapaan nya.
"Disini saja, nanti baru lanjut ke kamar mandi." ucap Sari yang juga sudah merasa ingin lebih dari sekedar ciuman.
Sesuai permintaan sang istri Nando pun langsung membaringkan Sari di atas ranjang King size tempat tidur mereka. Lalu dia mulai melucuti baju mereka berdua satu persatu sampai tidak ada yang tersisa sehelai benang pun. Baru setelahnya dia melanjutkan lagi acara pemanasan sebelum memulai acara inti.
"Aaakkh!" Sari mulai mengeluarkan suara emasnya yang sudah membuat Nando ketagihan dari awal mereka menikah sampai saat ini.
Keluarkan saja suaramu tidak akan ada yang mendengar kita" ucap Nando kembali lagi menyambar bibir istrinya. Tidak lupa dia juga memberikan Kiss Mark pada leher jenjang Sari. Sehingga membuat wanita itu seperti di setrum oleh aliran cinta.
Tidak lama setelah itu sebelum Nando menancapkan Naga Bergola pada lembah sang istri. Sari sudah mendesah nikmat saat pelepasan pertamanya sudah berhasil keluar karena jari tangan suaminya yang nakal pada intinya.
"Aaaakkkh...!
Nando tersenyum sudah berhasil membuat istrinya merasakan nikmat lebih dulu. Lalu diapun bertanya setelah Sari membuka matanya penuh permohonan. Permohonan agar Nando segera menuntaskan permainan mereka. "Mau sekarang?" tanya nya, yang juga sudah tidak tahan bila lebih lama lagi.
"Em sekarang saja! Aku sudah tidak tahan!" berkata dengan napas memburu agar segera di lanjutkan lagi.
"Baiklah kita lanjutkan sekarang." kata Nando langsung mengambil tempat dan ancang-ancang sebelum memasukan Naga bergolala nya.
"Aaaakkkh!" suara ******* keduanya setelah si Naga Bergola sudah mulai mengobrak-ngabrik di dalam sana. Apalagi setelah dia mendapatkan serangan gigitan-gigitan kecil dari lembah milik Sari.
Pasangan ini memang tidak pernah bosan melakukannya meskipun setiap hari. Tidak melakukannya di atas tempat tidur, maka mereka akan melakukannya di tempat yang menurut mereka nyaman. Termasuk di atas meja.
Andai saja Sari tidak susah hamil. Mungkin anak mereka akan melebihi jumlah anak Rian dan Ayla.
Sudah hampir satu jam Nando terus berpacu dengan kecepatan sedang. Keringat keduanya sudah mengucur meskipun sebelum mulai bertempur tadi Nando sudah menambah suhu AC di kamar mereka. Namun, rasa panasnya dari pergumulan mereka tidak cukup kalau hanya dinginnya suhu ruangan saja.
"Aaaakkkh!
Suara bas Nando terdengar memenuhi kamar pertanda perang pun sudah berakhir. Begitu pula dengan Sari telah terkulai lemas dengan rasa nikmat di bagian bawah sana yang masih menyatu dengan Naga Bergola milik suaminya.
"Aaaakh!" pria itu kembali mendesah nikmat sambil menarik Naga Bergola nya keluar dengan keadaan yang memprihatinkan.
"Kita mandi sekarang ya? Aku ingin kita jalan-jalan ke Mall sore ini." ucap Nando memberikan ciuman pada pipi istrinya yang masih terlihat lelah.