
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Saat ini mobil Lamborghini milik Rian sedang dalam perjalanan menuju kerumah orang tuanya. Besok pagi adalah weekend jadi waktunya berkumpul bersama keluarga.
"Pa kita nginapnya belapa kali?" tanya Salsa yang sedang duduk anteng bersama kakaknya di kursi belakang.
"Enggak berapa kali dex, tapi berapa hari." sahut Arsya membenarkan ucapan adiknya.
"Kan sama aja ada belapa nya." jawab Salsa yang tentunya tidak mau di salahkan.
"Kakak sudah ya, adex memang belum bisa ngomong nya. Kita akan menginap dua hari seperti biasanya. Minggu depan kita nginap di rumah nenek sama kakek lagi." Rian menengahi percakapan anaknya agar tidak ada yang bertengkar.
Sebetulnya kalau Arsya tidak akan jadi masalah bila adiknya tidak mau mengalah, karena nantinya sebagai kakak Arsya akan mengalah sendiri. Hanya saja Rian maupun Ayla tidak ingin Arsya seperti itu. Bagaimana pun dia harus bisa tegas, tidak boleh selalu mengalah karena Salsa adiknya.
"Iya pa!" bila Rian sudah menyuruh dan mengatakan sudah! Maka keduanya akan berhenti dan akan kembali bermain seperti semula.
Dua puluh menit mobil mewah tersebut sudah tiba di kediaman Erlangga. Semua orang selalu menyebutkan rumah mewah itu kediaman Erlangga. Padahal nama Erlangga adalah kakek Rian.
"Pa sepertinya ada tamu, siapa ya?" tanya Ayla begitu mobil mereka sudah berhenti di depan rumahnya. Terlihat ada satu mobil mewah tapi bukan milik Tuan Heri.
"Sepertinya iya, ma. Siapanya papa juga tidak tahu, soalnya kita tidak memberi tahu kalau mau kesini." ujar Rian membantu melepaskan sabuk pengaman pada tubuh istrinya.
Hal itu rutin dia lakukan apa bila mereka bepergian. Istrinya hanya di suruh duduk manis dan tidak boleh mengerjakan apapun walau hanya sekedar memasang sabuk pengaman saja.
"Terimakasih!" Ayla tersenyum melihat sang suami. "Tidak perlu berterima kasih. Itu memang tugas ku sebagai seorang suami." Rian malah ikut tersenyum sambil menyentuh pipi sang istri. Sebelum suara Salsa menghentikan keromantisan kedua orang tuanya.
"Papa... kita kapan turun nya?" ucap Salsa tidak sabar karena ingin segera bertemu oma dan opa nya. Memang sudah dua hari mereka tidak bertemu dengan Tuan Heri dan Mama Sonya.
"Hem... ayo kita turun sekarang. Tapi tunggu Papa membukakan pintu untuk Mama dulu ya." walaupun sesibuk apapun anaknya ingin segera di turunkan, Rian tetap akan membantu istrinya lebih dulu. Baru setelahnya membukakan pintu untuk kedua anaknya tersebut.
"Ayo sini Papa bantu!" ucap Rian mengangkat tubuh anaknya dari atas mobil karena meskipun keduanya sangat pintar naik dan turun sendiri. Sebagai orang tua yang sianga, Rian tetap tidak mengizinkan.
Begitu di turunkan Salsa langsung berlari masuk seperti biasanya. Dia akan memberitahu pada oma nya kalau mereka akan menginap. Hal tersebut menjadi kehobian Salsa semenjak dia sudah bersekolah di usia dini.
Sedangkan Arsya hanya diam sambil menunggu kedua orang tuanya lagi mengeluarkan barang yang mereka bawa.
Tiba di dalam rumah, gadis kecil itu langsung memanggil sang Oma. Tadi dia memang langsung masuk karena pintu rumah besar tersebut terbuka dengan lebar.
"Oma... Opa... adek mau nginap ini." ucapnya begitu melihat kedua pasangan baya itu duduk di kursi ruang tamu. Ada juga beberapa orang lagi yang tidak di kenali Salsa.
"Wah princess Oma! Sini sayang. Kak Arsya mana?" meskipun sudah bisa menebak kalau cucu laki-laki nya sedang bersama kedua orang tuanya. Mama Sonya tetap bertanya.
"Kakak masih di lual sama Papa dan sama mama juga." jawab Salsa menunjuk kearah luar dimana tadi dia meninggalkan Kakak beserta orang tuanya.
"Iya benar! Waktu itu kalian juga datang kan' keacara penyambutan mereka. Ini anak kembarnya yang perempuan. Sebentar lagi Kakak laki-lakinya akan masuk." Tuan Heri membelai wajah yang sangat mirip dengan putranya saat kecil.
Melihat kedua cucunya, membuat Tuan Heri dan Mama Sonya, benar-benar merasa bahagia masih bisa bersama anak dan cucunya.
"Salaman dulu ya cantik, kenalin ini teman Opa. Kalau Kakak laki-laki itu cucunya kakek sama nenek ini." tuan Heri menyuruh sang cucu menyalimi tamu nya.
"Halo Kakek! Kenali nama aku Salsa." ucap gadis itu pada kedua pasangan baya yang seumuran dengan opa nya.
"Halo juga princes! Kenalin juga nama Kakek, Fatan." sambut lelaki baya tersebut dengan gemas melihat Salsa tidak hanya lucu tapi gadis kecil yang berani.
Lalu setelah menyalimi tangan lelaki baya yang menyebut namanya Fatan. Salsa melakukan hal yang sama pada wanita yang di sampingnya dan yang terakhir pada anak kecil laki-laki yang lebih tua darinya.
"Halo Kakak kenalin nama aku Salsa." ucap Salsa kembali memperkenalkan dirinya. Meskipun belum genap berumur empat tahun Salsa dan kakaknya sangat lah cerdas.
"Hai Salsa! Kenalin juga nama Kakak Kenzo." tersenyum menyambut uluran tangan gadis kecil yang menurutnya sangat cantik.
"Selamat sore semuanya." suara Rian beserta istrinya mengalihkan perhatian mereka dari Salsa dan Kenzo.
"Sore juga! Kenapa tidak memberitahu mama dulu, Nak. Mama kira kalian kerumah nenek Mirna." sambut Mama Sonya langsung berdiri menyambut anak dan menantunya.
"Minggu depan lagi kesana nya, Ma."Ayla ikut membalas pelukan dari ibu mertuanya.
"Om... Fatan!" Rian langsung menyalimi tamu pada, karena dia memang mengenalnya. Setiap pebisnis tentunya Rian kenal dengan mereka.
Sesudah menyalimi semuanya begitupun dengan Ayla. Rian ikut duduk di samping mamanya. Kalau Ayla memilih langsung masuk kedalam menuju kamar mereka. Tapi tidak dengan si kembar mereka berdua memilih tetap di ruang tamu karena Kenzo tidak memiliki teman.
"Apa ini putranya Demian, Om?" tanya Rian memperhatikan anak yang ikut bermain dengan kedua anaknya.
"Iya benar! Demian dan istrinya sedang keluar negeri melihat perusahaan kecil yang baru di bangun olehnya beberapa tahun terakhir ini." jawab Tuan Fatan ikut memperhatikan cucunya.
"Sekarang sudah kelas berapa? saat kami masih bekerja sama, Kenzo masih TK kalau tidak salah. Soalnya Demian pernah bercerita pada Saya, dan saat itu si kembar masih berumur dua tahun." Rian mencoba mengingat-ingat sebab kajadian nya sudah lama.
"Sekarang dia sudah mau kelas dua SD. Andai saja umur mereka tidak terpaut jauh. Maka Saya akan meminta pada kalian untuk menjadikan Salsa menantu masa depan kami." ucap Tuan Fatan yang memang dari dulu ingin berbesan dengan Tuan Heri.
"Maaf, tapi Saya tidak ingin menjodohkan kedua anak Saya, Om. Saya ingin mereka memilih jodohnya masing-masing." Rian langsung menentang ucapan Tuan Fatan yang ada niat ingin menjadikan putri kecilnya sebagai menantu masa depan.
Meskipun lelaki baya tersebut hanya bercanda. Tapi Rian tidak ingin menjadi orang tua yang egois untuk kedua anaknya.
"Ha... ha... Saya hanya bercanda, Nak Rian. Lagi pula mana mungkin bisa terjadi. Kalau di hitung-hitung umur mereka terpaut hampir tujuh tahun." tertawa untuk menghilangkan rasa tidak enaknya mendengar bantahan Rian.
"Iya benar, saya juga sepemikiran dengan Anda. O'ya kalau begitu Saya permisi dulu untuk melihat anak-anak yang sedang sedang bermain." ucap Rian pergi meninggalkan begitu saja.
Entah mengapa mendengar ucapan dari Tuan Fatan membuat Rian emosi begitu mendengar nya .