Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Keluarga kecil.


🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Satu bulan kemudian.


Di kediaman keluarga kecil Rian sedang di hebohkan oleh suara tangis kedua anak kembar pasangan Rian dan Ayla. Hari ini pasangan muda itu akan pergi untuk menghadiri pesta pernikahan Nando dan Sari.


Boleh juga di sebut pernikahan Ayah, bundanya Baby Arsya dan Salsa. Itulah yang sering di ucapkan oleh Nando dan Sari bila berkunjung ke rumah mereka.


Acara mewah ini tentunya akan di adakan di salah satu hotel mewah milik keluarga Erlangga yang berada di pusat ibu kota B. Pesta pernikahan pasangan ini memang dipublikasikan jadi tidak salah bila orang-orang menyebut pesta termewah dalam beberapa tahun terakhir.


Padahal mereka tidak tau saja kalau pesta pernikahan Rian dan Ayla dulu tidak kalah mewahnya, hanya saja pernikahan itu tertutup untuk umum kecuali kerabat dari keluarga Erlangga dan keluarga Ridwan saja.


"Sayang sama papa ya biar mama mandiin adek dulu," ucap Rian membujuk Arsay yang ikutan rewel mendengar Salsa menangis. Putri Rian ini sedari bayi sampai sekarang memang lebih rewel ketimbang sang kakak.


"Pa biarin bawa kesini biar aku susui keduanya. Kalau tidak, kita bisa-bisa enggak akan jadi berangkat keacara pernikahan kakak." kata Ayla melihat anak laki-lakinya tidak mau diam.


Pasangan muda ini memang sudah sepakat masalah pangilan. Mereka berdua selalu memakai bahasa papa dan mama agar kedua buah hatinya bisa menyebut nama kedua orang tuanya juga. Tapi apabila anak-anaknya sudah tidur maka Rian selalu menyebut Ayla dengan pangilan sayang.


Wanita yang sudah membawa kebahagiaan untuk hidupnya. Tidak jarang apabila Rian pergi menghadiri acara penting pertemuan antar perusahaan besar. Para gadis-gadis anak dari rekan bisnisnya itu mencoba untuk mendapatkan simpati dengan berbagai cara. Namun, ayah dari dua anak kembar itu tidak pernah tertarik ataupun sekedar merespon. Walaupun para gadis itu terjatuh di hadapannya.


Bukanya Rian tidak memiliki sifat pri pernovelan, tapi kesetiaan pada wanita yang dicintailah membuat pria itu membagun tembok dari namanya wanita. Termasuk pada para emak-emak raeder. Jadi jangan coba-coba untuk mendekati lelaki dingin itu apabila tidak mau membeku.


Elin yang cantik saja tidak membuat Rian tertarik. Sampai saat ini Elin masih tetap bekerja menjabat sebagai sekertaris bantuan. Tapi dia juga memiliki satu teman sekertaris lainya yang sudah berumur tiga puluh tahun. Meskipun berbagai cara sudah wanita itu lakukan hasilnya tetap saja sama, Rian tidak tertarik padanya.


"Tapi mama akan susah bila memangku dua orang sekaligus." Rian membawa Baby Arsya mendekat pada mamanya.


Ayla pun tersenyum mendengar ucapan sang suami. Padahal setiap suaminya bekerja bila kedua anak itu rewel maka Ayla akan memangku kedua anaknya. "Tidak susah pa, hampir setiap hari bila papa tidak ada pasti aku memangku mereka secara bersama. Bila tidak seperti itu mana ada yang mau diam." imbuh Ayla sudah siap untuk memangku bayi satunya lagi. Benar saja setelah di pangku lalu diberi ASI keduanya langsung diam.


"Maafkan aku sayang! Tidak bisa membantu mu menjaga anak-anak kita." Rian mengecup dahi istrinya cukup lama untuk menyalurkan semua rasa bersalahnya tidak membantu sang istri mengurus kedua buah hati mereka.


"Tidak perlu minta maaf! Kita sudah pernah membahasnya kan," kata wanita itu tersenyum untuk menyakinkan suaminya kalau semuanya baik-baik saja. Mereka berdua memang sudah sepakat tidak akan mengunakan tenaga Babysister buat membantu menjaga si kembar.


Setelah si kembar diam dan sudah mulai kembali bermain. Ayla mulai memandikan anaknya satu persatu. Baru sesudahnya giliran dia dan sang suami bersiap-siap untuk berangkat.


"Apa tidak ada yang lupa?" tanya Rian setelah memasukkan semua peralatan Baby Arsya dan Salsa kedalam tas milik kedua bayi kembar itu. Rencananya malam ini mereka akan menginap di hotel tempat acaranya berlangsung karena kedua orang tua mereka juga menginap di sana.


"Sepertinya sudah pa! O'ya dasi papa belum dipakai. Tungguin anak-anak ya biar aku pilih dasinya." kata Ayla pergi ke lemari tempat khusus dasi suaminya di simpan. Tidak sampai dua menit ibu muda itu sudah kembali dengan dasi di tangannya.


Lalu menyuruh suaminya berdiri karena dia sendiri akan memakaikan dasi itu di leher Rian. "Berdirilah biar aku pakaikan." yang di turuti Rian dan sambil menarik tubuh sang istri agar menempel pada tubuhnya.


"Sayang jangan seperti ini, nanti dandanan ku berantakan lagi." seru Ayla menahan dada Rian biar tidak terlalu menekan pada dua gunung kembarnya yang sekarang ukurannya bertambah besar.


"Kenapa hm! Aku tidak rela kecantikan istriku di lihat oleh orang banyak." ungkap Rian baru mengatakan isi hatinya.


"Pa kita ini mau menghadiri acara pernikahan, bukanya pergi ke pasar sayuran." Ayla yang di cemburui gara-gara penampilannya pun menjadi tertawa.


"Iya aku tahu tapi tetap saja aku cemburu melihatnya." kata Rian melihat kearah bibir sang istri yang selalu mengodanya. Ayla yang tahu arah pandangan Rian pun langsung berkata. "Pa kita mau berangkat sekarang jangan macam-macam, nanti kita---"


Cup...


Sudah lebih dulu Rian mencium bibir nya. Meskipun Ayla mendorong dada suaminya tetap saja pangutan bibir mereka tidak lepas yang ada malah semakin dalam karena Rian menahan tungkuk istrinya sampai suara Baby Salsa menangis barulah Rian melepaskan pangutan itu.


"Eeeaak... eaaak!"


"Sayang putri kita!" Ayla mendorong tubuh Rian lalu dia mendekati box bayi kedua anaknya.


"Cup... cup... ini mama, Nak. Jangan menangis lagi ya kitakan mau menghadiri acara pernikahan Ayah Nando dan Bunda Sari. Nanti kalau kalian nakal, maka tidak boleh ikut." Ayla membujuk putri kecilnya sambil digendong. Baru setelah itu di letakan dalam kereta bayi nya.


"Maaf aku tidak bisa menahannya!" Rian sendikit menyugikan senyum bila meningkat sudah dari awal menikah dia tertarik ingin mencicipi bibir ranum sang istri. Setelah melewati waktu panjang dan bermacam-macam ujian baru dia bisa menikmatinya kapan pun dia mau.


"Sudahlah! Ayo kita berangkat sekarang nanti terlambat." selak Ayla cepat karena sampai saat ini dia tetap merasa malu bila habis bercumbu ataupun melakukan hubungan intim bersama Rian.


"Iya ayo. Kamu bawa susu untuk mereka saja, biarkan aku membawa anak-anak ke luar." ujar Rian karena semua barang lainnya sudah di masukan ke dalam mobil oleh Mbak Susi dan Bik Ida.


Lalu keluarga kecil itu berangkat juga meskipun mereka terlambat datang. Selama dalam perjalanan Baby Arsya maupun Salsa keduanya asik bermain sendiri. Memang setiap akhir pekan mereka selalu di bawa pergi menginap di rumah kakek neneknya secara bergantian. Jadi intinya Baby Arsya dan Salsa sudah biasa menaiki mobil bersama kedua orang tuanya.