Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.

Tidak Ada Cinta Dari Suamiku.
Bubur di dalam kamar mandi.


🥀🥀🥀🥀🥀


.


.


Setelah melihat menantunya tidak ada di atas ranjang tempat pasien. Bunda Mirna langsung saja berjalan kearah sofa. Untuk menyiapkan makanan yang sudah di masaknya tadi dari rumah.


Sedangkan Ayla hanya di suruh duduk oleh Bundanya itu. Dia tidak boleh membantu meskipun hanya menyiapkan piring untuk mereka sarapan.


"Semua ini apa Bunda sendiri yang memasak nya?" Ayla bertanya karna semua makanan yang tersedia adalah makanan kesukaan dia dan Rian.


"Tentu saja Bunda sendiri yang memasak nya, tadi Bunda bangun pagi-pagi sekali. Karna Bunda takut kalian kelaparan disini. Eh, tidak taunya kalian baru pada bangun." ucap Bunda Mirna tersenyum dan mengelengkan kepalanya.


Karna tadi dia sampai membangunkan suami dan anak lelakinya jam setengah enam. Agar jam enam, mereka semua sudah berada di meja makan. Jadi jam setengah tujuh, mereka sudah harus berangkat menuju ke tempat tujuan masing-masing.


Ayah Ridwan berangkat ke perusahaannya. Paro berangkat ke sekolahnya juga. Sedangkan Bunda Mirna berangkat kerumah sakit untuk menjenguk anak dan menantunya.


Begitulah keluarga yang harmonis ini membagi tugas mereka masing-masing pagi ini. Agar semuanya berjalan dengan lancar seperti biasanya.


"Maafin Ayla, ya Bun! sudah merepotkan Bunda,!" kata Ayla memeluk Bundanya yang sudah selesai menyiapkan semuanya.


"Maaf untuk apa? tentu saja tidak merepotkan! Kalian berdua anak-anak Bunda Nak!" kata Bunda Mirna membalas pelukan putri sulungnya itu.


"Tapi tetap saja Ayla minta maaf, karna sudah membuat Bunda repot pagi-pagi seperti ini."


"Siiut, sudah Bunda maafkan kamu sayang, sebelum kamu minta maaf pun. Sekarang coba kamu lihat suamimu, kenapa dia lama sekali? mana tau dia membutuhkan sesuatu." Bunda Mirna melepaskan pelukan mereka.


Ayla yang baru kembali mengingat jika Rian belum sembuh pun langsung berjalan kearah pintu kamar mandi lalu mengetok pintunya pelan.


Tok...


Tok...


"Sayang! Apa kamu membutuhkan sesuatu? kenapa lama sekali?" panggil Ayla dengan suara lembutnya.


"Iya, sayang! sebentar, aku buka dulu." sahut Rian dari dalam sana.


tidak lama, terdengarlah pintunya di buka oleh Rian.


Ceklek....


"Ya Tuhan,! ini kenapa bajunya kamu lepas? bagaimana jika kamu masuk angin, kamu ini belum sembuh sayang!" Ayla kaget melihat Rian yang sudah bertelanjang dada dengan perban di dada bidangnya itu.


"Tidak usah kaget seperti itu! nanti kamu malah ngagetin Bunda juga. Aku hanya ingin menganti pakaian pasien nya, bisa tolong siapakan pakaian ku! biar aku mengelap tubuhku sendiri pakai air hangat di sini. Rasanya aku sudah tidak betah, karna tidak mandi selama tiga hari." kata Rian yang masih berdiri di depan kamar mandi.


"Baiklah, tapi kamu diam saja dulu, tunggu aku siapkan sebentar pakaiannya, biar aku yang membantu mu mengelap pakai air hangatnya." Ayla berjalan kearah tempat lemari pakaian yang memang sudah disiapkan di sana.


Dan memang baju mereka berdua sudah ada tersimpan di dalam lemari itu, yang disiapkan oleh kedua orang tua mereka.


"Kenapa Nak?" tanya Bunda Mirna melihat Ayla sedikit terburu-buru.


"Itu Bun, Rian ingin menganti pakainya. Katanya dia sudah tidak betah memakai baju pasien. Jadi sekalian mau di lap badannya pakai air hangat." kata Ayla yang sudah menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.


"Ooh, begitu! sekalian bersihkan dirimu juga, setelah itu biar kalian sarapan bersama. Nanti makanan ini keburu dingin." kata Bunda Mirna yang hanya bisa menarik nafas panjang melihat kelakuan menantunya itu.


Karna tidak mau mematuhi perintah dokter, padahal untuk kesembuhannya diri nya sendiri.


"Oh, iya, Bunda benar! Ayla lupa, jika Ay juga belum mandi." Ayla kembali lagi menyiapkan pakaian untuk dirinya juga. Barulah setelah itu dia kembali ke kamar mandi. Setelah berpamitan kepada Bundanya lebih dulu.


"Apa kamu juga mau mandi?" Rian yang bertanya, karna di tangan Ayla ada pakaian untuk Ayla juga.


Setelah pintunya di tutup, Ayla baru ingat, jika dia ingin membantu Rian mengelap tubuhnya, itu berarti dia harus siap melihat Rian melepaskan celananya.


Tiba-tiba setelah kata membuka celana itu terlintas dalam pikirannya. Wajah Ayla langsung terasa panas. Rupanya tadi dia tidak kepikiran sampai kesitu.


"Piiiuh...! kamu kenapa tiba-tiba menjadi tegang seperti itu?" Rian meniup wajah Ayla yang sudah memerah seperti cabe keriting.


"Agh, apa? Ak...Aku, aku tidak apa-apa! hanya saja sepertinya aku tidak bisa membantumu. Karna aku ingin menyiapkan makanan yang sudah di bawa oleh Bunda tadi." jawab Ayla gugup.


Mendengar jawaban istrinya, membuat Rian menyergit sampai satu alisnya terlihat naik ke atas.


"Tapi ketika kamu mengambil pakaian tadi, aku melihat jika makanannya sudah disiapkan semuanya di atas meja." ucap Rian yang mulai ingin menjahili istrinya.


"Benarkah sudah disiapkan? aku tidak tau, mungkin Bunda yang menyiapkan nya. Jika begitu aku ingin menemui Aldi saja, entah mengapa aku sangat ingin makan bubur yang di jual di jalan arah ke rumah kita." Ayla merutuki dirinya sendiri. Karna tentu saja Rian tadi sudah melihat jika makanannya sudah di sajikan.


"Kamu ingin makan bubur yang di jual, arah kerumah kita?" ulang Rian lagi.


Ayla mengangguk dengan cepat, karna merasa jika alasannya yang ini akan berhasil.


"Baiklah, tunggu sebentar sayang! Aku akan menelpon Aldi dan menyuruhnya membeli bubur itu." tidak menunggu jawaban dari Ayla, Rian langsung saja menelpon Aldi yang berjaga di luar pintu kamar rawat inap nya.


Tuuuuut...


Begitu tersambung, Aldi langsung mengangkat nya dengan cepat.


📱 Aldi : "Iya, Tuan muda! apa Anda membutuhkan sesuatu?" tanya Aldi langsung menaruh kopi nya. Karna saat Rian menelpon, dia memang sedang minum kopi yang dibelikan oleh anak buah nya.


📲 Rian : "Aldi tolong pergi belikan bubur yang di jual di jalan arah kerumah ku. Istri dan anakku ingin sarapan bubur itu. Jangan lama, aku beri waktu lima belas menit." Rian langsung mematikan panggilannya dan menoleh kearah Ayla dengan tersenyum bangga. Karna dia sudah menyelesaikan masalah bubur yang di inginkan oleh istrinya itu.


Gleeek...


"Mati aku, ternyata sipat jahilnya tidak berubah! yang berubah hanya dia sudah mencintai ku."


Ayla menelan ludahnya sendiri, karna dia baru ingat, jika Rian pasti sudah tau jika dia hanya mencari alasan saja.


"Sudah beres sayang, sekarang ayo bantu aku." Rian duduk di bangku yang terbuat dari besi. Yang memang sudah disiapkan disana oleh pihak rumah sakit.


"Kamu kenapa lagi? apa kamu tidak mau membantu ku! jika kamu tidak bisa membantuku tidak apa-apa sayang! jangan di paksakan, karna aku tau pasti berat bagimu untuk melakukannya. Setelah apa yang sudah aku perbuat padamu. Kamu keluar saja, aku bisa melakukannya sendiri." Rian berdiri ingin menyiapkan sendiri alat yang akan di gunakan untuk mengelap tubuhnya.


Namun begitu dia berdiri, Ayla langsung mencegahnya dan berkata.


"Sayang, tidak seperti itu, aku mau membantumu! duduklah biar aku bantu." dengan gerakan cepat, Ayla sudah menyiapkan semuanya.


Sedangkan Rian tertawa di dalam hatinya. Karna dia sangat tau istrinya itu sangat berhati lembut. Setelah mendengar ucapan terakhirnya tadi, dia sudah yakin jika Ayla tidak akan menolak permintaan nya.


Dengan sangat hati-hati, Ayla mengelap tubuh bagian atas Rian, karna takut jika sampai mengenai luka Rian yang sudah di balut perban anti air juga. Agar tidak terkena air.


Namun ketika Ayla sedang mengelap bagian dekat dada Rian. Dia melihat muka Rian lebih dulu dan akhirnya pandang mata mereka pun kembali bertemu.


Deg...


Deg..


Deg...


Jantung keduanya seakan-akan ingin melompat dari tempatnya.


Sehingga tanpa sadar keduanya sudah bersilaturahmi bibir untuk ke tiga kalinya, setelah hubungan mereka membaik. Yang keduanya saat Rian meninta Ayla memanggil namanya sayang. Dan yang ketiga kalinya adalah saat ini.


BERSAMBUNG.....😂😂🏃🏃🏃