
🥀🥀🥀🥀🥀
.
.
Bruuuuk...
Nando berjongkok untuk membantu anak kecil yang menabraknya. Lalu setelah membantu anak itu dia bertanya. "Kamu siapa? Dimana orang tua mu? Maaf ya Om tidak sengaja." ucap Nando dengan lembut sama seperti saat dia berbicara dengan si kembar.
Sebelum anak kecil itu menjawab sudah terdengar suara seorang perempuan yang memangil nama anak tersebut. "Cika! mama kan sudah bilang jangan lari-lari dan diamlah di belakang." bentak si perempuan sebelum melihat muka orang yang sedang bersama anaknya, karena posisinya berada di belakang tubuh Nando.
Nando yang mendengar suara perempuan itu pun berdiri dan menoleh kebelakang tubuhnya.
Deg....
Jantung wanita itu langsung berdegup kencang setelah melihat pria yang bersama anaknya sangatlah tampan. Tapi tidak bagi Nando dia malah biasa-biasa saja dengan sorotan dinginnya.
"Apa kamu sedang berbicara dengan anak ini?" Nando bertanya karena hanya ada mereka bertiga yang ada di sana.
"Aa--aagh i--iya, Tuan! Ini putri Saya tadi dia duduk dibelakang makanya Saya tidak tahu dia berlari ke sini." jawab wanita itu dengan grogi.
"Oh! Kalau begitu maaf Saya tidak sengaja menabraknya." kata Nando berbohong karena tidak mungkin dia mengatakan kalau anak kecil itu yang menabraknya lebih dulu.
"I--iya tidak apa-apa Tuan. Anak saya juga nakal.' Cika ayo cepat minta maaf sama Om ini." masih berbicara dengan nada tinggi.
"Tidak perlu seperti itu. Namanya juga anak kecil. Tapi... apa kamu bekerja di sini?" Nando melihat wanita itu memakai seragam Restoran miliknya.
"Benar Tuan, Saya bekerja disini"
"Kenapa kamu membawanya bekerja? Sejak kapan?" Nando pun kembali bertanya. Selama ini dia memang tidak pernah tahu siapa saja para pelayan yang bekerja di seluruh Restoran miliknya.
"Saya bekerja disini dari awal Restoran nya di buka Tuan. Kalau dia baru hari ini Saya membawanya karena pengasuh yang biasa menjaga nya sedang sakit."
Mendengar penjelasan wanita itu Nando hanya menganggukan kepalanya lalu ia pun kembali bertanya. "Kamu sip sampai jam berapa?" tanyanya karena wanita itukan membawa anaknya apa mungkin sampai sip malam. Pikirnya di dalam hati.
"Saya sih hanya sampai jam empat sore Tuan. Maaf kalau boleh tahu kenapa?" merasa Nando banyak bertanya wanita itu sudah berpikiran kemana-mana. Bahkan didalam hatinya sudah menduga-duga mungkin saja pria itu akan mengajak dia pergi jalan-jalan atau sebagainya.
"Tidak ada apa-apa! Kalau begitu kamu boleh lanjutkan pekerjaan kamu. Sama... em apabila kamu membawa anakmu ini, kamu boleh pulang setengah jam sebelum waktunya." setelah mengatakan itu Nando langsung pergi dari sana menuju ke lantai atas tempat kantornya yang sedang direnovasi. Namum, sebelum itu dia sempatkan berbicara dengan gadis kecil yang menabraknya tadi.
"Kamu turuti kata mama mu ya! Tidak boleh lari-lari karena nanti bisa menabrak orang lain. Soal tadi Om juga minta maaf, yang tidak melihatmu saat berlari. Sampai berjumpa lagi," ucap Nando tersenyum kerah gadis kecil tersebut.
Tidak menunggu jawaban dari gadis kecil itu dan ibunya. Nando langsung saja pergi dari sana sedangkan wanita Ibu dari gadis kecil itu termanggu di tempatnya berdiri sebelum suara pelayan lain menyadarkan dia.
"Dewi! Kenapa kamu malah berdiri di sini? Mana senyum-senyum sendiri lagi." tegur pelayan yang baru saja datang.
"Aku baru saja melihat laki-laki tampan berjalan keatas sana. Tadi dia menabrak anak ku." bercerita sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Siapa sih yang kamu maksud? perasaan selain Tuan Nando tidak ada lagi laki-laki yang paling tampan kerja di sini. Namun, dia sangat jarang datang ke sini." merasa heran melihat kekakuan teman kerjanya.
"Hati-hati jangan sembarangan mengagumi seorang pria. Mana tahu dia suami orang. Nanti kamu dilabrak oleh istri sahnya. Sudah ayo bekerja, nanti bila ketahuan kita mengobrol di sini bisa-bisa kita dipecat." ajak teman pelayan nya yang sudah lebih dulu berjalan sambil membawa nampan di tangan kanannya.
Lalu Dewi pun melihat ke arah anaknya yang hanya diam mendengarkan pembicaraan kedua wanita dewasa tersebut.
"Cika ayo kita kembali kebelakang. Diam di sana jangan ke mana-mana. Kalau mama sibuk mencarimu seperti ini terus-menerus. Bisa-bisa mama dipecat hari ini juga. Memangnya kamu mau kita tidak memiliki pekerjaan lalu tidak bisa membelikan jajan dan juga kebutuhanmu yang lainnya." serunya membawa gadis tersebut kebelakang karena dia sendiri akan melanjutkan tugasnya melayani para tamu yang berdatangan silih berganti.
Di lantai atas Nando berjalan mengitari kantor barunya itu. tidak lama setelahnya terdengar pintu ruangan tersebut diketuk dari luar.
"Masuk!" titah Nando melihat kearah pintu.
"Ada apa?" tanyanya begitu melihat yang masuk adalah Manajer di sana.
"Begini Tuan, tadi Saya sudah mencoba menghubungi Anda beberapa kali. Namum, tidak ada jawaban. Saya hanya ingin menyampaikan bahwa hari ini pelayan yang bernama Dewi meminta izin membawa anaknya bekerja karena tempat yang biasa dia menitipkan putrinya, orang itu sedang sakit." jelas Manajer itu memberikan laporan.
Di Restoran milik Nando memang tidak ada larangan apabila ada salah satu karyawan yang membawa anak ataupun saudaranya. Selama tidak menghambat pekerjaan mereka. Tapi harus sesuai alasan tidak boleh sembarangan juga. Maka dari itu di belakang sana ada tempat bermain anak-anak seperti taman kecil.
Sengaja di buat agar bagi para pekerja yang beristirahat bisa bersantai di taman tersebut. Namun, untuk bisa di terima di sana harus lulusan terbaik tidak sembarangan juga karena gajinya setara dengan para pekerja kantoran.
Sebetulnya saat kuliah Nando memang mengambil jurusan manajemen. Hanya saja dia tidak mau mengurus perusahaan papanya dan memilih membangun beberapa Restoran mewah.
"Hm tidak apa-apa. Kamu atur saja yang penting seperti biasa. Mereka harus mengikuti peraturan disini. Sama... beri izin mereka pulang setengah jam lebih cepat dari waktunya." jawab Nando seperti sebelumnya.
Memang bila ada hal seperti ini sang Manajer selalu melaporkan kepada nya. Padahal sudah di beri wewenang untuk menerima atau memecat karyawan bila tidak mengikuti peraturan.
"Baiklah kalau begitu Saya permisi dulu untuk memeriksa para pegawai yang sedang bekerja." pamit Manejer tersebut.
"Iya silahkan! Saya juga akan pulang sekarang. Pekerjaan yang harus Saya periksa kirim saja lewat Email." kata Nando ikut meninggalkan ruangan itu.
Lalu diapun berjalan turun menuruni tangga satu-persatu. Tiba di lantai bawah dia berjalan keluar begitu saja. Tidak memperhatikan kiri-kanan karena pokus nya hanya segera pulang untuk bertemu sang istri.
Tidak tau saja dia menjadi obrolan Dewi bersama teman pelayannya tadi. "Lena dia lelaki yang aku bilang tadi." ucap Dewi menunjuk keluar. Sebagian dinding Restoran itu memang terbuat dari kaca besar. Agar pelanggan bisa bersantai melihat pemandangan yang ada di luar.
"Hei! itu bos kita. Jangan macam-macam Wi bila Nona Sari tahu bisa-bisa kamu di pecat oleh nya." kata pegawai yang bernama Lena memperingati karena sudah mengenal istri sang bos.
Lena adalah pekerja lama pindahan dari Restoran miliki Nando yang lainnya. Mana yang sudah senior memang sebagian di pindahkan agar bisa membimbing pekerja yang baru.
"Memangnya dia sudah punya istri?"
"Apa kamu tidak tahu berita pernikahan termewah beberapa tahun lalu. Nah itu adalah pernikahan Tuan Nando dan Nona Sari. Istrinya sangat cantik dan baik tidak sombong. Hanya saja sampai saat ini mereka belum memiliki keturunan." jelas Lena seraya meninggalkan meja yang mereka bersihkan tadi.
"Apa tidak memiliki keturunan? Eh Lena tunggu!" Dewi ikut menyusul temanya.
*BERSAMBUNG*....
Ini visual bbg Nando ya, mana tau dah pada lupa. Diantara kedua sahabatnya wajah bbg Nando memang lebih muda. Tapi umurnya lebih tua satu tahun.