Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 99 UJIAN DAN GODAAN


Sarah dan Raka duduk di dalam mobil, mereka belum pulang sama sekali setelah pemeriksaan kandungan Sarah di klinik dokter Yogi.


Jam 08.00 WIB tepat di depan parkiran depan De Soematra Cafe, tempat ini yang di tulis Tania saat Raka menanyakan mau bertemu di mana, hal ini berlanjut setelah Sarah tiba-tiba mengatakan,


"Temui saja dia, aku ingin kamu menemuinya."


Suatu kata ijin yang lebih tepatnya disebut sebagai permintaan berbau ujian.


Sekarang mereka berdua saling pandang dalam keremangan.


"Aku ingin kamu menemuinya..." Sarah mengulang kembali permintaannya dua jam yang lalu saat mereka berdua menikmati makan malam yang terlalu cepat di Angus House resto, tempat makan favorit Raka.


"Aku rasa bukan hal baik, seorang perempuan mengundang berbicara dan makan malam di tempat seromantis ini." Raka menyela.


"Aku tahu." Sarah menyahut cepat.


"Aku telah begitu tulus memaafkannya, tapi dia bahkan tak memandangku sama sekali. Temui lah dia, lakukan apa yang menurutmu benar." Sarah melanjutkan dengan suara bergetar.


"Tidakkah kamu mengkhawatirkan suamimu ini?"


"Apa yang ku kuatirkan dari suamiku ini, karena aku ada di sini." Sarah menunjukkan dada Raka dengan telunjuknya dan menekannya dengan manja.


"Aku ingin tahu, apa yang dia inginkan darimu dan yang terpenting jika aku biarkan dia berlarut-larut berada dalam kehidupanku, aku tidak akan pernah tenang." Sarah melingkarkan tangannya di lengan Raka dan meletakkan kepalanya di bahu sang suami.


"Jika aku tergoda dengannya? Bagaimana?" Raka bertanya dengan usil.


"Aku kenal suamiku dengan baik, dia bukan orang yang suka bermain mata. Tapi...." Sarah memandang kepada wajah suaminya itu tak berkedip dalam temaram.


"Tapi jika dia tergoda dengan orang sekelas Tania, berarti dia bukan orang yang pantas di panggil daddy oleh anakku."Tandas Sarah kemudian.


"Kamu yakin tidak ikut ke dalam?" tanya Raka lagi.


"Aku tidak terlalu memamahami semua urusan projek properti, jadi ku rasa tidak perlu aku berada di sana."Sarah meyakinkan.


"Seorang istri biasanya akan cemburu jika tahu suaminya bertemu perempuan apalagi mantan teman yang telah menghianatinya." Suara Raka terdengar sedikit ragu bahwa Sarah benar-benar menginginkan dia bertemu Tania.


"Aku cemburu?" Sarah bertanya dalam suara datar, terdengar seolah bertanya pada dirinya sendiri


"Tentu saja aku cemburu, perempuan mana sih yang tidak cemburu jika orang yang di cintainya bertemu perempuan secantik Tania. Tapi, rasa cemburuku tidak lebih besar dari rasa percayaku padamu." Sarah menjawab dengan suara tanpa sedikitpun menyiratkan kebimbangan.


"Kamu yakin, tidak takut memancing ikan yang sedang kelaparan?"Goda Raka.


"Aku bukan mengumpankan suamiku pada seorang penggoda, tapi aku tidak ingin kamu melakukan apapun yang membuatku ketakutan di belakangku.


Lakukan dalam pengetahuan dan seijin istrimu ini tapi dengan seribu persen kepercayaanku padamu."


Raka tersenyum mendengarnya, dia tahu Sarah hanya ingin memastikan bahwa dia tidak akan tergoda oleh Tania. Dan Raka tidak ingin memperpanjang perasaan cemas istrinya itu meskipun sebenarnya dia sama sekali tidak ingin melakukannya.


"Yakin kamu menunggu di sini?" Tanya Raka lagi.


"Ya, aku di mobil saja." Jawab Sarah tegas.


"Kalau aku lama?" Raka terkekeh.


"Kalau kamu lama, maka ada yang pulang naik taksi."Seloroh Sarah yang membuat Raka tertawa pada istrinya itu.


Baru kali ini seorang istri memaksa suaminya untuk bertemu dengan orang yang jelas-jelas pernah mengambil kekasihnya.


...***...


Raka memasuki sebuah ruangan dari bangunan bergaya kuno yang di sulap menjadi salah satu hotel mewah itu, di mana ruangan itu tampak sudah di atur menjadi privat room.


Di atas meja ditata sedemikian rupa makanan pembuka dalam piring-piring putih bersih, dua tangkai anggrek putih dalam vas kaca yang mewah dengan lilin besar berwarna merah kontras di tengah meja.


"Selamat malam pak..." Tania yang duduk dengan segelas anggur di tangannya segera berdiri dengan sebaris senyum yang luar biasa manis.


Gaun yang digunakan Tania semacam corset dress pendek berwarna hitam yang sangat ironik dengan kulit putih mulusnya, terlihat sangat pas dengan bentuk tubuhnya yang bagus sehingga terlihat seksi. Pada bagian pinggang bahkan terlihat transparan, sehingga lekuk tubuhnya terlukis seperti pualam yang misterius.


Penampilan Tania benar-benar akan mampu menghipnotis lelaki manapun yang menatapnya.


"Selamat malam..."


Raka tersenyum sedikit menyambut keramahan itu, segera mengambil kursi di seberang Tania sebelum gadis itu beranjak mendekatinya.


Tania duduk kembali sambil mengerling, dengan sengaja duduk tegak setengah membusung, membiarkan dada padatnya seolah ingin berontak dari balik gaun penutup dadanya itu.


"Kenapa pertemuan ini terasa seperti dinner romantic?" Raka mengernyit dahinya, menatap ke atas meja yang tertata sedemikian rupa.


"Saya sengaja mengaturnya, supaya kita menjadi lebih nyaman berbicara. Apakah bapak Raka suka?" Jawaban sekaligus pertanyaan itu terdengar serak dan manja.


Raka cuma menjawab dengan alis yang di naikkan.


"Sedikit berlebihan untuk pembicaraan bisnis." Gumam Raka.


"Akh, Kami sudah biasa menjamu klien kami dengan istimewa, apalagi dengan orang sekelas pak Raka...."


Raka menganggukkan kepalanya tanpa menyahut,


"Memanggil orang semuda dan setampan pak Raka rasanya menjadi sedikit canggung, mungkin kalau di ijinkan aku bisa memanggil dengan nama saja, supaya kita bisa lebih nyaman dan tak berjarak?" Pertanyaan itu diucapkan dengan halus tapi dengan nada berani yang sarat dengan bahasa menggoda.


Raka mengangkat kepalanya, menatap lurus pada Tania, ekspresinya begitu tenang bahkan kelihatan menjadi sedikit tertarik.


"Kamu ingin memanggilku apa?" Tantang Raka.


"Aku ingin memanggilmu Raka saja..." Nada manja seperti ini di desahkan dari bibir seksi milik Tania, jika laki-laki biasa mungkin akan sungguh tak berdaya.


"Apakah kamu ingat, jika aku sudah beristri?" tanya Raka, matanya tak berkedip memandang Tania.


"Aku tahu...bahkan aku mengenal istri anda."Sahut Tania dari seberang meja, tanpa bimbang sedikitpun.


Raka menganggukkan kepalanya, seperti sedang begitu terpesona dengan keberanian Tania.


"Kadang-kadang seorang istri menjadi membosankan, bukankah mendapati hal baru di luar rumah kadang-kadang diperlukan oleh seorang suami, tanpa perlu merusak rumahnya sendiri." Kalimat itu terdengar seperti sebuah pernyataan yang lucu saat di akhiri dengan tawa kecil Tania, memainkannya seperti sebuah lelucon.


Mulut Raka terbuka sedikit, ternganga tak percaya dengan keahlian perempuan yang mengerjapkan mata indahnya itu dari seberang meja.


"Apakah kita bisa membicarakan pada topik yang seharusnya, sebagai alasan aku berada di sini?"Tanya Raka kemudian, dia teringat kepada istrinya yang mungkin sedang duduk gelisah di jok depan mobilnya di pelataran parkir.


"Tidak perlu tergesa-gesa Raka..." Tiba-tiba Tania mengedipkan matanya dan berdiri dari tempatnya, mengambil gelas anggur di depan Raka dan mencondongkan tubuhnya ke arah Raka, sehingga wajahnya hampir berjarak sejengkal dari wajah Raka.


Raka yang tak menyangka Tania melakukan gerakan mendadak dengan refleks menundurkan badannya merapat punggung kursi, dan berucap dengan wajah jijik.


"Seorang pelacur tetaplah seorang pelacur."


(Ops!!! Apakah yang terjadi selanjutnya, apakah yang terjadi kepada Tania? tunggu UP nya yah🤭🤭🤭 Please loke, komen dan Vote nya buat Raka yaaaaa🤣🤣🤣)



...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...