
Sarah berjalan dengan langkah yang anggun dan senyum yang terkembang ramah, membungkukkan badannya pada papanya, papa mertua dan terakhir kepada ibu angkatnya, kemudian duduk di sana di bawah tatapan bu Mytha yang tak berkedip mengikuti setiap gerakannya.
"Ini adalah ibu Sarah, yang akan menggantikan saya, sebagai salah satu komisaris di Rudiath-Wijaya group."
Sarah melemparkan senyum tipis ke semua orang dengan gaya yang elegan, sambil menganggukkan kepalanya.
Semua yang hadir masih dalam balutan kebingungan yang kentara di raut wajah masing-masing kecuali papa mertuanya, Edgar dan Raka tentunya yang telah tahu skenario di balik duduknya sarah di kursi itu, mereka mengucapkan selamat datang dan selamat bergabung kepada dua orang yang baru saja menduduki kursi komisaris itu.
"Dengan ini saya, Wijaya Setiawan, mengucapkan terimakasih atas kerjasama kita dalam membangun perusahaan ini. Pengunduran diri saya, tidak di bawah tekanan siapapun. Saya hanya merasa, sudah waktunya saya pensiun. Tongkat estafet ini saya serahkan kepada putri Saya, Sarah Wijaya." Pak Wijaya membungkukkan badannya, dalam-dalam, menyembunyikan matanya yang tiba-tiba berkabut.
Tentu saja setiap perpisahan adalah sesuatu yang berat dan sulit untuk dihadapi, berpisah dari lingkungan yang beitu akrab dan pekerjaan yang sangt di cintainya itu bukanlah sesuatu yang mudah tentunya.
32 tahun bukan waktu yang singkat dalam perjuangan dan pengabdiannya membangun perusahaan mereka ini sehingga bisa merambah ke beberapa kota, perusahaan real estate dan property yang cukup disegani karena pengalaman dan profesionalisme yang tak di ragukan lagi.
Ketika dia memilih mengakhiri semua itu, tentu bukan hal yang mudah tapi, setiap orang akan bertemu titik jenuh di mana dia harus memprioritaskan kebahagiaanya, bukan lagi ambisi.
Kita mungkin bisa saja berfikir untuk terus berlari tapi akan ada waktunya kita harus berhenti. tapi, tidak semua orang yang tahu kapan benar-benar harus berhenti.
Para direktur tampak tercengang, seolah tak percaya komisaris utama ini tiba-tiba saja mengambil keputusan untuk mengundurkan diri, karena ditilik dari usianya, Pak Wijaya masih cukup mampu sepuluh bahkan sampai dua puluh tahun ke depan memegang jabatannya itu, tanpa harus segera di gantikan.
Mytha tampak sekuat tenaga berusaha menahan emosinya saat berada di ruangan meeting itu, supaya dia mampu menjaga keanggunan dan wibawanya di depan para direktur perusahaan itu.
Andai saja di ruangan itu hanya mereka bertiga, Sarah dan mantan suaminya saja, maka dia akan mencekik keduanya dengan tangannya sendiri.
Wijaya telah bermain dengan sangat cantik dalam permulaan pembalasan dendamnya yang terselubung itu, menyerahkan saham kepada Sarah sama saja dengan membuat keluarga Rudiath secara tidak langsung menguasai 70 persen saham perusahaan.
Pak Rudiath kemudian berdiri mengucapkan rasa beratnya atas pengunduran diri rekannya itu, karena Pak Wijaya memang adalah partnernya sejak awal dalam memulai perusahaan ini.
"Selamat bergabung dengan perusahaan ini secara langsung Ibu Mytha, semoga kita bisa tetap menjaga stabilitas perusahaan bersama-sama." Kalimat itu di sampaikan pak Rudiath saat mengakhiri pidatonya dalam pertemuan rapat dewan direksi yang lebih tepatnya seperti agenda pisah sambut itu.
Menjelang siang, pertemuan itu berakhir.
"Kita harus bicara!" Mytha menahan Wijaya dan Sarah di dalam ruangan itu ketika semua orang beranjak keluar untuk melanjutkan jamuan makan siang yang di sediakan di aula gedung, sebagai bentuk penghormatan pad pak Wijaya, mereka mengadakan makan bersama para karyawan di sana.
"Jangan bersikap seperti kamu tak tahu pa-apa dengan apa yang ingin aku bicarakan!" Sahut mama angkat Sarah itu dengan ketus.
Sarah memegang lengan papa angkatnya, menenangkan sang papa, seolah mengatakan tidak ada yang perlu di risaukan, Sarah ada di sampingnya.
"Sayang..." Raka urung keluar, alis naik, dengan sikap menunggu, karena ruangan itu hampir kosong, semua orang sudah keluar kecuali mereka berempat.
"Tidak apa-apa, kami hanya akan bicara sebentar." Sarah melemparkan senyum pada sang suami, dia tahu Raka selalu cemas jika dia berdekatan dengan mama angkatnya itu.
Sejenak Raka menatap istrinya itu dengan ragu sebelum kemudian dia memutuskan untuk menunggu di luar ruangan.
"Kenapa kamu begitu bodoh!" Dengan raut murka Mytha langsung mencecar pada laki-laki yang kini berdiri dengan kaku di depannya itu.
"Kamu benar-benar bodoh, menyerahkan sisa saham pada anak haram ini yang bahkan bukan anakmu sendiri."Mata Mytha nyalang seperti serigala lapar, telunjuknya terarah kepada Sarah yang berdiri di samping papa angkatnya itu.
Wijaya berangsur maju, lalu dengan tatapan sedingin es dia menangkap tangan mantan istrinya itu.
"Turunkan tanganmu! Jangan pernah mengatakan bahwa Sarah adalah anak haram! Dia adalah putriku! Seharusnya telunjukmu itu kamu arahkan pada wajahmu sendiri. Karena bahkan anak haram sekalipun jauh lebih terhormat dari perempuan j@lang!"
Lalu dengan sikap kasar, Wijaya menghempaskan tangan Mytha.
Yuuuuuk....di VOTE yaaaa, yang belum VOTE☺️ LIKE dan KOMEN positifnya, berikan kemari...dukungan semuanya adalah penyemangat othor untuk memberikan double UP hari ini🥰)
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...😊...