Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 224 KU TITIPKAN DIA PADAMU


"Apakah kamu mencintai istriku?"


Pertanyaan itu tidak keras tapi terdengar begitu dalam.


Doddy Alfajri terkesiap, mulutnya terkatup, lidahnya terasa kelu.


"Aku tak percaya jika kamu memperdulikan kehidupan Diah tanpa alasan. Kamu tak bisa berbohong lagi, kalau kamu menyimpan perasaan kepada Diah." Lanjut Bram setengah mencibir, merasa menang saat melihat Bram gugup ketika dia melancarkan pertanyaan tersebut.


"Ya...aku mencintai Diah." Kata-kata itu berirama memecah sunyi, begitu tegas tanpa ragu.


Jawaban Doddy sungguh diluar perkiraan Bram, dia mengira laki-laki ini berkelit dengan seribu macam alasan tapi sekarang dia terpesona sendiri dalam rasa terkejut mendengar kalimat yang keluar dari bibir Doddy.


"Aku mencintai Diah, jauh sebelum kamu mengenalnya dan menikahinya. Aku mencintai Diah bahkan...bahkan Diah sendiripun tak pernah tahu jika aku jatuh cinta padanya." Ucapan itu terdengar terbata tapi penuh keyakinan.


Mulut Bram melongo mendengar pengakuan Doddy itu.


"Aku sangat tahu diri dengan status Diah, karena itu aku tak pernah mencoba mengungkapkan apapun padanya meskipun banyak celah untuk mencurangi hubungan kalian yang sedang retak." Doddy menghela nafasnya seolah menikmati sesaat raut wajah terpana Bram.


"Aku mengatakan ini bukan karena aku ingin menjadi orang ketiga atau keempat di dalam rumah tangga kalian. Aku hanya ingin anda mempertimbangkan untuk memperbaiki hubungan kalian jika anda masih memiliki sedikit perasaan. Aku tahu benar, siapa yang di cintainya sejak dulu. Bersikap tegaslah, jangan menjadi pria pengecut. Kembali dan meninggalkan perempuan yang menjadi hama dalam rumah tangga kalian atau lepaskan Diah." kata-kata itu meluncur tegas di ucapkan oleh Doddy.


Rahang Bram yang sempat mengeras itu seketika kaku, perasaannya campur aduk antara marah, kesal, cemburu bahkan menyesal. Dia tak tahu bagaimana cara melampiaskannya, hanya diam seperti arca tanpa kata.


"Aku tahu, sebentar lagi kalian akan menghadapi sidang cerai, belum terlambat untuk memperbaiki keadaan. Minta maaflah pada Diah, aku tahu dia pasti memaafkanmu karena dia sangat mencintaimu. Meskipun aku mencintainya, aku selalu berharap dia bahagia, tak harus itu denganku. Jika dia bahagia denganmu, tak masalah bagiku. Aku lebih suka melihatnya memilihmu dan bahagia meski hanya cukup dengan sekedar tahu saja." Doddy menghembuskan nafasnya dengan berat, dia tak ingin lagi memperpanjang pembicaraan itu. Sebagai laki-laki dia sudah cukup menurunkan harga dirinya dengan begitu banyak permintaan bahkan pengakuan yang mungkin tabu di lakukan laki-laki lain di depan seteru cintanya.


Tapi Doddy memilih, memohon untuk kebahagiaan perempuan yang di cintainya pada suami Diah sendiri, suami yang tak pernah menghargai Diah seujung kuku pun.


Terlalu sakit bagi Doddy untuk berdiam diri, melihat bagaimana Diah berkubang sendiri dalam deritanya, tanpa berani mengatakan apapun.


Doddy hanya ingin Bram tahu dan menyadari, Diah bukan seonggok batu, Diah begitu berharga di matanya.


"Sekarang, aku harap anda mengerti maksudku, tidak perlu memata-mataiku lagi dan tidak perlu mencurigai istrimu yang setia itu.


Aku telah datang sendiri menjelaskannya padamu, tidak usah berusaha mempermalukan Diah lagi. Dia cukup malu dengan kehidupannya. Perempuan yang tahu suaminya menyimpan perempuan lain, dia kehilangan separuh dari kepercayaan dirinya, tidak mudah hidup dengan mempertanyakan kehormatan dirinya sendiri. Aku harap cintai istrimu, sebelum orang lain mencintainya karena kekhilafan anda sendiri." Doddy beranjak dari kursi kayu yang kini di dudukinya. Bersiap akan pergi, bersamaan dengan lampu cafe itu dinyalakan terang benderang melawan cahaya temaram senja yang segera menyapa.


Doddy akan berbalik pergi, ketika Bram berdiri juga,


"Apakah kamu benar-benar mencintai Diah?" Tanya Bram dengan bibir gemetar, jemari-jemarinya terkepal, seakan menekan perasaan yang membuncah berusaha naik ke permukaan.


Doddy terpana, urung untuk pergi. Mereka berdua saling berhadapan, dengan hidung sejajar sama tinggi.


"Aku tak perlu mengatakannya lagi." Doddy menjawab datar, dia bersiap menerima apapun yang akan di mentahkan padanya, entah sumpah serapah bahkan bogem di wajahnya akibat kelancangannya mengakui perasaannya mencintai perempuan yang masih terikat hubungan pernikahan dengan laki-laki lain.


"Aku...aku akan melepaskannya."


Kalimat terbata-bata itu begitu perlahan, keluar dari tenggorokan seorang laki-laki tinggi besar yang egois bahkan cenderung kejam memperlakukan istrinya.


Doddy terpaku berhadapan dengan Bram seolah tak yakin dengan apa yang di tangkap oleh telinganya.


"Aku sadar, aku telah membuat kesalahan yang besar, tapi aku tak bisa mengembalikan banyak air mata dan kesakitan yang aku torehkan pada Diah. Kembali padanyapun tal akan bisa membuat Diah kembali seperti dulu lagi." Bram berucap perlahan, mata kuyu itu seperti gelas berembun. Tak ada lagi sikap kerasnya, tak lagi egonya merajai raut keningnya.


"Aku yang bersalah, mengapa aku harus berusaha memperbaiki keramik yang telah retak, tak akan bisa kembali seperti sedia kala. Mungkin waktunya, aku melepaskan Diah, saat aku tahu ada orang lain yang bisa memperlakukannya jauh lebih baik dariku." Badan Bram gemetar, tangannya terkepal bahkan kuku jarinya melukai telapak tangannya sendiri.


Betapa hebatnya Bram berusaha melawan ego yang sedang berkecamuk di hatinya, dia telah sampai pada titik kesadaran, bahwa sakit yang di derita Diah tak cukup hanya di berikan permohonan maaf.


"Aku mungkin terlambat menyadari, tapi memaksakan diri setelah begitu banyak menyakitinya tak membuat Diah lebih baik. Tiga hari lagi, aku akan menghadapi sidang cerai itu, dan aku tak akan membela diriku untuk apapun yang bisa mempersulit dirinya lepas dariku. Aku ikhlas membebaskannya, terlepas dari apapun yang nanti bersamanya setelah ini." Suara Bram begitu parau dalam keletihan jiwa akibat terlalu jauh tersesat, ketika dia menoleh, jembatan untuknya kembali telah retak bahkan nyaris putus.


"Aku sedih dan juga senang, aku marah dan juga lega, ketika mendengar kamu mencintai Diah dengan begitu besarnya. Semua tetap adalah salahku, karena terlalu memanjakan egoku. Kini Diah tak ingin lagi bersamaku, tak ada yang salah dengan itu...aku hanya terlambat menyadarinya." Nafas Bram sesaat tersengal, menantang mata Doddy yang tak berkedip kepada Bram, dia nyaris tak percaya dengan perubahan sikap Bram yang bertolak 180 derajat dari yang diketahuinya.


"Diah mencintaimu..." Suara itu seperti tercekat di tenggorokan Doddy.


Perlahan tangannya menyusup di balik sakunya, selembar uang merah diletakkan di atas meja bersebelahan dengan cangkir kopinya lalu dengan perlahan dia menggeser badannya.


"Kuharap Diah menemukan kebahagiaan dengan orang yang tulus mencintainya..."


Bram melangkah pergi meninggalkan cafe itu, meninggalkan Doddy yang hampir tak bisa membuka mulutnya karena terasa kaku dan membeku


Malam menjelang mengganti siang, di luar lampu jalan mulai menyala, lampu-lampu mobil menyorot mata Bram yang perih silih berganti, senja telah menjadi benar-benar gelap.


Dengan langkah tegap, Bram berjalan di hantar lagu yang diputar dari cafe kecil yang ditinggalkannya,


Ini salahku


Terlalu memikirkan egoku


Tak mampu buatmu bersanding nyaman denganku


Hingga kau pergi tinggalkan aku


Terlambat sudah


Kini kau t'lah menemukan dia


Seseorang yang mampu membuatmu bahagia


Ku ikhlas kau bersanding dengannya


Aku titipkan dia


Lanjutkan perjuanganku 'tuknya


Bahagiakan dia, kau sayangi dia


Seperti ku menyayanginya


'Kan kuikhlaskan dia


Tak pantas ku bersanding dengannya


'Kan kuterima dengan lapang dada


Aku bukan jodohnya


Bait-bait lagu Tri Suaka dalam cover lagu itu tak bisa menahan sudut mata Bram yang basah.


Langkah Bram semakin panjang, meninggalkan sejuta penyesalan di belakang punggungnya.



(Yeayyyy... akak sudah crazy UP lagi hari ini, semakin mendekati tamat rasanya othor makin gugup eh😁


Karma Bram tak hanya penyesalan tetapi lebih dari itu, Tuhan mungkin menghukumnya di akhirat tapi di dunia ada pembalasan yang di sebut karma. Jangan menyakiti orang apalagi yang tulus mencintai kita, karena karmanya juga akan terasa dahsyat sebagai depe dosa kita di dunia✌️😂


Di part berikutnya Bram akan mengalami shock yang tak terlupakannya seumur hidup. Apa itu? Ikuti kisah ini selanjutnya ya...)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya....