Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EKSTRA PART - MEMASTIKANMU BAIK-BAIK SAJA



Flashback setahun setelah perceraian Bram dan Diah.


Diah melirik jam tangan di pergelangan tangannya.


16.15 WIB.


Dia harus menjemput Bella dari rumah neneknya 45 menit lagi.


Pak Ardie, sopir bosnya bu Sarah sudah berdiri di lobby, menunggu. Sarah selalu menginstruksikan pak Ardie untuk mengantar Diah sebelum dia pulang.


Diah menempati apartemen Sarah dengan Bella, Sarah mengijinkannya tinggal di sana supaya tidak mengontrak, dengan begitu Diah merasa terbantu sekali. Sekarang dia sedang menabung untuk membeli sebuah rumah untuk mereka berdua Bella, tak perlu besar, tali rumah sederhana saja.


Sebenarnya Sarah sudah merencanakan memberikan satu mobil khusus dari kantor untuk menunjang mobilitas Diah, tapi Diah masih belum bisa menyetir, jadi Sarah memintanya untuk ikut kursus menyetir, sayangnya Diah masih belum mempunyai waktu untuk itu.


"Pak Ardie, aku akan pulang sendiri dengan taksi. Karena hari ini aku mampir ke rumah orangtuaku." Tolak Diah.


Pak Ardie hanya menganggukkan kepala, kemudian pamit pulang lebih dulu.


Diah melangkahkan kaki kekuar dari lobby ketika handphonenya berbunyi.


Doddy Alfajry memanggil...


Diah tercengang sesaat. Hampir 10 bulan mereka tak pernah bertemu lagi setelah terakhir kali pertemuan di kantor ini, Doddy mengantarkan beberapa dokumen, pasca meninggalnya ibu Mytha.


Mereka hanya bertemu sesaat di cafe seberang jalan itu karena undangan dari Doddy lewat pesan Whatsup.


"Ada apa?" Tanya Diah, sedikit tidak nyaman dengan sikap Doddy yang tiba-tiba serius waktu itu.


"Ada yang ingin ku tanyakan padamu."


"Apa?"


"Apakah kamu baik-baik saja?" Pertanyaan Doddy terdengar begitu aneh di telinga Diah.


"Kenapa kamu bertanya begitu?"


"Maksudku, setelah perceraianmu, apakah kamu baik-baik saja?"


Doody bukan orang yang banyak bicara, dia tidak berbelit-belit saat ingin mengatakan sesuatu.


Mata Diah membulat berusaha mencerna maksud dan arah pembicaraan Doddy.



"Aku hanya sedikit mengkhawatirkanmu, karena hampir sebulan ini rasanya tidak mendengar kabar apapun darimu." Sahut Doddy, sambil memegang gagang cangkir kopi di tangannya.


"Oh, aku baik-baik saja. Semua baik-baik saja, terimakasih sudah mencemaskanku." Wajah Diah bersemburat merona, Doddy membuatnya tersipu.


"Jika kamu baik-baik saja, rasanya aku lega. Aku harap kamu segera pulih dengan cepat dari semua keadaan ini. Tentu tidak mudah untuk bangkit dari semuanya. Sebagai seorang yang mengenalmu, aku hanya ingin memastikanmu baik-baik saja." Doddy menyeruput kopinya hampir tak bersuara.


Diah tertunduk, dia tak tahu apa maksud pertemuan itu. Pertemuan pertamanya dengan seorang laki-laki pasca perceraiannya dengan Bram.


Bohong kalau dia tidak sedih dan merasa patah setelah perceraiannya dengan sang suami, sebagai perempuan dan sebagai seorang ibu dia merasa gagal mempertahankan rumah tangganya. Tetapi, di atas semua rasa sakit itu, dia telah menyelamatkan hidup dan harga dirinya.


"Setelah ini kita mungkin lama tak bertemu, aku harap kamu segera pulih dengan baik. Dengan begitu, kamu tidak menyia-nyiakan pengorbanan yang telah kamu lakukan. Jangan pernah mengulang hal yang sama, jangan pernah mempercayai orang melebihi dirimu mempercayai dirimu sendiri...dan...berikan cintamu pada orang yang tepat."


Itulah kata-kata terakhir dari Doddy sebelum kemudian laki-laki itu seolah menghilang di telan bumi, bahkan mengirim pesan sekalipun dia tak pernah melakukannya.


Sebagai perempuan Diah merasa tak pantas bertanya, apa kabar Doddy, di mana dia dan bagaimana keadaannya meskipun sejujurnya kadang-kadang Diah merasa rindu pada laki-laki itu.


Ketika dia memikirkan oranglain yang memperhatikannya dengan baik, maka wajah Doddy akan bermain di kepalanya.


Diah tahu diri, dia bukan siapa-siapa kecuali teman dari masalalu Doddy , lelaki sukses yang tak pernah di lihatnya pada saat mereka berada di masa remaja.


Dan setelah perceraiannya dengan Bram, Diah semakin menutup diri, dia tak ingin melakukan kesalahan yang sama dengan menyerahkan hati pada sembarang orang, apa lagi statusnya sebagai janda dengan anak dari perkawinan pertama membuatnya semakin berusaha menempatkan diri pada tempat yang benar.


Belajar dari kegagalan itu penting, karena jika dia tidak belajar maka dia mungkin sedang menjebak dirinya sendiri dalam kegagalan berikutnya.


Handphone di tangan Diah berbunyi lagi. Masih panggilan dari Doddy.


"Hallo..." Diah menyambutnya dengan bibir bergetar.


"Hallo, Diah..." Terdengar suara yang hangat di seberang.


Dada Diah berdegup aneh, lebih kencang dari biasanya. Diah tak bisa bohong jika dia merindukan suara itu, setelah sekian lama. Bibir Diah terbuka dengan gemetar,


"Dari mana saja kamu? Kenapa baru menelponku sekarang? Apa kamu tidak tahu, aku kadang-kadang suka merindukanmu?"



(Opsss....jangan lupa tetap bersama ekstrapart ini ya...ada kisah cinta yang manis antara dua orang ini, dan bagaimana perjuangan mereka meyakinkan orang sekeliling mereka bahwa mereka saling mencintai dalam status yang berbedašŸ˜‚)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othoršŸ¤— i love you fullā¤ļø...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...