
Raka muncul dengan senyum termanisnya di pintu ruangan kerja Sarah.
"Sayang, sudah siap?" Tegurnya sambil menaikkan alis, melihat Sarah masih sibuk dengan sket-sket desain baju yang berhamburan di atas meja kerjanya.
"Sayang, Kamu sudah datang? Coba tadi telpon dulu, biar aku siap-siap." Sarah melihat ke arah Raka, bingung melihat suaminya itu sudah berganti kostum, dengan baju santai.
Tubuh sempurna Raka sudah terbalut polo shirt yang dipadukan dengan celana jeans berwarna gelap.
"Aku mau menggrebek istriku." Raka terkekeh sambil melangkah masuk.
"Grebek apaan?" Sarah menunjukkan wajah masamnya.
"Kamu sempat pulang?" Tanya Sarah kemudian sambil merapikan kertas Sket di atas meja.
"Kan ada Dea, sayang. Tadi ku suruh pulang mengambilkan bajuku dari apartemen, meetingnya sudah selesai jam 10 tadi. Asisten memang kodratnya dibikin sibuk sama bosnya." Raka terkekeh sambil menghempaskan diri di atas sofa tamu ruang kerja Sarah.
"Kasian lho, Dea...tiap hari mengurus urusanmu sampai lupa jodoh."
"Soal jodoh Dea bukan salahku sayang, dia dulu pacaran dengan komikus, minta kawin eh di tinggal. Mumpung dia jomblo kita bikin sibuk saja, bolak balik kayak setrikaan..." Raka tertawa dengan wajah tanpa dosa.
Dea, asisten Raka sudah hampir 3 tahun bekerja untuknya. Asal pertemuan mereka, si gadis ini adalah mahasiswi tingkat akhir program studi administrasi perkantoran yang mengajukan permohonan magang di kantor perusahaan untuk penelitian skripsi. Karena Raka baru saja pulang dari Jerman, gadis manis periang itu banyak membantu Raka dalam mengatur jadwalnya dan akhirnya karena klik dengan Dea yang cepat akrab dengan semua keluarga Rudiat, Raka mengambil Dea sebagai asisten pribadinya.
Dea sudah seperti bagian dari keluarga Rudiat.
"Sebagai bos, jodohkan dengan teman-temanmu yang belum nikah, kan banyak stoknya?"
"Teman-temanku kebanyakan playboy, sayang. Suka macarin, malas nikahin."
Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar seloroh sang suami.
"Untung suamimu ini bukan salah satu spesies mereka. Jadi tidak usah menatapku melotot begitu. Cintaku ini milik nyonya Sarah." Raka tersenyum menggoda kepada Sarah.
"Kita mau bertemu siapa?" Sarah memeluk leher Raka yang bersandar di kursi dari belakang.
Sebuah kecupan mendarat di pipi Raka, dengan gemas Raka menarik wajah Sarah, sempat-sempatnya mencium bibir sang istri.
Raka selalu seperti kecanduan saat melihat bibir basah sang istri, rasanya tak tahan untuk melewatkan sebuah ciuman.
Dulu, bahkan sebelum peresmian cinta di Leiden, Raka tidak pernah begitu penasaran dengan bibir Sarah itu semanis apa
Tetapi, setelah dia mencicipinya, ternyata bibir itu benar-benar memabukkan.
"Eh, sebentar lagi kamu akan tahu."Raka masih menyasar dengan sedikit bernafs*.
"Sayang, kita tidak harus bercumbu di ruang kantorku, kan?" Sarah mendelik.
Raka menghembuskan nafasnya dengan berat, saat Sarah melepaskan diri darinya.
"Sekali-kali itu patut di coba." Sebuah kedipan nakal, membuat Sarah melotot.
"Semua hal selalu mau di coba." Sarah menelengkan kepalanya sambil membalikkan badannya, membiarkan Raka meletakkan lengan dan dagunya di sandaran kursi sambil memandangnya dengan raut penasaran.
"Mencoba segala sesuatu dengan istri sendiri, sah-sah saja. Asal jangan dengan istri orang lain. Yang penting kita berdua sepakat melakukannya." Raka membela diri dengan pias jenaka.
"Kita tidak sepakat!" Sarah pura-pura mencibir, membuat Raka benar-benar gemas melihatnya.
"Sebenarnya kita mau ketemu siapa, sih?"
"Perempuan pastinya." Raka berdiri sambil menggedikkan bahunya.
"Ketemu mantan pacarmu?" Tebak Sarah asal sambil beranjak mengambil tas tangannya.
"Kamu mau ketemu mantan-mantan pacarku?" Raka mengalungkan lengannya di leher Sarah sambil berjalan mengiring langkah istrinya itu menuju pintu.
"Memangnya pacarmu banyak?" Sarah berbalik, sekarang wajahnya benar-benar masam.
"Aku lupa, berapa ya? Banyaklah pokoknya." Raka nyengir. Dia tentu saja hanya bercanda, semua orang tahu pacar Raka cuma Sally dari dia masih SMA.
Sebuah cubitan segera menembus kaos baju Raka, sampai dikulit perutnya yang nyaris tanpa lemak itu.
"Ayo, cepat! Kita lihat seberapa cantik mantanmu yang mau kita temui itu." Sarah berjalan mendahului keluar dari pintu dengan muka cemberut. Raka tertawa senang, rasa rindunya pada sang istri terobati melihat wajah kesal yang selalu disukainya itu, meskipun tentu saja jika Sarah tersenyum adalah pemandangan yang paling indah di matanya.
...***...
Raka adalah penggemar steak sejati, tentu saja menu di sini sangat cocok di lidahnya.
"Aku mau memberikanmu sebuah hadiah, sayang. Tapi, kamu harus merancangnya sendiri, karena itu adalah tempat di mana kita akan menghabiskan hidup kita sampai menua. Tempat kita membesarkan anak-anak kita."
Akhirnya Raka membuka mulut tentang kejutannya.
"Maksudmu?"Sarah menoleh pada Raka yang tampak begitu senang di depan setiran.
"Kita akan bertemu orang dari jasa desain rumah. Aku ingin menghadiahkanmu sebuah rumah."
"Rumah?" Sarah terbengong-bengong, tak menyangka sang suami ingin menghadiahkannya sebuah rumah.
"Tentu saja kita perlu rumah, masa saat baby kita sudah lahir, dia kita bawa bolak-balik dari apartemenmu ke apartemenku setiap hari." Raka memicingkan matanya, dengan ekspresi bahagia membayangkan tinggal di sebuah rumah bersama sang istri yang sangat di cintainya.
"Sayang, terimakasih...."Sarah memeluk Raka dengan raut sangat bahagia. Sekarang dia akan merasa benar-benar akan jadi nyonya di rumahnya sendiri.
"Kamu boleh memilih beberapa lokasi, desain sesuai seleramu, interiornya semua kamu yang atur, aku siap membangunkan istana untukmu, ratuku." Raka nencium dahi sang istri, begitu puas telah membuat mata sang istri menjadi berkaca-kaca.
"Kamu sudah bilang mama?" Sarah mengernyit dahi, mrngingat mama yang begitu bersemangat membujuk mereka untuk tinggal di rumah mereka.
"Mama akan mengerti, jika seorang anak ingin belajar untuk hidup mandiri. Semua anak suatu saat akan berpisah tempat tinggal dari orangtuanya untuk membangun hidupnya, tapi sebagai anak, kita tidak akan berhenti untuk tetap memperhatikan mereka."Raka berucap bijak.
"Dan lagi, rumah itu masih lama akan bisa kita tinggali. Kamu harus merancangnya sejengkal demi sejengkal." Raka terkekeh.
"Kamu percaya pada pilihanku?"
"Semua yang dipilihkan oleh istriku, pastilah yang terbaik."
Sarah mendaratkan ciuman bertubi-tubi di pipi Raka, betapa bahagianya memiliki suami yang sepengertian Raka.
"Ayo, kita keluar dari mobil. Kamu lihat juru parkir itu melototi kita." Raka berbisik, membuat Sarah segera menarik pelukannya dengan wajah tersipu.
Seorang pelayan menyambut mereka di pintu resto, Raka mengatakan sesuatu dan mereka diantarkan segera menuju sebuah meja, di mana ada seorang perempuan dengan pakaian blazer dan rok span pendek menunggu.
"Selamat siang, pak." Perempuan yang cukup cantik jika dilihat ini, berdiri dari duduknya. Menyalami Raka.
"Saya Tania, pak. Bagian marketing dari Home arch." Perempuan yang sebaya Sarah itu menyalami Raka dengan sikap sedikit genit.
"Oh, Ibu Tania, ya? Tadi pagi saya sudah menghubungi pak Agra dan sudah mengatakan jika anda yang akan bertemu dengan saya karena mungkin datang terlambat setelah survey lokasi." Raka menyalami dengan senyum elegan.
"Kenalkan ini, istri saya, Sarah." Raka mengalungkan tangannya di pinggang Sarah dengan mesra.
Tania tercengang ketika dia benar-benar berhadapan dengan Sarah. Dia seolah melihat hantu.
Sarah menatapnya tak kalah terkejut,
"Tania?"
"Sarah?"
Dua orang itu terpana di tempatnya masing-masing.
Seketika kenangan-kenangan pahit berlompatan di kepala Sarah, ini adalah Tania, teman dekatnya di waktu kuliah. Dialah sahabatnya dulu, tempatnya bercerita semua kesedihan dan kebahagiaannya.
Dialah orang yang juga mengkhianatinya dengan mengambil kekasihnya. Pertemuan yang tidak di sangka.
"Kalian saling mengenal?"
(Ayo...siapa yang pernah merasa ditikung sahabat sendiri, kalau ketemu begini, sebaiknya diapain?🤭)
*Terimakaih untuk vote, komen, likenya untuk para readers semua tak terkecuali silent reader tersayang, meskipun kalian diam tapi cintaku tetap sekebon untuk kalian, sekali-kali nongol dong biar kita bisa berkenalan😂*
Bahagia bisa menemani kalian berbagi cerita manis. Jangan lupa tinggalkan jejak dukungan, karena novel ini tanpa kalian bagaikan sayur tanpa garam😆 Love you semua*
ini Sarah, ya bukan foto author...😆
Tapi senyum author pastinya selebar senyum Sarah ini untuk para readers☺️☺️☺️