
Sarah menatap Tania bukan hanya dengan tatapan sekedar dingin tapi sorotnya benar-benar menusuk.
Dengan langkah lebar, tapi begitu tenang meskipun dadanya bergemuruh dalam amarah yang hampir tak lagi bisa di bendungnya, dia maju ke depan.
Tanpa menoleh di melewati Raka yang tercengang menatapnya, dia terpaku pada sosok Tania yang berdiri di belakang Raka dengan sebelah tangannya berpegangan erat di punggung sebuah kursi.
"PLAK!!" Sebuah tamparan di pipi Tania, tanpa di duga-duga dilayangkan oleh Sarah.
Disambut suara Tania yang terpekik sambil memegang pipinya.
"Dia suamiku. Tidak ada yang boleh nenyentuhnya dengan kurang ajar. " Ucap Sarah dengan suara begitu dingin.
"PLAK!!!" Sebuah tamparan yang lebih keras mendera pipi Tania yang lain, membuat gadis itu terjengkang ke belakang, untung tertahan oleh meja makan, meskipun membuat suara yang ramai karena beberapa perabotan di atasnya bergeser.
Tania terpekik untuk kedua kalinya. Kali ini tamparan itu lebih keras, membuat sebagian wajah Tania merah nyaris membiru, dengan lima jari yang terlukis samar di pipinya.
"Dan Ini untuk peringatan bagimu, bahwa aku tak akan tinggal diam lagi untuk orang yang menganggu hidupku." Lanjutnya, benar-benar tanpa ekspresi.
Raka ternganga di tempatnya berdiri, melihat bagaimana perempuan yang begitu sabar dan hampir tak pernah sekalipun melawan ataupun menunjukkan amarah itu meluapkan perasaannya.
"Tania, mulai hari ini aku tidak mengenalmu lagi, tamparan itu tadi menutup segala kenangan pertemanan bahkan permusuhan kita. Aku dan kamu, bahkan jika berjumpa di lain waktu, kita adalah dua orang asing." Sarah menatap Tania, dengan hati yang marah sekaligus sedih, bercampur aduk.
Tania yang berusaha berdiri tegak, dengan tangan memegang wajahnya, terbelalak pada Sarah. Dia tak percaya seorang Sarah yang setahunya lebih suka pasrah daripada ribut itu bersikap demikian kasar dan berani.
"Apa yang kamu lakukan Sarah?!" Tania meringis sambil bersuara setengah membentak, matanya memerah seperti orang yang hendak menangis.
"Seharusnya aku yang bertanya apa yang kamu lakukan? Berhentilah menjadi perusak hidup orang lain. Tak akan ada yang menghargaimu dengan benar jika kamu sendiri memberi label murahan pada dirimu sendiri." Suara Sarah terdengar datar dan penuh kasihan. Rautnya tidak menunjukkan emosi yang belebihan. Sarah membalikkan badannya, mengayunkan langkahnya kepada Raka yang masih terpesona dengan tindakan istrinya itu.
"Sayang, ayo kita pulang..." Di gandengnya tangan Raka dengan mesra, seulas senyum muncul di bibirnya.
Lalu menarik suaminya itu untuk segera pergi.
Ketika sampai di depan pintu Sarah tiba-tiba berhenti, menoleh sesaat kepada Tania yang menatap punggung mereka dengan badan gemetar menahan semua rasa malu, amarah kesal dan tak berdaya.
"Oh, iya..." Suara Sarah terdengar ringan tanpa beban.
"Aku ingin kamu tahu, aku juga sudah benar-benar memaafkanmu untuk sikap rendahmu hari ini. Karena menyimpan dendam pada orang bodoh yang suka mengulang kesalahan berkali-kali adalah hal yang tak berguna." Sarah tersenyum sinis.
"Belatung akan selalu hidup dengan mengerat bangkai dan sisa. Lalat hanya memakan sampah. Pilihlah dengan benar korbanmu, karena jika kamu memilih barang bagus, maka nasibmu akan sama seperti hari ini!" Suara Sarah begitu lugas dan datar tapi membuat Tania benar-benar tertampar seribu kali.
Dan di detik berikut, Sarah dan Raka menghilang di balik pintu, meninggalkan Tania yang terdiam tak bergerak seperti patung lilin. Dia tidak pernah merasa hidupnya begitu memalukan dan menyedihkan seperti hari ini.
...***...
Raka menoleh pada Sarah yang duduk dengan tenang di sampingnya, dengan perlahan membawa mobil mereka keluar dari pekarangan restoran besar itu.
"Sayang, kamu baik-baik saja?" Tanya Raka sedikit cemas, mengingat apa yang barusan terjadi.
Sarah memalingkan wajahnya pada Raka, lampu jalanan menerpa wajah cantiknya yang terlihat tersenyum tipis.
"Memangnya, apa aku terlihat tidak baik-baik saja?" Sarah menunjuk wajahnya dengan telunjuknya.
"Kenapa kamu tiba-tiba masuk? katanya menunggu di mobil?"
"Aku berubah fikiran."Sahut Sarah santai.
"Kok, bisa?" Raka mengernyitkan keningnya.
"Kelamaan." Jawab Sarah pendek.
Raka terkekeh melihat wajah Sarah yang cemberut.
"Kalau tidak karena feelingku, mungkin saja kamu tidak lepas-lepas dari pelukan si ulat keket itu." Lanjut Tania, di sambut derai tawa Raka.
"Kucing dikasih ikan asin ke mulutnya langsung, jarang menolak, lho." Sarah manyun.
"Sayang, aku spesies kucing yang tidak doyan ikan asin, aku kan alergi seafood." Raka tergelak, segera sebuah pukulan mendarat di bahunya.
"Kamu beneran marah aku di goda Tania?"Tanya Raka Usil.
"Ya, iyalah...! Memang istri mana yang suka suaminya digoda begitu."Sahut Sarah kesal.
"Tapi kenapa kamu tidak ngamuk-ngamuk. Jambak rambutnya, seperti adegan sinetron-sinetron yang sering di tonton bi Asih di televisi itu...?"
"Ah, norak. masa aku harus jambak ular, sih?"Sarah mendelik kepada Raka.
"Tapi aku kan jarang lihat reaksi istriku ini cemburu. Sesekali bolehlah" Goda Raka lagi.
"Buat apa cemburu sampai ngamuk-ngamuk? menghabiskan energi saja. Lagian, kalau aku marah sampai mengamuk tidak jelas, kelasku akan sama seperti dia."Jawab Sarah dengan wajah penuh kemenangan.
"Kamu tidak marah padaku?"Tanya Raka kemudian, memastikan Sarah tidak mengambil hati dengan apa yang dilihatnya tadi.
"Aku tidak akan pernah marah pada suamiku." Sarah mencium pipi Raka yang sedang melirik padanya sambil menyetir, membuat Raka tercengang. Hatinya benar-benar tenang, meski sedikit berdebar dengan perlakuan berani Sarah yang tiba-tiba.
Sarah memang tidak perlu marah, karena beberapa menit sebelumnya dia berada di belakang pintu itu, mendengar hampir semua pembicaraan Raka dan Tania.
Bukan karena dia tidak percaya pada suaminya itu, tapi naluri seorang istri telah membawanya untuk melindungi sang suami dari segala marabahaya, bahkan dari seorang perempuan jahat berwajah cantik yang menyaru dalam rupa Tania.
Dia yakin, suaminya itu bukan laki-laki sembarangan yang mudah tergoda, tapi dia tak tahan lagi untuk tidak memberi pelajaran pada Tania, pelajaran untuk di ingatnya seumur hidup, bahwa berusaha mencuri apa yang menjadi milik orang lain, akan mendapatkan hukuman. Karma akan menyusul di kemudian hari, meski tidak harus dari orang yang di sakitinya.
"Sayang, aku jadi tak sabar untuk segera sampai rumah..." Raka menyentuh paha Sarah dengan nakal.
"Hush...perhatikan jalanmu. Ini jalan raya, lho." Sarah menepis tangan Raka dengan tersipu.
Raka tertawa kecil, penolakan istrinya yang setengah hati itu menandakan dirinya juga menginginkan hal yang sama.
"Eh, Sayang...aku boleh tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Aku benar termasuk kategori barang bagus?" Tanya Raka dengan nakal.
"Hah..." Sarah pura-pura amnesia, dengan raut seolah tak mengerti
"Itu tadi, kamu bilang ke Tania...."
"Ya, pastilah barang bagus. Masa ku bilang barang rongsokan." Jawab Sarah dengan wajah memerah, di sambut tawa Raka.
Betapa senangnya melihat sang istri yang suka jaga image ini salah tingkah. Dia tahu, Sarah menganggapnya begitu penting sekarang, dan tentunya Sarah juga adalah segalanya bagi Raka.
Indahnya cinta yang berbalas, yang bisa melewati ujian bersama-sama.
Tak ada badai yang terlalu besar, tak ada kerikil yang terlalu berarti, saat berjalan bersama-sama dengan berpegangan tangan dan saling percaya.
(Terimakasih sudah membaca episode ini, dengan ini kasus ulat keket Tania ditutup, clear yah😂 Semoga ada pelajaran yang kita terima dari setiap masalah meskipun itu hanya dari sebuah kisah ringan dalam novel. Ikuti lah episode selanjutnya, ya...yang tentunya akan lebih seru lagi, menjelang tujuh bulanan bumil Sarah,🙏😘)
Jangan lupa VOTE yang banyak ya, mumpung hari senin....😂 biar Author tambah semangat lagi UP😘😘😘 lope2 buat semua readers kesayangan🌹❤️❤️❤️❤️
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...