
"Beraninya kamu!" Mama Sarah meraung melihat Sally, anak kesayangannya yang kesakitan setelah di tampar oleh Sarah.
Dia hendak balas memukul Sarah tapi Sarah berbalik dan dengan cepat menangkap tangan mamanya yang sudah teracung tinggi itu. Mata Sarah menyorot tajam menembus mata sang mama yang membeliak padanya.
"Aku tidak akan menganggapmu lagi mama. Karena saat kamu berusaha menyakiti anakku, ku anggap kamu tak pernah sedikitpun mencintaiku dan Rae. Bahkan seekor binatang sekalipun tidak akan menyakiti anak yang dirawatnya." Lalu dengan kasar Sarah melepas tangan mamanya itu. Ingatannya pada ayahnya yang telah begitu menderita akibat perbuatan mama angkatnya ini membayang lewat di benaknya.
Bagaimana dia telah dipisahkan dengan cara yang tak berperasaan dari ayahnya, sesaat setelah kematian ibunya, bagaimana dia di jejali dengan cerita jahat tentang ayahnya sehingga hampir seumur usianya membenci ayah kandungnya sendiri.
Bagaimana dia di besarkan oleh mama angkatnya itu untuk menerima banyak penghinaan hanya demi membalaskan sakit hatinya pada ayah Sarah.
Sungguh kelebat rasa sakit hati itu membuatnya dadanya sesak seketika, secara manusia dia sungguh dipenuhi rasa dendam, tapi sebagai seseorang yang berTuhan, dia berusaha menolak membalasnya.
"Seharusnya sebagai seorang ibu, mama jauh lebih mengerti tidak ada ibu yang rela anaknya di sakiti oleh siapapun." Dengus Sarah. Kelembutan dan kesabaran seorang Sarah menguap hilang entah kemana dalam sekejap.
"Anak kurang ajar, tak tahu di untung!" Maki mamanya, dia sungguh tak percaya Sarah begitu berani padanya.
"Jangan lagi menyebut nama almarhum ayah dan papaku dengan mulut jahatmu itu, aku yang akan berdiri di belakang papa pertama kali, saat papa menceraikanmu." Suara Sarah terdengar datar, raut wajah cantiknya itu tanpa ekspresi.
"Sarah kamu anak set*n...!!" Sally memekik dengan seperti binatang yang terluka, dia menghambur ke arah Sarah tapi Sarah berdiri menghadang tanpa rasa takut sama sekali.
"Kita lihat siapa yang sesungguhnya Set*n!" Sarah berbalik pada Sally, membalas perkataan adiknya itu dengan mata berkilat tajam.
"PLAK! PLAKK!!" Dia menampar kedua belah pipi Sally tanpa ampun, membuat Sally terjajar ke belakang, tubuhnya oleng dan terjatuh di atas lantai. Dia tak bisa melampiaskan sakit hatinya pada sang mama karena biar bagaimanapun dia masih tak bisa menampik menganggapnya sebagai orangtua.
Tapi pada Sally dia merasa cukup berhak menghakiminya, setidaknya sebagai seorang kakak, dia harus memberi pembelajaran keras pada adiknya yang sudah sangat keterlaluan.
Wajah Sally merah padam, semerahnya udang yang dicelupkan ke dalam minyak panas.
"Aku juga tak akan membiarkanmu selalu menindasku dengan semua tingkah konyol dan gilamu, Sally. Sampai kapanpun aku tak mengijinkan kamu mendekati suamiku bahkan aku merasa jijik saat kamu menyebut nama suamiku seoerti seorang perempuan yang tak tahu diri. Berhentilah merasa dirimu benar dan menjadi perampas milik orang karena jika kamu terus bersikap gila seperti ini maka kamu akan menjadi pecundang seumur hidupmu!" Sarah menunjukkan telunjuknya tepat di depan hidung Sally.
Dia berjalan menuju mejanya, menekan interkom di sana, memanggil lobby lantai bawah lalu memberikan perintah,
"Kirimkan security ke ruanganku sekarang!"
Mamanya dan Sally masih tercengang dengan keberanian yang di tunjukkan oleh Sarah.
Anak yang selalu diam dan pasrah ini berubah begitu kasar dan garang dalam semalam, hanya karena anaknya di sentuh oleh mereka.
Dulu, dia hanya perempuan yang lebih baik menangis di pojokan dari pada menyahut bahkan berdebat dengan mereka, tak ada keberanian sedikitpun untuk mempertanyakan ketidak adilan yang di terimanya.
"Aku sudah berusaha bersabar selama ini, menerima perlakuan kalian padaku, karena aku masih punya rasa hormat dan sayang pada kalian. Tapi ternyata, tak ada yang berubah. Sekarang, aku tak akan membiarkan kalian merampas apapun lagi dari hidupku! Bahkan selembar benangpun dari milikku tak akan rela ku biarkan diambil dariku!"
Sarah berdiri dengan wajah murka, semua emosi yang disimpannya dari masa dia belia, membuncah ruah tak lagi ditahannya, rasa sakit hati dan luka di keluarkannya.
"Aku tak lagi akan mengalah untuk apapun lagi! Tak akan!!"
Yang berdiri kini di depan mereka bukan lagi Sarah yang dulu. Dia adalah Sarah yang telah di tempa seribu derita sepanjang hidupnya. Dia tak takut pada apapun lagi.
"Raka!" Sally yang seketika berpaling menatap pada mantan tunangannya itu, mencari pembelaan.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Raka menatap lurus pada Sarah dengan cemas, Rae segera merengek ketika melihat mommynya, bayi umur hampir 6 bulan itu telah sangat mengenal ibunya.
Raka melewati Sally seolah tak melihatnya, meraih tubuh istrinya yang tampak gemetaran dengan wajah merah, masih di balut oleh amarah yang membara.
Di peluknya Sarah dan menyerahkan Rae pada istrinya itu.
"Keluarkan dua orang ini dari gedung ini! Dan Jangan pernah mengijinkan mereka datang kemari lagi, saat kalian melihatnya di pelataran parkirpun, usir mereka. Karena dua orang ini membahayakan anak dan istriku." Raka berucap dengan suara datar, tanpa emosi pada dua orang security yang segera menarik tubuh Sally dan mamanya.
"Raka...apa yang kamu lakukan?" Mama Sarah berusaha menepis cengkeraman salah seorang security di lengannya. Tapi laki-laki muda itu mencengkeramnya dengan kuat.
"Beruntung aku tidak mamanggil polisi sekalian, mengingat kalian telah mengancam bayiku yang tak berdaya. Tapi, jangan berharap di lain kali aku nasih bersikap lunak, karena jika kalian mengulangi menyerang istri dan anakku, maka aku tak akan mengampuni kalian seperti hari ini!"
"Raka, ini aku, lihatlah ini aku..." Sally meraung kepada Raka ketika seorang security akan menyeretnya.
"Terakhir kali aku bertemu denganmu, bukankah aku sudah mengatakan dengan jelas padamu, bahwa aku tidak mengenalmu lagi." Raka menatap tajam tanpa secercahpun rasa iba pada Sally yang mulai menangis sambil berusaha memberontak.
"Bawa mereka, aku tak mau melihat wajah mereka lagi di sini." Raka membalikkan tubuhnya dan mendekap Sarah yang masih mematung tegang di tempatnya berdiri sambil memeluk Rae.
"Raka...Rakaaa...lihat aku..." Sally menangis sambil meraung memanggil nama Raka, tapi kedua security itu bersama Jen menyeret dua ibu dan anak itu keluar seperti dua orang pesakitan.
Raka masih memeluk Sarah yang diam seribu bahasa, hanya air matanya mengalir dari pipinya.
Sebagai suami dia mengenal seperti apa hati Sarah, dia bukan orang yang mampu berbuat kejam pada orang lain, hanya saja sebuah dorongan membuat sisi gelapnya menampakkan diri.
Ya, Sarah sekarang pasti sangat terluka tidak hanya karena perlakuan yang diterimanya dari orang-orang terdekatnya tetapi karena dia telah melawan dirinya sendiri, demi melindungi anak yang sangat di cintainya, bersikap kasar, seyogyanya itu bukanlah sifat Sarah yang sebenarnya.
Benar atau salah yang di lakukan Sarah hari ini, dia hanya berusaha membela diri dan melindungi anak yang disayanginya.
(Setiap orang punya sisi gelap dalam dirinya, yang mungkin akan tetap diam tenang di tempatnya. Hanya saja, jangan mengusiknya dengan hal-hal yang begitu sensitif, karena mungkin saja, orang yang selembut sutra akan menjadi begitu tajam dan menakutkan jika dia sudah tak sanggup menahan kesabarannya🙏 nantikan part-part adem dan penuh cinta di episode selanjutnya bersama Raka dan Sarah, sambil menunggu apa yang direncanakan Wijaya pada Mytha setelah perceraiannya, karena karma sebenarnya belum benar-benar terjadi)
...Mytha...
...Sarah...
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️......
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...