Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EKSTRA PART-THAT IS ENOUGH


Diah mematut dirinya di depan cermin, setelah mendapat telpon dari Doddy ingin mengajaknya bertemu dengan orang tuanya kurang dari sebulan lagi, ada satu acara di mana mama dan papa Doddy akan berada di Surabaya selama seminggu. Mamanya menghadiri sebuah bazar amal karena dia adalah donator tetapnya.


Dada Diah terasa berdegup lebih kencang, dia merasa gugup, apa yang harus di lakukannya, apa yang harus dikatakannya dalam statusnya sekarang. Rasa percaya dirinya melesak entah kemana, dia gentar diluar perkiraannya.


Diah mengambil ponselnya dari atas meja, menulis beberapa kata di message WA untuk Doddy :


"Apakah ini tidak terlalu terburu-buru?"


Diah tak hanya sekali ini mempertanyakan itu pada Doddy, meski jawabannya tetap sama,


"I'm sure." Sebuah kalimat pendek yang membuat Diah hanya bisa mengerjap mata .


Setelah kejadian lamaran tak resmi dari Doddy dua minggu yang lalu dan setelahnya Doddy kembali ke Jakarta untuk beberapa urusan pekerjaan, mereka berhubungan hanya kewat Chat atau telpon.


Kadang kala, Diah tertegun sendiri dengan bagaimana cepatnya dia mengatakan "Yes, i will...", sebagai perempuan yang tak terikat hubungan apa-apa dengan Doddy selama ini tentu saja keputusan itu terasa sangat tergesa-gesa.


Mereka tidak dalam keadaan berpacaran, mereka hanya berteman, itupun bukan teman yang dekat dan intens. Tetapi Doddy tanpa tedeng aling-aling telah mengajaknya menikah, tentu saja itu terasa hampir tak masuk akal.


"Kenapa kamu selalu menanyakan itu? kamu meragukan aku?"


Diah menghela nafasnya,


"Aku merasa kita harus saling mengenal lebih dulu, karena jika terlalu cepat mengambil keputusan, kamu bisa saja menyesalinya." Tulis Diah kemudian.


"Kenapa aku harus menyesalinya?"


Pertanyaan itu terasa menohok, meski dalam sebaris tulisan.


Tidak lama handphone Diah berbunyi halus, telpon dari Doddy.


Diah menatap wajah Bella yang tertidur pulas di tempat tidur, lalu beringsut keluar dari kamar. Dia tak ingin menyambut telpon itu dan mengganggu tidur gadis kecilnya yang sedang terlelap itu.


"What's going on with you?" Pertanyaan itulah yang pertama terdengar, datar tapi Diah bisa membayang bagaimana ekspresi Doddy di seberang sana.


"Aku hanya merasa kamu terlalu terburu-buru. I've been willing to marry you bukan berarti kita harus segera menikah, kan? bukankah orang harus berpacaran dulu? saling mengenal dulu?" tanya Diah.


"Do you love me?" Pertanyaan yang to the point dari Doddy menyela sebagai jawaban sebelum sempat Diah menarik nafas setelah sederet pertanyaan di layangkannya.


"Oh..." Diah terdiam, bingung harus menjawab apa.


"Do You love me?" Pertanyaan yang sama menyadarkan Diah yang masih termangu.


"Aku mencintaimu...tapi..."


"That is enough! Pernyataanmu itu cukup untuk dasarku menikahimu."Suara Doddy terdengar tegas.


"Aku tidak merasa perlu berpacaran denganmu seperti anak-anak lagi. Aku tidak perlu mengenalmu lebih dalam lagi karena saat aku sudah menikahimu maka aku akan mengenalmu sedalam yang aku mau. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri jika aku menemukan keyakinan dalam cinta pada seseorang, aku tidak akan membuang waktunya untuk terus meragukanku, aku hanya punya satu niat, akan menghalalkannya dalam pernikahan." Lanjutan kalimat itu terdengar penuh keyakinan.


Diah menggigit bibirnya, berusaha menyelami laki-laki yang sekarang bisa membuat wajahnya memerah meski hanya karena memikirkannya.


"Aku sebenarnya jauh dari sempurna dan aku bukan pasangan yang sempurna untukmu, aku hanya takut kamu menyesalinya di kemudian hari. Sebelum itu terjadi, kamu masih punya waktu untuk mundur. Karena jika kamu menikahiku, maka kamu harus mencintai dua orang sekaligus, yaitu aku dan anakku." Diah menggigit bibirnya.


"Diah..." Doddy berucap dalam nada rendah.


"Aku tak kekurangan cinta jika itu untukmu ataupun untuk anakmu. Apapun yang menjadi bagian dari dirimu, aku bersedia mencintainya dengan segenap hatiku jika itu bisa membuatmu bertahan sebagai pendampingku."


Diah tak bisa berkata-kata, hanya termangu memegang ponselnya.


"Cinta itu bukan berarti mencari kesempurnaan seseorang untuk layak di cintai, tapi bagaimana mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara sempurna. Dan kamu, aku ingin kamu adalah orang yang membuktikannya padaku." Suara itu tegas tanpa kebimbangan, nyaris seperti instruksi tanpa ingin di bantah.


Semua yang di ucapkan Doddy itu seakan berusaha menghapus keraguan Diah yang benar-benar sedang melanda dirinya.


"Yang menemui mereka bukan cuma kamu tapi aku juga. Kita akan menghadapi mereka."


"Aku...aku tak seberani itu." Desis Diah.


"Kenapa kamu takut, Diah?"


"Aku seorang janda, bukan gadis lagi. Dan lagi, status sosial kita juga bagaikan bumi dan langit. Aku takut orangtuamu tak pernah memberikan restu untuk kita."


"Do You love me?" Pertanyaan itu terdengar lagi, menyela kalimat yang sedang di ucapkan oleh Diah


"Akh...aku...kenapa kamu harus menanyakan itu terus?" wajah Diah memerah, untung mereka tidak videa call, jadi Doddy tak akan melihatnya.


"Answer me, please."


"Kamu tahu jawabannya."


"Tapi aku perlu kamu menjawabnya, supaya tidak perlu kamu mempertanyakan apapun lagi padaku."


"Apakah aku perlu menjawabnya berulang-ulang?" Tanya Diah merasa malu sendiri.


Tak ada suara di seberang, tetapi desah nafasnya terdengar halus seperti sedang menunggu.


"Aku...mencintaimu."


"Thankyou, that is enough!"


Diah membayangkan wajah Doddy yang datar dan cool itu mengucapkannya langsung, tak hanya suara di telpon, membuatnya merinding sendiri.


"Aku akan menjemputmu besok usai kerja."


"Hah...bukannya kamu sedang di Jakarta?" Diah bengong sendiri.


"Aku akan ikut penerbangan paling pagi besok hari."


"Tapi..."


"Aku akan menjemputnya sore, membawamu ke suatu tempat."


"Kemana?"


"Kamu akan tahu." Jawab Doddy cepat.


"Selamat malam, jangan tidur terlalu larut. See you tomorrow." Telpon itu di tutup begitu saja, tanpa pamit yang jelas. Doddy memang bukan tipe laki-laki romantis.


Tak akan ada kata cinta atau panggilan sayang berlebihan, hanya kalimat-kalimat formal yang tak bertele-tele.


Cinta yang di tunjukkan oleh Doddy dalam sikapnya yang dingin terasa sangat mendebarkan.


Diah menghela nafasnya, dia tak bisa memungkiri telah jatuh cinta pada Doddy tapi yang paling dia takutkan menghadapi hari esok di mana Doddy mencoba membawa dirinya memburu restu dari orangtuanya Doddy.


Memikirkan semua itu, dia harus menyiapkan mentalnya jika dia di tolak mentah-mentah karena statusnya itu.


Doddy seperti langit, dia begitu tinggi. Meskipun Doddy mengirimkan sayap untuk menerbangkannya, tapi dia takut, terjatuh ke bawah sebelum sempat meraihnya.



...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...