Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 172 MENGUSIK MACAN TIDUR


Begitu keluar dari mobil Sarah langsung berjalan dengan langkah yang panjang.


Sarah mengenakan blazer warna putih bersih dengan les hitam, Rok span selutut yang tampak serasi memegang sebuah tas di tangan, sepatu pantofel higheels yang di kenakannya berwarna hitam pekat, membuat tubuhnya terlihat menjulang. Wajahnya yang dingin tampak hampir tanpa ekspresi, sementara matanya lurus menatap ke depan.



Langkah itu sama sekali tidak menyurut apagi berhenti saat dia memasuki lobby kantor yang membuka otomatis karena kaca itu mempunyai sensor tubuh, sementara suaminya yang tampan berjalan gagah di sampingnya, dengan jas abu-abu malam dan kacamata hitam yang melekat di atas tulang hidungnya yang mancung. Dua orang itu berjalan, di sambut oleh para pegawai yang langsung membungkukkan badannya dengan penuh hormat.



"Selamat pagi, pak...Selamat datang, bu..." Ucapan sambutan itu hampir di sepanjang jalan mereka, Raka hanya tersenyum kecil, membalasnya. Sarah sendiri tampak begitu fokus dengan langkahnya.


Semua orang tak bisa mengungkapkan dengan kata-kata pemandangan menatap sepasang suami istri petinggi perusahaan ini yang terlihat maskulin dan elegan serta anggun dalam waktu bersamaan.


Pandangan iri mengikuti, bagaimana tidak mereka nampak begitu serasi dalam segala hal.


Rian menyongsong mereka bersama beberapa orang staf yang tampaknya sedikit bingung dari parasnya.


"Dia di mana?" Tanya Raka.


"Di depan ruangan komisaris eh ruangan bu Sarah." Jawab Ryan dengan sedikit gugup, dia hampir tak berani melirik pada nyonya bossnya yang air mukanya tampak begitu kaku itu.


Dia segera membuka lift dan mempersilahkan dua orang itu masuk serta mengikutinya.


"Sayang, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Raka pada sarah yang air mukanya hampir tak beriak, Raka sendiri tak bisa menyelami apa yang ada di fikiran istrinya itu.


"Aku akan melakukan, apa yang perlu ku lakukan." Jawab Sarah pendek.


Raka menganggukkan kepalanya kemudian tak lagi bertanya, dia sangat ingin melihat kejutan apa yang bisa di berikan oleh istrinya itu hari ini. Dia tak pernah melihat sarah begitu kesal seperti hari ini.


Begitu samai lantai 11 di mana ruangannya berada, Sarah melihat seorang perempuan berdiri di sanna sambil berkacak pinggang pada beberapa orang staf. Dia juga sedang menunjukkan kemarahan.


Melihat kedatangan Raka dan sarah semua orang membungkuk dengan takut.


Sally sejenak melongo kepada dua orang yang baru saja tiba itu, matanya tertuju pada Raka yang sama sekali tidak melepaskan kacamata hitamnya, membiarkan Sarah yang mengambil tempat berdiri di depannya.


"Kalian boleh kembali bekerja." Dengan nada lugas Sarah mempersilahkan beberapa staf yang dari tadi di sana, mungkin karena meladeni kedatangan Sally.


"Akhirnya kamu datang juga." Sally merengut dengan pias kesal.



"Buka pintunya sekarang."


Tanpa menoleh pada Sally yang berdiri dengan tangan berkacak di sampingnya, Sarah berdiri menunggu Ryan, asisten Raka untuk membuka pintu ruangannya itu.


Sally membeliak tak percaya atas sikap acuh Sarah yang berlaku seolah-olah menganggap dirinya tak kasat mata.


Dengan tergopoh Ryan membuka pintu ruangan komisaris besar itu, ketika pintu itu terbuka, Sarah menoleh kepada Raka dan tersenyum.


"Sayang, terimakasih sudah mengantarku. Kalau kamu banyak urusan, silahkan kembali ke ruanganmu."


Dengan sedikit berjingkit dia memeluk Raka tepat di depan hidung Sally. Tangannya naik melingkar di leher suaminya, bibirnya yang merah menempel di bibir Raka dalam beberapa kejap.


Mulut Sally terbuka dua jari, begitu tak percaya dengan adegan yang sedang dipertontonkan oleh Sarah di hadapannya itu. Semetara Ryan dengan pias merah menundukkan wajah, pura-pura tak melihat apayang dilakukan oleh nyonya bossnya itu.


Jiwa jomblonya meronta.


Raka tak berkedip menatap Sarah, tapi tak urung tangannya memegang pinggang ramping sang istri.


"Sayang..." Dia menatap Sarah dengan ragu.


"Nanti aku akan ke ruanganmu, sayang, setelah membereskan urusan dengan tamuku ini. Tidak baik membiarkannya berdiri terlalu lama seperti gembel di depan pintu." Ucapan itu terdengar santai, ketika dia melepaskan ciumannya yang terlihat possesif meski berlangsung hanya beberapa detik itu.


Raka hampir tersedak melihat bagaimana istrinya itu menunjukkan territorinya dengan cara yang begitu mendadak dan tak di sangka-sangka. Sarah tak pernah bersikap seserius seperti saat ini. Ketika dia berlagak mengancam, Raka benar-benar takjub, sangat elegan dan mengena, penuh majas dan begitu sarkas.


(Sally akhirnya mengusik macan betina yang sedang tidur🤭 Yuk...akan langsung double UP, ya untuk hari ini, biar VOTEnya segera di lemparkan ke jidat Othor, bagi yang belum ngasih🤣 Love You all)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama RakašŸ¤—...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......