Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 65 JANJI SUCI


Karena kehamilan Sarah, mama bersikeras Sarah dan Raka tinggal di rumah saja, bukan di apartemen.


"Mama wajib mengawasimu, sayang. Pada usia hamil muda seperti ini. Apalagi ini kehamilan pertama, kamu tidak boleh ceroboh. Mama berpengalaman soal hamil." Mama nyengir kepada sepasang suami istri yang baru saja tiba dari klinik itu.


Sarah dan Raka saling bertukar pandang.


"Mama akan mengawasi suamimu itu tentunya, dia kadang suka membuat istrinya kesal. Perempuan hamil tidak boleh terlalu emosi, nanti stres. Itu tidak baik untuk kesehatan kandungan." Mama mengucapkan kalimat itu dengan serius pada Sarah.


"Kok, Raka lagi sih, ma?" Raka protes.


"Iya, mama lihat, dulu kamu sering membuat isterimu ini sedih dan marah." Tuding mama.


"Akh, mama." Raka tidak tahu harus menyahut apa untuk membela diri.


Sarah tersenyum kecil di sebelah Raka, dia merasa senang melihat Raka di pojokkan mama.


"Perempuan hamil tidak boleh berfikir berat-berat, kalau Raka macam-macam, mama cubitin dia."


"Ah, mama, sudahlah ma. Kalau aku yang stres nanti bahaya juga lho, ma." Raka berjalan melewati mamanya, sambil menarik tangan Sarah. Yang ditarik tak bergeming tak enak dengan mertuanya yang sedang berbicara itu.


"Memangnya kamu yang hamil?" Mama menyeringai lucu.


"Aku kan statusnya papa sekarang, ma. Kalau aku stres, anakku nanti ngambek di perut mamanya." Jawab Raka sambil tertawa.


Sarah nyengir, kemudian dengan lembut menatap sang mama,


"Iya, ma. Sarah dan Raka akan tinggal di rumah mama sementara ini." Sarah tersenyum pada mama, mengiyakan permintaan mama.


"Kalau bisa sih, jangan cuma sementara...."Mama seperti bergumam, tapi dia tahu, menjadi seorang ibu dari orang yang sudah berumah tangga, dia tidak bisa terlalu jauh menuntut dan mencampuri.


Mereka memang adalah anak-anak, tapi orangtua juga harus menghormati keputusan anak-anaknya.


Raka menarik tangan istrinya lagi, supaya segera mengikutinya.


"Ada apa, sih?" tanya Sarah sambil tergesa menaiki tangga mengikuti langkah Raka.


"Ada yang mau ku tunjukkan padamu." Raka benar-benar mengacuhkan sang mama yang berdiri bingung di bawah tangga.


Begitu masuk di dalam kamar Raka segera menuju sebuah brankas di bagian bawah lemarinya sepertinya sedang mengambil sesuatu, sementara Sarah menuju tempat tidur, rasanya badannya sedikit lelah.


"Kamu sedang apa?" Sarah naik ke tempat tidur sambil mengawasi Raka.


Yang ditanya tidak menjawab. Dia sibuk sendiri sambil duduk berdungkung menghadap Brankas.


Sarah akhirnya diam saja, dia tidak berminat memuaskan rasa penasarannya.


Kepalanya di penuhi dengan kejadian luar biasa yang baru di alaminya


Ketika seseorang tahu dia hamil, perasaannya sungguh berbeda bahkan tiba-tiba rasanya menjadi aneh, hatinya bahagia tapi gugup pada saat bersamaan.


"Sayang..." Raka menghampiri Sarah yang sedang duduk di atas tempat tidur dengan berselonjor kaki, punggungnya bersandar nyaman pada kepala tempat tidur.


"Aku mau memberikan hadiah untuk ibu dan anakku." Raka tersenyum misterius, dia berdiri di pinggir tempat tidur.


Tangannya disembunyikan di belakang punggung.


"Hadiah apa?"Sarah menegakkan badannya dengan antusias.


Raka menyodor sebuah buku, Sarah menyambut dengan bingung.


"IBU HAMIL DAN PERAWATAN BAYI"


Sarah membaca judulnya, kemudian tertawa.


"Ini hadiahnya, sayang?"


Ternyata hanya sebuah buku yang membuatnya sedari tadi di seret-seret menuju kamar, dan begitu berharganya sampai di letakkan di dalam brankas. Tentu saja Sarah benar-benar merasa lucu.


"Kenapa kamu tertawa?" Raka cemberut.


"Sayang, sekarang jaman modern. Tidak perlu buku seperti ini, di google banyak. Aplikasi-aplikasi tentang panduan seperti ini tinggal install." Sarah tertawa, benar-benar geli.


"Itulah yang membuat buku kehilangan peminat karena semua berpindah ke buku elektonik.


Semua lebih merasa nyaman dengan buku di ponsel" Raka berceramah pada ibu hamil yang sedang menertawakannya itu.


"Tapi itu kan lebih praktis." sergah Sarah.


"Aku tidak menghadiahkan buku ini untukmu, Sayang."


"Terus, untuk siapa?"


"Nanti kalau mama mu malas baca, papa yang akan baca untukmu, Sayang."Ucap Raka di depan perut Sarah yang masih rata itu.


"Kan, ini panduan untuk ibunya."Protes Sarah, dengan sedikit geli ketika Raka mencium perutnya berkali-kali.


"Papa bacakan untukmu, biar mamamu dengar juga."Raka menaikkan wajahnya dan mencium bibir Sarah dengan gemas.


"Hush...ingat pesan dokter Yogi?"


"Yang mana?"Raka menaikkan alisnya.


"Kalau ibu hamil pada usia sekarang rawan, di dalam tubuh ibu ssedang terjadi perubahan hormon yang cukup drastis. Hormon akan mengalami peningkatan."


"Kok aku tidak terlalu ingat bagian itu?"


"Perubahan hormon ini akan menyebabkan munculnya reaksi tubuh, baik secara fisik maupun secara emosional. Dokter Yogi juga bilang, tidak boleh bekerja berat karena akan mudah merasa lelah dan lesu karena tubuh sedang bekerja keras untuk memastikan janin berkembang dengan baik." Sarah mencubit hidung suaminya yang memasang pura-pura bego itu.


"Aku tidak terlalu mengingat bagian yang itu, sayang, susah menghapalnya...aku cuma ingat bagian akhirnya saja."


"Yang mana?" Sarah mengernyit dahinya.


"Boleh berhubungan intim tapi hati-hati dan rileks, pilih posisi yang aman dan nyaman untuk ibu, seperti posisi apa ya tadi....em, yang woman on top, biar perut ibu tidak terhimpit...itu yang aku ingat." Raka tersenyum lebar dengan raut bangga, seperti seorang murid yang berhasil menjawab pertanyaan gurunya.


"Sayang, itu saja yang kamu ingat." Sarah mencubit perut suaminya itu sambil menunjukkan wajah kesal. Raka menangkap tangan istrinya itu sambil tertawa penuh kemenangan.


" Sayang...." Tiba-tiba wajah Raka menjadi serius. Tangannya merogoh sesuatu dari dalam saku celana bagian kiri.


Sebuah kotak beludru kecil berwarna biru Navy di dalam genggamannya.


"Ini, untuk kita."


"Untuk kita?" Sarah mengulang kalimat Raka dengan tak mengerti, dia menyambutnya.


Saat dia membukanya, tampaklah sepasang cincin emas putih yang cantik berkilat, dengan mata satu berlian di tengahnya. Dari tulisan di kotaknya dia tahu, cincin itu dari rumah mode ternama di Paris.


"Apa ini?" Sarah memandang suaminya dengan penuh tanya.


"Cincin pernikahan."


"Cincin pernikahan?" Sarah semakin bingung.


Raka meraih jemari kanan Sarah dan mengelus jari manis yang polos itu.


"Aku tahu, setelah hari pernikahan kita, kamu tidak pernah memakainya lagi. Kamu hanya memakainya satu hari itu."Raka menyahut dengan wajah kecut.


Sarah tak berkedip menatap Raka, sekarang dia merasa hatinya sedikit sakit. Bagaimana dia bisa memakainya? Cincin pernikahan itu adalah cincin yang di belikan Raka untuk Sally. Dia tahu betul, Sally pernah menunjukkan fotonya pada Sarah. Dia hanya memakainya secara simbolis saja.


"Aku tahu alasan di balik itu dan aku tidak menyalahkanmu."Raka tersenyum dan mencium jari manis Sarah.


"Sayang, bolehkah aku memasang cincin pernikahan ini di tangan isteriku, sebagai bukti aku dan kamu terikat dalam janji suci, setia sampai akhir." Ucap Raka setengah berbisik.


Sarah menganggukkan kepalanya lamat-lamat sambil menggigit bibirnya, airmatanya berkaca-kaca saat Raka memasangnya.


"Sekarang pasanglah untuk suami siagamu ini." Raka memberikan tangan kanannya kepada Sarah dan mengambil kotak di tangan kiri Sarah dengan tangannya yang lain.


Dengan gemetar Sarah mengambil pasangan cincin itu, di bagian dalamnya terukir cantik nama Sarah dan Raka.


Sarah memasukkan cincin itu pada jari manis Raka, dan di detik berikutnya Raka mengecup dahi Sarah dengan dalam dan lama, sampai air mata Sarah meleleh di sudut matanya tak mampu membedung keharuan.


"Terimakasih, isteriku."Bisiknya sambil mendekap tubuh Sarah.


"Sayang...terimakasih...terimakasih..."Sarah menjawab dengan suara parau menahan isak.


"Kalau tadi hadiah untuk kita, aku masih mempunyai satu hadiah lagi, untuk isteri cantikku." Bisik Raka, sambil melepas pelukannya.


"Hadiah lagi?" Sarah menyeka sudut matanya yang basah dan menatap Raka dengan heran.


"Ambil saja hadiahmu sendiri, Sayang"


"Dimana?"


"Di saku kananku...."


...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...Nantikan episode selanjutnya, yang lebih seru🙏...